
Arsenio diam, berusaha mencerna ucapan Rangga barusan.
"Jangan bilang yang aku anggap mimpi itu sebenarnya nyata" gumam Arsenio dalam hati.
"Jadi malam itu, istri saya menemani saya di apartementmu?" tanya Arsenio sambil Menatap Rangga.
"Benar tuan" jawab Rangga sambil mengaggukan kepalanya.
Arsenio diam sejenak, lalu segera bangkit dari duduknya.
"Kita pulang sekarang!" ucap Arsenio sambil menatap Rangga dari samping.
"Baik tuan" sahut Rangga.
Keduanya pun berjalan keluar dari ruangan secara bersamaan, memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai satu.
Beberapa menit kemudian pintu lift kembali terbuka, Arsenio segera keluar dan berjalan menuju parkiran begitu juga dengan Rangga berusaha mengimbangi langkah tuannya.
Setelah samapai seperti biasanya Rangga membukakan pintu mobil dan mempersilakan Arsenio masuk. Lalu ia pun segera masuk dan mengendarai mobil menuju kediaman keluarga Saguna.
"Tolong cepat sedikit!, istriku telah menungguku di rumah" ujar Arsenio.
"Baik tuan" sahut Rangga lalu menambah kecepatan mobil, mobil melaju melewati ramainya jalan siang itu.
Setelah cukup lama dalam perjalanan mobil yang di kendarai Rangga memasuki halaman kediaman keluar Saguna dan berhenti tepat di depan rumah.
Arsenio segera turun lebih dulu, tidak lagi menunggu Rangga membukakan pintu mobilnya untuknya
"Selamat datang tuan" sapa Bi Lila dan beberapa pelayan lainya.
"Apa istriku sudah sampai?" tanya Arsenio.
"Iya sudah tuan" jawab Bi Lila.
Mendengar itu pandangan Arsenio beralih pada Rangga asistrnya.
"Terima kasih, kau boleh kembali!" ucap Arsenio lalu melangkah masuk dan di susul oleh Bi Lila dan pelayan lainnya.
"Sama-sama tuan" sahut Rangga yang masih dapat di dengar oleh Arsenio.
Arsenio menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Bi Lila.
"Mereka ada di ruangan mana?" tanya Arsenio.
"Di ruangan yang di sebelah disitu tuan" jawab Bi Lila sambil menunjukan ruangan yang di maksudnya.
"Baik terima kasih" ucap Arsenio lalu bergegas menghampiri ruangan tersebut.
Diraihnya daun pintu lalu memutarnya, pintu berlahan terbuka dan ia pun segerah masuk, semua yang mendengarnya pun melihat kerahnya termasuk Ana.
Seketika pandangannya tertuju pada istrinya yang membuat tatapan mereka bertemu, namu Ana segerah menundukan kepalanya menghindari kontak mata dengan suaminya.
"Kemana saja kamu?, kami telah lama menunggumu" tanya Nicholas yang pada akhirnya buka suara setelah cukup lama diam.
"Di telefon beberapa kali namun tak ada juga jawaban" sambung Nicholas.
"Sudah pa!, yang terpenting sekarang dia sudah datang kan?" ucap Alin.
Tatapan Alin beralih pada putranya.
"Ayo nak duduk!" sambung Alin.
Arsenio menatap sebuah map yang berada di atas meja, ia tau betul apa isi map tersebut.
Tatapannya beralih pada mereka yang sedang duduk, ditatapnya satu persatu mereka secara bergantian.
"Apa kamu tidak mendengar ibumu meyuruhmu duduk?" ucap Nicholas menatap putranya.
"Aku tidak akan menceraikan Ana!" ucap Arsenio dengan suara lantang.
Hal itu sontak membuat semua melihat ke arahnya termasuk Ana. Nicholas dan Alin yang mendengarnya pun bangkit dari duduknya menatap lurus ke arah Arsenio.
"Apa maksudmu tidak ingin menceraikan Ana?" pekik Nicholas.
"Bukankah kamu telah berjanji sama mama?, bahwa kamu akan menceraikan Ana" ucap Alin.
Berbeda halnya dengan Alin dan Nicholas yang marah mendengar keputusan Arsenio. Sarah yang mendengar itu malah tersenyum, raut rasa bahagianya terukir jelas di wajahnya.
"Ngak bisa!. Kamu telah berjanji pada mama akan menceraikan Ana, jadi cepat tanda tangani surat cerai kalian!" ucap Alin dengan suara tak kala tinggi.
Gibran yang melihat itu segerah meraih tangan istrinya mengengamnya dengan erat.
