My Love Story

My Love Story
Chapt | 041



Jadi, meskipun ada berpuluh bahkan ribuan gadis yang mengaku kekasih atau calon istri Hajime sekalipun, aku pasti diminta supaya tidak menyerah oleh Ayumi.


"Intinya, kamu mendukung hubunganku dengan Hajime? Kamu sangat mendukung jika aku tetap berjuang mendapatkan Hajime dan mengabaikan siapa pun pesaing yang ada di belakangku, termasuk gadis yang mengaku calon istri Hajime, begitu?" ujarku, menyimpulkan kalimat panjang Ayumi.


Ayumi nyengir kuda, gigi-giginya yang rapi pun tampak sebagian. "Yap!" jawab Ayumi dengan mata berbinar-binar. "Sudah


sewajarnya dan seharusnya cinta diperjuangkan. Kita tidak boleh menyerah saat perjuangan kita menemui jalan buntu sekalipun. Atas nama cinta, kita harus berjuang hingga titik darah terakhir!"


Terkesan hiperbolis memang! Tapi, itulah cara Ayumi menyemangatiku supaya kembali mengejar Hajime. Ayumi memang benar. Aku harus berjuang mendapatkan Hajime, atau paling tidak aku menunggu Hajime siuman dan memberi keterangan tentang gadis yang mengaku calon istri Hajime. Jika Hajime benar-benar mencintaiku, tentu ia tidak akan mempedulikan gadis itu. Kalaupun kedua orangtua mereka sudah merencanakan perjodohan di antara mereka, asalkan Hajime berkomitmen untuk keluar dari perjodohan itu dan setia kepadaku maka aku akan ikut ke mana pun dia pergi.


Hajime, aku hanya memiliki satu hati dan telah kutitipkan seluruhnya padamu. Kumohon jangan pernah kau permainkan hati ini, desisku dalam hati.


Kami kembali ke kelas saat terjadi kehebohan karena Fumiko membawa kabar yang tidak sedap, yakni dibatalkannya pertandingan antara klub Inggris dengan Timnas Jepang. Aku dan Ayumi diam termangu di depan pintu melihat cekcok mulut antara Fumiko yang mendukung berlangsungnya pertandingan itu dengan pihak yang tidak setuju dengan adanya pertandingan persahabatan tersebut yang diprakarsai oleh Fukuda. Alasan Fukuda sederhana, sebab gadis-gadis Jepang kerap bersikap hiperbolis terhadap para bintang sepak bola luar negeri, khususnya mereka yang berparas tampan. Dia lebih tertarik kalau mengobrol tentang kebijakan-kebijakan pemerintah Jepang ketimbang mengobrol seputar dunia


183olahraga, apalagi panggung hiburan. Fukuda paling benci jika seseorang terlalu berlebihan mengidolakan seorang figur panggung hiburan.


benar-benar tidak habis pikir, mereka bermain sepak bola untuk kehidupan dan kesenangan mereka sendiri. Mereka mendapat gaji, dan membelanjakan gaji itu untuk kebutuhan mereka sendiri, tak sedolar pun uang itu sampai kepada kalian! Lantas kenapa kalian terlalu mengidolakan mereka, sementara bertatap mata saja kalian tidak pernah?" ungkap Fukuda, mengemukakan keberatan keberatannya.


"Hei, Bodoh!" umpat Fumiko tidak terima, dia adalah salah satu pendukung setia klub Manchester United. "Yang namanya orang hidup itu sudah sewajarnya memiliki kesenangan, tahu! Gemar bermain atau hanya sekadar menonton sepak bola adalah salah satu kesenangan. Dalam sepak bola, banyak skill bermain yang luar biasa. Di situlah seni menonton sepak bola, selain menggemari pemain pemain berparas tampan."


Kulihat, Fukuda memalingkan wajah, seperti bosan mendengar pembelaan-pembelaan Fumiko yang itu-itu saja jika ditanya kenapa orang-orang di dunia ini "gila" sepak bola.


"Heh, cintailah produk dalam negeri!" sambung Fukuda, tidak kenal menyerah. la tetap bersikukuh membenci sepak bola, atau akan lebih tepat jika kusebut ia benci jika gadis-gadis Jepang terlalu mengidolakan pemain berparas tampan dari luar negeri. "Bukankah klub-klub Jepang juga mempunyai pemain yang tidak kalah hebat dengan pemain sepak bola dari Barat? Lantas, kenapa kalian lebih mengidolakan mereka daripada pemain lokal Jepang?"


Saat ini kami, aku dan Ayumi, masih terdiam di pintu kelas. Bel tanda masuk belum juga berdentang, sementara itu pelajaran matematika yang memuakkan itu akan berlangsung sebentar lagi.


"Fukuda, kau kan penggemar Kaisar Meiji," timpa Fumiko dengan kalimat-kalimat pembelaannya. "Sebagai penggemar Kaisar Meiji, tentu kau tahu sebagai negara berkembang kita pernah belajar banyak pada negara barat, hingga akhirnya Jepang menjadi negara maju seperti sekarang ini."


"Tapi, Kaisar Meiji tidak pernah mengajarkan untuk menggemari sepak bola secara berlebihan seperti kalian!" potong Fukuda kokoh, wajahnya tampak begitu sebal saat menyebut segala yang terkait dengan sepak bola luar negeri. "Memang benar katamu, semasa Restorasi Meiji, Jepang


185mengadopsi sistem politik, hukum, dan militer dari dunia Barat, tapi Meiji tidak pernah mengidolakan sepak bola luar negeri secara berlebihan!"


