My Love Story

My Love Story
Bab 71



Kediaman Ana


"Ana... kamu kemana sih nak?. Kamu tahu, seberapa khawatirnya mama sekarang?, pulang ya Nak, jangan berlama-lama tinggal jauh dari mama" Rany dengan isak tangsis menatap sebuah foto di tanganya.


"Tante, tante makan dulu ya, dari pagi tante belum makan loh" Kana duduk disamping Rany sambil memegang piring berisi nasi dan beberapa lauk di atasnya.


Rany mengeleng"Tente tidak lapar Na, tante mau cari Ana saja" sahut Rany tampa memalingkan pandanganya dari foto Ana.


"Iya kita akan mencari Ana, tapi sebelum itu tante harus makan dulu biar tenganya pulih lalu kita lanjut cari Ana" bujuk Kana.


Rany kembali mengeleng "Apa kita lapor saja kepolisi?, dengan begitu Ana akan lebih cepat di temukan" Rany menatap Kana.


"Iya.. iya tapi tante harus makan dulu, setelah itu baru kita ke kantor polisi" ucap Kana.


"Tapi sedikit saja ya!" ucap Rany lalu menggambil piring di tangan Kana dan belahan melahap makannya.


Kana menghela nafas panjang, menatap sedu Rany "Ana kamu dimana sih?, aku kasihan loh lihat ibumu seperti ini" batin Kana.


Sebuah mobil berhenti di depan, seorang pria keluar dari mobil menyelipkan sebuah amplop kecil di bawah pagar lalu kembali masuk ke dalam mobil. Pria itu menekan tombol klakson sebelum melaju menjauh dari kediaman Ana.


Kana yang mendengarnya pun bangkit dari duduknya "Tante tunggu sebentar, Kana mau lihat di luar. Sepertinya ada orang" ucap Kana berjalan menuju pintu.


Kana tampak mengerutkan dahi melihat ke kiri dan kanan, tidak ada siap-siap disana.


"Apa perasaanku saja ya?" pandangan Kana lurus menatap pagar yang nampak tertutup dengan rapi.


Kana kembali mengerutkan dahi saat tatapannya tertuju pada kertas putih dibawah pagar. Kana menoleh ke belakang melihat Rany sebelum berjalan menuju pagar.


"Ini apaan?" Kana terus memutar sebuah Amplop yang di dapatnya di bawah pagar.


Tak mau ambil pusing Kana kembali masuk membawah masuk amplop yang di dapatnya dari luar.


"Siapa?" Rany menatap Kana.


"Ngak tahu tante, diluar ngak ada orang aku hanya menemukan ini" sahut Kana melangkah mendekat lalu duduk di samping Rany meletakan amplop di atas meja.


Rany meraih amplop itu, di keluarkannya sebuah kertas yang ada tulisannya.


Hai Ma


Mama baik-baik saja kan disana?. Ana harap mama baik-baik saja. Ana rindu mama, ingin sekali memeluk erat mama, sarapan pagi bareng mama, makan masakan mama, namun Ana belum bisa kembali. Oh iya untuk Kana terima kasih banyak telah membantu, menemani dan menjaga mamaku. Mama dan Kana jangan khawatir lagi ya! Ana disini baik-baik saja.


Ana


Tak sadar air mata Rany mengenang berlahan jatuh tepat mengenai surat kecil ditangannya. Sadar akan hal itu, Rany secepatnya menghapus air matanya meletakan kertas di atas meja lalu mengerluarkan sebuah foto dimana foto itu tampak Ana sedang duduk di sofa, wajahnya tampak berseri-seri.


Pandangan Kana tiba-tiba fokus pada tanggal yang tertera di foto itu menunjukan bahwa foto ini di ambil sekitar tiga hari yang lalu.


"Tante lihat tanggalnya, foto ini di ambil sekitar tiga hari yang lalu, itu artinya Ana butuh waktu lama surat ini sampai disini" ucap Kana.


"Kamu benar, dan mama yakin ini tulisan tanggan Ana, kamu juga tahu kan kalau ini tulisan tanggan Ana?" Kana mengangguk "Benar tante ini tulisan tangan Ana"


"Syukurlah itu artinya Ana baik-baik saja di sana, mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan diri" ungkap Rany.


