My Love Story

My Love Story
Bab 91



"Melihat semua barang-barang nona lengkap, sepertinya nona tidak di rampok!, tapi nona Ana yang di culik" ucap Rangga yang langsung mendapat tatapan tajam dari Arsenio.


"Bukankah saya sudah mengatakan awasi setiap pergerakan istriku?" bentak Arsenio.


"Maaf" ucap Rangga.


"Dasar bodoh" pikir Rangga mengutuk dirinya.


"Jika, istriku sampai kenapa-kenapa, aku tidak akan pernah melepaskanmu!"


Rangga terdiam, kepalanya ditundukan tidak punya keberanian untuk menatap lurus kearah tuannya.


"Temukan keberadaan istriku secepatnya!, saya tidak akan melepaskan orang yang telah berani menculik istriku" Arsenio mengepalkan kedua tanganya, matanya memerah karena berusaha menahan emosinya.


"Saya tidak mau tahu bagaimana caranya istriku harus segera di temukan keberadaannya!" lanjut Arsenio.


"Baik tuan" Rangga segera bergerak memerintahkan semua orang-orang kepercayaannya untuk segera mencari keberadaan Ana.


Sementara Arsenio menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, pandanganya menatap layar ponselnya, ia tampak serius mengamati layar ponselnya dengan jari-jari tanganya tampak sesekali menari di atas keyboard ponselnya.


Beberapa menit kemudian sebuah mobil berwarna hitam datang dan berhenti di tepat di depan Rangga, dua orang pria bertubuh kekar keluar dari mobil itu.


"Amankan mobil nona sekarang!" titah Rangga.


"Baik pak" sahut kedua pria itu bersamaan.


Salah satu dari mereka kembali masuk ke mobilnya dan yang satunya lagi berjalan dan masuk ke dalam mobil Ana.


Setelah urusan mobil telah selesai Rangga kembali masuk ke dalam mobil menoleh kebelakang sebelum kembali menyalakan mesin mobil.


"Periksa semua cctv jalan yang di lewati istriku, jangan sampai ada yang terlewati!" pinta Arsenio.


"Baik tuan"


Baru saja Rangga hendak menjalankan mobil, terdengar suara yang berasal dari benda kecil yang ada di dalam saku Rangga, Rangga secepatnya mengeluarkan benda kecil dari sakunya.


📞"Halo" ucap Rangga.


📞"Halo pak, kami sudah berasil menggumpulkan semua rekaman cctv jalan"


📞"Jangan kemana-mana, kami kesana sekarang!" ucap Rangga lalu memutuskan sambungan telefon.


Rangga melajukan mobil menuju seseorang yang baru saja menelfonya.


Di saat yang bersamaan, mobil yang membawah Ana berhasil memasuki halama rumah yang lumayan besar dan mobil berhenti tepat di depan rumah.


Seseorang tampak keluar dari rumah dan berjalan menghampiri mobil.


Seseorang di dalam mobil menurunkan kaca mobilnya "Aku sudah melakukan tugasku, sekarang gilaranmu, pastikan dia tidak akan lepas darimu!"


Seeorang di luar mobil tersenyum "Kalau soal itu kamu jangan khawatir" ia pun berjalan menuju pintu belakang mobil, membukanya dan memopong Ana dan membawahnya keluar.


"Terima kasih atas kerja samanya" ucap seseorang sebelum membawah Ana masuk.


"Senang bekerja sama denganmu" balas seseorang di dalam mobil lalu kembali menaikan kaca mobilnya dan mobilnya melaju menjauh melewati jalan yang nampak sepi.


**


Jarum jam sudah menunjukan pukul 15.00, Rany tampak berjalan mondar-mandir sambil sesekali mencoba menelfon Ana.


"Kamu dimana sih?, dari tadi ngak di angkat juga telfonya" pikir Rany.


"Coba telefon Kana deh, siapa tahu Ana bersama Kana" ucap Rany lalu mencoba menelfon Kana.


📞"Halo tante?"


📞"Halo Na, kamu diamana?" tanya Rany.


📞"Aku lagi di jalan menuju pulang tante"


Rany terdiam mendengar jawaban sahabat anaknya "Kalau Ana tidak bersama Kana, itu artinya Ana belum juga kembali dari daerah B" pikir Rany.


📞"Halo tante"


📞"Iya sayang"


📞"Kenapa tante diam?"


📞"Tante lagi mikirin Ana"


📞"Loh memangnya Ana kenapa?" Kana menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu mematikan mesin mobilnya.


📞"Panjang ceritanya nak"


📞"Ya udah, tante tenang ya, aku kesana sekarang!"


📞"Iya, kamu hati-hati ya"


📞"Iya tante"


Sambungan telefon terputus, Kana kembali menyalakan mesin mobilnya lalu melaju menuju kediaman Ana.


Kana menyalami Rany setelah ia sampai dan Rany pun mengelus lembut kepala Kana.


