My Love Story

My Love Story
Bab 141



Jarum jam sudah menunjukan pukul 11.30, dimana beberapa karyawan terlihat merapikan meja kerjanya dan segera istirahat namun tidak dengan Kana, Lastri dan juga Fino.


Mereka masih terlihat fokus dengan computernya masing-masing.


"Hey, kalian ko masih kerja?. Sudah masuk masuk istirahat nih, nanti aja di lanjutin setelah istirahat" ucap Keiysa bergantian menatap Kana, Fino dan juga Lastri.


"Dikit lagi selesai kok" ucap Lastri.


"Hmm, benar itu" lanjut Fino sementara Kana tidak merespon dan hanya fokus dengan kerjaannya.


"Hmm baiklah terserah kalian, aku duluan ya, mau makan udah laper nih" ucap Keisya sebelum pergi.


"Iya" sahut Fino dan Lasti bersamaan.


Keisya kembali melanjutkan langkahnya, sementara Lastri dan Fino kembali fokus ke pekerjaannya.


Di menit berikutnya, benda kecil yang ada di atas meja kerja Kana berdering, Kana hany melirik ponselnya tanpa menerima pangilan tersebut dan pada akhirnya ponselnya berhenti berdering.


Tring


Suara notifikasi masuk, dan lagi-lagi Kana tidak memperdulikannya.


Ponsel Kana berdering kembali, hal itu membuat Fino dan Lastri melihat kearahnya.


"Di angkat dong, siapa tahu penting!" ucap Lastri.


"Benar An, siapa tau aja penting" lanjut Fino membenarkan.


"Aku lagi sibuk, ngak punya waktu untuk menerima pangilan" ucap Kana.


Lastri dan Fino yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Namun, ponsel Kana terus saja berdering sampai dimana Kana memutuskan untuk mengangkatnya.


πŸ“ž"Ada apa lagi?, bukannya urusan kita sudah selsai?" ucap Kana dengan suara yang kurang bersahabat.


πŸ“ž"Aku lagi sibuk, ngak punya waktu untuk membahas hal-hal yang ngak penting!" lanjut Kana.


Sementara Lastri dan Fino kembali menatapnya.


"Telefon sama siapa dia?" tanya Fino.


"πŸ€·β€β™€Mana aku tahu, aku kan tidak melihat ponselnya" ucap Lastri.


πŸ“ž"Saya sekarang berada di lobi kantormu"


πŸ“ž"Ha?, mau ngapain pak?"


πŸ“ž"Saya datang untuk memberikan bukti atas ucapan saya kemarin"


πŸ“ž"Tapi, saya tidak membutukan bukti itu pak. Jadi tolong jangan ikut campur dengan urusanku apalagi urusan pribadi" ucap Kana kesal.


πŸ“ž"Saya hitung 1 sampai 20. Jika kamu tidak turun, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu dengan tempat bekerjamu!"


Kana yang mendengarnya pun terkejut dan segera bangkit dari duduknya.


πŸ“ž"Baik saya kesana sekarang, tolong bapak jangan berbuat macam-macam!" ucap Kana.


πŸ“ž"1"


πŸ“ž"Iya aku kesana sekarang" ucap Kana panik.


"Las, aku titip tas ya" ucap Kana.


"Lah, mau kemana?" tanya Lastri namun Kana lebih dulu berlari keluar ruangan dan menuju lift.


πŸ“ž"5"


πŸ“ž"Sebentar pak, ini sudah mau turun" ucap Kana namun orang yang di telefon terus menghitung dan itu cuku membuat Kana panik.


Lift bergerak turun, membutukan beberapa menit untuk sampai. Pintu lift pun terbuka, Kana segera keluar dan berlari menuju lobi.


πŸ“ž"18"


πŸ“ž"Aku sudah sampai" ucap Kana lalu mematikan sambungan telefon.


Kana kini berdiri tepat di belakang pria yang menelfonya.


"Ayo ikut aku" ucap Rangga sambil menoleh kearah Kana. Ya pria itu adalah Rangga.


"Tunggu sebentar pak mau atur nafas dulu" ucap Kana dengan susah paya mengatur nafasnya.


"Apa dia benar-benar manusia?, dia hampir saja membuatku mati kecapeanπŸ˜₯" gerutu Kana dalam hati.


Rangga meraih tanganya, membawahnya keluar dari kantor. Hal itu tak luput dari pandangan beberapa karyawan disana.


"Pak tanganku, boleh ngak di lepaskan saja" ucap Kana di selah-selah langkah mereka.


"Saya akan melepaskan tanganmu jika kita sudah sampai di mobil!"


"Ya tuhan, orang ini kenapa sih?, ada masalah apa?, sampai bersikap seperti ini padaku" batin Kana.


Kana yang tidak ingin terjadi sesuatu dengan kantornya hanya bisa mengikuti kemana Rangga akan membawahnya.


Sesampainya di mobil Rangga membukakan pintu mobil dan mempersilakan Kana masuk.


Sementara Rangga tampak mengitari mobil dan juga ikut masuk dan duduk di depan setir.


Rangga menyalakan mesin mobilnya, perlahan mobil berjalan keluar dari area kantor, terus melaju melewati keramaian kota.


