
Di waktu yang sama di kediaman Arsenio tampak beberapa orang sibuk menyiapkan sarapan pagi buat Arsenio bersama keluarga.
Sementara di ruang keluarga terlihat Gibran, Rany, Alin, Nicholas dan Sarah sedang berada di sana menemani Alvis yang sedang menonton film kesukaannya.
"Kenapa daddy dan mommy belum juga turun?" tanya Alvis dengan pandangan lurus ke tv.
"Ada benarnya Alvis, kenapa mereka belum juga turun?, padahal waktu tidur dirumah mereka cepat bangunnya" ujar Rany yang membuat yang lainnya menatap kearahnya terkecuali Alvis.
"Ehm, sepertinya sesuatu telah terjadi, makannya mereka sampai sekarang belum bangun" kata Alin di barengi dengan senyum penuh arti.
"Ya aku berpikir juga seperti itu" lanjut Sarah.
"Biasalah, kembali ke masa penganti baru" ujar Nicholas.
"Memangnya terjadi apa? Sama daddy dan mommy" tanya Alvis yang kini berganti menatap oma dan juga opanya.
Semuanya terdiam mendengar pertanyaan Alvis "Alvis sedang bertanya loh, Opa...oma"
Gibran menghela nafas panjang "Tidak terjadi apa-apa sayang, hanya saja daddy dan mommy merasah lelah makannya mereka belum bangun" jawab Gibran yang akhirnya membuka suara.
"Nah, benar tuh kata opa, daddy dan mommy sangat lelah makanya belum bangun" sambung Alin membenarkan ucapan suaminya.
"Lelah?, memangnya habis ngapin?. Perasaan semalam hanya merayakan ulang tahun mommy itu pun tidak memelahkan hanya mengundang kantuk saja" ujar Alvis.
"Pakai di tanya lagi habis ngapainš¤¦" gumam Rany.
"Anak siapa nih yang sangat cerdas. Terus harus jawab apa? ngak mungkin kan jawab sesuai kebenarannya yang terjadi" gumam Alin meresa binggung.
"Habis olaraga malam" sahut Rany yang membuat yang lainnya rerkejut kecuali Alvis.
"Ran, apa sih yang kamu katakan?, dia masih kecil loh" Alin menatap Rany tak percaya, sementara Rany tampak diam.
"Oh olaraga malam ya?, seperti daddy waktu itu?" ucap Alvis.
Rany mengguk "Iya sayang" sahut Rany sementara yang lain masih terlihat binggung kemana maksud arah pembicaraan Rany dan Alvis.
"Hmm, gitu ya" ucap Alvis lalu kembali menatap layar tv.
Melihat semuanya terus menuntut penjelasan darinya, Rany pun berkata "Hmm, panjang ceritanya nanti aja kalau ada waktu baru aku jelasin"
Setelah mendengar ucapanya semua terlihat kembali fokus ke layar tv. Sesekali mereka tampak tertawa karena film yang dinonton mereka.
Sementara di kamar terlihat Ana masih berusaha membujuk suaminya agar mengizinkannya bangun.
"Mas, janganlah seperti ini!. Di bawah pasti mama, papa, nenek dan kakek sudah menunggu kita" ucap Ana.
Sementara orang yang dimaksud seakan tidak mendengar ucapan istrinya, Arsenio masih dengan posisi terus memeluk istrinya.
"Sayang... Ayolah, jangan gini terus!. Memangnya mas ngak lapar apa?" kata Ana.
"Lapar" jawab Arsenio.
"Tuh kan, mas juga lapar. Udah lepasin aku!, aku akan menyiapkan makanan untukmu" ucap Ana.
Arsenio mengelengkana kepalanya "Aku ngak mau makan makanan" ucap Arsenio.
Ana menyeringitkan dahi binggung "Kalau ngak mau makan makanan, terus mas mau makan apa?" tanya Ana serius.
Arsenio mengakat sedikit kepalanya agar bisa melihat dengan jelas wajah istrinya "Maunya kamu, plis...., boleh ya?" ucap Arsenio tak kalah serius.
Ana yang mendengarnya tampak bersusah paya menelan salivanya "Tapi mas... "
"Plis..., aku sudah terlalu lama menunggu, kamu tahu seberapa besar aku berusaha menahannya agar tidak melakukannya dengan wanita lain?, aku benar-benar menginginkanmu sekarang" ucap Arsenio dengan suara seraknya.
Ana terdiam, muncul rasa bersalah karena beberapa kali telah menolak suaminya waktu malam. Dengan rasa sedikit ragu dan juga takut bercapur menjadi satu, Ana pun mengiyakan keinginan suaminya.
"Benarkah sayang?" tanya Arsenio bersemangat, sementara Ana menggangguk sebagai jawaban.
Melihat jawaban jawaban istrinya, tak perlu menunggu lama Arsenio pun memulai aksinya, menerusuri setiap lekuk tubuh istrinya.
