
Jarum jam menunjukan pukul 07.30. Di dapur. Tampak Kana sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya dan juga dirinya.
Suara pintu membuat Kana menoleh kearah suara.
"Pagi sayang" sapa Rangga tampak keluar dari kamar dengan pakaian yang bisanya dikenakannya saat ke kantor.
"Pa.. gi" sahut Kana terbata-bata.
"Jadi apa yang di bilangnya tadi tuh mulai berlaku?" batin Kana.
Rangga berjalan mendekati meja makan "Wah sepertinya enak nih" ucap Rangga seraya menarik kursi dan duduk.
"Silakan dicoba, maaf kalau nggak enak" ucap Kana.
"Kalau istriku yang masak pasti enak" kata Rangga sambil mengambil beberapa sendok nasi tak lupa tersenyum ke arah Kana.
"Wah gila, apa dia benar-benar pak Rangga yang aku kenal?" pikir Kana yang masih tak percaya dengan sikap Rangga yang sekarang.
"Nggapain masih berdiri?, ayo duduk kita sarapan bersama?" ucap Rangga.
"Ya" jawab Kana sambil menarik kusri lalu duduk dengan posisi bersebrangan dengan Rangga.
"Hmm nikmatnya punya istri, pagi-pagi sudah ada yang nyiapin sarapan" batin Rangga sambil menikmari setiap sendok makanannya.
Setelah beberapa menit mereka pun mennyelesaikan ritual makannya, Rangga tampak bersiap-siap berangkat sementara Kana mencuci beberapa piring kotor.
"Sayang" pangil Rangga.
"Hmm" Kana menoleh kebelakang dan mendapati Rangga berdiri tepat di belakangnya.
"Aku mau berangkat bekerja, tapi sebelum itu tolong pasangkan dasiku!" ucap Rangga menyodorkan dasi miliknya kearah Kana.
"Tapi, tangan saya masih kotor" ucap Kana sambil menunjukan tanganya yang di penuhi busa sabun.
"Ya dicuci dulu sayang, aku juga pengen merasakan bagaimana rasanya dipasangkan dahi oleh istri" ucap Rangga serius.
"Ya, baik, baik. Saya cuci tangan sekarang" ucap Kana kembali berbalik dan mencuci tanganya.
Setelah selesai ia kembali menatap Kana "Sini dasinya" ucap Kana mengulurkan tanganya.
Sementara Rangga tampak tersenyum lalu memberikan dahinya pada Kana.
Karena Kana lebih pendek dari Rangga makan Kana sedikit berjinjit agar bisa memasangkan dasi Rangga.
"Nah, sudah selesai" ucap Kana sambil merapikan dasi suaminya yang berhasil dipasangnya.
Cup
Rangga mengecup alis istrinya, hal itu sontak membuat Kana terkejut dan sedikit bergerak mundur.
"Aku pergi ya" ucap Rangga lalu melangkah hendak menuju pintu.
"Pak" pangil Kana "Eh maksudnya sayang" ucap Kana yang membuat Rangga berhenti melangkah dan berbalik menatap kearahnya.
"Boleh nggak saya, pergi ke rumah Ana?" lanjut Kana.
"Boleh, mau naik apa kesana?" tanya Rangga.
"Naik taksi aja, kan mobilnya ditinggal di rumah" sahut Kana.
Rangga yang mendengarnya kembali mendekati Kana, mengeluarkan sebuah kartu lalu memberikannya kepada Kana.
"Nih, nanti suruh supir taksinya mampir sebentar ke atm. Aku lagi ngak punya uang chas" ucap Rangga.
Karena tas dan dompet ditinggalnya di rumah maka Kana tidak punya alasan lain untuk menolak itu.
"Passwordnya tanggal lahir kamu" lanjut Rangga.
"Terima kasih" ucap Kana seraya mengambil kartu yang di berikan suaminya.
"Hmm" jawab Rangga sambil terseyum.
"Hati-hati ya?" lanjut Kana yang langsung mendapat anggukan kepala dari Rangga.
Rangga pun terlihat berjalan keluar, sementara Kana tampak diam sambil menatap Rangga yang perlahan hilang dari pandangannya.
