
Kediaman keluarga Saguna.
"Kemana perginya anak itu sih?, acaranya sebentar lagi sudah mau di mulai, kok dia belum juga sampai?" Alin berjalan kesana-kemari di depan sebuah gedung.
"Bagaiamana?, apa dia sudah datang?" Nicholas berjalan menghampirinya.
Alin mengeleng "Belum pa, terus apa yang harus kita lakukan?, semua tamu-tamu sudah pada berdatangan dan Arsenio belum juga sampai" ucap Alin sambil memainkan jari-jemarinya.
"Apa kamu sudah mencoba menelfonnya?" tanya Nicholas lagi.
Alin menggangguk "Sudah pa, cuma ngak ada jawaban dari Arsenio" sahut Alin, rasa khawatir benar-bebar jelas terlihat pada raut wajahnya.
"Bagaimana kalau Arsenio tidak datang sampai acaranya di mulai?, apa yang harus kita lakukan coba?"
Nicholas menghela nafas panjang "Kamu tenangkan dirimu, papa yakin Arsenio pasti datang mungkin saja dia masih dalam perjalanan ke sini" ucap Nicholas berusaha menenangkan putrinya, namun percayalah saat ini hatinya pun di selimuti rasa khawatir.
Seorang dengan pakai kameja putih di lengkapi dengan jas datang menghampirir mereka "Maaf tuan, nyonya. Silakan masuk acaranya sebentar lagi akan di mulai" ucap pria itu.
Alin dan Nicholas berbalik menatapnya "Ya, sebentar lagi kami akan masuk" sahut Alin dan Nicholas hampiri bersamaan.
"Baik tuan" pria itu berbalik dan kembali berjalan masuk.
"Bagaimana nih pa?, Arsenio belum juga datang" ucap Alin.
Sementara Nicholas pun diam tidak merespon ucapan putrinya "Jika Arsenio benar-benar tidak datang, mau di taruh di mana muka saya dan apa yang harus saya katakan pada tamu-tamu penting?" pikir Nicholas.
Alin menarik tangan ayahnya "Pa... bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan?"
"Kamu tenang dulu!, papa juga sedang berpikir" ujar Nicholas dengan nada suara yang mulai meninggi.
Di saat yang sama, pintu pagar terbuka. Tampak sebuah mobil mrmasuki halman gedung dan parkir di antara mobil-mobil lainnya.
Hal itu tak luput dari pandangan Alin dan juga Nicholas.
"Hufff, Syukurlah dia datang" Alin bernafas lega, ia sangat mengenali mobil yang baru saja masuk.
"Kakek pikir kamu akan membuat malu keluarga kita untuk yang ke sekian kalinya" batin Nicholas.
Sementara Alin tampa berjalan setengah berlari menghampiri mobil itu.
Arsenio turun dari mobil sambil merapikan jasnya.
"Ya ampun sayang, kamu buat mama khawatir tahu, mama pikir kamu tidak akan datang" ucap Alin sambil tersenyum kearahnya.
"Mana mungkin aku melewatkan moment-moment seperti ini" ucap Arsenio dingin.
Nicholas pun ikut berjalan menghampiri cucunya "Ayo masuk!, acaranya sebentar lagi akan di mulai" ujar Nicholas.
"Benar sayang, ayo kita masuk. Tamu-tamu sudah menunggu" tambah Alin.
Alin mengandeng tangan putranya membawahnya masuk ke dalam gedung yang telah di dekorasi sedemikian rupa sehingga terlihat indah bagi siapapun yang melihatnya.
Arsenio, Alin dan Nicholas pun berjalan masuk, Clarissa yang mengenali sosok Arsenio pun tersenyum bahagia "Akhirnya kamu akan menjadi miliku!" pikir Clarissa.
"Tidak masalah jika aku menjadi yang kedua tapi depannya akan saya pastikan Ana secepatnya diceraikan oleh Arsenio dan aku akan menjadi satu-satunya istri tuan Arsenio" batin Clarissa.
Sarah dan Gibran yang melihat kedatangan Arsenio pun terkejut. Mereka sangat berharap Arsenio tidak akan datang ke pernikahan ini, secara dia telah memiliki Ana sebagai istrinya.
"Kamu benar-benar pria bren**k!. Aku menyesal telah mengizinkanmu menikahi putriku lagi" Gibran mengepalkan kedua tanganya wajahnya merah padam rahangnya mengeras dengan tatapan tajam ditunjukan pada Arsenio menantunya sekaligus anak tirinya.
"Anak itu, ngapain dia datang kesini?" ucap Sarah yang juga tidak suka kedatangan Arsenio di tempat itu.
"Benar-benar keterlaluan, dia bahkan tersenyum manis pada tamu-tamu" lanjut Sarah yang kini telah meremas jari-jemari tanganya.
Di saat bersamaan mobil Kana berhenti tepat di depan pintu pagar rumah Ana. Secapatnya Kana turun dari mobilnya dan membuka pintu pagar, ya dia telah di berikan satu kunci pagar dan satu kunci rumah.
