
Setelah beberapa menit, Rangga pun keluar dari kamar mandi dan giliran Kanalah yang memasuki kamar mandi.
15 menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka tampak Kana keluar dari sana dengan setelan baju tidur yang telah dibawahnya saat masuk ke kamar mandi.
"Mas belum mau tidur?" tanya Kana yang mendapati Rangga duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya dengan serius.
"Ini udah mau tidur" sahut Rangga seraya bangkit dari duduknya meninggalkan ponselnya di atas meja.
"Tadinya sudah mau tidur, tapi aku pikir-pikir sepertinya aku nggak akan bisa tidur jika istriku tidak berada di sisiku" lanjut Rangga sambil berjalan menuju tempat tidur dan bergerak naik.
"Ya tuhan, kenapa dia nggak merasa canggung sedikitpun, sementara Aku, aku terus saja berperang dengan rasa canggungku" batin Kana.
"Ayo, sini sayang. Tidur di sampingku" ucap Rangga seraya menepuk kasur di sampingnya.
"Ya" sahut Kana beranjak naik ke atas tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya tepat di samping Rangga.
Melihat itu Rangga segera menyusulnya berbaring, kedua saling berhadapan, pandangan mereka bertemu, hal itu membuat jantung Kana berdebar lebih cepat dari biasanya.
Tampa menunggu lama Kana segera merubah posisi tidurnya seraya menatap langit-langit kamar,
Namun tidak dengan Rangga yang masih saja dengan posisi awalanya menatapnya penuh arti, hal itu sukses membuat Kana salah tinggkah.
"Mas, boleh nggak jangan menatapku seperti itu?" ucap Kana yang akhirnya membuka suara.
"Kenapa?" tanya Rangga masih menatap Kana.
"Tau ah, mau tidur" ucap Kana seraya menarik selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Rangga tersenyum "Aku mencintaimu" ucap Rangga.
"Hmm, aku tahu" sahut Kana dari balik selimut.
Rangga membuka selimut yang menutupi Kana dan membuangnya ke sembarang arah.
Rangga bergerak cepat hingga kini posisinya berada di atas tubuh Kana dengan kedua tangan sebagai penyangah tubuhnya.
Kana yang melihat itu seketika membulatkan matanya, jantungnya berdetak takkaruan dengan rasa gugup Kana bertanya.
"Mau apa Mas?" tanya Kana.
"Dengan posisi seperti ini, bukankah sudah sanggat jelas apa yang aku inginkan?" Rangga tersenyum penuh arti sementara wajah Kana tampak memerah dengan cepat ditutupinya dengan kedua tangan.
Rangga yang melihat itu lagi-lagi tersenyum, tinggah istrinya membuatnya gemas dan enggan untuk berhenti menggodanya.
"Mas, ayolah jangan seperti ini" ucap Kana masih dengan tangan menutupi wajahnya.
Bukannya mundur, Rangga semakin mendekatkan tubuhnya sehingga Kana dapat merasakan hembusan nafasnya yang mengenai tangannya.
"Aku mencintaimu" ucap Rangga dengan suara berat.
Kana membuka tangnya "Ya, aku ta... "
Cup
Satu kecupan mendarat di bib*r mungil Kana yang membuatnya terkejut. Kana mencoba untuk mendorong Rangga namun dengan sigap Rangga menangkap kedua tangannya mebawanya ke bagian atas kepala.
Rangga terus mengecup beberapa kali dengan sangat lembut, hal itu membuat Kana perlahan terbawah suasana dan menikmatinya.
Melihat tidak ada penolakan lagi, Rangga terus memperlancar aksinya, yang tadinya hanya kecupan dibi*ir kini Rangga mulai menuruni dan memberikan beberapa kecupan di leher lalu berbisik "Boleh aku melakukannya sekarang?" ucap Rangga dengan nafas memburu.
Kana diam, dia tampak berpikir keras akan hal itu, Rangga yang menunggu jawaban dari istrinya terus memberikan beberapa kecupan di lehernya, aksi Rangga berhenti ketika Kana mulai bicara.
"Ini pertama kalinya bagiku" ucap Kana.
Rangga menggangkat kepalanya menatap wajah Kana "Aku yang akan menuntunmu"
Kana mendengar itu akhirnya memberanikan diri menatap mata Rangga "Tapi aku.. takut" ucap Kana pelan yang hampir saja tidak dapat di dengar oleh Rangga.
Rangga tersenyum "Aku akan melakukannya dengan sangat lembut" ucapnya seraya mengecup kembali bib*r mungil istrinya.
Kana yang mendengar itu pun menurut dan membiarkan Rangga melakukan apa yang seharusnya dia dapatkan.
Malam yang dingin penuh dengan kehangatan.
Pagi mulai menyapa. Cayaha matahari perlahan menembus gorden dan masuk meneragi hampir setiap sudut kamar.
Di balik selimut tampak Rangga terus memeluk Kana seperti engan untuk melepaskannya.
Cahaya matahari yang cukup terang berhasil mebangunkan Rangga dari tidur nyenyaknya, membuka matanya dan mendapati Kana berada di dalam pelukannya.
Rangga tersenyum lalu mengecup lembut alis istrinya "Terima kasih sayang" ucapnya.