Ponsel Kana berdering, hal itu membuat Kana segera mencari sumber suara lalu menggangkatnya.
π"Halo Na" sapa Ana dari seberang.
π"Ya"
π"Kamu jadi kan datang ke rumah?, atau aku yang kesitu?" tanya Kana.
π"Aku yang ke rumahmu, sudah dizinin pak Rangga kok" sahut Kana.
π"Hmm, baiklah kalau begitu. Aku tunggu ya"
π" Ya, sebentar lagi mau otw" ucap Kana.
Sambungkan telefon pun berakhir. Kana meletakan kartu atm yang diberikan Rangga ke atas meja dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Setelah semua pekerjaannya selesai, Kana kembali masuk ke kamar untuk bersiap-siap.
Perusahan.
"Selamat pagi tuan" sapa sekertaris Arsenio seraya bangkit dari duduknya.
"Pagi" sahut Arsenio tampa menghentikan langkahnya untuk masuk keruangannya.
Beberapa menit kemudian pintu lift kembali terbuka, tampak Rangga keluar dari sana.
"Selamat pagi pak" sapa sekertaris Arsenio sambil tersenyum.
"Pagi" jawab Rangga sedikit mengganggukan kepala.
"Tuan Arsenio sudah ada diruangannya?" tanya Rangga sambil menunjuk ke arah ruangan.
"Ya, tuan baru beberapa menit masuk keruangannya" jawabnya.
"Terima kasih" ucap rangga lalu melanjutkan langkahnya masuk ke ruangan Arsenio.
"Selamat pagi tuan" sapa Rangga setelah berada di dalam ruangan.
Arsenio menoleh ke arahnya "Pagi. Loh kamu masuk kerja hari ini?"
"Saya kan sudah memberimu cuti, seharusnya sekarang kamu berada di apartment bersama istrimu atau jalan-jalan kemana gitu bareng istri" ucap Arsenio.
"Nanti saya akan cari waktu lain untuk itu, sekarang saya harus menyelesaikan project.
Kita tinggal membutukan beberapa minggu untuk menyelesaikannya" ujar Rangga.
Arsenio membuang nafas pelan "Baiklah jika itu keputusanmu" ucap Arsenio.
"Oh iya, apa kamu sudah bertemu dengan pak Albern?, apa dia menyetujui persyaratanya?" tanya Arsenio berurutan.
"Sudah tuan, beliau juga menyetujuinya. Hari ini beliau menjemput Roby dan besok mereka akan kembali sesuai dengan isi perjanjiannya" jawab Rangga.
"Bagus, kalau boleh secepatnya mereka pergi. Aku tidak mau pria itu mengganggu istriku" ucap Arsenio.
**
Jarum jam sudah menunjukan pukul 10.00. Tempak Kana dan Ana duduk di ruang keluarga sambil berbincang-bincang.
Ana menatap jam yang melingkar di tangan kirinya "Sudah jam sepuluh, sepertinya kita sudah boleh pergi" ucap Ana.
"Pergi kemana?" tanya Kana.
"Ke kantorlah, kan aku sudah janji padamu akan memberikan hadiah pernikahan hari ini. Dan hadiah itu lagi di pegang suamiku jadi kita harus ke kantor untuk menggambil hadiah itu" jelas Ana.
"Kalau kita ke kantor terus Alvis gimana?, bukankah sebentar lagi dia akan pulang?"
"Dia mau main ke rumah mama. Nanti setelah pulang dari kantor kita akan menjemputnya di sana" ucap Ana.
"Oh gitu ya?, terus kita pergi sekarang ya?" tanya Kana.
"Ya, sebentar ya?. Aku mau ambil tas di kamar" ucap Ana seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Beberapa menit kemudian Ana kembali dengan pakaian yang berbeda, keduanya pun Sama-sama berjalan menuju mobil.
Mobil Ana melaju meninggalkan pekarangan rumahnya dan akan menuju kantor suaminya.
Setelah cukup lama di perjalanan mereka pun sampai. Ana lebih dulu turun dari mobil dan disusul oleh Kana.
