
Setelah cukup lama di perjalanan, Rangga dan Kana pun sampai ke bandara, keduanya bergerak turun dari mobil, Rangga segera mengeluarkan koper dari bagasi sementara Kana berdiri tak jauh dari Rangga.
"Apa mereka belum sampai?" tanya Kana sambil melihat ke kiri dan kanan mencoba mencari keberadaan Arsenio dan juga Ana.
"Sebentar lagi mereka sampai" sahut Rangga seraya menutup kembali bagasi mobil.
Dan benar saja, selang beberapa menit mobil Arsenio pun tiba di bandara.
"Tuh mereka datang" ujar Rangga sambil menunjuk mobil Arsenio yang kini berhenti tepat di samping mobilnya.
Kana yang melihatnya pun tersenyum "Akhirnya Ana datang" gumam Kana dalam hati.
Ana keluar dari mobil lalu disusul oleh Arsenio. Keduanya berjalan menghampiri Rangga dan Kana sementara supir tampak mengeluarkan koper mereka dari bagasi.
"Sudah lama kalian sampai?" tanya Ana.
"Belum, kami sampai baru beberapa menit yang lalu" jawab Rangga dan Kana bersamaan, hal itu membuat Ana dan Arsenio tersenyum.
"Sekarang sudah mulai ada kemajuan ya?, sudah pada kompak nih" ucap Arsenio.
"Oh iya, keponakanku mana?. Nggak ikut ya?" tanya Kana berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ana membuang nafas pelan "Ya, dia tinggal sama oma dan opanya"
"Pasti, nggak mau ikut karena lagi sekolah kan?" ucap Kana yang langsung mendapat anggukan kepala dari Ana.
Rangga menatap benda kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Sepertinya, kita harus check-in sekarang" ucap Rangga.
"Ya udah ayo" ucap Arsenio seraya memegang koper yang telah di berikan pak supir.
Keempatnya pun berjalan menuju loket maskapai untuk melakukan check-in. Setelah selesai keempatnya menuju ruang tunggu.
"Kana" pangil Ana.
"Hmm" Kana menoleh kearahnya.
"Kamu bawah baju banyak nggak?" tanya Ana.
"Kana menggeleng "Nggak, kita hanya bawah satu koper itu pun berdua" sahut Kana.
"Sama aku juga gitu, tapi sepertinya nggak cukup" ujar Ana
"Hmm, benar. Aku juga berpikir seperti itu"
ucap Kana membenarkan ucapan sahabatnya.
"Disana ada banyak toko, kalian bisa membeli jika nggak cukup" ucap Arsenio dan Rangga hampir bersamaan.
Sementara Ana dan Kana yang mendengarnya pun masing-masing menatap ke arah suaminya.
Setelah beberapa menit waktu keberangkatan pun tiba, keempatnya tampak berjalan masuk ke dalam pesawat.
Pesawat perlahan lepas landas dan akan segera terbang menuju tempat yang akan di tujuh.
Setelah beberapa menit perjalanan mereka pun sampai.
"Sayang" pangil Rangga.
"Hmm" sahut Kana.
Rangga mengulurkan tangannya "Sini tangan kamu!" ucap Rangga sementara Kana tampak nurut apa yang di ucapkan suaminya. Rangga mengenggam tangan istrinya selama perjalanan mereka keluar dari bandara.
Hal itu juga di lakukan Arsenio pada Ana. Ke empatnya berjalan keluar dari bandara dan di depan sana telah parkir sebuah mobil yang akan membawah mereka ke hotel yang di tuju.
Supir segera mempersilakan ke empatnya masuk dan memasukan kedua koper di bagasi mobil sebelum ikut masuk.
mobil melaju melewati keramaian kota saat itu.
"Kalian mau langsung jalan-jalan atau mau istirahat dulu?" tanya Arsenio sambil bergantian menatap Ana dan juga Kana.
"Hmm, aku sepakat" sahut Kana.
"Bagaimana Rangga?, apa kamu punya pendapat lain?" tanya Arsenio.
"Saya ikut kemauan istri saja" sahutnya.
"Oh so sweet" ucap Ana sementara Kana tampak menunduk menyembunyikan wajah yang sedikit memerah karena malu.
