
"Ma,... " pangil Gibran dengan tatapan fokus ke jalan.
"Hmm" sahut Alin dengan kedua tanganya dilipat di depan dada dan pandangan lurus kedepan.
Gibran menatap sekilas istrinya lalu kembali fokus menyetir "Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?. Aku ingin sekali melihat kondisi Ana" ucap Gibran.
Alin diam, ia tampak sedang berpikir "Terserah kamu saja, kamu kan yang menyetir mobilnya dimana pun kamu berhenti pasti aku ikut berada di sana juga" sahut Alin.
Gibran tersenyum "Baiklah, kalau begitu kita mampir sebentar untuk melihat kondisi Ana" ucap Gibran.
Mobil yang seharusnya akan berbeluk ke sebelah kiri kini berbelok ke sebelah kanan karena harus ke rumah sakit terlebih dahulu.
"Loh.. Loh, pa coba lihat mobil Gibran ko belok kanan sih?" ucap Sarah sambil menunjuk mobil Gibran yang saat ini berada di depan.
"Iya aku pun melihatnya" sahut Nicholas.
"Itu kan jalan menuju rumah sakit dimana Ana di rawat. Jangan-jangan mereka mampir ke rumah sakit dulu sebelum pulang" ucap Sarah.
"Jika mereka benar ke rumah sakit, kita harus ikut pa, aku ingin melihat kondisi Ana" lanjut Sarah dengan mengoyang-ngoyang tangan kanan suaminya.
"Iya... iya, aku ikuti mereka. Tapi, berhentilah mengoyang-ngoyang tanganku, aku lagi menyetir nih" ucap Nicholas.
Sarah yang mendengarnya menatap suaminya dari samping "Ups maaf, mama lupa kalau papa lagi nyetir mobil" ucap Sarah melepaskan tanganya dari tangan suaminya.
"Mama kan gitu orangnya, jika sudah menyakut Ana pasti keadaan di sekelilingnya tidak pedulikan lagi" ucap Nicholas.
Sarah menatap suaminya dari samping "Tentu saja mama seperti itu, Ana kan cucuku juga" ucap Sarah.
"Cucuku juga kali, memangnya cuma cucu mama?" ucap Nicholas pelan namun masih dapat di dengar oleh Sarah.
"Ooooh cucumu juga ya?, tapi aku rada ngak ingat tuh kalau papa mengganggap Ana sebagai cucu, bukan papa mengganggap Ana itu hanya..."
"Cukup ma!, jangan menggungkit sesuatu yang sudah terlewati!, fokus saja apa yang terjadi sekarang ngapain masih meginggat-ingat sesuatu yang sudah terlewati!" ucap Nicholas sebelum Sarah menyelesaikan ucapannya.
Sarah merubah posisi duduknya, menatap lurus ke jalan "Giliran sekarang barulah tuh dia anggap cucu, dulu-dulunya kemana saja loh" gerutu Sarah dalam hati.
Mobil terus melaju mengikuti dimana perginya mobil yang di kendarai Gibran.
Diwaktu yang sama, tampak mobil Rangga memasuki halaman rumah sakit dan parkir di tempat biasanya ia memarkir mobil.
Seperti biasanya, Rangga turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk tuannya.
"Terima kasih" ucap Arsenio saat keluar dari mobil, sementara Rangga sedikit menundukan kepalanya sebagai jawaban.
Arsenio berjalan masuk lebih dulu dan langsung di susul oleh Rangga.
Dokter yang baru saja keluar dari ruanganya pun tak sengaja bertemu dengan Arsenio dan juga Rangga.
"Tuan" ucap dokter yang membuag Arsenio berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya.
Melihat dokter yang menanggani istrinya, Arsenio pun berjalan menghampirinya.
"Bagaimana keadaan istriku?, apakah keadaannya sudah membaik?" tanya Arsenio.
"Alhamdulillah tuan, keadaan nona beberapa hari ini sudah semakin membaik, bahkan nona sudah bisa di temui" sahut dokter yang merawat Ana.
"Benarkah?"
"Benar tuan, saya baru saja ingin keruangan nona Ana, untuk memberitahukan kalau besok nona Ana sudah bisa pulang ke rumah" ucap dokter.
"Baik terima kasih dokter, saya akan menemuinya dan memberitahukan kabar gembira ini" ucap Arsenio.
"Iya silakan tuan" ucap dokter.
Arsenio dan Rangga kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang rawat Ana.
Karena jarak ruangannya cukup dekat, akhirnya mereka pun sampai, Arsenio menghentikan langkahnya teoat di depan pintu, mencoba mengatur nafasnya yang memburu akibat bersemangat berjalan.
Setelah merasa cukup, Arsenio meraih daun pintu lalu memutarnya, membuat pintu perlahan-lahan terbuka.
Alvis yang saat itu sedang asik dengan game di ponsel milik Omanya pun melihat kearah pintu saat pintu mengeluarkan bunyi.
Arsenio masuk lebih dulu dan disusul oleh Rangga, tak lupa Rangga menutup kembali pintunya.
"Daddy" ucap Alvis, meletakan ponsel di tanganya ke atas meja lalu berjalan menghampiri Arsenio.
Sementara Rany, Kana dan Ana yang mendengarnya pun ikut menatap ke arah suara.
"An, suamimu datang, sepertinya aku harus meranjak dari sini" ucap Kana dengan pandangan masih tertuju pada Arsenio.
"Jangan pergi!"
Kana berganti menatap Ana "Tapi An.."