Kedua wanita itu berjalan masuk, terliht beberapa orang yang mengenal Ana segera menyapanya dan dibalas dengan baik oleh Ana.
"An, memangnya aku nggak apa-apa datang kesini?" tanya Kana setelah mereka berhasil mesuk ke dalam lift.
"Nggaklah, memangnya siapa yang berani melarangmu datang ke sini?, katakan padaku biar aku yang menghadapinya" ucap Ana.
"Hmm, sepertinya Ana mulai terjangkit sikap arogan tuan Arsenioπ" pikir Kana.
"Dan lagi suamimu juga kerja disini, jadi tidak ada satupun orang yang bisa melarangmu untuk datang ke sini" lanjut Ana.
Lift berhenti, dan pintunya terbuka. Keduanya wanita itu pun keluar dari lift.
"Selamat pagi nona" sapa sekertaris Arsenio sambil tersenyum.
"Pagi" sahut Ana membalas senyum sekertarisnya.
"Tuan Arsenionya ada?" tanya Ana.
"Ya, tuan Arsenio ada di ruanganya" sahutnya.
Ana dan Kana pun berpamitan dan langsung menuju ruang Arsenio.
"Sayang" pangil Ana seraya menghampiri Arsenio lalu memeluknya sementara Arsenio membalas pelukannya tak lupa mengecup lembut alis istrinya sebelum melepaskan pelukannya.
"Rangga ada di ruangan sebelah, kamu bisa memanggilnya untuk datang ke sini" ucap Arsenio menatap Kana.
"Kamu bisa bertanya pada sekertaris say di depan" lanjut Arsenio.
"Ya" jawab Kana lalu melangkah keluar dan menuju ruangan yang di maksud Arsenio.
Tok.. Tok
Kana mengetuk pintu.
"Masuk!" sahut Rangga dari dalam.
Kana meraih daun pintu lalu memutarnya, pintu perlahan terbuka, Rangga yang mendengarnya segerah menoleh ke arah pintu.
"Sayang" ucap Rangga seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Kana.
"Kenapa tidak telelefon aku?, kan aku bisa menjemputmu di lobi" lanjut Rangga setelah sampai.
"Saya datang ke sini bareng Ana jadi kita bisa sama-sama kesini" ujar Kana.
"Tuan Arsenio kita ke ruanganya sekarang" lanjut Kana.
"Ayo"ucap Rangga sambil meraih tangan Kana dan Sama-sama menuju ke ruangan Arsenio.
"Silakan duduk!" ucap Arsenio setelah keduanya sampai.
Keduanya pun duduk dengan posisi bersebrangan dengan Arsenio dan Ana.
Arsenio mengeluarkan dua tiket pesawat dan meletakannya di atas meja "Diambil, ini hadiah pernikahan kalian dari kami berdua" ucap Arsenio.
Rangga dan Kana segera menatap tiket yang di berikan "Tidak bisa di tolak, kalian harus pergi" ucap Ana.
Rangga meraih tiket tersebut "Terima kasih tuan, terima kasih nona, kami pasti akan pergi" ucap Rangga.
Kana menatap Rangga dari samping "Apa kita benar-benar akan pergi?" tanya Kana tak percaya.
"Tentu saja, kalian harus pergi. Pokoknya aku nggak mau tahu kalian harus pergi" jawab Ana.
"Kalian tidak pergi berdua saja" ucap Arsenio lalu kembali mengeluarkan dua tiket pesawat lagi dari sakunya.
Ana yang melihatnya pun terkejut "Apa ini mas?, apa kita juga akan pergi?" tanya Ana.
Arsenio tersenyum "Tentu saja, bukankah kita belum pernah jalan-jalan?"
"Yes, terima kasih sayang" Ana memeluk suaminya lalu memberi beberapa kecupan dipipinya sebelum beranjak dari duduknya.
"Kana kita harus pergi!. Pokonya harus pergi!" ucap Ana menghampiri Kana dengan eksperesi bahagianya.
"Ya, kita akan pergi An" sahut Kana sambil tersenyum.
Sementara Rangga dan Arsenio yang melihat itu pun ikut terseyum mendengar jawaban Kana.