
"Ana..., kamu baik-baik saja kan?, tolong bicaralah padaku!" ucap Kana panik. Ana mengaguk " Aku baik-baik saja Na. Aku harus segera menyusulnya"
"Kamu yakin mau menyusul pak Arsenio dengan kondisi seperti ini?" jelas terlihat kekahawitir di wajah Kana.
"Ya aku yakin!, aku harus secepatnya menyusul pak Arsenio. Apa kamu mau ikut?" Ana menatap Kana dari samping.
"Tentu saja aku harus ikut dengamu!, mana bisa aku biarkan kamu pergi sendirian"
Kedua wanita itu berjalan melewati koridor kampus, melewati beberapa mahasiswa yang tampak berbisik-bisik melihat ke arah mereka. Keduanya tampak tidak memperdulikan hal itu, mereka tetap fokus pada tujuan mereka, menyusul pak Arsenio di dalam kelas.
Di dalam kelas.
Arsenio menghentikan langkahnya tepat di depan kelas, menatap tajam ke depan.
"Roby!!" pekik Arsenio.
Semua yang berada di dalam kelas dan mendengar suara itu segera menoleh ke arahnya.
"Dimana kau?. Cepat keluar!, sebelum saya bakar ruangan ini"
Semua yang mendengarnya pun terkejut, Kali ini Arsenio datang dengan jati diri sebagai tuan muda dari keluarga Saguna bukan sebagai dosen, mereka tampak ketakutan, memilih diam tak ada satu pun orang yang berani menatap ke arahnya.
Roby bangkit dari duduknya, menatap lurus kearahnya.
"Saya disini!" sahut Roby santai.
Arsenio wajahnya memerah, rahanya mengeras, meremas jari-jemari tanganya dengan tatapan membunuhnya.
Melihat hal itu, Roby sama sekali tidak merasa takut seperti halnya teman-temannya, raut wajahnya tampak tenang seperti tidak sedang terjadi sesuatu, bahkan dia memberanikan diri berjalan menghampiri Arsenio.
Setiap langkahnya berlahan memangkas jarang di antara meraka. Roby berhenti melangkah, jaraknya hanya sekitar satu meter dari Arsenio.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Roby dengan wajah tenangnangnya.
Hal itu membuat amarah Arsenio semakin membarah, tampa menunggu lama, Arsenio melangkah mendekati Roby dan melayangkan satu pukulan di wajah Roby yang membuatnya terjatuh dan kembali menyusul dengan beberapa pukulan berikutnya.
"Jangan ada yang berani merekam!, jika saya menemukannya, akanku pastikan dia akan menyesali perbuatanya sepanjang hidupnya" Rangga menatap beberapa kerumunan mahasiswa di sana.
Jangankan mengambil ponsel untuk merekam, seeokor nyamuk yang hinggap di tubuh sekalipun tak membuat mereka bergerak mengusir jauh dari tubuh mereka.
Roby yang di banjiri beberapa pukulan pun tak mau diam, dia berlahan menunjukan perlawananya.
"Mas" teriak Ana saat berhasil menginjakan kakinya di depan pintu kelas.
Rangga yang mendenga menoleh ke belakang, segera mencegah Ana agar tidak mendekat.
"Saya harap nona tetap diam disini!" Rangga dengan eksperesi dinginya menghalagi Ana melihat kedua pria yang lagi terbakar emosi.
"Mohon hentikan mereka pak!" Ana berusaha melihat ke arah pria itu, namun usahanya tak membuahkan hasil.
"Maafkan saya nona" Rangga menahan tubuh mungil Ana agar tidak melangkah masuk.
"Hey pak!, jauhkan tangan bapak dari bahu teman saya!" Kana menatap tajam kearah Rangga.
"Tentu saja saya akan melepaskan nona, asalkan nona tetap diam di sini!"
"Tentu saja, kami tidak akan ke mana-mana dan tetap diam disini, cepat lepaskan tangan bapak dari bahu teman saya!" sahut Kana berusaha menepis tangan Rangga dari bahu Ana.
"Pak saya mohon tolong hentikan mereka!!" pinta Ana dengan air mata yang kini telah membasahi pipinya.
Rangga tampak diam, tidak merespon ucapan Ana, tatapanya lurus mengawasi tuannya agar tidak terjadi apa-apa dengannya.
"Mas... berhenti mas!" teriak Ana sekuat tenaga. Arsenio yang hendak melayangkan pukulannya pun menoleh ke belakang.
"Mas.. tolong berhentilah!" Ana memohon.
