My Love Story

My Love Story
Bab 74



Keesokan harinya, seperti biasa, Arsenio dan Rangga sudah berada di kantor sejak pagi. Mereka tampak sibuk menyiapkan beberapa kebutuhan rapat.


"Bagaimana?, apakah semuanya sudah siap?" tanya Arsenio menatap Rangga yang sedang duduk di sofa.


“Sudah tuan, tapi saya mau cek lagi,” jawab Rangga sambil mengecek kembali berkas-berkas yang akan di bawah saat rapat.


Dering ponsel berhasil mencuri perhatian Arsenio dan Rangga. Rangga mengambil ponsel tuannya yang ada di atas meja.


"Siapa?, kalau tidak penting abaikan saja!" kata Arsenio sambil menatap Rangga.


Rangga menatap benda kecil yang terus mengeluarkan suara "Panggilan dari orang yang bertuga berjaga di bandara tuan" ucap Rangga.


Arsenio yang mendengar itu langsung bangkit dari tempat duduknya "Berikan ponselnya!" kata Arsenio.


"Baik tuan" Rangga bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri tuannya memberikan sebuah benda kecil yang terus mengeluarkan suara.


Tanpa menunggu lama, Arsenio langsung menekan tombol hijau dan meletakkan benda kecil itu di telinganya.


📞"Halo tuan" sapa seorang pria setelah sambungan telepon tersambung.


📞"Ada berita?" tanya Arsenio.


📞"iya tuan" ucap laki-laki itu


📞"Cepat katakan padaku apa beritanya!" kata Arsenio dengan antusias.


📞"Saya melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan mantan istri Anda," kata pria itu.


📞"Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu lihat?" tanya Arsenio tak percaya.


📞"Saya yakin tuan, wanita itu bersama dengan seorang anak kecil yang sanggat mirip dengan tuan namun versi kecilnya" ucap pria itu berusahan meyakinkan.


"Akhirnya kamu kembali juga" pikir Arsenio.


📞"Tutup bandara sekarang juga!, jangan biarkan siapa pun keluar dari sana! saya akan ke sana sekarang"


📞"Baik tuan"


Sambungan telepon terputus, Arsenio segera memakai jasnya dan tak lupa menutup laptopnya. "Batalkan rapat hari ini! Kita akan ke bandara sekarang!" kata Arsenio.


"Baik tuan" ucap Rangga mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengirimkan pesan kepada Bila, sekretaris tuan muda.


Baru saja hendak meraih daun pintu, tiba-tiba pintu terbuka, seorang wanita dengan pakaian elegan berdiri tepat di depan pintu.


"Sayang..., untungnya kamu ada di sini. Aku sangat merindukanmu," kata Clarissa sambil melangkah mendekati Arsenio dan memeluk tangannya.


Tanpa bicara, Arsenio segera mendorong tangan Clarissa, menatapnya dengan serius. "Tetap di sini dan jangan ikuti aku!" kata Arsenio tegas.


Arsenio keluar dan diikuti oleh Rangga.


"Loh sayang, kamu mau kemana?" tanya Clarissa yang hendak mengikuti Arsenio tapi langsung menghentikan langkahnya setelah Rangga memelototinya.


"Jangan buat masalah!. Tetap di sini atau satpam akan memaksa nona keluar dari sini!" Ucap Rangga lalu masuk ke dalam lift.


"Aaaa, awas kamu Rangga!, aku akan membuat perhitungan untukmu" teriak Clarissa kesal, hal itu membuat orang-orang menatapnya.


"Apa?, jika kalian masih melihatku, di menit berikutnya, aku pastikan kalian semua akan kehilangan pekerjaan!" Ancaman Clarissa membuat beberapa karyawan langsung menundukkan kepala.


"Menyusahkan saja!" Clarissa menghentakkan kakinya dan berjalan ke dalam lift.


"Bisa berbahaya bagi kita jika dia menjadi istri tuan muda," kata salah satu karyawan.


