
Ana menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, pandanganya menyapu hampir luruh ruangan, dahinya mengerut binggung.
Tampak Roby berada di tengah-tengah kerumunan teman-teman kelasnya, menatap kearahnya dengan senyuman manis.
"Ana... mendekatlah padaku!" pinta Roby.
Sejak Ana melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas perasaan cemas mulai menyilimuti hatinya, menatap kerumunan orang seperti sedang mencari seseorang.
"Kana.. kamu di mana sih?. Masa sih kamu belum datang" Ana bergumam dalam hati.
"Ayolah An, kami sudah menunggumu dari tadi loh" Maya bersuara di tengah-tengah kerumunan.
"Benar, jangan buat kita mati penasaran karena menunggu kamu" sahut mahasiswi lainnya.
"Cihhh memangnya ada yang menyuruh kalian menungguku?, ngak ada kan?. Cepat sana bubar ngapain gumpul di situ!" ungkap Ana dalam hati.
Melihat Ana tidak bergeming dari tempat dimana dia berdiri, Roby memutuskan untuk menghampirinya dan membawahnya ke tengah-tengah kerumunan.
"Stop!, jangan mendekat!, berhenti di sana!"
Roby terus melangkah, berlahan memangkas jarak di antara mereka. Percayalah Ana sangat gelisa saat ini.
"Kamu ngapain sih ke sini?" Ana menatap Roby yang telah berdiri di depannya.
"Apakah kamu yang membuat semua ini?" Ana mengangkat bunga-bunga yang di pegangnya.
"Apa kamu suka?" Roby menatap serius.
Ana diam tidak merespon ucapan Roby padanya, melirik beberapa temannya yang menggunakan ponselnya masing-masing merekam situasi saat ini.
"Roby tolong hentikan!. Ngak lucu tau" Ana menatap Roby.
"Ayo ikut aku!, kejutanmu belum berakhir!" Roby menarik tangan Ana lalu membawahnya ke tengah-tengah kerumunan.
"Roby lepaskan tanganku!" Ana berusaha untuk melepaskan gengaman Roby.
Karena mereka telah sampai, Roby pun melepaskan tangan Ana lalu berdiri tegap di hadapan Ana.
Kini mereka telah berdiri di tengah-tengah kerumunan teman-temannya , Roby tampak menatap serius Ana, sementara Ana terus memandangi kerumunan mencari keberadaan Kana.
"Ayolah Kana, kamu dimana sih?. Plis tolong aku" Ana bergumam dalam hati.
"Ana.... " Pangil Roby.
"Hmm" Ana menatap Roby.
"Selamat ulang tahun Baby" ucap Roby sambil memegang kue ulang tahun yang entah sejak kapan kue ulang tahun itu ada di tanganya.
"Terima kasih" Ana tampak tersenyum paksa.
Roby memberi isyrat pada salah satu temannya, dia pun berjalan mendekati mereka.
"Tolong bantu pegangin bunga itu!" pinta Roby, temannya pun menggguk setuju, mengambil bunga yang ada di gengaman Ana lalu mudur dua langkah dari mereka.
"Sudah ya Rob, aku mau mencari Kana" ucap Ana.
"Tunggu sebentar!, kamu kan belum membuat permohonan dan meniup lilinnya"
"Sekarang sudah waktunya, ayo buat permohonanmu!, setelah itu tiup lilinya!" Sabung Roby.
Ana menghela nafas panjang.
"Baiklah ikuti saja maunya agar cepat selesai!"
Berlahan Ana memejamkan mata menangkupkan tangan menjadi satu diletakannya di depan dada lalu membuat permohonannya.
Cup
Satu kecupan mendarat ke bibir mungil Ana. seketika Ana membuka matanya, tubuhnya mematung menatap Roby yang nampak tersenyum kearahnya. Suara sorakan membuat keramaian di dalam kelas.
"Apa yang kamu lakukan?" Ana bersusah payah menelan salivanya, ingin rasanya mengilang dari muka bumi ini tanpa meninggalkan sejak sedikitpun.
"Aku mencintaimu Ana, maukah kamu menikah denganku?" Roby menatap Ana serius.
"Roby!!" pekik Kana, berdiri di depan pintu sambil mengatur nafasnya.
Seketika semua sorakan berhenti, berbalik menatap Kana begitu juga dengan Ana dan juga Roby.