"Udah kamu disini saja!, temani aku disini"
ucap Ana dengan tatapan masih tertuju pada Arsenio yang saat ini memeluk Alvis.
Kana pun mengalah, mengikuti apa yang di minta sahabatnya itu untuk tetap berada di sampingnya.
Sementara di sana tampak Rany segera bangkit dari duduknya saat Alvis di peluk oleh Arsenio.
"Ngapain kamu ke sini lagi?" ucap Rany.
Arsenio dan Rangga yang mendengarnya pun menatap kearahnya.
"Aku sudah sering memperingatimu, untuk tidak datang kesini!. Tapi kamu masih saja punnya keberanian datang kesini lagi" lanjut Rany.
"Alvis sayang...sini sam mommy" pangil Ana.
"Daddy, aku mau sama mommy" ucap Alvis.
Arsenio pun menurunkan Alvis dan Alvis berlari menghampiri Ana.
Arsenio berjalan menghampiri mertuannya "Ma. Plis!, beri aku kesempatan gak banyak, satu kali saja. Aku janji akan menjaga Ana dengan baik" ucap Arsenio.
Rany mengelengkan kepalanya "Ngak Arsenio!, sudah cukup aku memberimu kesempatan. Tapi apa yang anakku dapatkan?, lihat dia terbaring lama di rumah sakit. Semua itu karena siapa?, karena ulamu, anak aku seperti itu" ucap Rany.
"Ma plis, mama sialakan minta apapun aku pasti melakukannya, asalkan mama tidak memintaku untuk melepaskan Ana. Aku benar-benar ngak bisa melakukan itu" ucap Arsenio.
Suara pintu membuat semua yang di dalam melihat ke arah pintu.
Gibran masuk lebih dulu di susul Alin dan selanjutnya di susul oleh Sarah lalu Nicholas.
"Sayang....., nenek sangat merindukanmu" Sarah berjalan melewati Rangga dan beberapa orang lainnya.
Setelah sampai Sarah langsung memeluk Ana dengan lembut Ana yang meradakan kelembutan itu pun ikut membalas pelukannya.
"Kamu tahu?, nenek sangat merindukanmu" ucap Sarah masih dalam pelukan Ana.
"Ana juga rindu nek"
Sarah melepaskan pelukannya menatap lekat wajah putih cucunya "Lihatlah, tampa make up pun cucuku terlihat cantik, bagaimana jika sudah dipoles make up, pasti sangat cantik bukan?" Sarah bergantian menatap Kana dan juga Ana.
"Benar nek, asal nenek tahu, dari dulu sampai sekarang Ana itu jadi incaran para lelaki saking cantiknya sahabatku ini" ucap Kana membenarkan ucapan Sarah.
"Oh benarkah?" ucap Sarah.
Kana menaggangguk "Benar nek, aku ngak bohong loh" ucap Kana sementara Ana yang mendengarnya tersenyum.
"Lihat nek, apalagi kalau dia tersenyum seperti ini, duh bukan main cantiknya, aku saja yang perempuan terpesona melihat kecantikannya apalagi laki-laki melihatnya aku yakin pasti laki-laki itu langsung jatu hati padanya" ucap Kana lagi.
Hal itu membuat Ana cekikikan "Nenek, jangan percaya semua yang di katakan dia, karena anak ini pintar sekali ngarang cerita" ucap Ana yang tak henti-hentinya tertawa.
"Ngak ko" ucap Alvis membuat semua irang yang tadinya fokus melihat Ana kini beralih menatap kearahnya.
"Duh setiap kali boca ini mau ngomong perasaanku tiba-tiba saja jadi ngak enak gini"" pikir Rangga.
"Aunt benar. Mommy itu memang cantik, tapi aku suka heran kenapa uncle ngak mau ya sama mommyku, padahal jelas mommyku cantik🤔" lanjut Alvis.
Kana yang mengerti maksud Alvis pun tersenyum, sementara Ana dan yang lainnya penasaran dengan uncle yang Alvis maksud kecuali Arsenio.
"Tuh kan, pasti ujung-ujungnya ke aku juga. Harus cepat keluar nih sebelum kena semprotan dari harimau" pikir Rangga, dengan pelan-pelan ia membuka pintu lalu segerah keluar.
"Itu artinya mommy ngak cantik, masih banyak loh yang lebih cantik di laur sana" ucap Ana sambil membelai lembut rambut putranya.
Alvis memegang tangan Ana membuatnya berhenti mengelus rambutnya.
"Ngak!. Mommy itu cantik, buktinya Daddy menyukai mommy" ucap Alvis sambil menunjuk ke arah Arsenio membuat semua orang ikut menatap Arsenio, sementara orang yang di tatap menjadi salah tinggkah namun begitu, ia masih berusaha tetap cool di depan semua orang.
"Memangnya Alvis tahu dari mana, kalau daddy menyukai mommymu?" tanya Sarah sengaja.
"Is oma, masa oma lupa🙄, oma kan ada waktu itu!, bahkan semua orang dengar loh daddy ngomong gini 'aku benar-benar ngak bisa melepaskan Ana, aku mencintainya ma' gitu loh kata deddy" ucap Alvis serius, seketika membuat semua orang di ruangan itu tertawa terpingkal-pingkal melihat Alvis mencontohkan selayaknya apa yang di ucapkan Arsenio waktu itu.
"Untung kamu anakku, kalau bukan, sudah kujewer telingganya sampai memerah" pikir Arsenio.