
Di perjalanan
"Memangnya kita mau kemana pa?" Alin menatap Nicholas dari samping.
"Kita ke kantor polisi" sahut Nicholas dengan tatapan fokus ke depan.
"Loh, ngapain sih kita kesana?. Mendingan kita di rumah sakit saja, lihat bagaimana perkembangan Ana" ucap Alin.
Nicholas menatap sekilas Alin sebelum kembali fokus menyetir "Kita harus pastikan langsung, apakah Ana seperti itu atas ulah Clarissa atau bukan" sahut Nicholas.
"Jika dia terbukti melakukan hal yang dituduhkan kepadanya maka kita tidak perlu membantunya. Biarkan dia mendapatkan hukuman yang setimpal" lanjut Nicholas.
"Tapi kan pa...."
"Jadi perempuan ko jahat banget, untung belum jadi cucu menantu" ucap Nicholas sebelum Alin melanjutkan ucapanya.
"Iss papa ko ngomongnya gitu sih, Clarissa itu anak yang baik, mana mungkin dia berbuat seperti itu" ucap Alin.
"Jagan terlalu mempercai seseorang!, sekarang tuh banyak orang yang pura-pura baik kalau ada maunya saja. Namun jika dia sudah menemukan apa yang menjadi keinginannya atau pun tujuannya dia yang awalnya seorang kucing yang imut akan berubah menjadi harimau yang siap menerkam siapa saja yang menjadi mangsanya" ucap Nicholas panjang lebar.
"Jadi maksud papa Clarissa hanya pura-pura baik, dan dia melakukan itu karena punya tujuan tertentu?" tanya Alin tak percaya.
Nicholas mengangkat kedua bahunya "Ya bisa jadi begitu" sahut Nicholas.
"Tapi aku ngak percaya!, Clarissa itu wanita yang baik, papa juga kan tahu itu?. Selama ini dia memperlakukan kita dengan sangat ramah bahkan Clarissa tahu bahwa mama tidak menyukainya tetap saja dia selalu bersikap ramah padanya" ucap Alin.
"Atau jangan-jangan papa seperti ini karena papa mulai meragukan Clarissa dan percaya dengan akal-akalan Arsenio ya?" lanjut Alin.
Nicholas menghela nafas panjang "Tentu saja papa meragukannya, apa kamu ngak lihat bagaimana kondisi Ana?, dia benar-benar trauma dengan apa yang baru saja di alaminya. Itu artinya Arsenio ngak bohong kita tinggal memastikan benar atau tidak Clarissa itu benar-benar pelakunya tau bukan" Jelas Nicholas dengan suara yang mulai meninggi.
"Tahu ah, terserah papa!. Initinya aku tetap percaya Clarissa tidak akan melakukan itu titik!" ucap Alin cemberut kesal dengan ayahnya yang mulai meragukan calon menantu pilihannya.
"Jika saja dia benar pelakukanya, papa tidak punya alasan untuk tidak menerima Ana" lanjut Nicholas.
Alin tercengang mendengar apa yang di ucapkan ayahnya. "Ngak pa, kalau itu aku ngak setuju. Pokonya aku tidak pernah setuju Arsenio bersama Ana!" ucap Alin.
Nicholas menatap sekilas putrinya yang terlihay khawatir "Memangnya kenapa?, toh anakmu yang memaksa Ana untuk kembali menikah dengannya, itu artinya Arseniolah yang tidak ingin Ana lepas darinya. Alasanya kenapa?, papa pikir kamu juga pasti mengetahuinya"
"Tidak pa!, apapun alasan Arsenio aku tidak pernah menerima alasan itu, aku tetap dengan pilihanku yaitu tidak mengizinkan mereka bersama titik!" ucap Alin tegas.
"Oh papa tahu" ucap Nicholas menatap Alin dari samping.
"Papa tahu apa?" Alin mengerutkan dahi binggung.
"Kamu bukanya ngak suka sama Ana, tapi kamu hanya takut Gibran akan kembali pada Rany, bukan begitu?"
Mendengar itu seketika raut wajah Alin berubah, ia menjadi salah tinggkah, sebelumnya ia tidak pernah seperti ini di depan ayahnya.
"Benar kan apa yang di ucapakan papa barusan?" lanjut Nicholas.
"Ngak, aku bahkan tidak kepikiran sampai disitu, papa saja yang memikirkan yang aneh-aneh" ucap Alin dengan beberapa kali merubah posisi duduknya.
Mobil mereka pun memasuki halaman kantor polisi. "Nah kita sudah sampai" ucap Nicholas langsung memarkir mobilnya dengan rapi.
Nicholas dan Alin tampak turun dari mobil, sebelum melangkah masuk Nicholas menatap sekeliling ia merasakan seseorang mengikuti mereka.
"Ayo pa, ngapain masih berdiri. Aku tuh sudah gak sabar mau buktikan sama papa kalau Clarissa itu bukan pelakunya" ucap Alin menarik-narik tangan ayahnya.
"Iya...iya ini sudah masuk!" ucap Nicholas sambil mengikuti langkah putrinya membiarkan putrinya menuntunnya masuk ke dalam kantor.
"Pak, tapi anak kami ngak melakukan itu, buktinya dia setiap hari di rumah kalau pun dia tidak ada di rumah pasti dia pergi ke rumah calon suaminya" jelas Mbelina.
"Benar pak, saya benar-benar mengenal anak saya!. Anak saya adalah anak yang baik tidak mungkin dia melajukan hal kotor seperti ini, pasti anak saya telah di fitnah" lanjut ayah Clarissa.
