My Love Story

My Love Story
Chapt | 038



telanjur menaruh harapan itu padamu. Kau sendiri yang datang padaku dan menawarkan sebuah harapan, tapi kenapa kau tidak pernah bercerita bahwa kau sudah memiliki calon istri? Hajime, di depan mataku kau selalu bersikap baik, hingga perlahan-lahan aku mulai bisa menyingkirken bayang-bayang Kamazaki, Kenapa kau hancurkan mimpi mimpi itu, Hajime? Kenapa?"


Setetes air mata jatuh menyusuri pipi, disusul tetesan lain pada detik selanjutnya. Membelah wajah, dan menganak sungai di tepian bibir. Kuhapus air mata itu dengan telapak tangan seraya kuisikan udara ke dalam dadaku yang gondok. Hidup begitu pahit rasanya!


Sambil membayangkan kejadian terjunnya si adik dalam insiden Sayama, kulangkahkan kaki ini menuju batas tepi gedung. Dan tanpa sepengetahuanku, kucing hitam yang sedari tadi mengintai seolah-olah dialah Totoro alias Dewa Kematian yang sedang mengajakku menemui ajal, tiba-tiba telah muncul di dekatku, berjarak beberapa sentimeter saja dari kaki kananku. Ketika kujatuhkan pandangan mata ke arah kucing hitam, kucing itu menatap balik ke arahku dengan kedua mata yang berpendar. Kulihat langit surga di dalam pupil mata si kucing. Aku yakin kucing hitam ini menanti aku terjun dari atap gedung ini.


Detik pun bergulir. Sore jatuh dalam suasana yang mencekam.


Dengan memasrahkan diri seutuhnya pada Pemilik Hidup, kuseret lagi telapak kaki yang lain sehingga kini kedua kakiku berdiri sejajar di ujung tepi gedung apartemen. Seperti sayap winglet pesawat terbang, kedua tanganku terentang perlahan. Seiring dengan itu, kuhela napas panjang seraya mendongakkan kepala ke atas dan mengatupkan kedua kelopak mata.


Miaw..., miaw..., miaw!!!


Terdengar kucing hitam di sisiku melenguh panjang, barangkali ia sedang merasakan aroma kematian yang sangat menusuk lubang hidungnya. Aku tak tergoda untuk menoleh. Kedua mataku masih terpejam. Kepalaku mendongak. Dan sayap-sayapku sebentar lagi akan menge pak, menerbangkan jiwa-jiwa patah hati kepada kehidupan paling abadi, kematian.


"Ayah...," desisku kepada angin.


"Ibu....


"Akira....


"Maafkan aku, aku harus meninggalkan kalian se mua. Aku tahu ini adalah cara terbodoh menyelesaikan


Masalah, tapi kalian tidak pernah mengerti bagaimana aku memendam kerinduan dan menghimpun harapan. Saat ini, aku tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan setelah semua rindu dan harapanku terkhianati. Aku ingin pergi saja. Jika kelak kalian menemukan mayatku dengan hati yang hancur, seolah-olah sedang menghadapi maut kalian sendiri, maka seperti itulah perasaanku saat ini. Aku...."


Miaw..., miaw..., miaw!!!


Kucondongkan tubuh ke depan beberapa derajat, sehingga sekali saja ada orang yang mendorong punggungku dari arah belakang maka sudah pasti aku akan terhempas dan terjatuh. Aku sempat membuka perekat yang mengunci sepasang kelopak mataku, sehingga terbukalah kedua mata ini. Namun, aku tidak berani menggerakkan kepala untuk menunduk. Pemandangan di bawah sana terlalu menakutkan, meski aku bukan pengidap acrophobia.


Yang kulihat hanyalah awan putih yang berarak-arak terseret angin, memenuhi birunya karpet langit. Tepat ketika aku berusaha menggeser sedikit kaki ini, kurasakan kaki kakiku gemetaran. Angin berembus kencang, menambah suasana kian mencekam. Haruskah aku terjun sekarang?


Miaw..., miaw..., miaw!!!


Terdengar suara si kucing hitam yang terus mele nguh....


Kupasrahkan detik demi detik yang berlalu kepada Sang Pemilik Hidup. Hatiku semakin kacau dan ingin lekas-lekas terjun ketika teringat kembali apa yang sudah dilakukan oleh Kamazaki dan Hajime, para pria pengisi hatiku itu.


"Selamat tinggal, Kamazaki. Selamat tinggal, Hajime," bisikku putus asa.


Dalam hitungan mundur, kuhitung dalam hati. Kupe jamkan mata rapat-rapat, seolah aku telah melihat kematian yang mengerikan itu. Dan, suara kucing hitam yang terus melenguh membuatku semakin terdorong untuk segera terjun.


