
Bukannya melepaskan tanggan Ana, Roby malah semakin mengeratkan genggamannya, menarik Ana sehingga membuatnya masuk dalam pelukannya.
Hal itu membuat Ana meronta-ronta, berusaha untuk melepaskan dirinya dari cengkraman Roby.
"Apa yang kamu lakukan Roby?, cepat lepaskan aku!" teriak Ana dengan suara tinggi berharap seseorang di sana dapat mendengarnya.
"Sayang menurutlah, jika ingin aku lepaskan!. Menikalah denganku aku akan membahagiakanmu" bisik Roby di telinga Ana.
"Tidak, aku tidak ingin menikah dengan siapa-siapa, termasuk kamu Rob!. Cepat lepaskan aku!"
Roby melepaskan pelukannya tangan kanannya mengengam erat kedua tangan Ana dan tangan kirinya memegang dagu Ana "Aku akan melakukan apapun agar bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk mendapatkan kamu!" ucap Roby dengan tatapan dingin.
Ana mengelengkan kepala "Sampai kapan pun aku gak akan mau menikah denganmu!" teriak Ana.
Hal itu membuat Roby melepaskan Ana dia tampak mengacak-ngacak rambutnya, Ana yang melihat itu pelan-pelan melangkah mundur.
"Berhenti disana!" teriak Roby dengan tatapan tajam di tujukan pada Ana.
"Jika kamu berani mudur satu langkah lagi aku akan mem*unu*mu!" lanjut Roby.
Deg
Yakin dan percaya saat ini tubuh Ana gemetar, tidak punya keberanian melangkah mudur bahkan menatap Roby pun tak berani.
Roby berjalan mendekati Ana diraihnya dagu Ana lalu sedikit mengangkatnya agar ia dapat melihat wajah cantik Ana "Aku sudah lama menunggu waktu ini, tapi kamu malah menolokku!. Kamu tahu?, aku paling tidak suka mendengar penolakan!"
"Aku akan menghalalkan berbagai cara agar kamu bisa secepatnya bercerai dengan Arsenio dan menikah denganku, tapi apa?, setelah keinginanku tercapai kamu malah menghilang tanpa meninggalkan jejak!. Hal itu sungguh membuatku fruatasi Na"
"A.. pa maksud dari ucapanmu barusan?" tanya Ana dengan suara gemetar.
"Apa video yang beredar di sosial media itu ulahmu?" lanjut Ana ragu.
Roby yang mendengarnya tertawa lepas, "Hahahahha" Ana yang mendengar itu pun merinding.
"Benar, aku yang menyebarkan semua video itu dan bukan cuma itu, aku yang membuat semua artikel mengenai dirimu dan menyebarkannya di sosial media" ucap Roby sambil memindahkan tangan kirinya ke bahu Ana.
"Ha..? jadi itu benaran kamu yang membuatnya?" tanya Ana tak percaya.
"Kenapa?, kamu ngak percaya?" ungkap Roby dibarengi dengan senyum sinis.
"Bukankah caraku sudah berhasil?, kamu sekarang telah lama bercerai dengan Arsenio dan itu salah satu dari keinginanku" lanjut Roby.
"Gila... Kamu benar-benar gila, cepat lepaskan aku!" teriak Ana.
"Diam!" bentak Roby.
Roby berjalan satu langkah ke depan memangkas jarak di antara mereka, bahkan Ana dapat merasakan hembusan nafasnya.
"Ya aku memang gila!, aku gila itu karena kamu!. kamu yang membuatku seperti ini, membuatku jatuh cinta sedalam ini sama kamu, bukankah kamu harus tanggung jawab?" Roby menjeda ucapanya.
"Jika kamu tidak bisa menjadi milikku, maka tiada satu pun orang bisa memilikimu, termasuk Arsenio" lanjut Roby.
"Tolonglah lepaskan aku!, izinkanlah aku pulang" ucap Ana lemah, ia telah kehabisan tenaga kerena terus-terusan berusaha membebaskan diri namun semua usahanya gagal.
Roby terseyum sinis mendengarnya "Aku melepaskanmu?, oh tidak semuda itu sayang" ucap Roby sambil mengelus lembut pipi Ana.
Ana diam, kedua sudut matanya sudah menganak sungai "Kamu menaggis sayang?. Aku paling benci melihat kamu menaggis bawaannya ingin m*mbu*uhmu!" ucap Roby dingin.
Tubuh Ana gemetar, dan Roby dapat merasahkan itu "Kenapa?, takut ya?. Aku kan calon suamimu kenapa harus takut?"
Ana diam, Ia berusaha tenang agar air matanya tidak terus menetes sementara Roby yang melihatnya tersenyum "Nah kalau nurut begini kan bagus"
Tatapan Ana segera tertuju pada dua orang berjalan di dekat taman, Ana yang melihat itu pun tak melewatkan kesempatan untuk kabur.
"Tolong... Tolong... " teriak Ana, Roby yang melihat itu segera menoleh ke sekeliling dan benar saja dua orang yang berjalan melihat kearah mereka.