Hal itu tak luput dari pandangan Rany, hati terasa perih saat melihat pemandangan itu, ibarat luka baru yang dengan sengaja ditetesi air lemon. Ingin rasanya ia berlari keluar, menangis sejadi-jadinya namun ia harus menahanya demi menemani putrinya.
"Bagaimana bisa aku menceraikan istriku dengan kondisinya yang sedang hamil anakku?" ucap Arsenio sambil menatap Ana.
Seketika ucapanya berhasil membuat seisi ruangan terkejut termasuk Ana.
Ali, Gibran, Nicholas, Sarah dan Rany pun menatap Ana, Ana yang di tatap semua orang pun tak tau harus merespon apa.
"Apa benar kamu sedang hamil?" tanya Rany yang akhirnya membuka suara.
Ana diam, menundukan kelapanya tak berani menatap lurus ibu, mertua, bahkan suaminya.
"Apa yang kamu rencanakan mas?, sampai rela membohongi semua orang" ucap Ana dalam hati.
"Apa kalian tega melihat cucu dan cicit kalian lahir tanpa keluarga yang lengkap?" ucap Arsenio lagi.
"Oh tentu tidak!, aku bukan nenek yang jahat. Yang membiarkan cicitnya lahir dengan kondisi keluarga yang tidak lengkap" sahut Sarah lalu bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Ana dan duduk tepat di sampingnya.
"Terima kasih telah memberi nenek cicit" ucap Sarah sambil mengengam kedua tangan Ana.
"Jangan khawatir, nenek akan selalu membelamu. Semua itu nenek lakukan demi dirimu dan calon cicit nenek" sambung Sarah.
Tatapannya beralih pada Arsenio yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Nak, tolong bawah istrimu keluar!, nenek mau bicara dengan mereka" ucap Sarah.
Arsenio pun menghembuskan nafas panjang merasa lega.
"Baik Nek" jawab Arsenio sambil berjalan menghampiri Ana. Sesuai perinta, ia meraih tangan istrinya lalu membawahnya keluar dari ruangan.
Di dalam ruangan Sarah bergantian menatap mereka.
"Duduk!" tita Sarah pada Alin dan juga suaminya. Keduanya pun menurutinya.
"Selama ini aku cuma diam, membiarkan kalian mengatur Arsenio dan juga Ana. Apa kalian pikir mereka ngak punya hati?, dengan seenaknya memutuskan, bahkan memaksa mereka untuk bercerai" ucap Sarah menjeda ucapannya.
"Kalian sadar ngak?, kita itu sudah cukup tuan, sebentar lagi punya cucu dan juga cicit. Jadi mohon turunkan sedikit ego kalian!. jangan pada egois, hanya mentingkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan mereka".
"Apa kalian tidak menyadari?, mereka itu saling mencintai dan sama sekali tidak ingin berpisah. Mereka yang masih mudah saja rela menurunkan ego mereka demi kepentingan kalian demi, menjaga perasaan kalian. Sementara kalian, apa yang kalian lalakukan pada mereka?, tidakah kalian sedikit saja memikirkan perasaan mereka?".
"Kalian juga harus menjaga perasaan mereka!. Jangan hanya mereka saja yang terus-terusan mengorbankan diri, mengorbankan kebahagiaan mereka hanya untuk menjaga perasaan kalian. " ucap Sarah panjang lebar.
Semuanya tanpak diam mendengar ucapan Sarah.
Di saat yang bersamaan, tanpak Arsenio membawah Ana naik ke atas, membawanya masuk ke dalam kamar yang telah lama ia tinggalkan.
"Apa maksud mas ngomong begitu pada mereka?, sementara mas sendiri tau kalau kita..."
"Kita apa?, kita belum pernah melakukan itu?" potong Arsenio sebelum Ana menyelesaikan ucapannya.
"Kamu pikir aku tidak tau?, atau kamu berharap aku tidak mengetahuinya?" ucap Arsenio melontarka berbagai pertanyaan pada istrinya.
Ana diam, tidak merespon berbagai pertanyaan suaminya.
"Apa dia benar-benar sadar saat itu?" ucap Ana dalam hati.
"Kalau suami lagi bicara itu ditatap!, jangan merunduk doang!" ucap Arsenio tegas.
Lagi-lagi Ana diam, tidak merespon suaminya.
"Kenapa?, apa kamu takut menatap suamimu sendiri?" tanya Arsenio lagi.
Ana mengganguk sebagai jawaban.
Arsenio yang melihat itu pun menghela nafas panjang, lalu meraih dagu istrinya.
"Sayang, tatap mataku!" pinta Arsenio lembut.