
Di waktu yang sama, seorang memukul keras mejanya tatapan tajam di tunjukan pada layar computernya "Sial!, mereka berhasil mengepung rumah ini, aku harus secepatnya keluar dari sini
Ia segera keluar dari ruangan kecil, dengan setengah berlari ia menuju sebuah kamar yang juga terletak di lantai dua, pria itu meraih daun pintu dan hendak memutarnya.
Bruk...
Pria itu terjatuh, tatapanya tertuju pada dua sosok pria dengan pakaian serba hitam berdiri di depannya.
"Pegang dia, jangan sampai lepas!" titah seseorang yang kemudian muncul dari tangga.
"Baik pak" sahut kedua pria itu lalu segera menghampiri pria yang terjatuh karena ulah mereka.
Masing-masing pria memegang satu tangan dan membantunya berdiri.
"Lepaskan aku!" pekik pria itu dengan susah paya berusaha membebaskan diri.
Di menit berikutnya seseorang muncul dari arah tangga sambil bertepuk tangan.
Hal itu membuat semua orang di sana melihat kearahnya "Kerja sama yang baik" ucap Arsenio.
Arsenio menghentikan langkahnya, wajah datarnya dengan tatapan tajam ditunjukan pada pria yang berjarak sekitar satu meter dari tempat dimana ia berdiri.
"Kamu apa yang kamu lakukan disini?" ucap Roby.
Arsenio tersenyum sinis, berjalan mendekati Roby perlahan memangkas jarak di antara mereka dan berhenti tepat di depan Roby.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kamu lakukan pada istriku!" ucap Arsenio pelan namun membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.
Roby mengangkat sedikit kepalannya agar bisa menatap lurus pria di depannya yang bertepatan lebih tinggi darinya dan
Bruk.
Roby melayangkan kaki kananya mengenai perut Arsenio yang membuatnya bergerak mudur.
"Tuan!" Rangga berjalan menghampiri tuannya.
"Apa tuan baik-baik saja?" tanya Rangga.
"Laki-laki bren**k sepertimu tidak pantas bersama Ana!" pekik Roby masih berusaha membebaskan dirinya dari cengkraman dua pria bertubuh kekar.
Arsenio meletakan tangannya ke bahu Rangga "Jangan khawatir saya baik-baik saja"
Lalu tatapannya kembali tertuju pada Roby, kedua tanganya di kepalkan wajahnya memerah dalam hitungan detik Arsenio telah berhasil melayangkan beberapa pukulannya pada Roby yang membuaynya sersungkur di lantai.
"Jangan lepaskan dia!, aku ingin memberinya pelajaran" bentak Arsenio pada dua pria yang telah membiarkan Roby begitu saja.
Baru saja Arsenio hendak melayangkan pukulannya, Rangga segera mencegahnya menahan tangan kanan Arsenio yang hrndak mendarat di tubuh Roby.
"Tuan tenangkan dirimu!" ucap Rangga.
Arsenio berbalik menatap Rangga "Apa yang kau lakukan?, cepat lepaskan tanganku biar aku beri pelajaran padanya!"
"Tuan kekerasan bukanlah jalan satu-satunya untuk membalasnya, dan ini bukan waktu yang tepat untuk memberinya pelajaran, bukankah tujuan utama kita kesini untuk mencari keberadaan nona?" ucap Rangga.
"Ana.... ya kamu benar saya harus menemukan istriku" ucap Arsenio yang kembali mengingat tujuannya datang kesini setelah di inggatkan Rangga.
"Benar tuan" Rangga melepaskan tangan Arsenio.
Arsenio kembali menatap Roby yang terlihat lemah "Dimana kau sembunyikan istriku?"
Roby tersenyum sinis "Bahkan menyebut Ana dengab ucapat istri pun kamu tidak pantas! " ucap Roby.
"Kamu!" Arsenio kembali tersulut emosi namun lagi-lagi di ingatkan oleh Rangga.
