
Keesokan harinya, Tampak Arsenio menuruni satu-persatu anak tangga.
"Mau ke mana kamu?" Alin menghentikan langkahnya sambil menatap putranya.
"Mau ke kantor, emang mau ke mana lagi?" jawab Rangga sambil memrapikan jasnya.
"Kali aja kamu pergi menemui wanita itu" Rany melipat kedua tanganya di depan dada.
Arsenio menuruni anak tangga terakhir lalu menatap ibunya "Terima kasih mama telah mengingatkanku, tanpa di ingatkan pun aku tetap akan menghampirinya" ucap Arsenio.
"Kamu?" Alin menunjuk Arsenio.
"Kenapa?. Ana itu istriku ma, jadi tidak ada salahnya jika seorang suami ingin menghampiri istrinya" ucap Arsenio.
"Kamu benar-benar sudah di pengaruhi wanita itu!, lihat sekarang kamu bahkan berani membanta mama, menikah tanpa sepengetahuan mama lalu sebentar lagi apa yang kamu lakukan tanpa sepengetahuan mama?" ucap Alin yang mulai tersulut emosi.
"Aku minta maaf untuk soal itu, tapi jika aku memberitahu mama, mama pasti tidak akan setuju aku menikah lagi dengan Ana"
"Tentu saja, sekalipun kamu telah menikah denganya mama tidak akan pernah menggangapnya sebagai menantu. Wanita itu bukan wanita baik-baik, kamu jangan sampai di perbodohi olehnya. Hanya karena anaknya itu mirip denganmu, kamu begitu saja percaya kalau anak itu benaran anak kamu, bagaimana kalau dia bukan anak kamu?"
"Alvis benar-benar anakku dan Ana, aku sudah melakukan tes DNA dan hasilnya sama, Alvis itu benar anakku"
"Tapi.. "
"Tapi apa?, mama mau bilang kalau hasil tes DNA itu salah?. Sudahlah ma terima kenyataan kalau Alvis itu anakku cucu mama" ucap
Arsenio sebelum Alin melanjutkan ucapannya.
Alin terdiam, ia kehabisan bahan untuk beraduh argument dengan putranya.
"Rangga sudah menunggu di mobil, jadi aku harus segera keluar" ucap Arsenio lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Alin menoleh menatap Arsenio "Terus bagimana dengan pertunangan kamu dan Clarissa?"
Ucapan Alin berhasil menghentikan langkah putranya, Arsenio diam sejenak lalu kembali menatap ibunya "Batalkan saja perjodohan itu!. Aku sudah punya istri" ujar Arsenio lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Bagiamana kalau kamu jadikan Clarissa istri kedua?"
"Baiklah kita ikuti saja apa maumu, setelah ini akan aku pastikan kamu akan secepatnya menceraikan wanita penggoda itu dengan begitu Clarissa akan menjadi satu-satunya menantuku" pikir Alin.
Ucapan Alin berhasil menghentikan langkah Arsenio yang kedua kakinya. Arsenio tampak diam sejenak dan kemudian berbalik menatap ibunya yang tampak menunggu jawaban darinya.
"Bagaimana kalau papa menjadikan ibu Rany sebagai istri keduanya?" ucap Arsenio.
Seketika Alin membulatkan matanya, respon putranya di luar dari dugaannya "Kalau ngomong itu harus di jaga!, jagan sembaranga bicara kamu!" pekik Alin.
Arsenio tersenyum melihat respon ibunya "Apa yang mama rasakan saat ini, begitu juga yang di rasakan Ana jika mendengar mama bertanya seperti itu padaku" ucap Arsenio lalu pergi meninggalkan Ibunya yang diam mematung.
"Wanita itu sungguh membawa pengaruh buruk pada anakku. Aku secepatnya harus menyingkirkannya" pikir Alin.
Sementara di luar tampak Rangga sedikit menundukan kepala saat Arsenio berada di depannya "Selamat pagi tuan" ucapnya lalu membuka pintu mobil untuk tuannya.
"Pagi" sahut Arsenio lalu masuk ke dalam mobil, sementara Rangga tanpak menutup kembali pintu lalu berjalan memutari mobil dan ikut masuk.
Mobil melaju membawah mereka jauh dari kediaman keluarga Saguna.
"Apa kau sudah mengirimkan alamat diama anakku berada?" tanya Arsenio sambil menatap layar ponselnya.
"Sudah tuan, baru saja saya selesai mengirimnya" sahut Rangga.
Arsenio diam sejenak sebelum kembali berbicara "Batalkan semua metting hari ini!, saya ingin bergemu istri dan anakku setelah menandatangani proyek kerja itu" ucap Arsenio mematikan layar ponselnya lalu meletakannya ke saku jasnya.
"Baik tuan" sahut Rangga.
Setelah itu Rangga tampa mengeluarkan ponselnya dari saku dengan pandangan tetap fokus ke depan, memasang handafree di telingganya lalu melakukan pangilan telefon. Ia tampak beberapa kali melakuan pangilan telefon hingga di menit berikutnya ia kembali fokus menyetir.
Kediaman Ana
"Ma... Mama, cepat sini dan lihat ini! " ucap Ana.
"Ada apa sih?, hebo banget" ucap Rany namun tetap berjalan menghampiri putrinya yang duduk di sofa.
"Mama lihat nih, pak Rangga sudah mengirimkan alamat dimana Alvis berada" ucap Ana dengan mata berbinar-binar.
Rany yang merasa penasaran pun ikut menatap layar lonsel Ana, dan benar saja, Ana benar mendapatkan pesan dari Rangga yang berisi alamat lengkap dimana Alvis berada.
"Akuharus kesana sekarang, Aku mau jemput Alvis" lanjut Ana.