Sementara Kana tampak mengeliat dari tidurnya dan perlahan membuka matanya "Maaf, apa aku membangunkanmu?" ucap Rangga.
Bukannya menjawab, Kana malah menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tanganya.
Diwaktu yang sama tampak Ana keluar dari kamar mandi untuk membersikan diri.
"Mas, aku sudah selesai nih. Giliran kamu yang mandi" ucap Ana seraya berjalan menuju ranjang, diatasnya tampak Arsenio masih bersembunyi di balik selimut.
"Dikit lagi sayang, aku masih mau tidur" sahut Arsenio dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Ayolah mas, nanti Kana dan Rangga nungguin kita loh" ucap Ana seraya menarik selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh suaminya.
"Sayang, mana bisa sepagi ini mereka sudah siap. Mungkin sekarang mereka masih bermalas-malasan di tempat tidur karena lelah" ucap Arsenio.
"Sama halnya seperti kita, seharusnya sekarang kita bermalas-malasan di dini, karena semalam kita mengeluarkan banyak tenaga jadi butuh waktu untuk pemulihan" Lanjut Arsenio.
Ana diam sejenak, dia tampak berpikir keras "Hmm, ada benarnya juga suamiku. Mungkin ini pertama kali untuk mereka secara kan mereka pengantin baru" batin Ana.
"Hmm, sepertinya kita jalan-jalannya di tunda" ucap Ana.
Arsenio yang mendengarnya menatap istrinya "Loh kenapa?" tanya Arsenio menyeringitkan dahi binggung.
"Biasalah masalah perempuan. Kalian para lelaki mana pernah merasakan apa yang kita rasakan saat pertama kali. Udah jalan-jalannya nanti sore saja" ucap Ana seraya melangkah menuju lemari untuk mengganti pakaian.
Beberapa menit kemudian, tampak Rangga keluar dari kamar mandi dengan handung melingar di pinggangnya.
"Sayang, aku sudah selesai nih, aku juga sudah menyiapkan air untukmu" ucap Rangga.
Kana yang mendengarnya bangkut dari tidurnya dan segera turun dari tempat tidur.
"Aw" rintih Kana pelan namun masih dapat di dengar oleh Rangga.
"Kamu nggak apa-apa kan?" Rangga berjalan menghampiri istrinya dengan wajah panik.
Kana menatapnya seraya mengelengkan kepala.
"Kamu yakin nggak apa-apa?, aku bantu ya? Ke kamar mandi" ucap Rangga lagi.
Kana menggagguk sebagai jawaban, Rangga membantu Kana menuju kamar mandi.
"Maaf" ucap Rangga merasa bersalah.
Sementara Kana menoleh kearahnya "Maaf?, untuk apa?" ucap Kana.
"Karena kamu jadi begini" ucap Rangga.
Kana tersenyum "Kamu nggak salah mas, aku justru senang karena sudah memberikan apa yang seharusnya aku berikan kepada suamiku" ucap Kana.
"Duh, jangan berkata-kata seperti itu sekarang!. Bisa-bisa aku lepas kendali" ucap Rangga.
Kana terseyum "Ya udah, sana pakai baju aku mau masuk" ucap Kana sementara Rangga menggagguk sebagai jawaban.
20 menit kemudian Kana keluar dari kamar mandi dan mendapati Rangga duduk di atas tempat tidur dengan pakaian santai.
"Loh, kamu belum siap-siap mas?" tanya Kana.
Rangga menoleh lalu dengan cepat turun dari tempat tidur dan berjalan menghampiri istrinya.
"Sini aku bantu!" ucapnya setelah sampai.
"Ngga apa-apa mas aku bisa ko sendiri" ucapnya.
Rangga menatapnya "Yakin?, memangnya sudah nggak sakit?"
Kana menutu wajahnya yang sudah memerah karena malu "Jangan tanya seperti itu!. Aku kan jadi malu" ucap Kana.
"Kenapa malu?, aku serius loh" ucap Rangga.
Kana membuka tangan yang menutupi wajahnya "Ada, tapi sedikit" ucapnya lalu berjalan menuju lemari.
Rangga yang mendengarnya membuanf nafas lega seraya berjalan menuju sofa lalu duduk.
"Jalan-jalannya di tundah" ucap Rangga.
"Ha?, ditunda?" Kana menoleh menatap suaminya.
Rangga menggangguk "Ya, katanya jalannya nanti sore aja. Barusan nona Ana mengirimkan pesan memberitahukan soal itu" sahut Rangga.
"Anak itu benar-benar ya!. Sudah janjian pagi, eh taunya di ganti sore" gerutu Kana.
"Nggak apa-apa, justru bagus untuk kamu. Masih ada waktu untuk istirahat" ucap Rangga.
"Hmm, benar. Kalau kita perginya sekarang nanti Ana akan menyadari sesuatu dari cara jalanku. Pasti langsung diledekin dia. Nggak bisa, aku harus benar-benar istirahat" batin Kana.
"Kenapa?" tanya Rangga yang ikut menyaksikan istrinya mengeleng-ngelengkan kepalanya.
"Nggak kenapa-kenapa kok, nih mau pakai baju" ucap Kana seraya menunjuk lemari yang kini berada di depannya.