Suasana mobil hening, hanya deru kendaraan yang dapat di dengar, Kana tampak melirik Rangga yang terlihat santai.


"Lihat!, dia bisa sesantai itu setelah mengancamku tadi" gerutu Kana.


Setelah beberapa menit mereka pun sampai, Belum sempat Rangga membukakan pintu mobil, Kana lebih dulu melakukannya.


Pandangan Kana menyapu hampir seluruh bagian depab restoran mewah.


"Sebenarnya kita mau ngapain sih?, kenapa dia membawahku di tempat seperti ini?" gumam Kana dalam hati.


"Ayo masuk!" ucap Rangga.


"Iya" sahut Kana.


Keduanya tampak memasuki restoran, Kana memilih berjalan di belakang Rangga.


Suasana restoran tampak seperti biasanya, banyak pengunjung yang sedang menikmati makan siang bersama pasangan, keluarga dan juga teman.


Rangg menarik salah satu kursi lalu membersilakan Kana duduk.


"Terima Kasih" ucap Kana lalu duduk.


"Hmm" Rangga berdehem dan juga ikut duduk bersebrangan dengan Kana.


"Langsung ke intinya saja pak!, kenapa bapak ingin bertemu denganku? sampai-sampai bapak mengancamku!" ucap Kana to the poin.


Rangga tampak mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu meletakannya ke atas meja.


"Silakan kamu lihat sendiri!" ucap Rangga.


Kana yang penasaran akan hal itu segera mengambil beberapa lembar foto yang di berikan Rangga.


Kana membulatkan matanya, jantungnya memacu dengan cepat, tubuhnya gemetar berusaha menahan emosinya.


"Jadi benar, pak Reza telah menikah, dan bahkan sekarang telah memiliki anak" gumam Kana dalam hati.


Kana kembali mengingat waktu pak Reza telat datang ke kantor untuk menghadiri metting.


"Gays, apa kalian tidak mencium wanginya bedak bayi?" tanya Lastri.


"Aku juga menciumnya, wangi itu datang bersamaan dengan kedatangan pak Reza bukan?" ucap Fino.


"Ya aku pikir juga begitu" ucap Lastri.


Semua jelas diingat oleh Kana. Kana meremas jari-jemari tanganya membuat beberapa foto ikut diremas olehnya.


"Selama ini dia telah membohongiku, membohongi semua orang atas status dirinya yang belum menikah"


"Bahkan, dia dengan mudahnya menyatakan perasaan cintanya padaku, bahkan memaksaku untuk segera menerima perasaannya. Sungguh ini benar-benar gila!" batin Kana.


"Bagaimana?, apa sekarang kamu masih yakin dengan katamu yang katanya dia belum menikah?" ucap Rangga.


Kana yang mendengarnya menatap serius


"Bapak mendapatkan semua foto ini dari mana?"


"Kamu tidak perlu tahu, dimana saya mendapatkan semua foto-foto ini. Ininya saya mendapatkan semua foto ini dari sumber yang terpercaya dan saya pikir kamu tahu bagaimana kinerjaku dalam hal-hal seperti ini" ucap Rangga.


Kana diam, dia sangat tahu betul bagaimana seorang Rangga mencari informasi mengenai seseorang, bukan hal yang sulit dilakukannya, sangat reel serta dapat di percaya.


"Saya sangat berterima kasih, karena bapak telah membuktikan padaku atas apa yang bapak katakan. Saya pikir urusan kita benar-benar berakhir sekarang, saya berharap kedepannya bapak tidak perlu lagi masuk campur dalam urusanku termasuk urusan pribadi saya!. Sungguh saya tidak nyaman akan hal itu" ucap Kana.


"Tapi, saya ngak bisa. Saya akan tetap mengawasimu" ucap Rangga tak kalah serius.


Kana mengerutkan dahi binggung "Kenapa?, kenapa bapak melakukan ini padaku?, dan kenapa bapak terus saja berusaha masuk dalam urusan pribadiku?, kenapa pak?, kenapa?" tanya Kana dengan suara tinggi, hal itu membuat beberapa orang melihat ke arah mereka.


"Saya juga ngak tahu, apa alasan saya melakukan itu dan itu cukup membuat saya frustasi memikirkannya. Initinya saya tidak meresa tenang jika hal buruk mendekatimu" ucap Rangga dengan suara tak kalah tinggi.


Hal itu sontak membuat semua yang berada di sana melihat kearah mereka.


"Rangga?"


"Kana?"


"Mommy, bukankah itu Uncle dan Aunty ya?"


"Benar sayang. Mas kita harus samperin mereka!" ucap Ana.


Ya. Ana, Arsenio dan Alvis juga termasuk pengunjung restoran disana.


"Benar sayang. Alvis tunggu sebentar di sini ya! Daddy dan mommy mau samperin Aunty dan Uncle"


"Iya daddy"


"Ayo sayang" Arsenio meraih tangan Ana dan Sama-sama berjalan menuju meja Kana dan Rangga.


"Terserah alasan bapak apa, tapi aku mohon kedepannya bapak tidak perlu mengkhawatirkan saya, saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri" ucap Kana lalu bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


"Aku suka sama kamu Na!" teriak Rangga berhasil menghentikan langkahnya.