"Kenapa kalian masih diam?, cepat cari istriku!" pekik Arsenio.
"Baik tuan"
Semuanya tampak bergerak mencari keberadaan Ana.
"Kalian berdua bawah dia jangan sampai lepas!"
"Baik tuan"
Arsenio kembali berdiri dan juga ikut mencari keberadaan istrinya.
"Sayang.... sayang.. kamu dimana?" pangil Arsenio sambil mencoba membuka beberapa pintu ruangan di sana.
Rangga berjalan mendekati salah satu pintu diaraihnya daun pintu lalu memutarnya.
"Pintunya terkunci" ucap Rangga menatap Arsenio, Arsenio bergegas menghampirinya.
"Tidak ada cara lain, selain memaksa membuka pintu ini" lanjut Rangga.
"Kamu yakin istriku ada di dalam?" Arsenio menatap Rangga.
"Kalau di lihat dari sekian banyaknya pintu di sini hanya pintu ini yang terkunci. Siapa tahu saja nona ada di dalam kamar ini" ucap Rangga.
Arsenio mendekatkan dirinya ke pintu, menempelkan telinganya di pintu lalu mencoba memangil Ana dari luar "Sayang...sayang apa kamu di dalam?"
Arsenio diam, masih dengan posisi yang sama, berharap seseorang menjawabnya dari dalam. Namun sudah hampir menginjak lima menit belum juga ada jawaban dari dalam.
"Sepertinya kita harus membuka paksa pintu ini" ucap Arsenio.
Rangga mengagguk setuju, "Tuan silakan menepi, saya akan mencoba membukannya"
Bruk....
Dalam satu kali dobrakan pintu itu pun berhasil terbuka. Arsenio segara masuk dan langsung di susul oleh Rangga.
Deg.
Langkah mereka pun terhenti, pandangan lurus kedepan, tidak lebih tepatnya menatap lurus sosok wanita yang tergelentak di atas ranjang.
"Sayang.... " ucap Arsenio berlari dan dalam hitunggan detik ia berhasil naik di atas ranjang.
"Sayang, bangun.... jangan tinggalin aku!" ucap Arsenio sambil menepuk lembut pipi istrinya.
"Kamu harus bertahan sayang, kita kerumah sakit sekarang" ucap Arsenio.
"Hey! ngapai masih berdiri di situ?, cepat bantu aku membuka tali di tangan dan juga kaki istriku!" pekik Arsenio.
"Baik tuan" Rangga bergerak naik ke atas ranjang dan dengan secepat kilat ia membuka tali yang mekingkar di kaki dan juga tangan Ana.
Setelah semua berhasil terbuka dengan cepat Arsenio memopong istrinya berjalan keluar dengan langkah terburu-buru.
"Tuan hati-hati!" ucap Rangga saat mereka melewati tangga.
Namun hal itu tidak di dengar oleh Arsenio. Arsenio masih dengan langkah terburu-buru menuruni satu persatu anak tangga.
Sesampainya di lantai bawah, Arsenio melewati begitu saja kedua pria yang memegang Roby dengan kondisi yang sudah tidak sadarkan diri.
Rangga menghentikan langkahnya sejenak, menatap kedua pria itu "Saya pikir kalian sudah tahu apa yang harus kalian lakukan!"
"Lakukanlah dengan baik, urusan dia saya serakan pada kalian!" lanjut Rangga.
"Siap pak" Rangga kembali menyusul Arsenio.
"Kamu masih ngapain sih?, cepat bukakan pintu!" bentak Arsenio menatap Rangga yang baru saja menyusulnya.
Rangga berjalan setengah berlari dan membukakan pintu buat tuannya. Kemudian gilirannya untuk masuk ke dalam mobil.
Deru kendaraan membawa mereka menjauh dari halaman rumah tersebut.
