
"Kana" pangil Rangga sambil berjalan menyusul Kana.
Sementara di luar tampak Kana terus mempercepat langkahnya dan sesekali menoleh ke belakang berharap Rangga tidak dapat menyusulnya.
"Pak... " pagil Kana dari jauh.
"Iya non" sahut pak satpam lalu berjalan keluar dari pos jaga.
"Pak tolong bukakan pintu pagarnya!"
"Baik nona"
"Cepatan ya pak" ujar Kana
"Iya non, ini udah mau dibukain" sahut satpam.
"Kana tunggu!" ucap Rangga yang kini berlari menyusul Kana.
Kana segera menoleh kearahnya lalu dengan cepat Kana menyuruh pak satpam mundur agar dia bisa secepat keluar.
"Pak, sepertinya sudah cukup. badan saya muat ko" ucap Kana
"Tapi non, bukankah itu terlalu kecil?"
"Ngak apa-apa pak, sekarang bapak mudur lalu saya akan keluar"
"Jangan!" teriak Rangga yang membuat pak satpam berhenti melangkah lalu menoleh ke arahnya.
"Jangan mundur pak! Plis jangan bergerak dari tempat bapak berdiri!" lanjut Ragga.
"Tidak pak, bapak jangan dengarkan dia, biarkan saya keluar sekarang" ucap Kana.
Pak satpam tampak menyeringitkan dahi binggung "Loh....gimana nih?, saya harus ikut yang mana?" ujar pak satpam sambil bergantian menatap Kana dan juga Rangga yang kini telah berhenti berlari.
"Saya, bapak harus dengar saya!" ucap Kana dan Rangga bersamaan yang membuat pak satpam semakin bingung.
"Piye iki"
"Pak saya bisa telat ke kantor jika bapak terus benutup jalan seperti ini. Pak plis, tolong beri saya jalan" ucap Kana memohon.
Mendengar itu, pak satpam pun akhirnya memberikan Kana jalan.
"Silakan non, saya tidak ingin menghalangi nona lagi" ucap satpam. Sementara Kana yang mendengar itu segera berlari keluar.
Namun masih menyempatkan waktu menoleh ke arah satpam "Terima kasih pak" ucap Kana sambil sedikit menundukan kepalanya lalu kembali berlari menjauh dari rumah Ana.
"Pak... " ucap Rangga setelah sampai di depan pintu pagar di mana satpam berdiri, dia tampak bersusah paya mengatur nafasnya.
"Pak, kenapa dibiarkan pergi sih?" ucap Rangga.
"Maaf pak, tapi saya ngak tega. Jika hanya gara-gara saya menahan nona Kana, nona Kana bisa telat pergi kerja" sahut pak satpam.
Rangga yang mendengarnya pun menghela nafas panjang.
"Sekali lagi saya minta maaf pak" ucap Satpam dengan kepala sedikit di tundukan.
Rangga menoleh ke arahnya lalu menepuk lembut pundak satpam tersebut "Ngak apa-apa, tapi tolong buka pintunya lebih besar lagi!. saya mau keluar" kata Rangga.
Pak satpam mengganggukan kepala "Baik pak"
Pak satpam tampak menjalankan tugasnya sesuai perintah, sedangkan Rangga kembali untuk mengambil mobil agar segera menyusul Kana.
Setelah sampai, Rangga terlihat langsung memasuki mobil, memasang kuncinya dan menyalakan mesin mobilnya.
"Pak tolong pintu pagarnya di tutup kembali" ucap Rangga pada pak satpam.
"Baik pak"
Rangga kembali melajukan mobilnya meyusul Kana yang tampak menaiki sebuah taksi yang mungkin telah di pesannya tadi.
"Aku ngak bisa kehilangan mobil itu" ucap Rangga menatap lurus mobil yang di maksudnya.
Di waktu yang sama terlihat Kana menyandarkan kepalanya ke kursi mobil, sambil memejamkan matanya.
"Non" pangil supir taksi menatap Kana melalu kaca spion.
"Ada apa pak?. Bukankah saya sudah memilih kemana tujuan saya?" ucap Kana tanpa membuka matanya dan juga meruba posisi duduknya.
"Bukan soal itu nona"
"Tetus apa pak?" tanya Kana yang akhirnya membuka matanya.
"Coba nona lihat ke belakang!, sepertinya mobil di belakang kita sedang mengikuti kita" ucap supir taksi.
Kana yang mendengar itu pun segera menoleh ke belakang, dan benar saja sebuah mobil berwarna hitam yang sangat dia kenali terus mengikuti mereka.
"Ngak usah di ambil pusing pak!, terus jalan aja, kalau perlu langsung ngebut aja biar mobil itu tidak bisa mengejar kita" ucap Kana lalu kembali dengan posisi awal duduknya.
"Baik nona" sahut supir taksi lalu menambah kecepatan mobilnya.
Sementara Rangga yang berada di belakang dengan cepat menyadarinya.
"Pasti Kana sudah mengatahui aku sedang menyusulnya dan menyusuh supir untuk mempercepat kecepatan mobilnya. Aku ngak bisa kehilangan mobil itu" ucap Rangga yang juga ikut mempercepat kecepatan mobilnya.
Rangga terus fokus menyetir sambil menatap taksi yang di tumpangi Kana namun, sebuah mobil tiba-tiba menyelip masuk di antara mobilnya dan juga taksi yang membawah Kana, hal itu membuatnya tidak dapat melihat taksi yang di tumpangi Kana.
Pip.... Piiip....
Rangga terus menekan tombol klakson mobilnya "Sial!, bisa bawah mobil ngak sih?" teriak Rangga frustasi.
Rangga beberapa-kali mencoba melambung mobil yang berada di depannya namun berkali-kali juga dia gagal, dikarenakan keberadaan beberapa kendaraan lainnya.
Dan pada akhrinya Rangga kehilangan jejak taksi yang membawah Kana.
"Sial, aku kehilangan taksi itu. Apa aku tabrak aja mobil ini?, gara-gara mobil di depan, aku kehilangan taksi yang membawah Kana" ujar Rangga.
Dering ponsel cukup mencuri perhatian Rangga, dikeluarkannya ponselnya dari saku lalu menatap layar ponselnya sebelum kembali fokus menyetir.
Rangga terlihat memasa earphone lalu menerima pangilan telefon.
📞"Halo pak" sapa seorang pria dari seberang.
📞"Hmm, bagaimana?. Apa kau sudah mendapatkan apa yang saya inginkan?" tanya Rangga to the point.
📞"Tentu saja pak, saya sudah mendapatkan semua yang bapak inginkan"
📞"Apa kau yakin?, apa yang kamu dapatkan itu dapat di percaya keberadaannya?" tanya Rangga lagi.
📞"Tentu saja tuan, kami mencari semua informasi yang bapak minta dari sumber-sumper yang terpercaya dan lagi ada beberapa hal yang bahkan media pun tidak mengetahuinya"
📞"Bagus!, krimkan kepada saya secepatnya!" ujar Rangga.
📞"Baik pak"
Sambungan telefon pun terputus, Rangga kembali fokus menyetir, namun bukan untuk mengejar Kana melainkan pulang ke apartmentnya.