My Love Story

My Love Story
Chapt | 035



"Nyalakan-lah satu lilin dan berjalanlah bersama cahaya dari nyala lilin itu. Nyalakan-lah satu lilin dan padamkan lilin yang lain, biarkan lilin yang kau padamkan itu menjadi penerang untuk jalan orang lain," kata Akira, penuh maksud filosofis.


"Maksudmu?" sambarku dengan cepat.


"Lupakanlah Kamazaki, mulailah merangkai mimpi dan cita-cita bersama Kak Hajime. Aku rasa itu lebih baik, karena Kak Hajime juga bersedia menjadi cahaya penerang untukmu. Daripada kau harus menunggu sesuatu yang tidak pasti, bukankah lebih baik kau memulai hidup yang baru dengan seseorang yang jelas-jelas mencintaimu?"


"Jadi menurutmu Hajime mencintaiku, Akira?" tanyaku pura-pura bodoh. Sejatinya aku hanya ingin penguatan dari Akira, bahwa Hajime memang benar-benar mencintaiku. Aku tidak mau gagal untuk yang kedua kali, jangan sampai nanti Hajime mencintaiku tanpa komitmen tinggi untuk memperjuangkan cinta kami berdua. Lantas, apa bedanya dengan cinta dan janji-janji manis yang pernah diberikan oleh Kamazaki?


"Apa aku harus menjelaskan bagaimana kegilaan Kak Hajime setiap membicarakan sesuatu tentangmu, Kak Ran?" balas Akira dengan nada meninggi, kutahu ia tidak


Sedang bicara main-main. "Apa aku harus menjelaskan segala tindak irasional yang dia lakukan sejak dilanda cinta kepadamu, Kak Ran?" lanjut Akira dengan nada bicara semakin meninggi. "Apa perlu kau dengar pengakuan teman-teman Kak Hajime ketika menceritakan bagaimana istimewanya kau di matanya kepada teman-teman?"


Aku diam dan menelan ludah. Kata-kata Akira sangat menohok.


"Aku rasa tanpa kujelaskan semua itu kepadamu, kau


sudah bisa menarik kesimpulan yang paling tepat, bukan?"


kata Akira, seperti sengaja menyudutkanku. "Aku percaya


kau bukan anak bodoh yang harus kutuntun- supaya begini, meski begitu, harus ini, meski itu." Aku tak bisa menjawab apa-apa. Tapi, mungkin bukan waktunya memikirkan semua itu, yang penting sekarang


Hajime sembuh!!


"Sudahlah, Akira...." ucapku seraya menjauhkan tubuh Akira dariku. "Saat ini aku tidak ingin bicara apa-apa, aku ha nya ingin Hajime sembuh dan kembali seperti sedia kala."


Belum pun sempat Akira memberikan tanggapan, dan aku juga belum sempat melanjutkan kalimatku, muncul seorang gadis dengan langkah terburu-buru dan wajahnya telah banjir tangis. Herannya, gadis itu menerabas jalan di antara aku dan Akira, padahal jelas-jelas jalan masih menyisakan space yang lebar.


"Hajime...." Ga-dis yang kelak kutahu bernama Magie terisak dan tak henti-henti menyebut nama Hajime, berulang-ulang dan berkali-kali. Ya Tuhan, siapa lagi dia? Pacar atau saudara Hajime?


Aku dan Akira menghentikan langkah dan saling tatap. Hanya dengan membaca kerutan di jidatnya, kutahu ia juga ingin bertanya kepadaku, siapa gadis yang datang-datang menangisi Hajime? Dan dengan sekali angkat bahu, aku menggantikan jawaban ketidaktahuanku kepada Akira.


Demi memenuhi rasa penasaran, Akira mendekati Magie yang sedang meratapi Hajime di jendela kaca. Aku hanya diam mematung dan memperhatikan semua gerak gerik Akira, juga Magie tentunya.


"Maaf, apakah kau saudaranya Kak Hajime?" tanya Akira kepada Magie.


Magie yang sedari tadi memunggungi kami berbalik badan, mengusap pipi-pipinya yang basah berkilauan karena-


___________________________________


Ber-Sam-Bung~


Kamazaki : Keano


Ran Ogoro : Kim Ran


Akira Ogoro : Kim Will