"Tolong mas.... tolong aku!" teriak Ana lagi.
"Sayang, sepertinya wanita itu mau di culik" ucap seorang wanita pada pasanganya.
"Benar, kita harus membantunya" wanita itu menggangguk "iya sayang kita harus membantunya"
"Wah, beraninya hanya sama perempuan!" ucap pria itu menatap Roby dan juga Ana.
"Cepat kamu telefon polisi sayang, biar sekalian ditangkap!" lanjut pria itu.
"Kamu benar" wanita itu mengeluarkan ponselnya lalu berpura-pura menelfon polisi.
"Sial" teriak Roby lalu melepaskan Ana.
Ana yang telah bebas segera berlari menghampiri sepasang kekasih itu.
"Urusan kita belum selesai Na" ucap Roby lalu berjalan pergi.
"Makasih mba" ucap Ana sambil memeluk wanita yang baru saja menolongnya.
"Iya sama-sama" jawabnya sambil menepuk lembut bahu Ana.
"Kamu ngak apa-apa kan?" tanya pria itu.
Ana melepaskan pelukannya lalu menoleh menatap pria itu "Aku ngak apa-apa, terima kasih telah menolongku" jawab Ana.
"Syukurlah kamu ngak apa-apa, lain kali kalau jalan harus hati-hati, apalagi kalau jalannya sendirian" ucap pria itu.
"Iya benar mba, kalau boleh jangan jalan-jalan sendiri di tempat sepi seperti tadi" lanjut wanita itu.
"Iya, lain kali aku akan lebih berhati-hati" ucap Ana sambil tersenyum.
"Ya udah karena mba sudah aman kita pamit ya" ucap pria itu.
"Iya silakan, sekali lagi terima kasih" ucap Ana.
"Sama-sama" jawab sepasang kekasih bersamaan.
Keduanya melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda sementara Ana berjalan kembali ke rumahnya.
Dari kejauhan Tampak Rany sudah menunggunya di depan pintu. Ana yang melihat itu segera merapikan rambutnya, baju dan juga membersikan sisa-sisa air matanya.
"Darimana saja kamu?" tanya Rany setelah Ana sampai.
"Aku sedang mencari angin segar di luar" jawab Ana.
"Cari angin?" Ana menggangguk "Semoga saja mama percaya" pikir Ana.
"Terus, apakah kamu sudah memutuskan langkah apa yang kamu ambil?" tanya Rany.
"Belum ma" sahut Ana menundukan kepalanya.
Ia masih syok atas apa yang dilakukan Roby padanya, bahkan acamannya bahwa dia ingin me*bu*uhnya terus tergiang di telingganya.
"Waktu kamu tinggal satu jam lagi, kamu sudah harus memutuskan langkah apa yang kamu ambil, menandatangani surat perjanjian itu atau melaporkan Arsenio ke kantor polisi atas khasus penculikan anak" ucap Rany.
"Kalau boleh aku tidak mau keduanya, aku hanya ingin Alvis kembali" ucap Ana.
Rany menghela nafas panjang, ia tahu ini pilihan yang sangat berat untuk putrinya, ia berjalan menghampiri Ana lalu memeluknya.
"Jika ingin Alvis kembali, maka kamu harus menandatangani surat perjanjian itu" ucap Rany.
"Tapi aku ngak ingin menikah lagi dengan dia!" ucap Ana
"Terkadang kenyataan menuntut kita harus berkorban" ucap Rany.
"Kamu harus memilih, apakah tetap memilih egomu dengan tidak lagi menikah dengar Arsenio tapi kamu akan kehilangan Alvis atau menurunkan sedikit egomu dengan cara menikah dengan Arsenio namun kamu mendapatkan Alvis kembali dan tentu saja kamu bisa memberikan Alvis keluarga yang lengkap"
"Mama yakin dan selalu mendukung keputusanmu" lanjut Rany lalu melepaskan pelukannya.
Ana diam, ia tampak berpikir keras, belum lagi waktu yang di berikan Arsenio tersisah satu jam lagi, ia harus memanfaatkannya sebaik mungkin untuk memutuskan langkah apa yang harus diambilnya.
"Jika aku melaporkan Pak Arsenio ke pihak yang berwajib, tentu saja dia akan mengunakan seluruh kekuasaannya untuk membebaskan dirinya dari segala tuduhan dan jika itu terjadi aku akan kehilangan Alvis" pikir Ana.
"Ngak, aku ngak mau kehilangan Alvis" ucap Ana sambil mengelengkan kepalanya.
Sementara Rany tanpak menatap ibah putrinya, bukannya tidak ingin membantu Ana untuk memikirkan langkah yang akan di ambilnya namun ia hanya tidak ingin ikut campur telalu dalam pada kehidupan putrinya, ia hanya ingin putrinya bisa menentukan pilihannya sendiri tanpa ada paksaan dari pihak manapun dan tentunya ia akan mendukung apapun keputusan yang di ambil putrinya. Karena nantinya dia sedirilah yang akan menjalani kehidupannya di hari-hari berikutnya.