
Sesampainya di bandara, Ana turun dari mobil sementara sopir taksi membantunya mengeluarkan koper dari bagasi mobil.
Dering ponsel Ana membuanya segera mengeluarkan ponselnya lalu menerima pangilan telefon.
π"Hallo" ucap Ana
π"Iya hallo, apakah kamu sudah sampai?"
π"Iya sudah"
π"Baiklah kamu di sebelah mana?, biar saya kesana sekarang"
π"Saya masih di parkiran"
π"Baik tunggu disana dan jangan kemana-mana dulu!"
π"Iya"
Sambungan telefon terputus Ana kembali memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Saya sudah menurunkan semua barang-barang nona"
"Iya terima kasih. ini ongkosnya" ucap Ana sambil tersenyum.
"Sama-sama nona" supir taksi mengambil upahnya.
"Loh nona, uangnya kelebihan" ucap supir taksi.
"Ngak apa-apa, buat bapak saja karena tadi bapak sudah mau menunggu saya" jawab Ana.
"Terima kasih banyak nona, semoga harimu menyenangkan" ucap supir taksi lalu kembali masuk dan belalu pergi. Sementara Ana kembali memeriksa semua barang-barang bawaannya.
"Ana... " pangil seorang pria. Ana yang mendengarnya segera menoleh ke arahnya.
Pria itu berjalan ke arahnya lalu berhenti di depannya.
"Nih saya sudah membelikanmu tiket" ucap pria itu sambil menyodorkan tiket ke arah Ana.
"Terima kasih" ucap Ana sambil menerima tiket pesawatnya.
"Dan ini buat kamu" sambung pria itu memberikan sebuah ponsel baru dan sebuah kartu atm di atasnya.
"Loh untuk apa ini?" tanya Ana.
"Ambil saja, kamu akan sanggat membutuhkan kedua benda ini" pria itu menarik tangan Ana lalu meletakan kedua benda itu di atas tanganya.
"Gunakan hp itu!. Untuk hp lama sialakan simpan namun jangan lupa di nonaktifkan agar keberadaanmu tidak dapat di lacak"
"Saya juga sudah membelikan kartu untuk hp itu, dan sudah menyimpan kontak saya juga. Sewaktu-waktu kamu bisa menghubungi saya jika kamu mau"
"Terima kasih" ucap Ana.
"Sekarang kamu sudah bisa nonaktifkan hp lama kamu, dan kamu pakai saja hp yang saya berikan"
Ana mengguk setuju, kembali mengeluarkan ponsel lamanya menekan salah satu tombol menampakan sebuah foto di layarnya.
"Ma.. jangan khawatir Ana akan baik-baik saja" ucapnya lalu menonaktifkan ponselnya.
Suara pemberitahuan keberangkatan telah terdengar Ana segera menoleh ke belakang melihat beberapa orang telah bersiap-siap naik ke pesawat.
Ana kembali menatap pria di depannya.
"Sekali lagi terima kasih, saya pamit pergi" ucap Ana.
"Kamu hati-hati ya" ucap pria itu sementara Ana tampak mengaguk lalu menarik kopernya dan berjalan masuk.
Rumah sakit.
Arsenio tampak berjalan kesana-kemari tepat di depan ruangan kakeknya, dari jauh Rangga yang melihatnya segera mempercepat langkahnya.
"Tuan" pagil Rangga setelah sampai. Arsenio menoleh ke arahnya "Eh kamu sudah kembali?" Rangga mengangguk "Sudah tuan"
"Bagaimana?, apa dia mau menandatanganinya?" tanya Arsenio to the point. Rangga kembali mengangguk "Iya tuan, nona Ana telah menandatanganinya"
"Sini biar saya lihat!" Arsenio segera merebut tas yang dibawah asistenya itu.
Arsenio terdiam menatap surat cerai yang telah tertera tanda tangan Ana di sana.
"Apa tanggapannya mengenai surat cerai ini?" tanya Arsenio tanpa memalingkan pandanganya dari kertas yang di pegangnya.
"Sepertinya nona Ana sudah tahu maksud saya mengajaknya bertemu. Nona Ana segera menandatangani surat cerainya setelah saya memberitahunya bahkan nona tidak lagi membaca surat cerainya" jelas Rangga.
"Kalau soal itu saya juga tahu, tapi apa dia tidak punya tanggapan lain selain itu?" tanya Arsenio kini sudah menatap asistenya itu.
"Memangnya tuan berharap apa pada nona Ana?, berharap nona Ana akan memohon-mohon padaku agar dia tidak perlu menandatangani suarat cerainya"
Arsenio menatap kartu yang masih berada di atas tangan asistenya itu.
"Lalu apa tanggapannya mengenai kartu ini?"Arsenio masih belum mengambil kartu itu dari tangan Rangga, dia hanya terus menatap kartu itu.