Miaw..., miaw..., miaw!!!


Namun, dering ponsel di saku celanaku menunda niatku untuk terjun memenuhi panggilan kematian, aku takut yang menelepon adalah ayah atau ibuku. Namanya orang tua, mungkin saja mereka dapat ikut merasakan kegalauan hati ini, juga mengetahui niatku untuk mengakhiri hidup. Barangkali saja begitu! Pun aku belum meninggalkan pesan wasiat apa-apa, kepada siapa-siapa. Tidak kepada Akira, apalagi kepada kedua orang tuaku. Misi bunuh diri ini masih sangat rahasia, dan hanya aku yang mengetahuinya.


"Akira?" desisku memicingkan mata melihat nama di layar ponsel. "Ada apa Akira meneleponku? Apa jangan jangan dia tahu niatku bunuh diri? Ah, tidak mungkin! Duh, angkat tidak, ya?"


Kubiarkan telepon dari Akira menunggu.


Aku masih dilema, antara menerima telepon dari Akira atau membiarkan telepon itu, ketika ponselku berdering untuk yang kedua kalinya. Aku pikir Akira akan putus asa karena aku tidak mengangkat teleponnya. Ternyata aku salah, teleponku terus berdering. Bahkan, kini sudah dering keempat. Dan, aku masih membiarkan telepon itu.


Menganggap kabar yang akan disampaikan oleh Akira adalah kabar yang sangat penting, karena telepon terus terusan berdering meski selalu kuabaikan, misalnya kabar tentang orang tua kami di Indonesia, maka pada dering keenam aku menerima telepon dari Akira


"Kak Ran, kau di mana?" sambut Akira dengan suara seperti baru saja menangis. Setahuku Akira tidak secengeng ini? Pasal apa yang menyebabkannya menangis?


"Kau tak perlu tahu aku ada di mana, Akira," jawabku santai, sama sekali tidak menganggap pertanyaan Akira sebagai pertanyaan yang penting.


"Kak Ran, aku ingin mati saja!"


"Ya sudah, sana mati!" balasku tegas.


"Ternyata Kak Ran juga sama sajal" sesal Akira. Suaranya masih parau lagi childish. Andai detik ini ia ada di sampingku, tentu aku sudah menertawainya.


"Habisnya kamu aneh-aneh sajal" ejekku menyalahkan Akira. "Kamu kan anak laki-laki, masak tiba-tiba telepon sambil menangis lantas berpamitan mau bunuh diri?! Anak laki-laki macam apa kamu, hah?! Anak laki-laki itu pantang menangis! Harus kuat!"


"Kak Ran jahat!" sentak Akira, disertai tangisan.


"Hei, Bodoh? Dengar, ya," balasku santai. Kukira Akira memang sekadar menggertak. Maka, aku tidak menanggapi secara serius apa yang sedang diadukannya kepadaku. Bagiku Akira sedang bermain-main alias bersandiwara. Atau, paling banter dia menangis gara-gara kalah taruhan takarakuji, permainan judi itu. "Kau ini anak laki-laki. Kalau mau menangis, menangislah sepuasmu, tapi jangan sampai berpikir untuk bunuh diri! Apa kamu tidak malu sama teman


Satu tim di Bunkyo Football Club? Apa kamu tidak malu


dengan kostum kebanggaanmu? Apa tidak malu dengan si kulit bundar? Apa kamu tidak malu dengan fans dan cita cita kamu untuk menjadi pemain sepak bola profesional?" Akira diam tanpa kata, yang kudengar hanya isak tangis


di line telephone.


"Seharusnya kau malu!" imbuhku dengan nada galak. Anggaplah saat ini aku adalah ibunya Akira, dan aku berhak memarahinya saat dia bersalah. Atau, anggaplah aku adalah sosok Ayah, yang harus bisa menjaga dan melindungi Akira.


"Kak Ran...." lenguh Akira dengan suara parau, lebih parau dari suara pertama yang kudengar tadi. Aku semakin jijik mendengarnya. Akira yang kukenal tidak secengeng ini! "Aku ingin mati saja, Kak Ran! Aku ingin terjun dari gedung ini saja! Tidak ada gunanya aku hidup, semua orang membenciku, termasuk Kak Ran juga membenciku."


"Ya sudah sana! Lekaslah kau lompat! Coba saja kalau berani!" balasku berusaha santai, namun bukan berarti aku tidak mengkhawatirkan adikku Akira. Jujur, mendengar Akira terus-terusan terisak, aku mulai panik. Jangan jangan, Akira memang sedang mempunyai masalah besar sehingga dia menjadi nekat begini.


______________________________________


Bersambung~