"Kamu benar!. Memangnya apa bagusnya dia sampai tuan muda setuju dijodohkan dengannya?, cantik modal make up doang belagu" sambung karyawan lainnya.


Ssst, jangan bahas itu lagi! Apakah kamu lupa bahwa gedung ini dilengkapi dengan CCTV? Kalian bisa dikeluarkan secara tidak hormat jika tuan melihat kalian bergosip tentang calon menantunya," sambung salah satu dari mereka.


Mendengar itu tiba-tiba semua orang kembali bekerja dan berhenti bergosip.


"Percepat mobilnya!" kata Arsenio yang terlihat gelisah.


"Baik tuan" ucap Rangga lalu menambah kecepatan mobilnya.


Mobil terus melaju melewati jalan yang ramai siang itu. Setelah menempuh perjalanan jauh, mobil Rangga berhasil masuk ke halaman badarah.


Arsenio keluar dari mobil lebih dulu dari Rangga berjalan menghampiri beberapa pria berjas hitam di sana.


"Apa belum ada satu orang pun yang keluar?" tanya Arsenio setelah sampai.


"Sepertinya belum tuan. Setelah saya menelfon tuan bandara langsung ditutup" sahut salah satu pria itu.


Arsenio dan Rangga melihat ke dalam, beberapa orang tampak bingung ketika bandara tiba-tiba ditutup dan tidak mengizinkan siapa pun untuk keluar dari sana.


"Masuk dan cari keberadaan dia!" pinta Arsenio. "Baik tuan"


"Dan kamu, temani aku di sini dan lihat sekeliling jangan sampai ada orang yang keluar sebelum mereka menemukannya"


Arsenio memandang Rangga "Baik tuan"


Pria berjas hitam masuk, orang-orang di dalam semakin binggu melihat banyaknya pria berjas hitam terus mencari sesuatu.


"Ada apa sih ini?"


"Apa mereka sedang mencari seseorang?"


"Pasti orang yang mereka cari itu bukannlah orang biasa dia punya kekuasaan lebih lihat saja bandara sampai di tutup seperti ini"


Begitulah cara orang berbicara ketika mereka melihat banyak pria berjas hitam berjalan kesana kemari.


Satu jam telah berlalu tetapi mereka belum menemukan wanita yang mereka cari.


"Maaf tuan, sepertinya wanita itu sudah meninggalkan bandara sebelum kami memerintahkan bandara untuk ditutup," kata salah satu pria berjas hitam.


Arsenio mengepalkan tangannya dengan wajah memerah dan rahangnya mengeras.


Bruk...


Arsenio melayangkan satu pukulan ke arah pria itu "Menjaga satu orang saja kalian ngak bisa!, Dasar ngak berguna!" bentak Arsenio.


"Maafkan saya tuan" ucap pria itu.


Arsenio mengusap kasar wajahnya, tatapannya kini beralih ke Rangga yang berdiri tak jauh darinya.


"Periksa semua daftar penumpang hari ini!" Rangga mengangguk "Baik tuan" Rangga berjalan masuk meninggalkan Arsenio yang terlihat frustasi.


Pada saat yang sama, seorang wanita memegang tangan seorang anak kecil di tangan kirinya dan di tangan kanannya menarik sebuah koper berwarna hitam.


Wanita itu berhenti tepat di depan jalan, melepas kopernya dan mengeluarkan ponselnya dari tasnya.


"Sebentar lagi taksi akan datang, kamu sabar ya nak?" kata wanita itu sambil melihat layar ponselnya.


"Iya mommy"ucap anak kecil itu.


Setelah beberapa menit sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka dan dengan cepat menurunkan kaca jendela.


"Nona yang pesan taksi?" tanya supir taksi.


"Iya benar" sahut wanita itu sambil tersenyum. Supir taksi segera turun dari mobil membawa koper di bagian belakang mobil, setelah selesai dia mempersilakan wanita itu masuk dan disusul olehnya.


