My Love Story

My Love Story
Bab 92



Sebuah rumah yang lumayan besar, berada di antara beberapa pohon yang menjulang tinggi ke atas, suara kicauan burung-burung yang berterbanggan di mana-mana memberi kesan menyenangkan bagi siapapun yang tinggal di dalamnya, namun hal itu sangat berbanding terbalik yang dirasakan seseorang yang berada di salah satu dari beberapa kamar di sana.


Perlahan Ana membuka matanya, Ana mengerutkan dahi merasakan sakit di kepalannya, pandanganya menyapu hampir seluruh isi ruangan, saat panglihatannya mulai kembali normal seketika Ana terperanjat dan segera bagun dari tidurnya.


Tatapannya masih tertuju pada dinding-dinding kamar yang hampir seluruh dinding di penuhi dengan foto-foto dirinya.


Belum redah rasa terkejutnya mengenai foto-fotonya, ia kembali di kejutkan dengan kehadiran sosok pria di dalam kamar.


"Kamu?" Ana membulatkan matanya.


Pria itu tersenyum manis kearahnya "Kamu sudah bangun sayang?" berjalan mendekatinya.


"Berhenti di sana!, jangan berani menyentuhku!" Ana bergerak mundur hingga tubuhnya menyentu kepala ranjang.


"Kenapa?, aku hanya ingin memeriksa keadaanmu" pria itu terus bergerak maju perlahan memangkas jarak di antara keduannya.


"Tidak perlu memeriksa keadaanku, aku baik-baik saja. Aku mau pulang sekarang!"


Pria itu masih terseyum manis kearahnya "Memangnya kamu mau pulang ke mana?. Ini rumah kita, aku sengajah membuatkan rumah ini khusus untukmu" Jarak pria itu kini tinggal setengah meter dari Ana.


Ana menghelengkan kepalanya "Ngak, aku harus pulang sekarang, ini bukan rumahku!, aku harus menjemput Alvis"


Pria itu meraih dagu Ana menatap lekat matanya "Biarkan saja Alvis bersama ayahnya, kita kan bisa membuat saudara-saudara Alvis pasti dia akan senang"


Ana menepis tangan pria itu "Jangan ngacoh deh kamu!, aku ini istri orang, itu artinya kita tidak mungkin bisa bersama!. Jadi tolong biarkan aku pergi" Ana beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.


Mendengar ucapan Ana raut wajah pria itu seketika berubah, seyum manis dari bibirnya hilang begitu saja kini berganti dengan tersenyum sinis dan tajam tajam diberikan pada Ana.


Ana membuka pintu namun pintu kamarnya terkunci. Ana segera menoleh manatap pria yang masih berdiri di tepi ranjang.


"Mana kuncinya?" tanya Ana yang masih terlihat tenang.


Pria itu tidak meresponnya bahkan tidak bergeming dari tempat dimana dia berdiri.


Melihat itu Ana berinisiatif mencari kunci kamar di beberapa laci meja yang ada di sana.


Ana terlihat serius mencari keberadaan kunci kamar sampai tidak menyadari pria itu kini sudah berdiri di belakangnya.


Di menit berikutnya pria itu menarik dengan tangan Ana membuat Ana merintik kesakitan, menodongnya ke dinding memposisikan Ana berada di antara kedua tangganya yang menyanggah didinding.


Jarak wajahnya sangat dekat dengan wajah Ana, Bahkan Ana dapat merasakan hembusan nafas dari pria itu.


"Barusan kamu bilang, kamu merupakan istri orang. Apakah kamu sudah menikah lagi?" tanya pria itu serius.


Ana menelan salivanya "Benar, aku memang sudah menikah lagi!, jadi tolong lepaskan aku!" Ana berusaha meyingkirkan tanggan pria itu, namun itu tidak membuat tangan pria itu bergeser dari tempatnya.


"Siapa pria itu?"


Ana yang mendengarnya merinding, menghentikan aksinya menyingkirkan tangan pria itu dan berganti menatap pria itu.


"Siapapun pria yang aku nikahi, itu tidak ada urusannya denganmu. Jadi mohon singkirkan tanganmu! Aku mau pergi" Ana kembali berusaha menyingkirkan tangan pria itu.


Pria itu mengepalkan tangannya meninjuh dengan keras dinding yang berada di atas kepala Ana "Jawab!, siapa pria itu?" pekik pria itu.


Ana terkejut, tubuhnya mematung dan jantungnya berdetak dengan hebat, Ia bahkan dapat merasakan sesuatu menetes di atas ke palanya.


Melihat Ana diam, pria itu kembali meraih dagu Ana sedikit mengakatnya agar Ana bisa menatap wajahnya dan begitu sebaliknya "Mau jawab sendiri atau aku akan memaksamu untuk menjawabnya?!"


Ana melirik menatap tangan pria yang menyentuh dagunya, susuatu berwarna merah sesekali menetes dari tangan pria itu.


"Arsenio...aku menikah dengannya" jawab Ana gemetar


Pria itu menarik tangan Ana membawah ke tepi ranjang lalu menghempaskannya di atas ranjang.


Pria itu berbalik memposisikan Ana berada di belakangnya ia terlihat mengacak-ngacak rambutnya dan sesekali berteriak, Ana yang melihat itu pun segera bergerak mundur, seluruh tubuhnya gemetar, awalnya ia masih berusaha bersikap tenang namun melihat kemarahan pria itu membuat nyalinya menciut.


