
Ana melajukan mobilnya, tatapannya fokus ke depan, melewati ramainya jalan di malam hari.
Setelah hampir satu jam dalam perjalanan, Ana pun memasuki halaman sebuah apartment bintang 5, memarkir mobil dengan aman, dan berjalan masuk.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis dengan senyum manis setia mengiasi bibirnya.
Ana mengangguk.
"Saya di perintahkan pak Rangga untuk datang ke sini" ucap Ana mendeja ucapanya.
"Oh dengan nona Ana?" tanya resepsionis.
"Iya benar" sahut Ana sambil mengagguk.
"Tunggu sebentar ya!" pinta resepsionis sambil tersenyum.
Beberapa detik kemudian resepsionis kembali menatap Ana, memegang sebuah kartu di tangan kanannya.
"Ini kartunya, nona silakan menuju lift yang ada di sebelah sana" ucap resepsionis sambil menunjukan arah yang di maksudnya.
"Terima kasih mba" ucap Ana sambil memgambil kartu.
"Sama-sama nona" sahut resepsionis sebelum Ana melangkah pergi.
Ana berjalan menuju lift. Menakan tombol yang akan membawahnya ke lantai 20.
Beberapa menit kemudian pintu lift terbuka, Ana berjalan keluar, menatap layar ponselnya, melihat isi pesan dari Rangga yang di krimkan padanya.
Melanjutkan langkahnya dan berhenti di depan sebuah pintu, ditatapnya angka yang tertera disana lalu kembali menatap layar ponselnya, mencocokan alamat yang dikirimkan Rangga padanya.
"Kalau di lihat-lihat, alamatnya sudah benar" ucap Ana lalu kembali memasukan ponselnya ke dalam tas.
Melatakan Cardlock pada kontak sensor, setelah pintu berhasil terbuka, digengamnya daun pintu lalu memutarnya.
Ana pun berjalan masuk, menatap sekelilingnya yang tampak tersusun dengan rapi.
"Wah sangat rapi dan tanpak elegan sapa seperti pemiliknya!" ucap Ana.
Meletakan tasnya ke atas meja lalu menatap beberapa pintu yang ada di sana.
"Kata pak Rangga, mas Arsenio ada di dalam kamar. Namun kamar yang mana ya?. Kamar yang itu atau yang ada di sebelah sana" gumam Ana dalam hati, bergantian mematap ke dua kamar yang di maksudnya.
Setelah cukup lama diam ia pun memutuskan untuk membuka salah satu dari ke dua pintu tersebut.
Digengamnya daun pintu lalu memutarnya, pintu pun berlahan terbuka dan mengeluarkan bunyi. Memasukan sedikit kepalanya menatap hampir seluruh bagian kamar.
"Ngak ada orang!, apa di kamar sebelah?" ucap Ana pelan.
"Ana.. " pagil Arsenio.
Ana yang baru saja ingin menutup pintu pun segera menundahnya, berjalan masuk mencari sumber suara.
Arsenio yang masih dalam pengaruh alkohol segera menatap ke arahnya.
"Kenapa mas tidur di lantai?, kan mas bisa tidur di atas ranjang" ucap Ana lalu membantu suaminya bangun.
Arsenio menepis tangan Ana, dengan pelan ia pun berdiri dan menatap lurus istrinya.
"Mana istriku?, kenapa belum juga datang?" ucap Arsenio.
"Ini aku Mas, Ana istrimu!" ucapnya lalu kembali memegang tangan suaminya menuntunya duduk di atas tempat tidur.
Arsenio yang mendengarnya pun membulatkan matanya, menatap intens Ana yang berdiri di depannya.
"Kamu benar!. Aku hampir saja tidak mengenali istriku" ucap Arsenio di barengi tawa. Sementara Ana yang mendengarnya pun mengelengkan kepalanya.
"Istriku sini mendekatlah padaku!" pinta Arsenio.
Ana menghela nafas panjang lalu berjalan lebih dekat denganya, memangkas jarak di antara mereka.
Arsenio menarik tanganya lalu memeluk erat pingganya. Membenangkan kepalanya tepat di perutnya. Ana yang memdapat perlakuan itu pun terkejut.
"Jangan tinggalkan aku!" pinta Arsenio seperti seorang anak yang enggan lepas dari ibunya.
Dengan ragu Ana membelai lembut rambut suaminya.
"Aku di sini, dan aku tak akan pergi!" sahut Ana.
Beberapa menit kemudian, Arsenio tak lagi mengeluarkan suara, kedua matanya terpejam. Ana yang menyadari itu segera membantunya berbaring ke atas tempat tidur.
Setelah selesai membantu suaminya, Ana berlahan beranjak dari atas tempat tidur.
Arsenio yang menyadari hal itu pun segera menarik Ana, membawa Ana masuk ke dalam pelukannya.
"Mas... lepaskan!" pinta Ana sambil berusaha lepas dari pelukan suaminya.
Arsenio berlahan bagun dari tidurnya memposisikan Ana berada tepat di bawah tubuhnya, menatap lekat wajah istrinya dan
Cup.
Satu kecupan mendarat ke bibirnya, Ana yang mengetahui suaminya masih dalam pengaruh alkohol pun berusaha menghindar dari berbagai serangan suaminya. Namun sekuat apapun ia berusaha mengindar, ia tidak dapat mengalahkan kekuatan suaminya.
Aksi suaminya bertamba liar, tanganya berlahan masuk kedalam baju yang ia kenakan, berusaha menggapai sesuatu yang menyenangkan di sana.
"Mas, tolong hentikan!!" pinta Ana yang terlihat panik.
Ana kembali mengulagi kata yang sama namun hal itu tidak membuat suaminya menghentikan aksi buasnya.
Selang beberapa menit, Arsenio menghentikan sejenak aksinya, dengan nafas terus memburu, ditatapnya lekat wajah istrinya, lalu berkata.
"Aku mau kamu sekarang!".