"Tapi kenapa di sini Ana bisa tahu kalau kamu selalu bersama tante?" Rany mengerutkan dahi binggung "Atau ada orang yang memantau tente dan juga kamu lalu memberitahukan pada Ana" tebak Rany.


"Aku juga berpikir seperti itu, tapi tidak perlu ambil pusing, yang penting kita tahu Ana di sana baik-baik saja" ucap Kana.


Rany menghela nafas lega "Kamu benar"


Kediaman keluarga Saguna.


Di ruang keluarga tampak Sarah, Nicholas dan juga Alin duduk disana sambil


berbincang-bincang. Sementara diluar tampak Gibran memparkir mobilnya di tempat bisa, turun dari mobil sambil merapikan jasnya.


"Selamat datang tuan" sapa Bi Lila dan beberapa pelayan lainnya. Gibrna mengguk lalu berjalan masuk.


"Mas..." pangil Alin, Nicholas dan Sarah pun ikut menoleh ke arahnya.


Gibran yang tadinya ingin langsung masuk ke kamar, segera menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.


"Kamu dari mana saja sih mas?" tanya Alin. Gibran berlajan menghampiri mereka lalu duduk tepat di samping istrinya.


"Bisalah, baru selesai bertemu klien" sahut Gibran. "Bertemu klien?" Gibran menggangguk "Iya sayang"


"Aku lihat akhir-akhir ini kamu sibuk banget sering ke luar negeri, dan jika kembali pun kamu jarang sekali berada di rumah" ucap Alin curiga.


"Ya keluar negeri kan ada urusan, aku harus bertemu beberapa klien penting membahas project baru di sana" Gibran menjelaskan.


"Benar perusahaan kita sedang ada project baru, jadi tak heran jika suamimu sering tidak ada dirumah dan sesekali harus pergi ke luar negeri" sambung Nicholas membenarkan.


Sarah diam mendengar ucapanya suaminya dan juga menantunya, dia tidak mau ambil pusing dengan masalah beginian. Sementara Alin masih saja terlihat ragu dengan penjelasan suami walaupun itu langsung di benarkan oleh ayahnya.


"Feeling seorang istri itu kuat, so jangan coba-coba membohongi istri. Bisa jadi apa yang dia tanyakan sebenarnya dia sudah tahu jawabnnya namun dia hanya ingin lihat sampai mana kejujuran suaminya" Sarah tiba-tiba membuka suara dan sesekali melihat kearah menantunya.


Gibran tampak bersusah payah menelan salivanya, wajahnya seketika berubah, rasa cemas sanggat jelas terlihat di wajahnya.Hal itu tak luput dari pandangan Sarah.


"Makasud ucapanmu kamu apa sih?, kamu tuh secara tidak langsung menuduh Gibran membohongi istrinya tahu. Kamu ngak dengar apa, perusahan kita lagi ada project baru, dan project itu di tangani langsung olehnya aku lebih mengetahui apa yang dilakukan Gibran jadi berhentilah berlikir yang macam-macam!" ucap Nicholas yang mulai kesal.


"Orang kalau suaminya atau menatunya pulang kerja tuh di sambut baik-baik, tapi kalian malah menuduhnya macam-macam" sambung Nicholas.


"Aku ngak apa-apa pa, aku lebih suka di curigai, secara tidak langsung aku bisa tahu jika istriku masih mencintaiku dan takut kehilanganku" ucap Gibran dengan senyum paksa.


"Ya ialah mana ada istri yang rela suaminya meninggalkan dia" sahut Alin.


"Itu tahu, tapi perbutan tak sesuai dengan omongan!" ucap Sarah.


"Maksud mama?" Alin, Nicholas dan Gibran menatap Sarah.


"Maksud mama, sekarang kamu sudah merasakan bagaimana pesaan Ana saat kamu memaksa Arsenio menceraikannya" ucap Sara to the point.


Alin terdiam, mulutnya seakan terkunci, ucapan ibunya ibarat tombak yang menusuk paska hatinya.