
senang karena telah menemukan Hajime, aku justru seperti orang ketakutan setengah mati. Aku terus berlari kencang..., kencang..., dan semakin kencang.
"Rannnn!!! Awas, Ran...!!!" pekik Hajime dengan mimik ketakutan. Saat itu, aku masih berlari sambil menoleh ke arah belakang Mirip orang kesetanan, Hajime memacu langkah seribu. Sambil berteriak memanggil namaku, Hajime mempercepat langkah.
Sriiitttt... Brakkkkk!!!
Terdengar kombinasi bunyi yang sama sekali tidak akustis, kacau dan mengerikan. Semua terjadi begitu cepat, aku sulit menjelaskan kejadian detik per detiknya. Sebuah mobil sedan yang meluncur di jalan raya depan gedung Bunkyo Football Academy menabrakku. Namun sebelum itu terjadi, Hajime telah berhasil meraih tubuhku dan menjauhkannya dari ancaman mobil yang melaju cukup kencang. Naas, pada detik yang begitu singkat itu memerangkap Hajime dalam sebuah momentum yang tidak dapat dihindarkan. Hajime kehilangan keseimbangan saat meraih tubuhku sehingga dia akhirnya tertabrak mobil, tubuhnya terpental cukup jauh.
"Hajime...!!! pekikku disertai tangis. Air mataku bercucuran.
Dengan mata dan kepalaku sendiri, aku melihat tu bub Hajime terpental setelah terjadi tumbukan lenting sempurna antara Hajime dengan mobil yang menabraknya. Seketika kakiku gemetaran, hatiku hancur, dan dadaku terasa remuk. Keegoisan telah menyebabkan kecelakaan ini terjadi, menimpa orang yang sama sekali tidak bersalah.
Tak sanggup menguasai diri, aku pun duduk bersimpuh dengan mata bersimbah tangis.
"Hajime, isakku sedih. Kaki ini terasa berat sekali untuk kugerakkan. Aku tak sanggup melangkah menuju tempat Hajime terkapar saat ini. Hatiku beku dan aku tak sanggup menguasai diri. Untuk saat ini, aku hanya sanggup menyalahkan diri sendiri.
Mobil ambulans rumah sakit Universitas Tokyo menepi. Dan seolah tanpa mempedulikanku, mereka mengangkut Hajime begitu saja.
"Hajime!!!" pekikku, mengiringi mobil ambulans yang melesat pergi. Kembali, aku duduk bersimpuh dengan menanggung rasa sesal yang tak terperi.
Dan beberapa alasan orang yang sedang jatuh cinta kerap kali melakukan hal yang sifatnya irasional. Pertama, mereka memiliki rasa malu yang berlebihan. Biasanya, orang yang jatuh cinta lebih pandai memperhatikan diri sendiri. Hal sekecil apa pun akan diperhatikan olehnya. Sehingga, muncullah proteksi diri agar segala kekurangan dalam dirinya tidak diketahui oleh orang lain, khususnya oleh orang yang dicintai. Kedua, tingkat kepercayaan diri mereka yang berlebihan, atau akan lebih tepat bila kusebut dengan rasa gengsi yang tinggi. Jadi, seperti air di daun talas, sejatinya orang yang sedang jatuh cinta sebentar-sebentar menganggap dirinya buruk namun sebentar-sebentar ia menganggap dirinya sebagai makhluk paling sempurna.
Tidak perlu jauh-jauh, contohnya saja diriku. Saat Hajime memuji gaya rambutku yang meniru Aimi Eguchi, gadis fiktif Jepang ciptaan komputer yang merupakan gabungan dari enam anggota AKB48 lainnya-dari rambu alis, mata, hidung, mulut dan tubuh-hatiku serasa terbang ke langit ketujuh. Aku merasa menjadi orang tercantik sejagat raya. Ini artinya, kepercayaan diriku meningkat drastis. Meningkatnya rasa percaya diri menyebabkan diriku merasa memiliki harga yang lebih tinggi dari gadis lainnya. Timbullah rasa gengsi itu. Akibatnya, aku pun jual mahal karena merasa diri ini berharga. Dan, tindakan irasional yang kulakukan adalah berpatut-patut di depan kaca berjam-jam, senyam-senyum seorang diri.
Atau sebaliknya, saat berjalan seorang diri hendak menemui Hajime di tempat latihannya, aku seperti komentator, kritikus, penata busana berpengalaman, atau apa pun namanya itu, yang mendadak sok pintar menilai penampilan diri sendiri. Duh, tubuh jadi semakin kurus tidak ya dengan hanya dibungkus kaus sepak bola begini? Duh, gaya rambutku sudah oke belum, ya? Duh, norakkah penampilanku saat ini? Duh, bagaimana kalau Hajime atau teman-temannya nanti menertawakan penampilanku? Dan sebagainya, dan sebagainya.
____________________________________
Bersambung~