Tampa memalingkan pandanganya Arsenio melepaskan kerak baju Roby, segera bangkit, kembali berdiri dengan gagah membiarkan Roby tergelentak begitu saja di lantai.
Dengan tatapan tajam Arsenio berjalan mendekati Ana, kedua tanganya diremas dengan erat.
Di tariknya tangan Ana dengan kasar sehingga membuat sang empu mentih kesakitan.
"Jadi ini yang menyebabkan kamu bersikeras untuk lepas dariku?" Ana mengeleng "Bukan mas" sahut Ana berusaha menahan sakit cengkram Arsenio padanya.
Arsenio yang mendengarnya pun tertawa besar, seketika membuat semua yang mendengarnya merinding.
"Kamu pikir aku bodoh!, aku tahu selama ini kamu punya hubungan khusus kan dengan laki-laki itu?".
"Tidak tuan, saya tidak berani" Ana dengan isak tangsis.
Arsenio mengangkat tangan kanan Ana ke atas membuat sang empuh harus berjinjit, digenggam erat pergelangan tanganya lalu memegang dagunya agar bisa melihat dengan jelas raut wajah istrinya.
Tubuh Ana gemetar, kedua kakinya seakan engan menopang tubunya namun dengan sekuat tenaga berusaha agar tetap berdiri lurus.
"Tidak berani ya?" Ana mengaguk, "Lalu apa yang kamu lakukan barusan?, bukankah dengan santainya kamu berciuman denganya. Dasar perempuan mu**h*n" pekik Arsenio melepas dengan kasar cengkramannya yang membuat Ana jatuh ke lantai.
"Aw" rintih Ana setelah tubuhnya berhasil menyentu lantai
"Ana.. " ucap Kana berlari menghamlirinya, sementara Arsenio terus menatap tajam kearahnya.
Dering ponsel Rangga membuat kebisingan di dalam ruagan. Rangga segera mengeluarkan benda itu dari sakunya, sedikit melangkah menjauh lalu menekan tombol hijau dan meletakannya ke ketingganya.
📞"Baik nyonya"
sambungan telefon terputus, kembali memasukan ponselnya lalu melangkah mendekati Arsenio.
"Tuan, tuan besar masuk rumah sakit" bisik Rangga. Arsenio membulatkan matanya menatap lurus Rangga.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" sambung Rangga.
Asenio menoleh menatap Ana dan juga Roby.
"Urusan kita belum selesai!" memperbaiki jasnya lalu berjalan keluar dan langsung disusul oleh Rangga, sebelum melangkah Rangga sempat menoleh menatap kearah Ana.
"Ana kamu ngak apa-apa kan?" Kana membawah Ana dalam dekapanya, melihat pergelangan tangan Ana yang nampak berwana merah bahkan cenderung ke warna biru.
"Perutku!" rintih Ana dengan tangan terus memegang perutnya.
"perut?, apa perutmu sakit??" tanya Kan khawatir.
"Awwww perutku!" teriak Ana meremas tangan Kana dengan pandangan yang mulai buram dan pada akhirnya tak sadarkan diri.
"Anaa.... Ana tolong buka matamu!" teriak Kana, semua yang juga menyaksikan itu hanya bisa diam tidak berani membantuhnya.
"Hey!, apa kalian tidak ingin membantunya?, diamana hati letak hati nurani kalian?" ucap Kana panik menatap teman-temanya yang tampak diam.
"Darah" ucap Maya menatap lurus Ana, tidak lebih tepatnya menatap kaki Ana.
"Hey mau kemana?" Calarissa menahan tangan Maya.
"Aku ingin membantuh Ana" Maya menatap Clarissa dari samping
"Jangan!, biarkan saja dia!. Dia layak mendapatkan itu" Calarissa menatap menatap Kana dan juga Ana.
"Calarissa, dia tidak sedang baik-baik saja , apakah kamu tidak melihat darah di kaki Ana?. kita harus membantunya" Maya memberanikan diri melangkah mendekati Ana dan juga Kana, sementara Clarissa yang melihat itu mendengus kesal.
"Ayo Kana, aku akan membantumu mengangkat Ana" ucap Maya setelah sampai.
"Aku akan ikut dengan kalian" ucap Roby pelan, wajahnya terdapat beberapa tanda memar dan tedapat bercak darah di sudut bibinya.
"Tidak!" bantah Kana cepat menatap Roby yang bersusah paya bangun.
"Ayo Maya, bantu aku!, kita bawah Ana ke rumah sakit!" Maya menggaguk "Ayo!".
Kedua wanita itu pun membawah Ana keluar dari kelas.