
4 Tahun Kemudian
Dengan waktu selama itu, tidak membuat Arsenio berhenti mencari keberadaan mantan istrinya, Dia tidak pernah melewati satu hari pun tidak mencari keberadaan Ana, walau lagi-lagi dia harus menerima hasil yang membuatnya kecewa di setiap harinya.
Ditambah dengan masalah perjodohan yang lagi-lagi di buat oleh Kakek dan juga ibunya, jika mengingat kedual hal itu secara bersamaan membuatnya frustasi.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Arsenio sambil bersandar ke kursi kerjanya.
Rangga tampak berdiri di depan meja tuanya dengan notebook di tanganya.
"9:00-10:30 tuan ada pertemuan dengan klien, 11.00-11:30 tuan ada jadwal wawancara, dan jam 13-15 tuan ada kunjungan ke salah satu cabang perusahaan di daerah Y" jawab Rangga membaca jadwal yang telah tersusun rapi.
Pintu ruangan terbuka, Arsenio dan Rangga langsung menatap ke arahnya.
"Sayang.... " seorang wanita masuk tampa izin.
Arsenio menatap wanita yang mengenakan kemeja putih, sengaja membiarkan dua kancing di bagian atas terbuka dipadu dengan rok cokelat panjang selutut dan membiarkan rambutnya terurai.
"Sayang, kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" rengek wanita itu, duduk di pangkuan Arsenio sambil memainkan dasi Arsenio.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Arsenio menahan tangan wanita itu agar tidak terus mengutak-atik dasinya.
"Aku di sini untuk bertemu calon suamiku, apakah itu salah?"
"Turun!, jaga sikapmu!, ingat ini kantor" ucap Arsenio sambil menarik tangan wanita itu agar segera bangkit dari pangkuannya.
"Memangnya kenapa kalau ini kantor? Lagipula, semua orang sudah tahu bahwa Clarissa adalah calon istrimu," kata Alin sambil berjalan masuk.
Ya, wanita itu adalah Clarissa, teman sekelas Ana dan Kana, yang merupakan putri dari sahabat Nicholas.
"Mama?" Arsenio bangkit dari tempat duduknya.
Clarissa segera menghampiri Alin dan menggenggam tangannya dengan manja.
"Mama lihat sendiri kan!, Arsenio selalu dingin padaku" ucap Clarissa dengan ekspresi sedih di wajahnya.
"Arsenio, apa yang kamu lakukan? Lihat Clarissa jadi sedih, kasihan dia. Bisakah kamu menyingkirkan sikap dinginmu itu?" Alin menatap putranya.
Tok.. Tok
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka.
"Masuk!" sahut Arsenio.
Mendengar itu, Bila membuka pintu perlahan dan membungkuk memberi hormat.
"Maaf tuan, beberapa klien sudah datang dan menunggu anda di ruangan" kata Bila yang merupakan sekretarisnya.
"Baiklah saya akan kesana sekarang" ucap Arsenio lalu merapikan jas dan dasinya.
"Baik tuan" kata Bila dan berjalan pergi.
"Maaf ma, aku harus bertemu klien. Terserah mama ingin pergi atau menunggu di sini" kata Arsenio berjalan keluar dari ruangannya dan diikuti oleh Rangga.
"Mama gimana nih?, Arsenionya sudah pergi" Clarissa megerucutkan bibirnya.
"Sabar ya, kita tunggu dia disini, gak lama kok, cuma beberapa menit saja" ucap Alin sambil menepuk pelan pucuk kepala calon menantunya itu.
"Betulkah?" tanya Clarissa untuk memastikan.
"Ya, sekarang mari kita duduk dan melihat dekorasi untuk acara tunanganmu," kata Alin.
"Baiklah" kata Clarissa malas. Alin meraih tangan Clarissa dan duduk di sofa bersama.
Tiga puluh menit telah berlalu, Clarissa mulai gelisah, entah sudah berapa kali dia terus menatap ke arah pintu, berharap Arsenio segera muncul.
"Ma, kita sudah menunggu selama tiga puluh menit. Kenapa Arsenio belum juga kembali?" Clarisa bertanya.
Alin menatap menantunya yang mulai bosan, ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja. "Tunggu sebentar mama telpon dulu" ucap Alin, Clarissa mengangguk setuju.
Dering ponsel berhasil mencuri perhatian para klien. "Maaf" Rangga segera mengeluarkan ponsel tuannya, melihat nama yang tertera di layar ia langsung menepi dan mengangkatnya.
๐"Halo" sapa Alin setelah sambungan telepon tersambung.
๐"Ya. Halo nyonya, ada yang bisa saya bantu?" kata Rangga to the point.
๐"Di mana Arsenio?, dia belum selesai bertemu kliennya?"
๐"Belum selesai nyonya "
๐"Lalu kapan selesainya?"
๐โSesuai jadwal, selesai jam 10.30 dan jam berikutnya pak ada jadwal wawancaraโ jelas Rangga.
๐"Apakah jadwalnya penuh hari ini?"
๐"Benar nyonya"
๐"Tidak bisakah kamu pindah hari wawancara saja? Sayang Calarissa sudah menunggu lama," kata Alin.
"Hmm, itu urusannya. Aku tidak peduli" pikir Rangga.
๐โMaaf nyonya, jadwal tuan muda minggu ini sangat padat sehingga tidak bisa dipindah ke hari lainโ kata Rangga.
๐"Hm, begitu Iy?"
