My Love Story

My Love Story
Bab 84



Setelah kepergian Rangga, Ana dan Rany saling bertatapan, keduanya terlihat bimbang dalam memilih antara kehilangan Alvis atau Alvis kembali namun Ana harus menikah kembali dengan Arsenio.


"Ana harus bagaimana?, apa yang Ana harus pilih?" Ana membuka suara.


"Kita masih punya waktu 4 jam lebih, mohon pikirkan matang-matang keputusan apa yang akan kamu ambil. Semua keputusan berada di tangamu!. Namun jika kamu meminta saran mama, mama hanya ingin Alvis kembali!" Rany bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


Sementara Ana yang mendengarnya terdiam, pikirannya bercampus aduk.


"Dia pasti senang membuat aku seperti ini!. Membuat pilihan yang sama sekali tak pernah aku bayangkan sebelumnya" pikir Ana.


Sementara diluar rumah, tampak sebuah mobil berwarna hitam berhenti depat di depan pintu pagar, tampak seorang pria turun dari mobil itu.


"Permisi" ucap Pria itu yang membuat Ana segera bangkit dari duduknya tak lupa menghapus air matanya lalu berjalan menuju pintu.


"Siapa?" tanya Ana lalu membuka pintu rumahnya.


Ana terdiam mematung di depan pintu, tatapannya lurus pada seorang pria yang berdiri di depan pintu pagar, begitu halnya dengan pria yang berdiri jauh darinya, mereka saling pandang hingga beberapa menit.


"Siapa yang memberitahunya kalau aku sudah kembali?, apa Kana yang memberitahunya?" pikir Ana.


Ana berjalan mendekati pintu pagar lalu membukannya.


"Hay Ana" sapa Roby. Ya pria itu adalah Roby, teman kelas Ana di bangku kuliah.


"Hay" ucap Ana pelan namun dapat di dengar oleh Roby.


"Sudah lama ya?, kita tidak bertemu. Gimana kabarmu?" tanya Roby dengan senyum setia menghiasi wajahnya.


"Aku...?, ya seperti yang kamu lihat" jawab Ana.


"Ayo masuk" lanjut Ana, Roby mengelengkan kepalanya "Mungkin di rumah ada ibumu, dia pasti tidak menginginkan aku masuk" ungkap Roby.


Ana mengerutkan dahi bingung "Kenapa kamu berpikir seperti itu?" ucap Ana.


Rangga tersenyum "Ya mungkin saja ibumu belum memaafkan aku, atas kesalahan yang aku buat empat tahun lalu" sahut Rangga.


Ana yang mendengarnya menghela nafas panjang "Dengan tampilanmu yang seperti ini, ibuku pasti tidak mengenalimu dan waktunya sudah lumayan lama, pasti dia sudah melupakannya" ucap Ana.


"Memangnya kenapa dengan tampilan aku sekarang?" tanya Roby penuh selidik.


"Ngak apa-apa, hanya beda saja di jaman kuliah lalu dengan yang sekarang. Kan kamu sudah memimpin perusahaan ayahmu jadi sedikit berbeda" jawab Ana.


"Kamu tahu dari mana?, kalau aku sudah memimpin perusahaan ayahku yang disini" tanya Roby lagi.


"Ya tahu lah, toh banyak di perbincangkan di berbagai sosial media"


"Oh gitu ya?, kirai kamu yang sengaja cari keberadaan dan keadaanku" ucap Roby.


Ana diam, pikirannya kembali tertuju pada Alvis, ia sudah sangat merindukannya.


"Kita ngobrol di taman depan situ yuk, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan" ucap Roby.


"Sayang kamu di mana sih?, mommy rindu" pikir Ana.


"Ana..."


"Na..... " ucap Roby sambil memegang bahu Ana yang membuatnya tesadar dari lamunanya.


"Eh maaf, bisa di ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?" Ana menatap Roby.


"Kamu lagi banyak pikiran ya?, kamu bisa ko cerita padaku, siapa tahu aku bisa membantumu" ungkap Roby.


Ana mengelengkan kepalannya "Aku ngak lagi mikirin apa-apa ko, memangnya aku nampak seperti itu?" Roby menggangguk "Ya sangat nampak"


"Udah, jangan di pikirin lagi!. Oh iya, kamu tadi mau ngomong apa?" tanya Ana mengalihkan pembicaraan.


"Hmm itu, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi bisa ngak kita cari tempat lain?"


"Maaf tapi aku lagi ngak bisa pergi jauh-jauh"


"Ngak jauh kok, di taman depan situ saja" ucap Roby sambil menunjuk taman yang di maksudnya sementara Ana mengikuti arah yang di tujuk Roby.


Ya karena jarak taman dan rumah Ana sangat dekat jadi mereka tidak perlu membawa mobil sebagai kendaraa mereka.


