My Love Story

My Love Story
Bab 109



Setengah jam telah berlalu, waktu yang di berikan Rany pada Arsenio telah berakhir.


Rany tampak kembali masuk ke dalam ruang rawat dimana Ana berada sementara yang lainnya tetap berada di luar termasuk Kana dan juga Alvis.


"Waktumu sudah habis" ucap Rany kembali menutup pintu.


Arsenio yang baru saja membantu istrinya kembali berbarik pun menoleh ke arahnya.


"Sebaiknya kamu tidak perlu sering-sering datang menjenguk Ana!, toh kalian akan berpisah" lanjut Rany berjalan menghampiri Ana dan juga Arsenio yang masih berdiri di samping hospital bed.


"Ma... " Arsenio bergerak hendak menghampiri Rany.


"Ssttt" desit Rany "Tidak perlu menjelaskan lagi!, aku rasa semuanya sudah jelas"


"Sekarang kamu sudah bisa keluar, anak saya mau istirahat" lanjut Rany.


Arsenio diam mematung, kepalnya sedikit di tundukan hal itu membuatnya dengan jelas melihat keramik lantai.


Rany bergerak duduk mengengam tangan putrinya "Sayang, maafkan mama. Karena mengizinkanmu kembali menikah dengan dia. Jika mama tidak mengizinkanmu menikah denganya kamu pasti tidak akan seperti ini" ucap Rany.


Arsenio yang mendengarnya mengangkat kepalanya menatap Rany.


"Ma, ini bukan salah mama ko. Jadi mama tidak perlu merasa bersalah seperti ini" Ana menepuk lembut punggung tangan ibunya.


"Kamu tidak perlu memikirkan hal lain!, fokus saja pada kesembuhanmu. Jika kamu sembuh mama janji akan membantumu untuk menyelesaikan hubunganmu dengan dia" ucap Rany.


Mendengar itu Ana menoleh menatap Arsenio yang masih berdiri dan diam di sampingnya.


Sementara Arsenio menghela nafas panjang


"Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada mama" pikir Arsenio.


"Bagaimanapun caranya akan aku lakukan untuk mempertahankan pernikahan ini, aku tidak ingin kehilangan istriku yang ke dua kalinya" pikir Arsenio.


Arsenio menoleh menatap Ana, hal itu membuat tatapan mereka bertemu namun Ana dengan cepat memalingkan pandanganya ke arah lain.


"Sayang, kamu istirahat ya?. Benar kata mama, kamu jangan dulu memikirkan hal-hal apapun itu, fokus saja dulu pada kesehatanmu" ucap Arsenio.


"Maaf aku tidak bisa berlama-lama disini, tapi aku janji akan selalu datang menjengukmu sekalipun itu kamu berada di rumah" lanjut Arsenio.


Mendengar itu Rany segera menatap kearahnya namun tidak di pedulikan oleh Arsenio.


Arsenio meraih tangan Ana lalu mengecup lembut punggung tanganya.


Arsenio berjalan keluar sementara Ana terus melihat punggung suaminya yang sebentar lagi akan menghilang dari pandangannya.


Sesampainya di luar, Arsenio menutup kembali pintunya dengan pelan. Sarah, Nicholas, Gibran dan Alin bangkit dari duduknya.


"Bagaimana?, apa Ana mau memaafkanmu?" tanya Nicholas.


Arsenio mengelengkan kepalanya sebagai jawaban lalu berjalan hendak pergi keluar. Langkahnya terhenti saat melewati Kana yang duduk dengan posisi Alvis duduk di atas pangkuannya.


Kana yang melihat itu hendak berdiri namun lebih dulu di cega oleh Arsenio.


"Beritahu mertuaku, kata dokter hari ini istriku sudah bisa pulang" ucap Arsenio menatap Kana.


"Baik tuan" sahut Kana.


"Dan tolong jaga anak saya, 'Arsenio berganti menatap Alvis' jangan nakal ya sayang nurut sama aunt" ucap Arsenio.


Alvis mengganguk "Siap daddy, Alvis janji akan jadi anak yang baik" sahut Alvis.


Arsenio tersenyum, meletakan tangan kanannya ke atas kepala Alvis dan menepuk-nepuk lembut.


Setelah itu Arsenio pun kembali melanjutkan langkahnya sementara Rangga yang melihat itu segera berpamitan pada yang lainnya dan ikut menyusul Arsenio.


Di luar Rangga kembali membukakan pintu mobil untuk tuannya, setelah itu giliranya masuk ke dalam mobil, berjalan mengintari mobil lalu masuk dan duduk di depan kemudi.


"Kita ke kantor sekarang" ucap Arsenio dengan posisi tubuhnya menyandar ke kursi mobil.


Rangga menatap Arsenio melalui kaca spion "Baik tuan" sahut Rangga dan perlahan menjalankan mobilnya.


Mobil terus melaju keluar dari halaman rumah sakit dan akan menuju kantor.


"Terima kasih" ungkap Arsenio. Rangga yang mendengarnya pun melihatnya melalui spion.


"Terima kasih?, dalam rangka apa tuan?" tanya Rangga dengan dahi di buat mengerut.


"Karena kamu telah bekerja dengan baik" sahut Arsenio.


"Sama-sama tuan" ucap Rangga.


Rangga meraih botol minumnya di sampinngnya, membukannya lalu minum beberapa teguk dengan pandangan tetap menatap jalan.


