My Love Story

My Love Story
Bab 62



Deru kendaraan membawah jauh Rangga dan Arsenio dari halaman rumah sakit.


"Apa yang terjadi?" tanya Arsenio menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil.


"Sepertinya tuan besar telah melihat artikel tentang nona Ana" sahut Rangga melirik Arsenio melalui kasa spion.


Arsenio mengapu kasar wajahnya memnggunakan tangan kanannya, memejamkan mata lalu meletakan tangan kanannya tetap ke alisnya dan berlahan memijitnya dengan lembut.


"Maaf tuan, sepertinya nona An... "


"Berhenti!, saya tidak ingin mendengar apapun lagi tentangnya" Arsenio memotong ucapan Rangga sebelum dia menyelesaikan ucapannya.


"Baik tuan" sahut Rangga lalu kembali fokur menyetir.


Selang beberapa menit mobil yang di kendarai Rangga memasuki halaman rumah sakit dan berhenti tepat di depannya. Rangga segera keluar dari mobil membuka pintu mobil buat tuannya.


Arsenio keluar dari mobil merapikan jasnya lalu menatap Rangga dari samping.


"Dimana ruanganya?"


"Kamar VVIP A1.1 tuan" sahut Rangga.


Setelah mendengar jawaban Rangga, Arsenio segera menuju ruangan yang di maksud asistenya. Sementara Rangga tampak kembali masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan melaju menuju tempat parkir. Setelah selesai memparkir mobil dengan rapi, Rangga melangkah menyusul Arsenio ke kamar VVIP A1.1.


Arsenio menghentikan langkahnya di depan sebuah ruang rawat. Dilihatnya nomor kamar yang terterah di sana. Setelah berhasil mestikan kamar itu benar dia segera meraih daun pintu lalu memutarnya, pintu berhasil terbuka dan Arsenio melangkah masuk.


Alin, Sarah dan juga Gibran yang berada di dalam pun menoleh kearahnya. Sementara Arsenio diam mematung di depan pintu menatap lurus kearah hospital bad tempat dimana kakeknya terbaring lemah dengan berbagai alat-alat medis melekat di tubuhnya.


Alin yang melihat itu, memutuskan untuk menghampiri putrannya berdiri tepat di depannya dan sedikit mengangkat kepalanya agar bisa menatap wajah putranya dengan jelas.


"Semua ini karena kamu!" ucap Alin penuh penekanan pada setiap kata yang di ucapkannya. Sementara Arsenio yang mendengarnya menatap ibunya.


"Semua ini karena ulahmu!. Coba saja kemarin-kemarin kamu tidak menolak menandatanggani surat cerai kalian, semua tidak akan seperti sekarang ini" sambung Alin menatap tajam putranya.


Arsenio terdiam, kepalannya di tundukan menatap ujung kakinya. Gibran yang juga ikut mendengar berjalan menghampiri istrinya.


"Sudahlah, di saat seperti ini tidak ada gunanya tuk saling menyalahkan" ungkap Gibran yang kini tengah merangkul istrinya.


"Tapi semua ini kerena dia, dialah dan Ana penyebap papa masuk rumah saki!" Alin menatap suaminya.


"Sudahlah, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas itu. Sekarang fokus dulu pada kesehatan papa" ucal Gibran membawah istrinya untuk duduk di sofa bersama Sarah mertuanya.


Gibran kembali mendekati Arsenio berdiri tepat di depannya.


"Selesaikan masalahmu dengan kepala dingin!. Jangan membuat suatu keputusan yang akan membuatmu menyesali nantinya. Ana itu anak yang baik tidak mungkin melakukan hal-hal seperti yang beredar di sosial media. Kamu lebih mengenali istrimu dari pada mereka. Jadi pikirkan baik-baik sebelum membuat keputusan!" jelas Gibran serius.


"Cihhh, anak yang baik?. Kamu bisa berkata seperti itu karena kamu tau kalau Ana adalah putrimu yang dulu kamu tinggal semasa dia masih dalam kandungan. Jika Ana bukan anakmu aku yakin kamu akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan mama padaku" gerutu Arsenio dalam hati.


