My Love Story

My Love Story
Bab 127



Di luar tampak Kana menekan tombol berwarna hijau lalu meletakan ponselnya ke telinganya.


📞"Hallo selamat malam pak" ucap Kana.


📞"Malam" sahut seorang pria dari seberang.


📞"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Kana.


📞"Kamu lagi di mana? " bukannya menjawab pertanyaan Kana, Reza malah balik bertanya.


Ya pria yang menelfon Kana adalah Reza CEO di kantor Kana.


"Ada apa ya pak Reza menelfonku, bikin deg-degkan aja" pikir Kana.


Sementara tampak dari belakang Rangga terlihat keluar dari ruangan dan pandanganya segera tertuju pada Kana yang kini dengan posisi bembelakangginya.


📞"Lagi di rumah teman pak" sahut Kana.


📞"Apa saya bisa minta waktunya sebentar?, saya hanya ingin mendengar langsung dari mulut kamu" ucap Reza.


"Duh, jangan bilang pak Reza ingin bertanya soal kejadian tadi sore" batin Kana.


📞"Halo Na!" ucap Reza yang tidak mendapat respon dari Kana.


📞"Iya halo pak"


📞"Kamu sedang sibuk ya?, jika seperti itu. Akan saya tanyakan besok saja. Tapi saya berharap kamu akan menjawabnya dengan benar, saya sanggat membutuhkan jawaban itu" ucap Reza panjang lebar lalu langsung memutuskan sambukan telefon tidak lagi menunggu tanggapan dari Kana.


Kana yang mendengarnya pun menurunkan tangan kanannya yang digunakan untuk memegang ponselnya dan tangan kirinya di letakan di depan dadanya dengan pandangan lurus ke depan.


"Ya tuhan jantungku serasa mau copot. Apa pak Reza mau menembakku?" pikir Kana.


Di detik berikutnya Kana pun tersadar dan segera memukul dahinya sendiri "Apa sih yang kamu pikirkan Kana. Ingat jangan terlalu berharap lebih, agar tidak merasakan sakit hati saat semua tidak sesuai harapan" ucap Kana pada dirinya.


Sementara di belakangnya tampak Rangga yang terus melihat tingkahnya.


"Udah... Udah, mending aku kembali pasti Ana sudah menungguku" ucap Kana lalu berbalik dan hal itu hampir saja membuatnya menabrak Rangga.


"Ya ampun" ucap Kana spontan lalu dengan cepat sedikit menundukan kepalanya "Maaf" lanjutnya.


Kana kembali melanjutkan langkahnya untuk kembali masuk.


"Jangan terlalu percaya apa yang dia katakan!" ucap Rangga yang membuat Kana yang hendak meraih daun pintun pun menundahnya dan berbalik menatapnya.


"Apa pak Rangga sudah lama berdiri di belakangku? dan dia mendengar obrolanku dengan pak Reza" gumam Kana dalam hati.


"Terima kasih atas sarannya" ucap Kana lalu bergegas masuk. Sementara Rangga masih menatap ke arah Kana yang telah hilang dari pandanganya.


Di dalam tampak Kana kembali duduk di samping Ana.


"Dari mana?" tanya Gibran yang membuat yang lainnya ikut menatap Kana.


"Dari luar om, habis terima terefon" jawab Kana sambil tersenyum.


Kana mengeleng "Bukan, dari bos di kantorku" sahut Kana lagi.


"Oh iya, Tadi kata Arsenio kamu ngak bawah mobil. Kalau begitu pulangnya bareng tante aja" ucap Rany menatap Kana.


"Memangnya mama ngak apa-apa mengantar Kana? atau Rangga saja yang mengantarnya, kan dia yang menjemputnya tadi" ucap Arsenio sementara Kana pun ikut menatap Arsenio.


"Ngak perlu tuan, saya pulangnya bareng tante aja, ngak apa-apa kan tante?" Kana berganti menatap Rany.


"Ayo dong tante, pliss mau ya aku pulang bareng tante, aku ngak mau satu mobil lagi dengan pak Rangga, rasanya canggung banget" gumam Kana dalam hati.


"Mama ngak apa-apa ko" ujar Rany menatap Arsenio, "Kamu boleh ko pulang bareng tante" lanjut Rany berganti mentap Kana.


"Benar, biar Kana pulang bareng Rany saja, toh rumah mereka searah" ucap Nicholas.


"Ya aku pun setuju" lanjut Alin.


"Udah, biarin saja Kana yang memilih sukanya pulang bareng siapa" ujar Gibran.


Mereka terlihat setuju dengan ucapan Gibran. Mereka lanjut berbincang-bincang sementara Arsenio terlihat sesekali menatap ke arah pintu seperti sedang menunggu seseorang.


"Kemana sih perginya anak itu?, katanya hanya sebentar cari anginnya, ini sudah mau satu jam anaknya belum juga kembali" gumam Arsenio dalam hati.


"Ada apa mas?, ko dari tadi lihat ke arah pintu muku?" tanya Ana dengan sedikit berbisik, membuat Arsenio merupakan satu-satunya orang yang mendengarnya.


"Rangga, sudah dari tadi keluar sampai sekarang dia belum juga kembali" sahut Arsenio.


"Hmm, kirain apa. Udah biarin saja, mungkin saja dia lagi ada ada urusan" ucap Ana sementara di luar tampak Rangga mengeluarkan ponselnya dari sakunya.


Jari-jemarinya terlihat menari diatas keyboard dengan lincahnya. Jari-jemarinya tampak berhenti menari saat benda kecil di tanganya berbunyi. Melihat itu, tanpa ragu Rangga pun menerima pangilan telefon itu.


📞"Halo pak" sapa seseorang dari seberang.


📞"Hmm, bagimana?. Apa kau bisa melakukannya untukku?" tanya Rangga langsung ke inti pembicaraan.


📞"Tentu saja pak, pekerjaan ini sangat mudah bagiku. Saya akan secepatnya mengirimkan apa yang bapak inginkan"


📞"Baiklah. Tapi ingat lakukannya dengab teliti, jangan sampai ada yang terlewati sedikitpun!" ujar Rangga.


📞"Baik pak"


📞"Saya akan transfer uangnya sekarang"


📞"Baik pak"


Sambungan telefon pun terputus, Rangga menyandarkan tubuhnya di dinding dengan pandangannya lurus ke atas menatap langit-langit rumah tuannya, serta tangan kanan diletakannya ke depan dadanya.


"Kenapa sekarang aku seperti ini?, Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" gumam Rangga pada dirinya.


Setelah cukup lama bertanya-tanya pada diri sendiri, Rangga terlihat kembali memasuki ruangan dimana tuan dan nyonyanya berada.