"Kamu ngak apa-apa kan pergi sendiri, soalnya butik mama ngak ada yang jaga atau pangil saja Kana untuk menemanimu menjemput Alvis" ucap Rany.
Ana bangkit dari duduknya menatap lurus Rany "Aku ngak apa-apa ma, aku bisa sendiri. Kasihan Kana dia masih sibuk dengan pekerjaannya, toh aku kesana hanya ingin menjemput Alvis setelah itu langsung pulang" ucap Ana bersemangat.
"Kamu yakin ngak apa-apa pergi sendirian?, tempatnya cukup jauh loh" ucap Rany khawatir.
"Ya udah, kamu hati-hati bawah mobilnya!, dan pastikan kamu membawah Alvis pulang"
"Siap ma" Ana bergegas masuk ke kamarnya mengambil kunci mobil dan juga tasnya.
"Ma aku pergi ya" Ana keluar dari kamarnya berjalan menghampiri ibunya lalu mencium punggung tangan ibunya.
"Hati-hati!" ucap Rany.
"Iya ma" Ana berlari keluar dan langsung masuk ke dalam mobil, Rany yang melihat itu pun mengelengkan kepalannya.
Mobil Ana melaju keluar dari halaman rumah dan akan menuju alamat yang telah di berikan Rangga padanya.
"Akhirnya mommy bisa bertemu denganmu nak" pikir Ana sambil terseyum, tatapannya fokus ke depan, menatap jalan pagi itu yang tampak ramai seperti biasanya.
Satu jam kemudian Ana telah berhasil memasuki daerah B tinggal mencari alamat yang di krimkan Rangga.
Ana menatap layar ponselnya yang menampilkan maps "Jika dilihat dari maps aku harus belok kanan" ucap Ana lalu membelokan mobilnya ke sebelah kanan melewati jalan yang lumayan sepi, sepanjang jalan di penuhi dengan pepohonan yang tampak menjulang tinggi.
"Alvis... mommy datang" ucapnya sambil tersenyum membayangkan betapa bahagiannya Alvis saat bertemu denganya.
PiiiiiiiiP....
Sebuah mobil dari belakang terus mebunyikan klason mobilnya, Ana melihat mobil itu melalui kaca spion lalu ia segera menggurangi kecepatan mobilnya membiarkan mobil di belakangnya mendahuluinya.
Dan benar saja setelah Ana berhasil mengurangi kecepatan mobilnya, mobil yang berada di belakang segera melewatinya namun, mobil itu berhenti tak jauh dari mobil Ana, menghalangi semua jalan hal itu membuat Ana segera menginjak rem mobilnya.
Ana menurunkan kaca mobilnya "Apa-apaan ini?, bisa bawah mobil ngak?" teriak Ana, namun tidak ada jawaban dari pemilik mobil.
"Permisi, bisa beri aku jalan?, aku lagi buru nih" ucap Ana.
Melihat tidak ada respon, Ana membuka pintu mobilnya lalu turun dari mobil "Merepotkan sekali!" Ana berjalan mendekati mobil yang ada di depannya.
"Permisi...." Ana mengetuk jendela mobil tersebut.
Di waktu yang bersamaan kedua pintu belakang mobil terbuka, berapa pria bertubuh kekar keluar dari mobil dan dalam hitungan detik mereka berhasil mengililingi Ana membawahnya berada di tengah-tengah mereka.
"Kalian siapa?" tanya Ana mulai panik.
Pria-pria itu diam dan terus menatapnya tajam "Kalian mau apa?, aku ngak punya barang-barang berharga jadi percuma jika kalian merampoku" ucap Ana.
Percayalah saat ini seluruh tubuhnya gemetar karena takut.
"Kami ingin kamu!. Ikutlah bersama kami" ucap salah satu dari mereka sambil memegang tangan Ana.
"Tidak, aku ngak mau ikut! Cepat lepaskan Aku atau aku teriak nih" ucap Ana.
Hal itu membuat Pria-pria itu tertawa.
"Mau teriak?, silakan teriak sesukamu, tidak ada satupun orang disini yang akan menolongmu"
"Tolong..... siapapun disana tolong" teriak Ana sambil berusaha melepaskan cengkraman Pria-pria itu.
"Cepat hentikan dia!, kepalaku sakit mendengar teriakannya!"
"Baik bos" salah satu pria itu mengeluarkan sebuah kain kecil lalu menutup hidung dan mulut Ana.
Ana terus berusaha lepas dari mereka namun pandanganya mulai buran dan di detik berikutnya seluruh pandanganya menjadi gelap dan akhirnya tak sadarkan diri.
Di waktu yang bersamaan sebuah mobil datang dari arah belakang dan berhenti di dekat mereka, pintu mobil terbuka seseorang turun dari mobil pandanganya menyapu semua yang ada di sekitarnya.
"Cepat bawah dia masuk!"
"Baik" seorang pria memopong Ana membawahnya masuk ke dalam mobil setelah itu ia kembali dan tak lupa menutup pintu mobil.
"Ini yang telah aku janjikan" memberikan sebuah amplop kecil berwarna coklat.
"Terima kasih, kami senang bekerja sama dengan anda" ucap pria-pria itu.
"Sama-sama, sekarang kalian bisa pergi!"
Beberapa pria itu kembali mesuk ke dalam mobil mereka dan mobil melaju membawah mereka jauh dari tempat itu.
Dering ponsel membuatnya segera masuk ke dalam mobil lalu mengangkatnya.
📞"Bagaimana?"
📞"Jangan khawatir!, semuanya beres. Aku kesana sekarang!"
📞"Okley aku tunggu!"
Sambungan telefon pun terputus, mobil yang membawa Ana kembali melaju meninggalkan mobil Ana begitu saja di pingir jalan.