
Pagi mulai menyapa. Sinar mentari perlahan memasuki hampir setiap sudut ruangan.
Rupanya gorden biru yang tebal tidak dapat menghalangi sinar mentari masuk ke dalam ruangan.
Perlahan suara bising di luar ruangan terdengar samar oleh Kana. Tampaknya bukan hanya mentari yang membangunkannya, tetapi kebisingan di luar kamarnya juga menjadi salah satu alasan dia terbangun dari tidur malam yang nyenyak.
Dari bawah selimut Kana bisa dengan jelas mendengar suara Ana menanyakan keberadaannya. Namun tubuhnya seolah enggan untuk keluar dari balik selimut. Seluruh tubuhnya terasa cukup lelah karena beberapa hari ini ia sibuk mempersiapkan keperluan pernikahannya.
Selang beberapa menit terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok... Tok...
"Kana..., apa kamu didalam?" ucap Ana dari balik pintu.
"Ya" sahut Kana seraya menyibak selimut dan melangkah mendekati pintu.
Dengan mata yang masih terasa berat Kana meraih daun pintu lalu memutarnya, perlahan pintu terbuka dan menampakan Ana yang tengah berdiri di depan pintu.
"Ya ampun, ini yang katanya mau jadi istri orang. Bagunnya kesiangan seperti ini" ucap Ana.
"Baru jam 06.30 An, aku belum termasuk bagun kesiangan" ucap Kana dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.
“Udah jangan berdebat lagi!, sekarang kamu masuk dan bersihkan dirimu setelah itu mereka akan membantumu bersiap-siap” kata Ana menunjukkan dua wanita yang berprofesi sebagai MUA berdiri di belakangnya.
"What?, bukankah masih terlalu pagi untuk bersiap-siap?, acaranya kan jam 10.00, bukankah siap-siapnya nanti jam 09.00?"
"Nggak Kana, kamu harus bersiap-siap dari sekarang"
"Aaa mataku masih terlalu berat untuk melakukan itu semua" ucap Kana.
"Udah aku nggak mau tau sekarang masuk dan bersikan dirimu" Ana mendorong Kana kembali masuk kamar dan segera disusul olehnya dan juga dua wanita di belakangnya.
Karena terus dipaksa oleh Ana, Kana pun akhirnya memutuskan masuk ke kamar mandi untuk membersikan diri.
Ana yang melihat itu pun membuang nafas pelan seraya duduk di sofa yang sengaja di letakan di dalam kamar Kana.
"Mba, semua peralatannya bisa diletakan di sebelah sana" ucap Ana menunjuk tempat yang di maksudnya.
"Baik nona" sahut kedua wanita itu bersamaan dan segera meletakan semua bawaan mereka di atas meja rias Kana.
Selang beberapa menit, pintu kamar mandi terbuka. Kana keluar dengan jubah mandi yang melilit tubuhnya.
"Nah, setelah ini apa yang harus aku lakukan?" Kana menatap Ana yang berada di sofa.
"Ke kamar ganti, disana sudah ada gaun berwarna putih silakan dipakai setelah itu keluar untuk lanjut menggunakan make up" jelas Ana.
Kana menggaguk mengerti dan berjalan masuk ke ruang ganti.
"Ana..." pangil Kana dari dalam ruang ganti. "Bisakah kamu datang kesini? , bantu aku memasang resletingnya" lanjut Kana.
"Ya, aku kesana sekarang," sahut Ana bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang ganti.
3 menit kemudian Ana dan Kana keluar dari ruang ganti secara bersamaan.
Kana berjalan ke meja rias dengan bantuan Ana.
"Nah, silakan lakukan tugas kalian" ucap Ana setelah sampai.
"Baik nona" kedua wanita itu tampak memulai merias wajah Kana.
Sementara itu Ana terlihat kembali masuk ke ruang ganti dan beberapa menit kemudian dia keluar dengan pakaian yang berbeda. Ana mengenakan gaun brokat putih yang panjangnya di bawah lutut.
Ana berjalan ke sofa dan duduk di sana sambil memainkan ponselnya.
"Kamu nggak make up?" tanya Kana tanpa melihat kearah Ana.
"Ada, tapi natural aja" jawab Ana malas.
"Kenapa?, apa tuan Arsenio tidak mengizinkanmu?" tanya Kana.
"Ya, seperti itu" sahut Ana.