"Kamu, kalau mau ngedate sama pacarmu ngak pelu sungkan. Beritahu saja saya, jangankan mengizinkanmu, saya juga akan menyiapkan tempatnya" ucap Arsenio.


"Uhu... uhu" Rangga secepatnya menyudahi minumnya, melirik Arsenio melalui kaca spio sebelum kembali menatap jalan.


"Pelan-pelan kalau minum!, ngak ada juga yang mau rebut munumanmu" ucap Arsenio.


"Malah bahas gituan sih, keselek kan jadinya aku" pikir Rangga.


"Ingat tuh, ngak perlu segan padaku!. Tapi apa kamu punya pacar?, aku ngak pernah tuh, lihat kamu bersama perempuan" ucap Arsenio.


"Pertanyaan macam apa ini?๐Ÿ˜‘, bisa ngak berhenti membahas hal-hal seperti itu" batin Rangga.


"Hmm๐Ÿค”, atau aku terlalu memberinya banyak pekerjaan, makanya dia ngak punya waktu untuk kencan?" gumam Arsenio dalam hati.


"Baiklah, nanti aku akan memberimu libur yang panjang, jadi kamu punya waktu untuk mencari pacar dan ngedate dengannya" lanjut Arsenio.


"๐Ÿ˜‘" Rangga tetap fokus menyetir.


"Udah ikutin saja maunya, bisar cepat selesai" batin Rangga.


"Iya tuan, terima kasih" ucap Rangga.


"Sama-sama" sahut Arsenio santai.


"Hmm gini amat punya boss" pikir Rangga.


Rangga kembali fokus menyetir, mobil terus melaju melewati ramainya jalan sore itu.


Rumah sakit.


Kana menurunkan Alvis dari pangkuannya.


"Kita masuk ya?, lihat mommy" ucap Kana pada Alvis. Alvis menggangguk "Iya aunt" jawab Avis.


Kana bangkit dari duduknya berpamitan pada Gibran bersama istrinya dan juga Sarah bersama suaminya. Setelah itu Kana meraih tangan Alvis lalu berjalan masuk ke ruang rawat Ana.


"Sepertinya aku harus terus membujuk Rany. Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka bercerai lagi" pikir Sarah.


"Aku bisa melihat dengan jelas, Arsenio begitu mencintai istrinya. Tenang nak, papa akan membantumu. aku perlu bicara empat mata dengan Rany" guma Gibran dalam hati.


"Sepertinya kita harus pulang, ini bukan waktu yang tepat untuk minta maaf pada Ana dan juga ibunya" ucap Nicholas.


"Benar pa, kita cari waktu lain saja" lanjut Alin, sementara Gibran dan Sarah bergantian menatap mereka.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk kembali dan akan mencari waktu untuk bertemu dengan Ana dan juga ibunya.


"Mommy.... " pangil Alvis sambil berlari menuju hospital bed sementara Kana menyusulnya dari belakang.


"Mommy....mommy lihat ini, perut Alvis jadi besar karena makan es krim yang banyak" ucap Alvis sambil menunjukan perutnya.


Ana dan Rany tersenyum melihat perutnya yang nampak rata itu "Memangnya siapa yang membelikanmu es krim?, aunt ya?" Ana menatap Kana sebelum kembali menatap Alvis.


Alvis mengelengkan kepala "Bukan ya?, terus siapa?" tanya Ana penasaran.


"Uncle yang belanja" sahut Alvis girang.


"Uncle?" Rany menatap Kana berharap Kana mengatakan siapa orang yang di maksudnya.


"Itu tante, pak Rangga asistenya tuan Arsenio" ucap Kana.


Rany yang mendengarnya pun kembali menatap Alvis "Jadi kamu memanggil asistennya daddy, uncle ya?" tanya Rany memastikan.


"Iya Oma, uncle sangat baik sama Alvis. Uncle juga belanjaai aunt es krim maca aku" ucap Alvis.


Ana dan Kana menggangguk mengerti.


"Oooo di belanjaain juga ya aunt" ucap Ana dan Rany bersamaan sambil menatap Kana, sementara orang yang di tatap hanya bisa tersenyum kaku.


"Oh iya tante, tadi pas di luar tuan Arsenio menyuruh saya memberitahukan tante kalau hari ini Ana sudah biasa pulang" ucap Kana mengalihkan pembicaraan.


"Wah benarkah?" tanya Ana dan Rany bersamaan.


Kana menggangguk "Benar, tuan Arsenio bilang kata dokter gitu, Ana sudah bisa pulang" jelas Kana lagi.


"Yeeee, mommy akhirnya pulang ke rumah" ucap Alvis girang.


"Syukurlah mommy sudah bisa pulang, bosan juga mommy jika terus di sini, pengen cepat-cepat hirup udara segar๐Ÿ˜Œ" ucap Ana.


"Tapi ini sudah sore, bagaimana kalau besok pagi saja kita pulang?" ucap Rany.


"Aku mah erserah mama saja" sahut Ana.


"Baiklah, besok pagi saja kita pulang. Kamu, Alvis dan Kana tunggu sebentar ya" ucap Rany.


"Loh, tante mau kemana?" tanya Kana.


"Iya, mememangnya mama mau ke mana?" lanjut Ana.


"Mama mau urus semua administrasinya, supaya besok pagi langsung pulang deh" jawab Rany.


"Oh gitu ya" ucap Kana dan Ana hampir bersamaan.


Rany pun berjalan keluar, sementara Kana menarik kursi yang berada di dekat hospital bed lalu duduk.