Ana berjalan mengikuti langkah Roby, tatapannya terfokus pada tangan Roby yang terus mengengam tangannya.


Setelah 2 menit, mereka pun sampai, Ana menatap sekeliling, taman itu tampak sepi, tidak ada siap-siap disana, padahal taman itu selalu saja ada pengunjungnya walaupun tidak banyak. Namun kali ini hanya mereka berdua yang ada di sana, hal itu membuat Ana binggung.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Roby sambil mengikutj arah tatapan Ana.


"Kok sepi ya?, biasanya ramai" ucap Ana.


"Ya mungkin mereka tahu aku lagi pengen berduaan denganmu, jadi mereka memberikan waktu untuk kita bersama" ungkap Roby yang kini menatap Ana.


Ana yang mendengarnya pun berbalik menatapnya "Jangan ngaur deh kamu!, mana bisa begitu" ucap Ana.


"Ya bisalah, ngak ada yang ngak bisa jika aku menginginkannya, semuanya pasti bisa!" ucap Roby serius.


Ana yang mendengarnya tampak bersusah paya menelan salivanya "Benar, dia kan sudah punya kekuasaan, untuk hal-hal kecil seperti ini pasti sangat mudah dia atur" pikir Ana.


"Bisakah kamu melepaskan tanganku" ucap Ana menatap tangan Roby yang sedari tadi mengenggam tangannya.


"Oh iya maaf, habisnya nyaman" ucap Roby melepaskan tangan Ana.


Roby berjalan beberapa langkah lalu duduk di salah satu kursi taman, pandanganya taklepas dari sosok wanita yang berdiri tak jauh darinya.


"Kamu sangat cantik Na, dengan tampilan sederhana seperti ini saja kamu terlihat sangat cantik. Bagaiaman jika berdandan, pasti aku tidak bisa memalingkan wajahku ke arah lain" pikir Roby.


"Mau ngomong apa Rob?" tanya Ana yang masih berdiri di tempat yang sama.


"Ko berdiri sih?, ayo duduk!" Roby menepuk kursi di sampingnya.


"Aku janji ngak akan lama" lanjut Roby.


"Awas kalau lama!, rumahku sangat dekat loh, aku bisa saja pulang dan meninggalkanmu di sini" ucap Ana sambil melangkah mendekati Roby dan duduk di sampingnya.


"Jangan menatapku seperti itu!" lanjut Ana yang sedari tadi merasa tak nyaman dengan cara Roby menatapnya.


"Kenapa?, kamu ngak suka ya?"


"Udah, langsung ke inti pembicaaan saja!, kamu mau ngomong apa?" ucap Ana menatap Roby, jarak mereka cukup dekat, hal itu membuat Roby dapat melihat dengan jelas wajah cantik wanita di depannya.


"Kamu benar-benar cantik Na" pikir Roby.


"Ana menikalah denganku!" ucap Roby serius.


Ana yang mendengarnya terkejut "Ha menikah?, aku menikah denganmu?. Aduh jangan ngaco deh kamu!. Hal-hal seperti itu bukanlah suatu permainan atau bahan candaan" ucap Ana lalu bangkit dari duduknya.


Roby meraih tangan Ana, "Aku tidak sedang bercanda Na, aku benar-benar mencintaimu, dan rasa itu masih sama dengan 4 tahun yang lalu tidak pernah berubah sedikitpun bahkan di setiap harinya rasa itu terus tumbuh" jelas Roby serius.


Ana melepaskan tangannya dari gengaman Roby "Maaf kalau itu aku ngak bisa" ucap Ana tanpa menatap Roby.


Roby yang mendengarnya segera bangkit dari duduknya "Kenapa ngak bisa Na?"


"Aku ngak pantas buatmu, kamu bisa mencari wanita cantik di luar sana yang belum pernah menikah" jawab Ana.


"Ngak!" Roby memegang kedua bahu Ana, memutarnya agar Ana kembali menatapnya.


"Aku ngak mau menikah dengan wanita lain!, aku hanya ingin menikah denganmu Na"


Ana diam sejenak, lalu melepaskan tangan Roby dari kedua bahunya "Tapi, aku ngak bisa Rob" ucap Ana lagi.


Roby yang mendengar itu seketika wajah dan telingganya memerah secara bersamaan, diraih tangan Ana lalu mengengamnya dengan erat.


"Aw, Aw." rintih Ana kesakitan.


"Roby apa kamu ingin mematahkan tangganku?, tolong lepaskan!" ucap Ana sedikit berteriak.


Bukannya melepaskan tanggan Ana, Roby malah semakin mengeratkan genggamannya, menarik Ana sehingga membuatnya masuk dalam pelukannya.