
Jarum jam sudah menunjukan pukul 18.30, tampak mobil Rangga sudah parkir di depan rumah Ana. Rangga memilih menunggu di dalam mobil sambil memeriksa beberapa pekerjaannya.
Dia tampak sibuk. Bagaimana tidak, dia harus menyiapkan segala keperluan Arsenio selama tinggal daerah B, dia juga harus menyiapkan beberapa keperluan pernikahan Arsenio dan Ana di tambah lagi dia harus menghendel semua pekerjaan Arsenio selama dia berada di daerah B.
Dering ponsel berhasil mencuri perhatian Rangga, diraihnya benda kecil itu, menekan tombol hijau lalu meletakannya ke telinganya.
π"Halo tuan" ucapnya dengan tatapan fokus pada pekerjaannya.
π"Apakah Arsenio sedang bersamamu?"
π"Tidak tuan"
π"Terus dimana dia sekarang?"
Rangga yang mendengarnya menghentikan aktivitasnya.
"Jika aku jawabnya tidak tahu pasti tuan tidak akan mempercayainya" pikir Rangga.
π"Tuan sekarang lagi berada di daerah B" jawab Rangga.
π"Daerah B?, ngapain dia di sana?"
π"Kalau soal itu saya kurang tahu tuan"
π"Katakan padanya, jangan berbuat macam-macam dan segerah kembalikan anak wanita itu!"
π"Baik tuan"
Sambungan telefon pun terputus, Rangga mengembalikan benda kecil itu di tempatnya.
"Sertinya tuan besar mengetahui rencana tuan, namun sepertinya tuan besar belum mengetahui rencana keseluruhan tuan karena tuan besar masih tampak tenang saat ini" pikir Rangga.
Pandanganya beralih menatap pintu rumah Ana yang beberapa menit lalu telah terbuka, Dari kejauhan tampak Rany sesekali memeriksa keadaan luar melalui jendela.
Rangga yang melihat itu segera merapikan beberapa berkasnya lalu keluar dari mobil.
"Sepertinya asisten tuan Arsenio belum datang" ucap Rany pada Ana.
"Baguslah, sekalian saja dia ngak datang" ungkap Ana.
"Saya sudah di sini nona" ucap Rangga berdiri dengan gaga di depan pintu dengan tatapan lurus ke Ana.
Sementara Ana dan Rany yang mendengarnya segera menoleh kearahnya.
"Apa semuanya sudah siap?. Jika sudah, kita berangkat sekarang" lanjut Rangga.
"Sudah, kami sudah siap" jawab Rany sambil menarik tangan Ana agar segera bangkit dari duduknya.
Ketiganya kemudian berjalan menuju mobil Rangga, seperti biasanya Rangga berjalan lebih dulu dan membukakan pintu mobil buat Ana dan juga Rany lalu kemuadian dia ikut masuk ke dalam mobil.
Deru kendaraan membawah mereka menjauh dari halaman rumah Ana, membela keramaian malam saat itu. Suasana mobil hening, hanya suara kendaraanlah yang terdengar. Ana menyandarkan kepalannya di kaca mobil sambil melihat keluar, sementara Rany sibuk dengan ponselnya dan Rangga tampak fokus mengemudi.
Setelah hampir setengah jam perjalanan, Rangga menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah salon yang biasanya ramain namun kali ini sedikit berbeda, tidak ada satupun pengunjung selain mereka.
Ana yang menyadari itu segera memperbaiki posisi duduknya "Apakah kita sudah sampai?" pikir Ana.
Rangga keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil buat Ana dan juga Rany.
"Silakan turun nona" ucap Rangga dengan eksperesi datarnya.
"Apa manusia ini ngak tahu bagaimana cara tersenyum?, dari dulu hingga sekarang eksperesinya seperti ini terus" pikir Ana lalu keluar dari mobil tanpa bertanya lagi. Kemudian di susul oleh Rany.
Ketiganya tampak memasuki salon yang nampak elegant, Ana memutar bola matanya menatap hampir seluruh sudut ruanganya.
Seorang wanita segera menghampiri mereka. "Ini nona Ana dan ini nyonya Rany, lakukanlah dengan baik!" ucap Rangga memperkenalkan Ana dan juga Rany.
"Baik pak" sahut wanita itu lalu kembali masuk ke sebuah ruangan kecil di sana.
"Ngapain lagi kita kesini?, aku lebih suka dengan tampilanku yang seperti ini" ucap Ana pelan namun masih dapar di dengar oleh Rangga.
"Aku hanya ingin menjalankan perintah tuan, jadi mohon kerja samanya nona" ucap Rangga.
"Ciih, kenapa dia begitu patuh dengan tuannyaπ" pikir Ana.
Di menit berikutnya wanita itu kembali dengan membawah sebuah gaun berwarna putih di tanganya "Silakan di coba nona" ucap wanita itu.
Ana tersenyum lalu mengambil gaun di tangan wanita itu "Tempatnya ada di sebelah sana" lanjut wanita itu.
"Baik terima kasih" ucap Ana.
Ana menoleh menatap sebentar ibunya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya lalu melangkah menuju ruangan yang di tujuk oleh wanita itu, sementara Rangga memilih untuk duduk di sofa bersama dengan Rany.