Arsenio mencubit gemas hidung Ana yang membuat sang empuh meringis kesakitan.
"Kamu tuh ya, nggak habis-habisnya godain teman sendiri" ucap Arsenio.
"Aw sakit mas, iya... iya aku nggak ulangin lagi, percayalah" ucap Ana.
Arsenio pun melepaskan Ana lalu mengecup lembut tempat yang sedikit memerah karena ulahnya.
"Itu obatnya, biar nggak sakit lagi" ucap Arsenio.
"Apaan?, masih sakit tau" ucap Ana.
"Masih sakit?" Ana menggagguk. Sementara Arsenio kembali mengecup di tempat yang sama.
"Sudah nggak sakit lagi kan?" tanya Arsenio sementara Ana menggaguk sebagai jawaban.
Rangga dan Kana yang menyaksikan itu hanya bisa diam dan sesekali saling mencuri pandang satu sama lain.
Setelah berapa menit mereka pun sampai. Tak perlu waktu lama keempatnya pun segera makan malam bersama sebelum pergi ke kamarnya masing-masing untuk istrirahat.
Setelah keempatnya melakukan ritual makannya, mereka pun berpamitan untuk istirahat di kamarnya masing-masing.
Arsenio dan Ana tampak memasuki kamar lebih dulu dari pada Rangga dan Kana.
"Wah, apa ini?. Apa mas yang menyiapkan semua ini?" tanya Ana menatap tempat tidur dengan hiasan bunga berbentuk love di atasnya.
Arsenio menggangguk "Ya, kita harus menikmati setiap momen ini" sahut Arsenio seraya memeluk Ana dari belakang, meletakan dahi tepat di bahu Ana "Aku benar-benar mencintaimu, tetaplah tinggal disisiku" lanjut Arsenio.
Ana berbalik lalu membalas pelukan suaminya "Terima kasih telah mencintaiku" ucap Ana.
"Kamu tidak perlu berterima kasih untuk itu!, aku hanya ingin kamu berjanji bawah, kamu tidak akan pernah berpikir untuk pergi meninggalkanku" ucap Arsenio.
"Ya, aku janji mas" ucap Ana berjanji.
Arsenio yang mendengarnya mempererat dekapannya "Sepertinya aku menginginkanmu sekarang" bisik Arsenio tepat di telingga Ana.
Tampa menunggu jawaban dari Ana, Arsenio segera memopong tubuh mungngil istrinya membawahnya ke atas tempat tidur, membaringkan Ana, memposisikan Ana berada tepat di bawah tubuhnya, dengan menatap lekat wajah cantik istrinya.
Ana yang mengerti arti tatapan suaminya pun tersenyum.
"Sepertinya aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini" ucap Arsenio.
"Siapa takut" sahut Ana dengan ekpresi menantang.
Melihat respon istrinya, tak mau menunggu lama, Arsenio segera memperlancarkan aksinya, menelusuri setiap bagian-bagian favoritenya, tak ada satupun yang terlewati olehnya.
Di waktu yang sama, tampak Rangga dan Ana memasuki kamar. Berbeda dengan Ana yang nampak terpukau dengan kejutan suaminya, namun tidak dengan Kana.
Kana tampak diam mematung, jantungnya perlahan berdetak mulai tak beraturan, dan kedua jari-jemari tanganya tiba-tiba tersa dingin.
"Bagaimana ini?, apa dia benar-benar melakukan sekarang?" pikir Kana gugup.
Sementara Rangga terlihat santai, membawah koper dan meletakannya tepat di depan lemari.
"Sayang, apa perlu pakaiannya di keluarkan dan di masukan ke dalam lemari?" tanya Rangga menoleh kearah Kana, hal itu membuat Kana tersadar dari lamunanya.
"Iya mas, biar saya saja yang memasukannya ke dalam lemari. Mas mandi saja, setelah itu baru saya" ucap Kana berjalan menghampiri Rangga.
"Baiklah" ucap Rangga lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersikan diri sementara Kana tampak mengeluarkan semua pakaian dari dalam koper dan memindahkannya ke dalam lemari.