My Love Story

My Love Story
Bab 101



Mendengar pertanyaan putranya seketika membuat raut wajah Arsenio berubah, tidak ada lagi senyum di wajahnya.


Arsenio diam mematung, tidak tahu bagaimana harus menjelaskan sama Alvis yang masih kecil dan tentu saja dia belum mengertui dengan masalah orang dewasa.


"Daddy... Daddy.. lihat tangan mommy bergerak" ucap Alvis girang.


Mendengar itu bukan hanya Arsenio yang bangkit dari duduknya melainkan Alin, Nicholas, Sarah dan juga Gibran pun ikut bangkit dari tempat duduknya masing-masing.


Arsenio menurunkan Alvis membiarkan Alvis berdiri di samping hospital bed. Tanganya mengengam erat tangan Ana tatapanya tertuju pada wajah pucat istrinya.


"Sayang.....kamu bisa kan mendengar suaraku?" ucap Arsenio.


"Sayang aku tahu kamu mendengarkanku, ayo buka matamu, nih anak kita sudah sangat merindukanmu" lanjut Arsenio.


"Mommy....mommy bagun!" ucap Alvis yang juga ikut membangunkan ibunya.


Perlahan Ana membuka matanya, semua yang dilihatnya buram dahinya mengerut seperti sedang menahan sakit.


"Sayang, kamu sudah bangun ya?, lihat aku sudah membawa Alvis ke sini" ucap Arsenio masih terus mengengam tangan Ana.


"Jangan dulu terlalu di paksaain, biarkan Ana tenang dulu" ucap Sarah yang kini berjalan mendekati mereka dan langsung di susul oleh yang lainnya.


Ana tampak memutar bola matanya pandangannya perlahan mulai jelas dan di detik berikutnya Ana segerah menepis tangan Arsenio, dengan cepat bagun dari tidurnya bergerak mundur sampai tubuhnya menyentuh kepala hoslital bed.


"Jangan sentuh aku!" teriak Ana histeris.


Semuanya tercengangg melihat respon Ana setelah dia sadar.


Arsenio berusaha mendekat namun lagi-lagi membuat Ana teriak.


"Sayang ini aku!" ucap Arsenio.


Ana mrngelengkan kepalanya "Stop, jangan mendekatiku!, plis aku mohon lepaskan aku!" teriak Ana kedua matanya sudah menganak sungai.


Kedua tangannya mengengam erat selimut yang digunakan untuk menutupi tubuhnya semua dapat melihat dengan jelas tangan Ana gemetar sampai-sampai selimut yang di penganya ikut bergerak.


"Jangan mendekat!, tolong lepaskan aku!" teriak Ana.


Ana terus saja mengulagi kata yang sama. Arsenio tak tega melihat kondisi istrinya, pandanganya segera tertuju pada Rangga yang setia berdiri di dekat pintu.


"Tolong pangilkan dokter!"


"Baik tuan" Rangga melangkah keluar mamnggilkan dokter sesuai perintah.


Gibran yang melihat kondisi Ana, secepatnya berjalan dan memeluk lalu membawah Alvis menjauh dari Ana.


Sementara Sarah, Alin dan juga Nicholas diam tatapan mereka terus tertuju pada Ana.


"Sepertinya Ana benar-benar mengalami trauma" pikir Alin.


"Apa yang telah dilakukan Clarissa sampai-sampai membuat Ana trauma seperti ini?" pikir Nicholas.


"Tuan, sepertinya nona harus di beri suntikan penenang" Dokter menatap Arsenio.


"Ya lakukan apapun yang membuat keadaan istri saya membaik" sahut Arsenio.


Dokter pun segerah melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang dokter.


Setelah mendapat penanganan dari dokter Ana perlahan mulai tenang.


"Tolong lepaskan aku....plis jangan sentuh aku" ucap Ana namun dengan nada pelan dan lama kelamaan Ana pun kembali tertidur.


Semua yang melihat itu tampak menghela nafas lega. Dokter berbalik menatap mereka yang berada di dalam ruangan.


"Mohon maaf sebelumnya, sebaiknya semua keluar dulu biarkan nona Ana istirahat"


"Iya dok, kami akan keluar, tapi sebelum itu aku ingin bertanya" ucap Arsenio.


"Sialakan tuan"


"Kenapa istri saya seperti tadi?, dia bangun dan langsung histeris seperti itu" tanya Arsenio.


"Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, kejadian yang menimpa nona Ana membuatnya trauma. Tapi tuan tidak perlu khawatir kami akan memberikan penanganan yang tepat untuk nona" sahut dokter.


"Ya dokter harus melakukan yang terbaik untuk istri saya, pastikan istri saya akan baik-baik saja!" ucap Arsenio.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien-pasien kami" ucap dokter lalu pamit pergi.


Karena semua telah mendengarkan apa yang di ucapkan dokter, mereka pun satu-persatu melangkah keluar dan Arseniolah orang yang terakhir keluar.


Arsenio menyandarkan tubuhnga ke dinding, memejamkan matanya dan menyapu kasar wajahnya. Hal itu tak luput dari pandangan Alin, Sarah, Gibran dan juga Nicholas.


"Opa, mommy kenapa?. Apa mommy tidak ingin bertemu dengan Alvis lagi?"


Gibran mengeleng "Tidak sayang, mommy kan sayang banget sama Alvis jadi mana mungkin mommy ngak mau ketemu Alvis" ucap Gibran sedikit menjeda ucapanya.


"Mommy belum terlalu sembuh dari sakitnya makanya dia seperti itu. Pokonya Alvis jangan mikir macam-macam!, tugas Alvis hanya berdoa pada tuhan untuk kesembuhan mommy" lanjut Gibran.


"Baik opa" sahut Alvis.


"Sepertinya Rany belum mengerahui hal ini, aku harus secepatnya memberitahunya" pikir Sarah.


Sarah bangkit dari duduknya, hal itu tak luput dari pandangan Alin dan juga Nicholas.


"Mama mau kemana?" tanya Alin dan Nicholas bersamaan.


Sarah menoleh menatap mereka, ngak mau kemana-mana "Sahut Sarah lalu berjalan beberapa langkah memberi sedikit jarak di antara Alin, dan juga suaminya.


Sarah mengeluarkan ponselnya lalu menelfon Rany, sementara dari kejauhan Rangga terus memantau setiap pergerakan Sarah.


"Jangan bilang nyonya Sarah mau menelfon nyonya Rany untuk memberitahukan keadaan nona, bisa gawat jika benar" pikir Rangga.