"Nona Ana berkata, dia hanya ingin mengembalikan yang bukan menjadi haknya lagi" sahut Rangga.
Arsenio meremas kertas yang digengamnya membuat kertas itu hampir saja sobek.
"Kenapa di remas sih?, aku sudah susah paya bertemu nona Ana dan memintanya untuk menandayanganinya dan sekarang tuan ingin merobeknya?, aku benar-benar tidak mengeri apa yang sedang tuan pikirkan"
"Dia benar-benar punya hubungan khusus dengan laki-laki itu!"
"Kenapa tuan bisa menyimpulkan seperti itu?" batin Rangga.
"Buktinya saja dia tidak mencoba bertemu denganku dan menjelaskan jika mereka tidak benar-benar punya hubungan khusus" sambung Arsenio.
"Baiklah sepertinya aku terlalu bodoh mengharapkan hal itu" ucap Arsenio lalu kembali memperbaiki surat cerai yang telah tertera tanda tangan Ana di sana.
"Hmm maafkan aku tuan, sepertinya aku juga berpikir seperti ituπ " batin Rangga.
"Ayo ikuti saja apa maumu" Arsenio mengambil polpen dari tas Rangga lalu ikut menandatangani surat cerainya.
"Hhmm, semoga tidak ada penyesalan nantinya" gumam Rangga menatap Arsenio yang telah ikut menandatangani surat cerainya.
Arsenio bangkit dari duduknya lalu membawah masuk surat cerai itu ke dalam ruang rawat.
Alin dan Sarah segera menoleh kearah pintu, Arsenio tampak masuk lalu duduk di samping ibunya dengan surat cerai berada di tangan kananya.
"Apa itu?" Alin menatap kertas yang di pegang putranya sementara Sarah yang mendengarnya pun ikut menatap kearah yang sama.
"Surat cerai" sahut Arsenio.
"Benarkah?" Alin mengambil kertas itu dari gengaman tangan putranya.
Tampak Sarah dan Alin membaca surat yang di maksud Arsenio.
"Keputusan yang bagus" Alin tersenyum puas menatap suarat cerai di tanganya.
"Apa kamu benar-benar telah menceraikan Ana?" Sarah menatap cucunya.
"Ya seperti yang sudah nenek lihat" sahut Arsenio dengan pandangan lurus ke depan.
"Kamu benar-benar menuruti keinginan ibumu, semoga tidak ada penyesalan kedepannya!" ungkap Sarah.
Arsenio yang mendengarnya menatap kearahnya.
"Maksud nenek?"
"Tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin memberitahumu saja semoga kedepannya tidak ada penyesalan"
"Sudalah ma. Keputusan Arsenio sudah benar jadi tidak akan ada penyesalan ke depan" ucap Alin mengembalikan suarat cerai ke tangan Arsenio.
"Jika kakekmu sadar nanti, dia pasti sangat sedang mendengar berita ini" sambung Alin menatap lurus ayahnya.
Di tempat lain.
"Are you crazy?. Selama ini yang kamu sering cerita mengenai wanita yang kamu suka itu tenyata wanita yang sudah bersuami?" Albern menatap putranya tak percaya.
"Apa sudah tidak ada wanita lain ha?, sampai istri orang pun kamu sukai" Albern dengan wajah memerah karena mencoba menahan emosinya.
"Aku yang lebih dulu mengenalnya dan tentu saja lebih dulu mencintainya sebelum dia di pakasa menikah dengan laki-laki sok keren itu" sahut Roby membelah diri.
"Kamu!" Albern hendak melayangkan pukulanya namun lebih dulu di cegah oleh istrinya.
"No dad!, don't hit him!" Natalie.
"Bukan begitu cara menyelesaikan masalah!, ayo sayang menjauhlah dari ayahmu!" sambung Natalie.
"Kamu tahu?, perbuatamu itu sudah membuat beberapa klien ayah membatalkan kerja samanya dengan perusahan kami. Apa kamu pedulikan hal itu?, tidak bukan?, kamu bisanya hanya menyusahkan orang tuan saja" teriak Albern.
"Aku tahu, ayah bisa semarah ini bukan hanya karena ayah kehilangan beberapa klien saja. Tapi Ayah tid.. "
"Cukup!!, ayah bilang cukup!. Kamu jangan asal bicara!, kamu kembali ke kamarmu sekarang atau ayah akan memaksamu ikut berasama kami meninggalkan kota ini!"
Roby yang mendengarnya mendengus kesal, berjalan menuju kamarnya tanpa pamit.
"Lihat!, lihat kelakuan anak kesayangamu itu, semakin hari bukannya semakin baik kelakukan malah semakin membangkang!" ucap Albern.
"Tapi dia anak kamu juga yah, bukan cuma anak aku!" Natalie protes.
"Alaaah terserah kamu mau ngomong apa" Albern berjalan keluar meninggalkan istrinya yang berdiri mematung.