"Syukurlah, kamu telah datang. Ya walaupun sedikit terlambat"
Kana meremas jari-jemarinya berjalan menghampiri Roby dan juga Ana. Kana memposisikan Ana berada di belakangnya.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Ana tuh istri orang, kamu juga tau itu. Apa kamu sudah gila mengajak menikah istri orang?"
"Seruh nih, jika di upload" ucap Maya sambil tersenyum.
"Kamu benar, aku tidak akan menyiayiakan kesempatan ini" sambung Clarissa yang dari awal merekam.
"Ya aku memang gila!, aku gilakan Ana!. Aku tidak peduli dia istri orang atau bukan. Aku akan tetap menginginkan Ana menjadi istriku!"
Plak...
Satu tamparan melayang di pipi Roby.
"Kana!" Ana segera menahan tangan Kana.
Roby menatap tajam Kana, rahangnya mengeras dengan gigi bergemelatuk.
"Kana!. Beraninya kamu menanparku!. Rasakan ini!" Roby melayangkan tanganya hendak menampar Kana, Ana yang melihat itu dengan cepat berdiri di depan Kana menatap serius Roby.
"Kenapa berhenti?, ayo silakan tampar aku!" ucap Ana.
Roby medengus kesal menurunkan tanganya ke tempat semula.
Ana berbalik menatap Kana memegang kedua tanganya.
"Kamu ngak apa-apa kan?" Kana menganggukan kepalanya "Aku ngak apa-apa An"
Ana kembali menatap Roby, percayalah saat ini kakinya gemetar.
"Mungkin selama ini aku tidak pernah marah padamu, tapi kali ini tidak!, kamu sudah kelewatan batas. Mohon terima kenyataan jika kita tidak di takdirkan bersama!" Ana menarik tangan Kana membawahnya keluar dari kelas.
"Cihhh takdir?, aku tidak percaya takdir!. Apapun yang aku inginkan harus aku dapatkan!" gumam Roby dalam hati.
Roby berganti menatap sekelilingnya, semuanya tampak diam dan melihat ke arahnya.
"Ngapain masih berdiri disitu?, cepat bubar!" pekik Roby.
Semuanya yang mendengar itu kembali ke tempat masing-masing tak terkecuali Maya dan juga Clarissa.
Clarissa tersenyum sambil menatap layar ponselnya.
"Apa sedang kamu lakukan?" Maya medekat berusaha melihat, namun Clarissa lebih dulu menjauhkan ponselnya dari Maya.
"Rahasia!" jawab wanita itu sambil mematikan layar ponselnya.
"Idih sejak kapan kamu main rahasia-rahasiaan denganku?" Maya menatap kesal Clarissa .
"Nanti kamu juga akan tahu, tunggu saja tanggal mainnya!"
Di saat yang sama tampak Ana membawah Kana menuju taman, melepaskan gegangamnya setelah mereka sampai.
"Maafkan Aku" Kana menghampiri kursi taman lalu duduk.
"Maaf untuk apa?" Ana menatap Kana.
"Karena datang terlambat!. Itu semua karena ulah Roby!" Kana menatap Ana.
"Loh, memangnya apa yang dilakukan Roby?"
"Roby mengunciku saat aku pergi ke wc, untung saja ada mahasiswi lain yang masuk dan membantuku membuka kunci pintunya" jelas Kana kesal.
"Roby benar-benar sudah keterlaluan!" ucap Ana yang juga ikut kesal.
Beberapa mahasiswa melewati taman, sesekali melihat ke arah mereka sambil berbisik-bisik. Hal itu tak luput dari pandangan Ana dan juga Kana.
"Mereka kenapa sih?" Ana menatap mahasiwa itu.
"Mana aku tahu🤷" Kana mengeluarkan ponselnya lalu menyalakan layar ponselnya.
Banyak sekali pesan yang masuk, Kana memilih membuka salah satu dari sekian banyaknya grub whatsapp.
"Gawat!" Kana menatap layar ponselnya.
"Apanya yang gawat?"
"Kamu harus lihat ini!" Kana menatap Ana serius.
Ana berjalan menghampiri Kana lalu duduk di sampingnya, ikut menatap layar ponsel milik Kana.
"Siapa yang membuat ini?" Ana membulatkan matanya karena terkejut.