Mobil melaju melalui jalan yang terlihat ramai, wanita itu menatap jendela dengan serius.


"Mommy....mommy" ucap anak kecil itu sambil menarik-narik baju ibunya.


"Ya sayang, ada apa?" dia bertanya dengan lembut.


"Aku mau itu" kata anak kecil itu sambil menunjuk ke sebuah figur es krim di pinggir jalan.


"Kamu mau itu?" tanya wanita itu lagi, "yes mommy"


Mobil menepi, wanita itu turun dari mobil sambil memegang tangan anak kecil itu.


"Yang mana yang kamu mau?"


"Yang itu, yang itu dan yang itu" si bocah terus menunjuk beberapa jenis es krim di sana.


Wanita itu tampak menarik napas dalam-dalam "Bu, tolong bungkus semua yang ditunjukkan anak saya"


"Baik mohon tunggu sebentar"


Setelah mendapatkan es krim dan membayarnya, mereka kembali ke mobil.


Mobil melaju kembali menuju tujuan yang telah dipilih wanita itu.


Setelah beberapa menit mereka tiba di sebuah perusahaan yang cukup besar di kota.


“Kami sudah sampai, noba” kata sopir taksi dan turun dari mobil, melangkah ke belakang mobil dan menurunkan koper wanita itu.


"Terima kasih, Pak," kata wanita itu sambil menyerahkan ongkos taksi.


"Ya, sama-sama" kata sopir taksi kemudian masuk kembali ke mobil dan mobil melaju meninggalkan halaman perusahaan.


"Bagaimana kalau kita makan siang di luar," kata Fino, menatap Kana dan Lastri secara bergantian.


"Kalau aku, terserah kamu saja" kata Kana.


"Hmm, setelah kupikir-pikir memang benar kita harus makan di luar, aku sudah bosan dengan menu makanan di kantin perusahaan," lanjut Lastri.


Mereka bertiga berjalan menuju pintu keluar perusahaan. Sesekali mereka terlihat tertawa di sela-sela langkah mereka.


"Kana.." seseorang memanggil.


Kana, Fino dan juga Lastri menghentikan langkah mereka, mereka bertiga serentak menoleh ke arah suara.


Wanita berbaju putih, rambut hitam dengan poni depan yang sedikit berjarak membuatnya terlihat imut namun tetap terlihat dewasa, berdiri jauh darinya tapi Kana sangat mengenali sosok wanita itu, tanpa alasan sudut matanya mulai mengalir suangai.


"Wow, luar biasa dia terlihat seperti bidadari yang baru saja turun dari surga" kata Fino tidak bisa melepaskan pandangannya dari wanita itu.


"Dasar buaya!" Lastri menggerutu yang masih terdengar oleh Fino dan Kana.


"Apakah kamu mengenali wanita itu?" Fino bertanya. Bukannya menjawab pertanyaan Fino, Kana malah berlari ke arah wanita itu dan memeluknya erat.


"Ana... kemana saja kamu?, aku sangat merindukanmu. Kamu jahat, pergi gak bialang-bilang?" kata Kana dengan isak tangis.


Ana membalas pelukan Kana "Maaf, aku benar-benar minta maaf" ucap Ana yang juga memiliki anak sungai di sudut matanya.


Fino dan Lastri berjalan ke arah mereka, berdiri tepat di depan mereka.


Kana melepaskan pelukannya bergantian memegang kedua bahu Ana "Kamu harus berjanji padaku, jangan pernah pergi lagi! Jangan tinggalkan aku dan tente untuk kedua kalinya!" Ana mengangguk, berusaha menghapus air mata Kana "Aku janji, aku tidak akan pergi lagi" kata Ana.


"Awas kalau bohong!, aku akan mematahkan kakimu agar kamu tidak bisa pergi ke mana-mana lagi" kata Kana sedikit kesal.


"Idih Kejam, jadi takut aku" kata Fino. Ana dan Kana menatap mereka.