"Jika ibu dan bapak berpikir seperti itu, maka siakan bapak dan ibu mengumpulkan bukti-bukti yang menyatakan anak ibu dan bapak tidak bersalah, jika bukti-bukti dari ibu dan bapak ada kami akan mempertimbangkannya" ucap polisi.
"Mba.. "pangil Alin berjalan menghampiri Mbelina. Sementara Mbelina dan suaminya menoleh kearah.
Mbelina yang melihat itu segerah bangkit dari duduknya lalu memeluk Alin "Mba percaya kan kalau Clarissa itu anak yang baik?, dia pasti di fitnah kan?" ucap Mbelina dengan posisi masih memeluk Alin.
"Iya, saya percaya mba, Clarissa itu anak yang baik, dan aku tahu itu" sahut Alin sambil menepuk lemput pundak Mbelina.
"Oh ya ampun, aku hampir lupa menayakan hal itu, habisnya kepikiran nasip Clarissa di dalam pasti dia tidak akan tenang dan terus menanggis" ucap ayah Clarissa.
"Ya udah silakan tanyakan langsung!" pinta Nicholas sementara ayah Clarissa menggangguk setuju.
"Pak, apakah sudah ada bukti yang menunjukan bahwa anak saya terlibat dalam khasusu penculikan Ana?" tanya ayah Clarissa.
Alin dan Mbelina yang mendengarnya pun menyudahi acara berpelukannya dan bersama-bersama menatap polisi menunggu jawaban yang akan di berikan.
"Sebenarnya dalam khasus ini bukan hanya nona Clarissa yang menjadi pelakunya, namun kita sudah menerima bukti-bukti tertentu dari orang-orang yang membawah pelaku yang satunya, kami masih menunggu bukti-bukti lainnya dari sang pelapor" sahut polisi.
"Itu artinya Ana saya belum bisa di tahan dong, toh bukti-bukti yang menunjukan anak saya terlibat belum ada" ucap Mbelina.
"Betul itu pak, saya setuju dengan apa yang baru saja di ucapkan ibu ini" lanjut Alin.
"Buktinya sudah ada!" ucap seseorang dari arah belakang.
Semua yang mendengarnya pun menoleh ke belakang kecuali polisi karena posisi duduknya bertepatan berhadapan langsung dengan orang itu.
"Aku membawah semua bukti yang di maksud pak polisi semua tersimpan disini!"
"Kamu!, kamu kan yang menghentikan acara pernikahan anak saya!" ucap ayah Clarissa.
"Benar dia orangnya pa" sambung Mbelina.
"Rangga" ucap Alin dan Nicholas bersamaan. Mbelina dan suaminya pun menatap mereka dari samping.
"Apa kalian memgenal pria itu?" tanya Mbelina dan suaminya bersamaan.
Alin menatap lurus Rangga "Ya kami mengenalnya, dia asisten pribadi anak saya" sahut Alin.
"Apa?" ucap Mbelina terkejut.
"Itu artinya Arsenio yang telah melaporkan anak saya ke polisi?" tanya Mbelina dengan nafas memburu.
"Silakan di lihat bukti-buktinya pak" Rangga berjalan mendekati meja polisi mengabaikan pertanyaan Mbelina dan meletakan semua bukti-buktinya di atas meja.
"Ya kami akan memeriksanya" sahut polisi.
"Kalian benar-benar tega melakukan ini pada putriku!, memangnya salah putriku apa ha?" pekik Mbelina.
"Mba, semua ini tidak seperti yang kamu bayangkan" ucap Alin masih berusaha membujuk Mbelina.
"Lepaskan tangan saya!, lihat saja saya akan menuntut kembali jika anak saya dinyatakan tidak bersalah!" ancam Mbelina.
"Saya tidak akan segan-segan menjerumuskan Arsenio kepenjara karena telah menfitnah anak saya" lanjut ayah Clarissa.
"Lalu bagaimana jika Clarissa terbukti bersalah?, apa yang harus aku lakukan dengan perusahaanmu?" ucap Nicholas tak kala serius.
"Papa..., apa-apaan sih?, ngan asal ngomong dong" ucap Alin yang mengerti maksud ayahnya.
Mbelina dan suaminya berganti menatap Nicholas. "Aku ngak akan ngomong seperti itu kalau mereka tidak memulainya!. Apa kamu Arsenio anak kamu di penjara ha?" ucap Nicholas dengan nada suara tinggi.
"Cukup!, silakan kalian lanjut di luar nanti, tolong ibu dan bapak silakan duduk karena saya ingin bicara!" ucap polisi.
Tampa basa basi Mbelina dan suaminya kembali duduk, sementara Rangga, Alin dan Gibran berdiri di belakang mereka.
"Karena semua bukti-bukti telah terkumpul maka secepatnya sidang akan di lakukan. Kami akan menghubungi ibu dan bapak jika sudah ada keputusan kapan sidang itu di lakukan" jelas polisi.
"Baik pak" sahut Mbelina dan suaminya.
Setelah selesai keduanya segera beranjak dari duduknya dan berlalu pergi tanpa menegur Alin dan Nicholas lagi.
"Ngapain masih berdiri disini sih pa?, ayo pergi!" Alin kembali menarik tangan ayahnya, mereka pun berjalan keluar meninggalkan Rangga sendiri di sana.
"Pak, tolong sidangnya di percepat!, saya hanya ingin pelaku secepatnya mendapatkan hukuman yang setimpal!"
"Baik pak Rangga, kami akan mempercepat sidangnya jika sudah ada keputusan kami akan menginformasikan kepada anda"
"Baik, kalau begitu saya pamit" ucap Rangga dan berlalu pergi.