Kana yang mendengarnya tersenyum "Pasti dia takut istrinya dilirik oleh pria lain" ucap Kana.
Kana membuang nafas pelan "Bukan cara berpikir suami kamu yang salah, kamunya saja yang terlalu polos" ucap Kana.
"Maksudnya?" Ana mengerutkan dahi binggung.
"Suami kamu tuh laki-laki juga, jadi dia sangat tau betul seperti apa sifat laki-laki" Kana menjeda ucapanya.
"Bukankah sekarang menyukai istri orang lebih menantang?" lanjut Kana.
"Tau ah, aku ngak mengerti" ucap Ana kembali fokus dengan ponselnya.
"Bukan tidak mengerti, kamu hanya terlalu polos dalam berberapa hal" batin Kana.
*
Jarum jam berputar sangat cepat, sekarang sudah pukul 8.30 dimana terlihat beberapa orang sedang sibuk mempersiapkan beberapa hal sebelum berangkat ke gedung yang telah dipilih sebagai tempat diselengarakan acara pernikahan.
"Ma, apakah mereka belum selesai membantu Kana untuk bersiap-siap?" tanya Pak Rudi paman dari Kana.
"Mama pikir mereka telah menyesesaikan tugasnya. Sebentar ya, mama mau telefon Ana dulu" ucap Melinda seraya mengeluarkan ponselnya dari tasnya lalu menghubungi Ana.
Di dalam kamar, Ana terlihat berdiri tepat di sebelah Kana dimana posisi Kana duduk di kursi sambil memeluknya.
"Sepertinya tubuhku terasa gemetar semua. Apa kamu bisa merasakannya?" tanya Kana pada Ana.
Sementara kedua wanita yang membantu Kana bersiap-siap tampak keluar dari kamar setelah selesai berpamitan.
"Ya, aku merasakannya. Kamu tidak perlu khawatir, apa yang kamu rasakan sekarang ini sama persis yang di rasakan setiap wanita yang akan menikah"
Kana diam sejenak lalu kembali bertanya namun masih dengan posisi yang sama "Apakah pak Rangga akan seperti tuan Arsenio yang begitu mencintaimu?"
Dering ponsel Ana membuatnya langsung melihat tas kecil yang ia taruh di atas meja rias.
"Tunggu sebentar, ada telepon" kata Ana sambil meraih tasnya untuk mengeluarkan ponselnya dari sana.
Kana yang melihat itu langsung melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Ana.
"Tante Melinda" ucap Ana membaca nama yang tertera disana.
"Buruan di angkat siapa tahu penting" ucap Kana.
Ana menggangguk lalu menekan tombol berwarna hijau seraya menempelkan ponsel ke telinganya.
📞"Halo tante" ucap Ana.
📞"Iya halo An, apakah Kana telah selesai bersiap-siap?"
📞"Sudah tante, kita akan segera turun" sahut Ana.
📞"Baik, tante dan paman akan menunggu kalian di dini"
📞"Iya tante"
Sambungan telepon terputus, Ana menatap Kana yang terlihat gugup.
"Sudah waktunya kita turun" kata Ana sementara Kana mengangguk sebagai jawaban.
Keduanya bersama-bersama melangkah keluar kamar.
“Kamu tidak perlu khawatir Na, aku bisa merasakan ketulusan Rangga terhadapmu” ucap Ana menjawab pertanyaan Kana yang belum sempat dia jawab karena harus menerima telepon.
"Tugasmu hanya meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu akan mencintainya seperti yang disarakan Rangga padamu," lanjut Ana.
"Ya, aku akan merusaha keras untuk hal itu" ucap Kana.
Setelah beberapa menit mereka sampai di tempat Pak Rudi dan Bu Melinda menunggu mereka.
"Karena kita membutukan waktu satu jam untuk sampai disana, maka kita bisa berangkat sekarang" ucap Pak Rudi seraya membukakan pintu mobil untuk istrinya, Kana dan juga Ana.
Ketiga wanita itu mengangguk bersamaan dan masuk ke dalam mobil, dengan posisi Kana berada di tengah, Ana duduk di sebelah kanan Kana dan Melinda di sebelah kiri Kana sementara pak Rudi dan sopirnya duduk di depan.
Deru kendaraan membawa mereka menjauh dari pekarangan rumah menuju gedung tempat pernikahan Kana dan Rangga dilangsungkan.