"Oh iya, aku lupa memperkenalkanmu. Ini Fino dan ini Lastri, teman kantorku. Fino, Lastri, ini Ana, sahabatku." Kana memperkenalkan.


"Fino" Sambil berjabat tangan "Ana" sambil tersenyum.


"Lastri" sambil berjabat tangan "Ana" lagi-lagi Ana tersenyum.


"Ternyata aslinya lebih cantik" kata Lastri.


"Sudah kubilang, dia seperti bidadari" lanjut Fino.


Sedangkan Ana yang mendengarnya hanya bisa tersenyum.


Tatapan Kana beralih ke anak kecil di belakang Ana, seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi di depannya, dia terus menikmati es krim di tangannya.


“Siapa anak kecil itu? Tanya Kana yang membuat Fino dan Lastri juga melihat ke arah anak itu.


“Oh iya, aku lupa memperkenalkan. Sayang disini! beri salam pada aunt dan uncle” ucap Ana sambil menarik tangan anaknya agar tidak bersembunyi di belakangnya.


"Apakah dia anak mu?" tanya Kana tidak percaya, Ana tersenyum dan mengangguk. Kana kembali terkejut untuk kedua kalinya.


Kana langsung berjongkok di depan anak kecil yang tampak enggan melepaskan es krim di tangannya.


"Hai anak tampan, bolehkah aku tahu namamu?" tanya Kana pelan.


Anak itu diam menatap Kana dengan dingin. “Ayo kalau ditanya harus dijawab,” kata Ana kepada anaknya.


"Avishai" jawabnya singkat.


"Wow, kamu adalah versi kecil dari ayahmu" kata Kana sambil menggelengkan kepalanya.


"Aunt mengenal ayahku?" Avis bertanya masih dengan tatapan dinginnya.


Kana dan Ana yang mendengarnya saling berpandangan. "Tentu saja aunt mengenalnya" jawab Kana.


"Orang seperti apa ayahku?" Kana, Fino dan Lastri tercengang dengan pertanyaan anak di depan mereka. Dia berbicara seperti orang dewasa.


"Isss, kok kamu bisa pinter begini. Aku seneng banget, pengen cubit pipi kamu," kata Kana.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan auntie menyentuh pipiku sebelum aunt mengatakan orang seperti apa ayahku," kata Avis, masih dalam mode dingin.


"Ya ampun pintar sekali kamu ngomonya, memangnya berapa umurmu?"


"Bulan depan tangal 15, sudah 4 tahun" jawab Avis.


"Wah, ponakan aunt pinter banget" ucap Kana hendak memeluk namun dicegah oleh Alvie terlebih dahulu, hal itu membuat Fino, Lastri dan Ana tertawa.


"Loh kenapa?, kamu tidak ingin aunt memelukmu?"


"aunt kan belum menjawab pertanyaanku" kata Alvis.


"Tapi berjanjilah padaku, setelah aunt menjawab pertanyaanmu, kamu harus mau aunt peluk!"


"Tergantung," kata Avlis.


"Ya ampun Ana, anakmu benar-benar menguji kesabaranku😑" kata Kana tak percaya.


Ana, Fino, dan Lastri kembali tertawa melihat penolakan Alvis saat ingin dipeluk.


Visual


1. Larrisa Putri Hana


Ana kini kembali dengan tampilan sedikit berbeda dari tahun-tahun belumnya.



2. Arsenio Saguna


Walaupun sudah 4 tahun telah berlalu, Arsenio masih tetap dengan sikap dinginnya.



3. Alvishai


Alvis tampil mengemaskan di usianya yang hampir menginjak 4 tahun.



"Hay kak👋, terima kasih telah menjadi pembaca setia karya ini😊, jangan lupa like dan komenya, dengan begitu Author akan lebih semangat dalam menulis episode- episode selanjutnya😉. D****an** mohon maaf jika visualnya tidak sesuai ekspektasi🙏**"