Selang beberapa menit Ana keluar dengan gaun yang telah di pilih, seorang wanita sudah berdiri di sampingnya sambil merapikan gaunnya.
"Pak.. bu...silakan di lihat" ucap wanita itu
Deg.
Rangga menatap lekat wanita dengan gaun berwarna putih berdiri tak jauh darinya.
"Pantas saja tuan Arsenio ingin mempercepat pernikahannya" pikir Rangga dengan susah paya menelan salivanya.
"Duh, kenapa gaunya kepanjangan gini sih mba?, aku jadi susah loh jalannya" ucap Ana.
"Memang sudah seperti ini modelnya nona"
Wanita itu beralih menatap Rangga "Bagaimana pak?"
Ana dan Rany yang mendengarnya ikut menatap Rangga yang tampak diam menatap lurus Ana tanpa berkedip.
"Sepertinya pak Rangga terpesona dengan kecantikan nona, jadi dia sampai ngak sadar kalau saya sedang bertanya padanya" ucap Wanita yang berdiri di samping Ana.
"Tahu terpesona juga manusia kulkas itu" ucap Ana pelan.
Wanita yang mendengarnya itu pun tersenyum lalu kembali bertanya yang ke dua kalinya.
"Pak.. Bagaimana dengan gaunnya?"
Rangga masih diam, Rany yang melihat itu segera menepuk pelan bahu Rangga yang membuat si empuh melihat menoleh kearahnya.
"Bapak di tanya loh" ucap Rany.
Rangga segera menatap kedua wanita yang berdiri tak jauh darinya "Maaf boleh di ulangi?"
"Bagaimana dengan gaunnya pak?" ucap wanita itu.
Rangga menggangguk "Tuan pasti mentukainya" jawabnya.
"Baik pak" wanita itu membimbing Ana berjalan menuju ruang rias.
Selang beberapa menit, Ana pun selesai di rias. Mereka berpamitan lalu kembali masuk ke dalam mobil. Rangga kembali melajukan mobilnya menjauh dari halaman Salon.
"Bapak yakin tuan Arsenio akan mengembalikan Alvis padaku?" tanya Ana berhasil memecahkan keheninggal di dalam mobil.
Rangga melirik sejenak Ana sebelum kembali fokus menyetir "Tuan tidak pernah ingkar dengan apa yang telah dia janjikan"
Ana menghela nafas panjang "Baguslah kalau begitu" ucap Ana lalu kembali menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, mobil Rangga kini memasuki gerbang sebuah gereja dan berhenti tepat di depanya.
Rangga segera keluar dari mobil dan membukahkan pintu buat Ana dan juga Rany.
"Saya bisa sendiri, lain kali tidak perlu melakukannya" ucap Ana lalu keluar dari mobil sementara Rangga diam tak merespon ucapannya.
Ana menatap sebuah mobil yang juga ikut parkir di sana, mobil itu tidak asing baginya. Namun dia lupa dimana dia melihat mobil itu.
"Silakan masuk nona, tuan sudah menunggu di dalam" ucap Rangga mempersilakan.
Ana melangkah masuk dengan bantuan ibunya, kedua pria yang berdiri di depan pintu segera bersiap-siap untuk membuka pintu gereja.
Setelah Ana berhasil sampai di depan pintu kedua pria itu segera membuka pintu, menampakan ruangan yang nampak sunyi hanya terdapat beberapa orang di sana termasuk pendeta.
Tatapan Ana langsung tertuju pada sosok pria yang sangat dia kenali, berdiri dengan gaga di depan sana sambil tersenyum kearahnya.
"Ma, kenapa aku tidak menemukan keberadaan Alvis di sini?" bisik Ana.
"Jangan-jangan dia sedang menipuku!" lanjut Ana.
"Tenangkan dirimu dulu!, jangan berpikir macam-macam!. Bukankah kamu sudah menemukan jawaban dari asisten pribadinya, bahwa tuannya tidak akan mengingkari janji yang telah dia buat" ujar Rany.
Ucapan Rany cukup membuat Ana tenang, Ana kembali melanjutkan langkahnya dengan bimbingan ibunya, terus berjalan memangkas jarak di antara mereka.
Setelah sampai Rany segerah memberi jarak meninggalkan Ana berdiri tepat di samping Arsenio yang sedari tadi tidak bisa memalingkan pandanganya dari Ana.
"Dimana tuan menyembunyikan anak saya?" ucap Ana pelan.
Arsenio tersenyum mendengarnya, meraih tangan Ana lalu mengengamnya.
"Acaranya sudah bisa di mulai" ucap Arsenio pada pendeta.
"Baik, saya akan memulainya" ujar pendeta.
Sementara Ana berusaha melepaskan tanganya dari gengaman Arsenio "Jangan coba-coba menipuku!. Cepat kembalikan anakku!" ucap Ana lagi.
Arsenio diam dan semakin mengeratkan genggamannya "Dalam hitungan menit kamu akan menjadi miliku. Setelah ini, kamu akan terus berada disisiku" pikir Arsenio.
Ana semakin kesal setelah melihat tidak ada tanggapan dari Arsenio. Tatapannya kini tertuju pada sosok pria yang berdiri tepat di samping ibunya.
"Papa?" pikir Ana terkejut.