My Love Story

My Love Story
Bab 48



Mas, hentikan!!" pinta Ana yang terlihat panik.


Ana kembali mengulagi kata yang sama namun tidak membuat suaminya menghentikan aksi buasnya.


Selang beberapa menit, Arsenio menghentikan sejenak aksinya, dengan nafas terus memburu, ditatapnya lekat wajah istrinya, lalu berkata.


"Aku mau kamu sekarang!".


Tanpa menunggu respon dari istrinya, Arsenio kembali melanjutkan aksinya, menarik dengan kasar baju yang di gunakan istrinya melemparnya ke sembarang arah. Berlahan menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya.


Ana membualatkan matanya, mengingat dalam waktu dekat ini mereka akan segerah bercerai, namun tubuhnya seakan mengiginkan hal itu. Tangan kananya menutup erat mulutnya.


Arsenio yang melihat itu segerah meraih tangan kanan istrinya, menyingkirkan dari tempatnya.


"Tidak perlu di tutup!, aku suka mendengar desahanmu!" ucap Arsenio dengan suara berat.


Mendengar hal itu seketika raut wajahnya berubah menjadi kemerah-merahan.


"Takut" ucap Ana pelan namun masih dapat di dengar oleh Arsenio.


"Tidak ada yang perlu di takutkan!. Aku akan melakukannya dengan lembut, nikmatilah!, ungkap Arsenio lagi.


Ana pun mengangguk mengerti, keduanya pun larut dalam kenikmatan.


Ke esokan paginya, Arsenio berlahan membuka matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Meregang-regang serta menarik-narik tangan dan badan sebelum bangkit dari tidurnya.


Sekilas mengiggat kejadian semalam, dengan cepat ia menyapu kasar wajahnya dengan menggunakan telapak tanganya sambil menatap langit-lagit kamar.


"Apa yang kamu pikirkan sih?. Apa kamu begitu menginginkan dia sampai-sampai ke bawah mimpi" gerutu Arsenio pada dirinya.


Dering ponsel berhasil mengalihkan perhatiannya, di raihnya ponsel miliknya lalu meletakanya ke telingganya.


📞"Selamat pagi tuan" sapa Rangga dari seberang.


📞"Hmm" jawab Arsenio dengan posisi berbaring di atas ranjang sambil menutup matanya.


📞"Hari ini nyonya sudah bisa pulang" ucap Rangga.


📞"Jam berapa?" tanya Arsenio malas.


📞"Jam 10.00 tuan" sahut Rangga.


📞"Jam berapa sekarang?" tanya Arsenio lagi.


📞"Jam 08.00 tuan".


📞"Jemput saya setengah jam lagi!" pinta Arsenio.


📞"Baik tua" sahut Rangga.


Sambungan telefon pun terputus. Ia pun bangkit dari tidurnya, dengan kepala yang masih terasa pusing berjalan menuju kamar mandi untuk membersikan diri.


Ia seringkali menginap di Apartment Rangga jadi tak heran jika ia punya beberapa pakaian di sana.


Setelah selesai bersiap-siap, ia berjalan menuju ranjang merapikan tempat tidurnya. Tatapanya tertuju pada bercak darah yang menempel di sprei.


Tanpa pikir panjang ia pun segerah membuka sprei, memasukan ke dalam keranjang lalu kembali mengambil ponselnya dan berjalan keluar.


Di ruang tamu tanpak Rangga telah menunggunya.


"Ayo!" ucap Arsenio lalu berjalan keluar lebih dulu.


"Baik tuan" sahut Rangga lalu bangkit dari duduknya.


Sebelum melangkah keluar Rangga melihat kesekeliling, seperti sedang mencari sesuatu.


"Cari apa?" Tanya Arsenio yang menyadari tinggkah asistennya itu, sementara Rangga menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Apa nona Ana sudah pulang?" ucap Rangga dalam hati lalu berjalan menyusul Arsenio.


Keduanya pun masuk ke dalam lift yang akan membawah mereka ke lantai 1.


"Kenapa saya bisa berada di apartmentmu?" tanya Arsenio menatap Rangga dari samping.


"Kemarin malam tuan mabuk berat, karena itu saya membawah tuan pulang ke apartment saya" sahut Rangga.


Arsenio yang mendengarnya tanpak diam, berlahan pintu lift terbuka. Keduanya pun berjalan keluar. Seperti biasanya Rangga berjalan lebih dulu, membuka pintu mobil buat tuannya.


"Terima kasih" ucap Arsenio lalu masuk.


"Sama-sama tuan" sahut Rangga yang juga ikut masuk ke dalam mobil.


Rangga melajukan mobil keluar dari halaman apartment dan akan menuju rumah sakit.


Di perjalanan Arsenio tanpak memijit lembut kedua alisnya, hal itu tak luput dari pandangan Rangga.


"Apa tuan baik-baik saja?" tanya Rangga menatap Arsenio melalui kaca spion.


"Hmm, hanya terasa sedikit pusing" sahut Arsenio.


"Apa kita mampir ke rumah sakit terdekat terlebih dahulu sebelum menjemput nyonya?" tanya Rangga.


"Tidak perlu!, saya hanya butuh istirahat saja" ucap Arsenio.


"Baik tuan".


Suasana di dalam mobil kembali hening, Arsenio tanpak menyandarkan kepalanya, lalu memejamkan matanya.


"Kenapa mimpi itu terlihat begitu nyata?" gumam Arsenio dalam hati.