Setelah pintu pagar berhasil di buka, Kana berlari menuju pintu rumah dan mengetuknya.
Tok....tok..
"Tante..., tante di dalam kan?" teriak Kana dari luar dengan terus mengetuk pintu tampa henti.
"Iya sayang, sebentar" sahuf Rany dari dalam. Rany tampak berjalan menghampiri pintu dan membukakan untuk Kana.
"Kamu kenapa?, ko ngos-ngosan gini?" Rany menatap Kana yang bersusah paya mengatur nafasnya.
"Sini tante, pokonya tante harus lihat berita ini" Kana menari tangan Rany dan memperailakan duduk pada kursi yang berada di teras rumah.
"Pokonya tante harus lihat ini!. Arsenio itu benar-benar laki-laki yang tidak bertanggung jawab bagus di pukuli laki-laki seperti ini!" gerutu Kana dengan tatapan fokus pada layar ponselnya.
Rany masih binggung dengan arah pembicaraan Kana, namun ia juga penasaran melihat berita apa yang akandi tunjukan Kana padanya.
"Nih, silakan tantr lihat sendiri. Aku jadi geram padanya tanganku gatal ingin sekali memukul wajah tampannya itu!" Kana meyerahkan ponselnya pada Rany.
Layar ponselnya telah di tampilkan berita viral terkini, Rany mengambil ponsel Kana lalu menatap fokus pada layarnya.
Deg.
Rany mebulatkan matanya tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Tanganya gemetar alhasil ponsel Kana jatuh ke lantai.
"Apa yang tante lihat barusan apakah itu benar?" Rany menatap Kana.
Kana menggangguk "Benar tante, pagi ini acara pernikahan Arsenio dan Clarissa diselenggarakan" sahut Kana.
"Ana... Bagaimana dengan Ana?" Rany yang mulai terlihat gelisah.
Kana mengelengkan kepalanya "Kalau soal itu aku juga ngak tahu tante"
"Kamu harus menelfon pak Rangga asistenya Arsenio, kita harus pergi menjemput Ana"
Rany bangkit dari duduknya menarik Kana agar secepatnya berdiri dari duduknya.
"Aku sudah mencoba menghubungi pak Rangga namun tidak ada jawaban" ucap Kana yang membuat Rany semakin khawtir.
"Ya ampun Ana, kasihan dia pasti hantinya sangat terluka" Rany kembali duduk tampa sadar air matanya mengalir begitu saja.
Kana yang melihat itu segera duduk berjongkok di depannya mengengam lembut kedua tanganya.
"Tenangkan hati tante dulu, aku yakin Ana pasti kuat melewatkan masalah ini" ucap Kana.
"Cerai!" ucap Rany dengan tatapan lurus ke depan.
"Ha cerai?, maksud tante apa?" Kanaengerutkan dahi bingung.
"Ana harus menceraikan Arsenio!, tidak peduli apapun alasan Arsenio menikahi wanita lain.
Pokonya Ana dan Arsenio harus bercerai!"
"Kana..., bantu tante mencari Ana" lanjut Rany
Kana menggagguk "Tentu saja tante, kita sama-sama mencari Ana"
"Ya udah kita berangkat sekarang!" Rany kembali bangkit dari duduknya menarik tangan Kana agar ikut berdiri.
"Iya tante kita cari Ana sekarang"
"Sebentar tante ambil tas dulu"
"Baik tante" Rany berjalan masuk sementara Kana menunggunya di luar, tak lupa ia kembali mengambil ponselnya yang jatuh.
Selang beberapa menit Rany pun keluar, keduanya berjalan bersama-bersama menuju mobil.
Deru kendaraan membawa mereka jauh dari halaman rumah, melewati ramainya kendaraan di jalananan. Kana tampak fokus menyetir sementara Rany terus mencoba menghubungi Ana dan juga Rangga.
Di waktu yang sama tampak semua tamu-tamu undangan telah duduk di tempat yang telah di sediakan, karena sebentar lagi acara akan di mulai.
Arsenio berdiri dengan gaga di depan para tamu undangan dan juga di depan keluarganya dan keluarga calon istrinya.
Alin dan Nicholas tak henti-hentinya tersenyum pada Arsenio dan juga Clarissa, berbeda halnya dengan Gibran dan juga Sarah jangankan tersenyum ke arah mereka melihatnya pun tak sudi.
Pendeta bergantian menatap keluarga mempelai perempuan, keluarga mempelai laki-laki dan yang terakhir menatap kedua mempelai yang telah berdiri di depannya.
"Apa acaranya sudah bisa di mulai?" tanya pendeta.
Tampa ragu Clasrissa menggangguk "Ya silakan di mulai" sahut Clarissa sementara Arsenio hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Penteta pun mulai memimpin acara peneguhan nikah, dan di menit berikutnya sesorang berjalan masuk dari arah pintu lalu menghentikan langkahnya di antara para tamu undangan.
"Berhenti!" ucapnya dengan suara lantang.
Hal itu sontak membuat semua yang berada di dalam gedung tersebut melihat ke arahnya termasuk pendeta, Arsenio dan juga Clarissa.