
Malam semakin larut, namun obrolan mereka seakan tak ada habisnya, selesai membahas tema satu, akan di lanjutkan tema dua, dan begitu seterusnya, hingga tiba saatnya dimana Gibran menyadari itu saat menatap benda kecil yang ada di pergelangan tangan kirinya.
"Perasaan kita belum lama duduk di sini, namun jarum jam sudah menunjukan pukul 12 aja, atau baterei jamku sudah mati?, makanya dia tidak berfungsi dengan baik" ucap Gibran sambil menatap jam tanganya.
"Bukan baterai jammu yang mati, tapi memang kitanya yang terlalu asik ngobrol sampai ngak sadar kalau sudah larut malam" ujar Sarah.
"Benar kata mama, tuh lihat jam dinding itu!, jarumnya menunjukan angka yang sama" sambung Alin.
"Sepertinya kalian semua harus tidur di sini malam ini, aku ngak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat di perjalanan pulang, mengingat malam yang semakin larut" ucap Arsenio.
"Ya benar, aku pun berpikir seperti itu.
Sebaiknya malam ini semua tidur disini aku akan menyiapkan kamar untuk semua" lanjut Ana.
Arsenio bergerak lebih dekat dengan istrinya "Memangnya kamu sudah tahu, Dimana-mana letak kamar di rumah ini?" ucap Arsenio sambil tersenyum.
"Ah benar, aku kan belum menghafalnya. Tapi kan ada bibi yang bisa membantuku. Habisnya kamu beli rumahnya kebesaran sih, jadi susah kan aku mengigat semua letak rungannya"
Ucap Ana yang langsung membuat semua orang tertawa kecuali Rangga yang dari sononya orangnya dingin dan hanya bisa tersenyum sementara untuk tersenyum pun dia masih terlihat kaku.
"Ya sepertinya aku juga berpikir seperti itu, sebaiknya malam ini kita tidur sini dini dulu, bagaimana menurut yang lain?" ujar Nicholas bergantian menatap satu persatu kecuali Ana dan juga Arsenio yang merupakan tuan rumah.
Oh iya, dede Alvis sudah tidur lebih dulu setelah selesai merayakan ulang tahun ibunya.
Lanjut,
Semua tampak mengganggu setuju dengan ucapan Nicholas hanya Kanalah satu-satunya yang tidak ikut menggaggukan kepalanya.
"Ada apa Na?, apa kamu jadwal masuk pagi?" tanya Ana yang membuat semua menatap kearahnya termasuk Rangga.
Kana menggangguk "Ya, ada metting pagi. Dan aku harus sepagi mungkin berangkat kekantor untuk menyiapkan beberapa keperluan metting" sahut Kana.
"Aduh bangaimana ini mas?, aku ngak mungkin membiarkan Kana pulang sendiri apalagi malam semakin larut" ucap Ana menatap suaminya.
Kana yang mendengarnya segera menoleh kearah Rangga "Bisa kan Rangga?" tanya Arsenio mastikan.
"Tentu saja bisa tuan" jawab Rangga tanpa ragu.
"Ya tuhan, kenapa harus dia sih yang ngantarin. Kenapa bukan orang lain aja?😑, ini semua salah mobilku!, kenapa sih pakai acara rusak segala?" pikir Kana.
"Nah, masalah Kana telah selah selesai. Jadi semuanya bisa istirahat dengan nyenyak. Aku dan istriku yang akan mengantarkan kalian ke kamarnya masing-masing" ujar Arsenio.
Karena rasa kantuk yang semakin mengusai diri mereka, tanpa menunggu lama mereka pun berjalan keluar dari ruangan dan tampak Ana dan Arsenio mengantarkan ke kamarnya masing-masing setelah semuanya sudah mendapatkan bagian kamar, kini giliran Ana dan Kana yang menuju kamar mereka.
"Mas" pangil Ana di selah-selah langkah mereka.
"Hmm" sahut Arsenio dengan posisi terus mengengam tangan istrinya.
"Entah mengapa aku melihat ada sesuatu di antara Kana dan pak Rangga. Mereka seperti terlihat canggung bukan?" tanya Ana mengingat kembali saat perayaan ulang tahunnya.
"Kamu kan tahu sendiri, Rangga seperti apa orangnya. aku pikir mereka terlihat biasa aja" ucap Arsenio asal. Yang sebenarnya ia juga menyadari hal itu.
Ana yang mendengarnya pun diam, keduanya pun memasuki kamar dengan posisi Ana lebih dulu dan disusul oleh Arsenio.
Sementara di waktu yang sama, tampak Kana memasuki kamar yang dipilih Ana untuknya, Kana berjalan mendekati tempat tidur dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sana, pandanganya lurus menatap langit-langit kamar yang nampak elegant.
"Kenapa harus pak Rangga sih?, kenapa bukan pak Reza?" kata itulah yang keluar dari mulut seorang Kana.
Karena menyadari kata yang baru saja diucapkannya dengan cepat Kana memukul mulutnya.
"Berhetilah ngomong yang ngak-ngak!, dan lagi kepala ini, kenapa selalu mengingat nama pak Reza sih ngak ada orang lain apa?" gerutu Kana pada dirinya.
"Aku tahu kamu begitu mengganguminya, namun, bukan perlakuan itu yang ingin aku dapatkan darinya" lanjut Kana.
Dan pada akhirnya kejadian sore tadi kembali diingatnya yang membuatnya mengacak-ngacak rambutnya frustasi mengingat kejadian itu. Hal itu terus berlangsung hingga dia melasa lelah dan pada akhirnya terlelap.