"Sekarang hampirilah kakekmu, kamu belum melihat keadaannya dengan jelas. Tidak perlu memikirkan perkataan mama, dia begitu hanya kerena khawatir" sambung Gibran.


Arsenio melangkah mendekati hospital bad berdiri tepat di samping menatap sedu kakeknya yang terbaring lemah di atas hospital bed.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kakek seperti ini. Semua terjadi di luar kendaliku"


"Aku akan segera membersikan kembali nama baik keluarga. Aku akan mencari orang yang bisa menghapus semua aktikel itu, akan aku cari orang itu walau di luar negeri sekalipun"


"Cihh, sudah terlambat!. Yang ada di pikiran semua orang hanyalah keburukan keluarga kami. Semua itu karena ulah wanita yang tidak punya hati itu" Alin menimpali ucapan Arsenio.


Arsenio yang mendengarnya segera menoleh ke belakang.


"Siapa yang berni berpikir seperti itu?. Jika ada yang berani berpikir seperti itu akan aku pastikan dia akan menyelesali perbuatannya sepanjang sisa hidupnya!" ungkap Arsenio tegas.


"Tidak perlu melakukan hal itu!, yang kamu harus lakukan sekarang ceraikan istrimu itu!" ucap Alin tak kalah tegas.


"Cukup!" Sarah bergantian menatap putrinya dan juga cucunya.


"Jika ingin bertengkar silakan keluar!" sambung Sarah dengan tubuh gemetar berusaha menahan emosinya.


"Kalian hanya akan membuat kondisi suamiku memburuk jika terus bertengkar seperti ini!" sambung Sarah.


Semuanya terdiam, dengan pandangan ditujuhkan kearah Sarah.


Arsenio menghela nafas panjang pandanganya lurus ke depan menatap tiga orang yang duduk di sofa.


"Tanpa menyuruhku, aku akan melakukannya!. Untuk apa memelihara istri yang kelakuannya mu**h*n seperti dia" ungkap Arsenio serius.


Gibran yang mendengarnya pun terkejut, kata-kata Arsenio berhasil membuat hatinya sakit, sementara Alin terlihat santai menanggapi itu.


"Syukurlah jika kamu sudah sadar!" ungkap Alin.


Gibran bergantian menatap Arsenio dan juga istrinya, ingin rasanya dia membantah ucapan anak sambungnya itu.


"Kenapa?, tidak suka aku menyebut anakmu wanita mu**h*n. Ayo keluarkan jika kamu ingin membantahnya!, jika kamu tidak berani membantahnya sama halnya kamu menyetujui apa yang aku tuduhkan pada putrimu" gumam Arsenio dalam hati.


Gibran tampak diam, memilih memendam sakit hatinya akibat ucapan yang di lontarkan anak sambungnya. Arsenio yang melihat itu, tersenyum sinis lalu melangkah keluar dari ruangan.


Dari kejauhan tampak beberapa suster membawa masuk Ana ke dalam salah satu ruangan di rumah sakit.


"Mohon tunggu di luar" ucap salah satu surter di sana.


"Mohon selamatkan teman saya!" Kana menatap suster penuh harap.


"Kami akan berusaha agar pasien kami selamat" ucap suster lalu ikut masuk bersama Ana.


"Apakah seerat itu persahabatan mereka?, sangat jelas terlihat ke khawatiran pada wajah Kana" ucap Maya terharu.


Maya bangkit dari duduknya berjalan menghampiri Kana.


"Kana" pagil Maya. Kana yang mendengarnya segera menoleh ke arahnya.


"Kamu duduk dulu, kita bisa berdoa sama-sama untuk kesembuhan Ana" Maya menarik tangan Kana lalu membawahnya ke tempat duduk.


"Terima kasih" Kana menatap Maya dari samping.


"Untuk apa?"


"Untuk semua" jawab Kana.


"Sama-sama" sahut Maya.


Selang beberapa menit, Maya menatap jam tanganya, dia pun terkejut melihat itu.


"Kana" pagil Maya. Kana menoleh ke arahnya.