๐"Iya nyonya"
Sambungan telepon terputus, Alin meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Clarissa "Sayang, sepertinya Arsenio sibuk hari ini, jadwalnya hari ini penuh" jelas Alin.
"Kalau begitu Arsenio tidak akan menemaniku berbelanja" kata Clarissa cemberut.
Alin meraih tangan Clarissa dan menepuk lembut tangannya "Jangan marah ya, kan masih ada hari lain. Untuk hari ini, biar ibu menemanimu berbelanja. Kami akan membeli semua yang kamu suka" bujuk Alin.
"Benarkah?, Mama yang belanja?" Alin mengangguk, โYa sayang, apa sih yang tidak bisa dilakukan untuk calon menantuโ
"Baiklah, kalau begitu ayo pergi sekarang!" kata Clarissa dengan mata berbinar.
Kedua wanita itu keluar dari ruang kerja Arsenio, sedangkan di luar ada beberapa karyawan yang menatap mereka, tidak menatap Clarissa lebih tepatnya, jelas mereka tidak terlalu menyukai Clarissa yang sering membuat masalah yang mengakibatkan mereka harus menerima ocehan dari Arsenio.
Deru kendaraan membawa mereka menjauh dari halaman kantor yang akan menuju mall. Mereka tampak sesekali terlihat tertawa di sela-sela belanja mereka. Setelah merasa cukup mereka memutuskan untuk pulang.
"Mampir ke rumah dulu sebelum pulang?. Kita akan memeriksa semua belanjaan kami hari ini, "kata Alin yang duduk di kursi tengah mobil bersama Clarissa.
"Baiklah, sekalian bertemu Arsenio mungkin saja dia sudah pulang" ujar Clarissa.
"Hmm kamu benar" ucap Alin sambil tersenyum.
Mobil yang dikendarai oleh sopir pribadi Alin terus melaju melewati jalanan yang ramai sore itu.
Setelah beberapa menit mereka tiba, dengan cepat sopir pribadi Alin turun lebih awal untuk membantu membukakan pintu.
"Terima kasih pak" ucap Alin setelah turun dari mobil.
"Iya sama-sama nyonya"
"Ayo sayang, ayo masuk dan lihat semua belanjaan kita," kata Alin.
"Benar juga, aku tidak sabar untuk melihat semua belanjaan kita," lanjut Clarissa.
Mereka berjalan melewati ruang tamu dan berhenti di ruang keluarga.
"Eh mama duduk disini juga?" kata Alin melihat ibunya yang juga sedang menonton tv di ruang keluarga.
"Ya seperti yang kamu lihat" kata Sarah tanpa mengalihkan pandangan dari tv.
"Sayang, sapa nenek!" ucap Alin memandang Clarissa dari samping, Clarissa mengangguk "Nenek..., apa kabar?" Clarissa berjalan ke arah Sarah dan mencium punggung tangannya.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja" jawab Sarah dingin.
"Syukurlah , aku senang mendengarnya" ucap Clarissa lalu duduk di sebelah Sarah.
"Clarissa, tunggu sebentar disini aku mau ke kamar mandi" kata Alin, "Iya ma" sahut Clarissa sambil meletakkan semua tas belanjaan di atas meja.
Setelah Alin pergi, Sarah memandang Clarissa dari samping. "Selesai belanja ya?" Clarissa mengangguk. "Ya, Nenek, lihat kita belanja sebanyak ini. Lagi pula, semuanya terlihat bagus, kan sayang jika kita tidak membelinya," kata Clarissa sambil mengeluarkan barang belanjaan satu per satu dari tas.
"Bagus sekali ya, tugasmu hanya berbelanja dan terus berbelanja jika tidak pati pergi jalan-jalan. Sangat tidak pantas bersanding dengan cucuku!" kata Sarah.
Clarissa yang mendengarnya menghentikan aktivitasnya menoleh ke arah Sarah "Apa maksudmu nenek?" Clarissa bertanya dengan tenang.
"Aku pikir kamu wanita yang cerdas, jadi tidak perlu dijelaskan lagi, kamu pasti sudah mengerti apa yang baru saja aku katakan" kata Sarah lalu bangkit dari tempat duduknya dan mematikan tv.
"Loh mama mau kemana?" tanya Alin yang baru saja kembali.
"Mau masuk kamar, mata mama sakit, pemandangannya kurang bagus" ucap Sarah lalu pergi.
Alin mengerutkan kening bingung, tapi tidak mau memikirkan, dia duduk di sebelah Clarissa.
"Ma, sepertinya nenek tidak menyukaiku," kata Clarissa. "Mengapa kamu mengatakan itu?. Memangnya apa yang dia katakan padamu?" tanya Alin.
"Nenek bilang aku tidak pantas untuk cucunya" kata Clarissa cemberut.
"Apa maksud mama mengatakan itu pada Clarissa?, bukankah dia juga setuju kalau Clarissa dijodohkan dengan Arsenio?" ucap Alin dalam hati.
"Gak usah mikirin omongan nenek tadi, biasalah kalau lagi capek pasti dia asal gomong" jelas Alin.
"Jadi nenek hanya kecapean, jadi dia berbicara padaku seperti itu?" Clarissa masih dengan wajah cemberut.
"Iya sayang, sekarang kita lihat hasil belanja kita, pasti bagus semua" ucap Alin.
Mereka berdua juga fokus melihat belanjaan mereka, terlihat mereka sesekali tertawa di sela-sela obrolan mereka.