"Sudah..., sudah..., sudah!" pekik Ayumi, mencoba melerai perselisihan antara Fumiko dan Fukuda. Ayumi berjalan mendekat ke arah Fumiko dan Fukuda yang sedang terlibat konflik. "Fukuda, kita tidak bisa memaksakan untuk menyukai sesuatu, karena setiap orang memiliki kecintaan sendiri-sendiri terhadap sesuatu yang baginya menarik atau menyenangkan. Jadi, biarkanlah orang-orang seperti Fumiko, yang sangat menggemari pemain sepak bola luar negeri, menggunakan haknya untuk mengidolakan pemain pemain itu. Kau tidak berhak melarang mereka! Fumiko, sebaiknya kau jangan terlalu ngotot mempertahankan martabat pemain sepak bola idolamu. Selain tidak ada keuntungan yang jelas bagimu, sikap seperti itu juga akan memicu terjadi konflik, terutama jika disampaikan kepada orang yang tidak menyukai sepak bola seperti Fukuda ini."


"Iya, sebaiknya kalian berdamai sajal" timpalku yang saat ini berdiri di samping Ayumi. "Ayumi benar, tidak ada satu pun orang yang bisa memaksa hati kita. Karena kalau sudah menyangkut urusan hati, itu artinya kita bersentuhan dengan sesuatu yang sangat pribadi."


"Benar katamu, urusan hati memang selalu sensitif dan bersifat sangat pribadi. Termasuk urusan cinta-mencintai pemain sepak bola yang saat ini terbang ke Manchester demi mengejar cita-citanya, bukan? Dan, sebenarnya kau juga kecewa karena dengan batalnya pertandingan itu batal pula kesempatanmu bertemu Kamazaki, kan?" Tiba-tiba, Ayumi mendekatkan bibirnya dan berbisik demikian di telingaku. Aku mencubit pinggang Ayumi sampai dia berjingkat dan menjerit keras. Bersamaan dengan itu, bel pun berdentang


Aku dan Akira pernah ingin bunuh diri. Aku putus asa karena tak kunjung menemukan pelabuhan hati yang paling tepat, sementara Akira merasa menjadi laki-laki paling sial karena dikhianati kekasihnya, selain alasan gagalnya Akira terbang ke Manchester dalam seleksi penerimaan siswa baru Manchester Football Academy.


Setelah kejadian itu, aku lebih dekat dengan Akira. Hampir setiap malam aku mendengarkan keluh-kesahnya. Komunikasi di antara kami juga semakin baik. Tidak terasa, aku telah kehilangan saat-saat indah bersama Akira, Kami terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Kami juga jarang sekali terbuka soal hati.


Kejadian percobaan bunuh diri Akira dan diriku menya darkan betapa pentingnya keluarga, melebihi apa pun dan siapa pun di dunia ini. Keluarga lebih penting dari pacar karena keluarga tidak mengenal putus, sementara pacar sangat rawan dengan kata putus tersebut. Dan, hikmah besar dari kejadian itu, kini baik aku maupun Akira sama sama saling memberi perhatian kepada sesama. Misalnya, kepedulian Akira mengantarkan aku ke sekolah. Atau, kepedulianku menunggu Akira makan malam di rumah. Meski Akira pulang hingga larut, aku tetap menunggunya dan kami akan makan bersama seperti keluarga harmonis.


Memang sudah seharusnya aku dan Akira hidup harmo nis, saling perhatian, dan saling mendukung. Kami tidak seperti anak Jepang kebanyakan yang diasuh dengan baik oleh kedua orang tua. Namun, kami harus tetap bersyukur. Sebab meskipun kedua orang tua kami jauh dan hanya pulang ke Jepang sekali dalam setahun, kehidupan kami terjamin dengan baik. Kami tidak pernah kekurangan.


Syukurlah, kini Akira sudah mulai bisa menerima kenyataan bahwa pacarnya memang hobi gonta-ganti pacar. Mungkin, aku juga harus belajar banyak dari Akira. Aku harus belajar membenci Kamazaki sebagaimana Akira membenci Shizuka Sawa, pacar Akira. Soal kegagalan


Dalam seleksi penerimaan siswa di Manchester Football Academy, anak itu juga sudah bisa bersikap dewasa. Dia berjanji akan lebih giat berlatih dan mencetak gol sebanyak banyaknya dalam setiap pertandingan.


Aku juga tidak melarang larang Akira bertaruh takarakuji, permainan lotre yang sudah dilegalkan oleh pemerintah Jepang itu. Belum lama ini Akira kembali memenangi takarakuji, dan aku dibelikan Tab keluaran terbaru, ah...senangnya diriku! Bukan itu saja, Akira juga mentraktirku jalan-jalan di Tokyo Disneyland, dan pulangnya kami ke pusat Harajuku karena Akira sudah berjanji akan membelikanku pernak-pernik Harajuku. Meskipun kisah salju Sapporo bersama Kamazaki tidak akan pernah terulang lagi dalam hidupku, namun aku bahagia meski hanya bermain di Tokyo Disneyland. Ketulusan Akira membuat suasana terasa sangat berbeda.


Sejak itulah hubunganku dengan Akira menjadi lebih harmonis.


"Apa lagi yang kau pesan, Nona?" tegur pelayan resto ran siap saji karena ternyata aku melamun cukup lama di hadapannya.


"Apa lagi, ya? Ehm..., sepertinya sudah cukup. Itu saja. Saya hanya membutuhkan dua paket Japan Premium.


______________________________________


Bersambung~