"Maaf ya aku tidak bisa menunggu sampai dokter keluar, aku segera kembali ke kampus. Sebentar lagi aku ada kelas di semester bawah" ucap Maya.


Kana mengguk"Pergilah!, sekali lagi terima kasih".


"Ya udah aku pergi ya" Maya bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar.


Kana kembali diam, menangkupkan kedua tanganya menjadi satu, dagunya di letakan di atas tanganya, kedua tanganya bertongkah di kedua lututnya dengan tatapan lurus ke lantai.


"Anaa.. Semoga kamu baik-baik saja!" ucap Kana khawatir.


Selang beberapa menit dokter pun keluar dari ruangan tempat Ana berada. Kana yang melihat itu segera bangkit dari duduknya berjalan menghampiri dokter.


"Dok bagaimana ke adaan teman saya?" tanya Kana setelah sampai.


"Suaminya ada?, saya ingin bertemu dengan suaminya!" ucap dokter.


"Suaminya lagi sibuk. terus bagaimana keadaan teman saya dok?"


Dari kejauhan Rangga yang melihat itu segera menghentikan langkahnya, menatap lurus kearah mereka.


"Bukankah itu teman nona Ana?" gumam Rangga dalam hati.


Dokter yang mendengarnya pun menghela nafas panjang.


"Tolong beritahu suaminya jika dia telah datang!" Kana mengguk "Iya dok".


"Teman Anda mengalami pendarahan ringan. Tapi anda tidak perlu khawtir, janin dan juga ibunya, keduanya baik-baik saja. Hanya saja sebisa mungkin menghindari sang ibu dari benturan-benturan keras, kelelahan dan juga stres berlebihan karena hal itu sanggat mempengaruhi kesehatan janin dan juga ibunya" jelas dokter serius.


Kana yang mendengar penjelasan dokter pun terkejut. bagaimana tidak, Ana memeberitahunya kalau dia tidak benaran hamil sementara di depannya jelas dokter mengatakan hal yang berbading terbalik dengan yang di katakan Ana padanya.


"Tolong di sampaikan hal ini pada suaminya dan juga orang-orang terdekan pasien!" sambung dokter.


"Baik dok, apa saya sudah bisa menjenggunya?"


"Silakan, anda sudah bisa menjenggungknya!" ucap dokter dan berlalu pergi. Sementara Kana tampak memasuki ruang rawat.


"Permisi dok" ucap Rangga berhasil mencega langkah dokter tersebut.


"Iya ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter menatap Rangga.


"Kalau boleh saya tau, pasien yang baru saja dokter periksa sakit apa?" tanya Rangga.


"Apa anda suami pasien?" Rangga terkejut lalu dengan cepat mengelengkan kepala "Bukan dok, saya teman dari pasien yang baru saja dokter periksa" sahut Rangga cepat.


"Pasien mengalami pendarahan ringgan" sahut dokter.


"Pendarahan ringan?" guamam Rangga tak percaya.


"Apa ada lagi yang ingin di tanyakan?" ucap dokter membuyarkan lamunan Rangga.


"Sudah tidak ada lagi dok. Terima kasih" ucap Rangga, dokter pun berlalu pergi.


Rangga diam menatap ruang rawat Ana.


"Ngapain berdiri disini?" Arsenio menatapnya binggung.


"Tuan" ucap Rangga kaget.


"Ya ini saya, kau pikir siapa?. Apa yang kau lihat?" Arsenio mengikuti kemana arah yang dilihat Rangga.


"Jika aku menjawabnya jujur, yakin dan percaya tuan akan segera menghampiri nona Ana. Kondisi nona Ana lagi tidak memungkinkan jika bertemu dengan tuan muda" gumam Rangga dalam hati.


"Tidak sedang lihat apa-apa tuan, saya hanya memikirkan bagaimana caranya menghilangkan artikel-artikel itu dari sosial media" sahut Rangga.


"Jangan kelamaan mikir!, segeralah bertindak!"


"Baik tuan"


Keduanya pun berjalan keluar dari rumah sakit.