Arsenio mendekatkan wajahnya ke ketelingga Ana yang terlihan memerah "Jangan takut!, aku akan melakukannya dengan pelan" bisik Arsenio, Ana pun menggagguk setuju.
Melihat itu Arsenio tampak memperlancar aksinya. Keduanya pun larut dalam kenikmatan.
Ruang keluarga
"Pemisi tuan, permisi nona" ucap Art setelah sampai. Rany dan yang lainnya menoleh kerahnya termasuk Alvis.
"Sarapan paginya sudah siap, tuan dan nyonnya sudah bisa menuju meja makan untuk sarapan" lanjut Art.
"Apakah Ana dan Arsenio sudah ada di meja makan?" tanya Alin.
Art mengeleng "Belum ada nyonya" sahutnya.
"Udah, kita sarapan aja duluan, biar nanti mereka nyusul" ucap Nicholas lalu bangkit dari duduknya.
"Ya, aku pun berpikir seperti itu" sambung Gibran yang juga ikut bangkit dari duduknya dan langsung disusul oleh yang lainnya.
"Ayo sayang kita sarapan" ucap Rany mengulurkan tanganya ke arah Alvis.
Alvis yang melihatnya segera meraih tangan Rany "Ayo oma" sahutnya.
"Bu tolong tunjukan jalan menuju meja makan ya, soalnya kami belum mengetahui di mana letaknya" ujar Sarah.
"Baik nyonya" jawab Art.
"Mari.. " lanjut Art lalu berjalan lebih dulu dan langsung di susul oleh yang lainnya.
Sesampainya di sana, Art pun mempersilakan mereka duduk dan menikmati sarapannya.
"Maaf tuan, nyonya. Apa perlu saya samperin ke kamar tuan dan nona Ana untuk memeberitahukan kalau sarapannya sudah siap?" tanya Art.
Gibran mengarah kerahnya "Tidak perlu, biarkan mereka sendiri yang turun kesini" jawab Gibran.
"Dan jika sampai kita selesai sarapan mereka belum juga turun, tolong siapkan sarapan baru untuk mereka" lanjut Gibran.
"Baik tuan" sahut Art lalu berlalu pergi.
"Sayang mau makan apa?, biar oma ambilin?" tanya Alin pada Alvis.
"Hmm, makan apa ya?š¤" Alvis tampak berpikir sambil melihat banyaknya menu makanan di atas meja.
"Yang itu aja oma" lanjut Alvis menunjuk makanan yang dia mau.
"Ow, Alvis mau nasi goreng?, sebentar ya oma ambilin" ucap Alin sementara yang lainnya tampak menikmati sarapannya.
"Oh iya, aunty dan uncle tidak ikut menginap disini?" tanya Alvis yang baru menyadari ketidak hadirannya Kana dan juga Rangga.
"Ada ko, cuma pagi-pagi sekali mereka sudah pergi. Karena mereka harus berangkat ke kantor" sahut Sarah.
"Aku juga harus berangkat ke sekolah tapi nanti setelah selesai sarapan" ucap Alvis.
"Iya sayang, terus siapa yang antarin ke sekolah?" tanya Rany.
"Tuh.. dua pria yang berdiri disana" jawab Avis sambil menunjuk ke arah yang dimaksud sementara yang lainnya ikut melihat kearah pria itu.
"Kamu yakin sayang?, mereka yang akan mengantarmu?" tanya Alin tak percaya.
Alvis menggagguk "Iya oma, tuh yang ada di sebelah kiri itu pak surya dan yang di sebelah kanan namannya pak Benito. Mereka di tugaskan oleh daddy untuk menjaga aku" jawab Avis lalu kembali fokus menyatap makanannya.
"Wah, keren ya daddymu. Sampai-sampai menyuruh orang menjagamu dan lagi opa lihat-lihat mereka bukan orang sembarangan loh" ucap Gibran.
"Maksud opa apa?" tanya Alvis menyeringitkan dahi.
"Maksud opa, mereka tuh pasti pandai berkelahi" jelas Gibran.
"Hmm, pantas aja mereka sering menampilkan wajah datarnya" ucap Alvis.
"Kalau saja aku tidak melaporkan hal itu pada daddy pasti setiap harinya aku tidak melihat senyum dari wajah mereka" lanjut Alvis.
"Wah.. Wah jadi kamu melaporkan mereka kepada daddymu hanya karena mereka jarang tersenyum?" tanya Nicholas tak percaya.
Akvis menggangguk "Benar, habisnya mereka terlihat kaku dan itu membuatku takut" jawab Alvis polos.
"Bwaa hahahah" Seketika semua yang mendengar jawaban Alvis pun tertawa.
"Alvis... Alvis kamu sungguh anak yang lucu" ucap Alin diselah-selah tawanya.