"Tante, memangnya Ana kenapa?, coba cerita padaku!" ucap Kana.


"Jadi seperti yang kamu ketahui kalau Alvis itu lagi dibawah oleh ayahnya dan syarat untuk Alvis kembali Ana harus menikah dengan Arsenio"


"Ha... yang benar tante?" Kana membulatkan mata tak percaya.


"Iya benar, terus kami tidak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan Arsenio dan Ana akhirnya menikah lagi dengan Arsenio"


Kana tampak serius mendengar penjelasan Rany.


"Pernikahanya dibuat dalam waktu yang singkat jadi kami tidak punya waktu untuk memberirahumu" ucap Rany merasa bersalah karena bagaimana pun Kana adalah teman baik Ana.


"Tante benar-benar minta maaf soal hal itu"


"Iya ngak apa-apa tante, aku paham kok, terus kelanjutannya seperti apa?" Kana tidak memikirkan soal pernikahan Ana dengan Arsenio, yang Ana di pikiranya keadaan Ana sekarang.


"Terus sesuai perjanjian karena Ana telah menikah dengan Arsenio, jadi Arsenio sudah mengirimkan alamat diamana Alvis berada dan tadi pagi Ana mendapatkan pesan dari Rangga yang berisi alamat itu"


"Ana langsung bergegas mencari alamat itu untuk menjemput Alvis namun sampai sekarang Ana dan Alvis belum juga kembali tante khawatir terjadi sesuatu pada mereka" lanjut Rany.


"Apa tante sudah coba menelfonya?" tanya Kana. Rany menggangguk "sudah, hpnya aktif namun tidak ada jawaban"


Kana yang mendengarnya segera mengeluarkan ponselnya dari tasnya "Biar Kana menelfonya lagi" ucap Kana.


"Ayo Ana anggkat dong" ucap Kana sambil memegang ponselnya yang di letakan di telinganya.


"Benar ngak di angkat. Apa tante tahu di mana alamatnya?, Kana akan menyusulnya"


Rany mengelengkan kepalanya "Tante ngak tahu alamat lengkapnya cuma tahu kalau tempat itu berada di daerah B" jawab Rany.


"Daerah B?" Rany menggangguk "Benar Na"


"Ya udah Kana pamit ya, mau menyusul Ana"


"Eh kamu yakin Na?, pergi menyusul Ana, kamu kan tidak mengetahui alamat lengkapnya" tanya Rany ragu.


"Iya tante, tante ngak perlu khawatir!. Aku akan menanyakan alamat lengkapnya pada pak Rangga asistenya tuan Arsenio.


"Baiklah, kamu hati-hati ya!"


Kana berjalan memasuki mobilnya. Mobilnya melaju menuju daerah B.


Kana meraih ponselnya dengan tatapan terus lurus ke depan.


"Sebaiknya aku telfon saja pak Rangga" ucap Kana melirik sejenak layar ponselnya mencari nama kontak asisten pribadi Arsenio itu, setelah berhasil menemukannya ia pun langsung melakukan pangilan.


Di saat bersamaan Rangga yang masih fokus memeriksa rekaman cctv pun segera menoleh pada benda kecil yang mengeluarkan bunyi.


"Siapa?" tanya Arsenio tampa memalingkan pandanganya dari layar Computer.


Rangga meraih ponselnya lalu menatap layar ponselnya "Teman nona Ana" sahut Rangga.


"Seperti mereka mau menanyakan keberadaan nona" lanjut Rangga.


Arsenio menoleh menatap Rangga "Angkatlah dan biarkan aku ikut mendengarnya!"


"Baik tuan" sahut Rangga lalu menekan tombol hijau yang membuat sambungan telefon terhubung.


📞"Halo selamat sore pak" ucap Kana


📞"Sore"


📞"Sebelumnya saya minta maaf telah mengganggu waktunya bapak, saya hanya ingin meminta alamat lengkap di mana Ana menjemput Alvis, karena sampai sekarang teman saya belum juga kembali, saya sedang dalam perjalanan menuju daerah B menyusul Ana" jelas Kana panjang lebar.


Rangga dan Arsenio yang mendengarnya saling pandang.


📞"Halo pak" ucap Kana


Arsenio meraih ponsel Rangga dari tangannya.


📞"Kau tidak perlu melanjutkan perjalananmu menuju daerah B"


Kana yang mendengarnya terdiam.


📞"kau tidak perlu khawatir, mereka akan aman bersamaku!" lanjut Arsenio.


📞"Baik tuan, tolong di jaga baik-baik sahabatku dan juga keponakanku!" ucap Kana yang mengenal suara Arsenio.


📞"Hmm"


Arsenio segera memutuskan pangilan telefonnya melengembalikan ponsel Rangga .


"Cepat temukan istriku!" ucap Arsenio dengan suara tinggi.


"Baik tuan" jawab beberapa orang di sana termasuk Rangga.