Pria itu berbalik menatapnya hal itu cukup membuat Ana terkejut "Ceraikan laki-laki bren**k itu!, dan kita akan menikah" ucap pria itu dibarengi tawa kecil, melangkah mendekati Ana dengan tangan Kanannya berusaha menyentu Ana.


Ana mengelengkan kepalanya terus bergerak mundur hingga ia tidak dapat lagi bergerak mundur karena kini tubuhnya telah berhasil menyentu kepla ranjang.


"Pergi!, aku tidak mau menikah denganmu!" teriak Ana dengan sekuat tenaga mengeluarkan sisa keberanianya.


Pria itu menarik kasar kedua kaki Ana hal itu membuat Ana tebaring dengan posisi tergelentak, secepar kilat pria itu kini berada di atas Ana mencengkram kedua tangannya lalu kedua kakinya menjepit kedua kaki Ana hal itu membuat Ana tidak dapat bergerak.


"Hari ini juga, kamu akan menjadi miliku!"


"Tolong....., tolong lepaskan aku" teriak Ana namun hal itu tidak dapat menghentikan aksi pria itu.


Pria itu terus mengecup hampir seluruh wajah Ana, perlahan kecupanya turun ke leher. "Rob, jika kamu benar-benar mencintaiku, mohon lepaskan aku, beri aku waktu, jangan paksa aku melakukannya sekarang" ucap Ana dengan isak tangsis.


Ya pria itu adalah Roby, teman kelas Ana waktu di bangku perkuliahan.


Roby mengehentikan aksinya, perlahan ia menatap wajah Ana yang telah di basahi air mata, ia juga dapat merasakan tubuh Ana gemetar.


Roby melepaskan cengkramannya, bangkit dan segerah turun dari ranjang. Ia tampak berdiri di samping ranjang sambil menyapu kasar wajahnya "Maaf" kata itulah yang keluar dari mulut seorang Roby.


Sementara Ana tampak menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, ia terus menangis di bawah selimut, Roby berbalik menatapnya karena ia masih mendengar isak tangis Ana.


"Aku bilang maaf, jadi tolong maafkan sikapku barusan" ucap Roby dengan suara lembut, kata yang baru saja di keluarkannya benar-benar bersal dari lubuk hatinya.


"Pergi!....pergi!. Tinggalkan aku sendiri" ucap Ana di balik selimut.


Roby terdiam, menatap selimut yang menutupi seluruh tubuh Ana.


Di menit berikutnya Roby menari dengan kasar selimut yang menutupi Ana, hal itu membuat Ana terkejut dan dengan gerakan refleks Ana menyilangkan kedua tanganya di depan dada sebagai bentuk perlindungan.


"Kenapa kamu mengingkari apa yang kamu ucapkan sendiri?" ucap Roby.


Ana diam, air mata sesekali masih terlihat keluar dari pelupuk matanya.


"Kamu bilang kamu tidak akan menikah dengan siapa-siapa termasuk aku dan juga Arsenio. Lalu sekarang apa?, kamu menikah lagi dengan laki-laki bren**k itu yang sudah membuat kamu hancur empat tahun lalu" lanjut Roby dengan suara yang mulai kembali meninggi.


Ana diam, tubuhnya masih gemetar, mulutnya seakan terkunci tidak dapat mengeluarkan satu pata kata pun.


Roby berjalan mendekati Ana mengelus lembut pipinya "Aku tahu, laki-laki bren*sek itu pasti memaksamu untuk menikah lagi denganya" Ana menepis tangan Roby dari wajahnya.


Roby tersenyum "Menikalah denganku!, lupakan laki-laki beren**k itu. Kamu tahu aku sangat mencintaimu, dari dulu sampai sekarang rasa itu masih sama, masih terus mencintai kamu" Roby menatap lekat wajah Ana dengan tangan kananya terus bermain di wajah Ana.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut kamu dari sisiku!" bisik Roby dengan senyum setia menghiasi wajahnya.


"Kamu lihat!" Roby memegang dagu Ana mengarakannya agar melihat apa yang ingin dia perlihatkan.


"Semua itu, aku ambil empat tahun lalu dan aku masih menyimpannya sampai sekarang. Kamu tahu kenapa aku melakukan semua hal bodoh ini?"


"Karena aku sungguh-sungguh mencintaimu" lanjut Roby menjawab pertanyaannya sendiri.


Roby kembali menatap Ana "Kamu sudah lihat kan?, betapa besar rasa sukaku kepadamu"


"Aku mau kamu ceraikan laki-laki itu dan menikah denganku" bisik Roby.


Ana menoleh menatap Roby, jarak wajahnya sangat dengat dengan wajah Roby, tatapan mereka bertemu untuk beberapa menit. Dan di menit berikutnya Ana mendorong Roby menjauh darinya dengan semua sisa tenaga yang ia punya.


"Sekalipun aku bercerai dengan Arsenio aku tidak akan pernah menikah dengamu!" teriak Ana.


Raby segera bergerak menjauh kedua tangannya digunakan sebagai penutup kedua telingganya.


"Tidak... tidak... kamu harus menikah denganku" ucap Roby berulang-ulang.


Ana terdiam menatap tingkah aneh Roby.


"Aku tidak akan pernah menikah denganmu!" ucapan Ana ini terus tergiang telinganya.


"Tidak.......... " teriak Roby sambil mengeleng-ngelengkan kepalanya.


Roby terus menutup kedua telingganya dengan mengunakan tanganya, dengan susah paya berjalan menuju pintu lalu membukannya.


Sebelum melangkah keluar Roby menoleh ke belakang menatap Ana "Kamu miliku dan tetap akan menjadi miliku" ucapnya lalu memutup pintu dengan keras.