"Sayang tolong bertahanlah!" ucap Arsenio dengan terus mengengam tangan istrinya, ia terus saja mengulangi kata yang sama dan itu tak lepas dari pandangan Rangga.
"Rangga percepat mobilnya, kita harus membawah istriku dibrumah sakit terbaik di kota ini!" ucap Arsenio.
"Baik tuan" jawab Rangga lalu menambah kecepatan mobilnya.
"Aku tidak akan melepaskan orang-orang yang telah terlibat dalam khasus penculikan nona!. Siapa pun orangnya dia harus merasakan penderitaan sepanjang sisa hidupnya!" pikir Rangga.
Mobil terus melaju membelah keramaian jalan di kota, Rangga tampak fokus mengemudi, mereka masih membutukan waktu hampir setengah jam untuk sampai ke rumah sakit tujuan, hal itu membuat Arsenio frustasi.
"Apakah tidak ada jalan lain ha...?. Kenapa dari tadi kita belum juga bergerak dari sini" ucap Arsenio frustasi.
"Maaf tuan, jalan ini merupakan jalan yang lebih dekat dari rumah sakit dan juga jarang macet"
"Jarang macet?, lalu ini apa kalau bukan macet?"
"Maaf tuan, sepertinya di depan terjadi kecelakaan, hal itulah yang memicu kemacetan saat ini" sahut Rangga.
Arsenio yang mendengarnya pun mendenggus kesal, tatapannya kini beralih menatap istrinya yang terbaring lemah di pangkuannya.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengizinkanmu untuk menjemput Alvis, seharusnya akulah yang mengantar pulang Alvis di rumah mama" ucap Arsenio, tampa sadar air mataya menetes.
Rangga dapat melihat ketulusan dari tuannya, dan ini kali pertama ia melihat Arsenio seperti ini. Sikap dingin yang selama ini Rangga lihat dalam hitungan detik menghilang dari sosok seorang Arsenio.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya mobil mereka bisa kembali berjalan, Rangga secepatnya melajukan mobilnya menyelip dia antara kendaraan-kendaraan lainnya dengan terus menekan tombol klakson hal itu cukup menarik perhatian orang-orang namun itu sama sekali tidak di pedulikan oleh Rangga.
Setelah melewati berbagai rintangan di jalan akhirnya mobil yang di kendarai Rangga berhasil memasuki halaman rumah sakit.
Rangga yang sudah memberikan informsi lebih dulu pada pihak rumah sakit. Membuat para perawat dan dokter sudah siap menunggu kedatangan mereka di depan rumah sakit.
Setelah mobil berhasil berhenti, Rangga secepatnya keluar dan membukakan pintu mobil buat tuannya.
Arsenio keluar dengan memopong istrinya, melihat itu para suster segera menghampirinya membawah hospital bed.
Dengan hati-hati Arsenio menurunkan Ana di atas hospital bed lalu menatap dokter yang juga berada di sana.
"Tolong selamatkan istri saya!" ucapnya.
Dokter pun mengangguk "Ayo cepat bawah nona masuk!" titah dokter.
Arsenio dan Rangga pun ikut masuk membiarkan mobil parkir begitu saja.
"Kamu harus bertahan sayang" ucap Arsenio yang ikut berada di samping Ana.
Setelah sampai di depan IGD dokter pun menyarankan agar Arsenio tidak ikut masuk ke dalam.
"Mohon maaf tuan, silakan tunggu di luar"
"Tapi saya harus mendampingi istri saya!" ucap Arsenio.
Rangga melangkah mendekati tuannya "Sebaiknya kita tunggu di luar tuan, biarkan para dokter melaksanakan tugasnya" ucapnya pelan berharap Arsenio tidak tersinggung dengan ucapannya.
"Baiklah, tapi ingat selamatkan istri saya!"
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien-pasien kami" ucap dokter lalu berjalan masuk, pintu IGD pun kembali tertutup.