My Love Story

My Love Story
Bab 79



Arsenio memberikan isyarat pada Rangga, dan Rangga pun segera keluar tak lupa menutup pintu.


Arsenio yang melihat itu berjalan menghampiri Ana dan memeluknya dengan erat.


"Apa yang kamu lakukan pak?, tolong lepaskan aku!" ucap Ana bersusah payah mendorong Arsenio agar segera melepaskan peluakannya.


Namun bukannya melepaskan pelukannya, Arsenio malah semakin mengeratkan pelukannya sampai membuat Ana kesulitan melakukan aksi untuk melepaskan pelukannya.


"Saya tahu bapak sangat membenci saya, tapi bapak janganlah bunuh saya sekarang, kasian anak saya, dia masih kecil loh pak" ucap Ana diam tidak lagi melanjutkan aksinya untuk membebaskan diri, jika hal itu terus ia lakukan bisa-bisa ia mati konyol di tangan Arsenio.


"Siapa bilang dia hanya anak kamu?, anak kamu anak ya anak aku juga!" ucap Arsenio tepat di pinggir telinga Ana.


Deg


Ana terdiam seribu bahasa, pikirannya berlahan mulai kemana-mana, ia sangat takut Arsenio mengambil Alvis darinya.


"Tidak, dia tidak boleh tahu kalau Alvis itu anaknya!" pikir Ana.


"Siapa bilang dia anak bapak?. Alvis itu anak saya, ya anak saya seorang!" ucap Ana.


Arsenio tersenyum "Oh nama anak kita Alvis ya?, nama yang bagus. Aku menyukainya" ujar Arsenio.


"Bagaimana kamu bisa seenaknya ngomong Alvis bukan anakku?, apa kamu lupa? kita sama-sama membuatnya loh, apa perlu aku paraktekan kembali agar kamu menginggatnya!" ucap Arsenio tenang memeluk erat mantan istrinya.


"Bapak jangan macam-macam ya!, cepat lepaskan saya, kalau tidak saya teriak nih!" ancam Ana kembali berusaha melepaskan cengkraman mantan suaminya.


"Ingin teriak?, teriak saja sesuka hatimu tidak ada akan ada orang yang datang membantumu!. Yang bisa membantumu itu hanya dirimu sendiri" ujar Arsenio.


"Kamu mau tahu bagaimana caranya agar aku melepaskanmu?. Jika kamu mau tahu bagaimana caranya dengan senang hati aku akan memberitahukan caranya" ungkap Arsenio.


"Ya aku mau, cepat katakan!" ucap Ana tanpa pikir panjang.


Arsenio mendekatkan wajahnya ke telingga Ana sampai-sampai Ana dapat merasakan dengan jekas naik turun nafasnya.


"Kamu harus katakan ini 'Sayang cium aku dong' jika kamu mengatakan itu akan aku pastikan kamu akan lepas" lanjut Arsenio.


" Apa kamu gila?, sangat tidak mungkin aku melakukannya ujar Ana.


"Ya terserah kamu, aku sih gak masalah jika terus seperti ini😌"


"Tidak, aku harus teriak!. Tidak mungkin kan tidak ada yang mendengarnya di luar kan banyak karyawannya" batin Ana.


"Jika kamu teriak, bisa saja kamu akan membuat gosip baru di kantor ini bahkan gosip itu bisa beredar ke mana-mana" ucap Arsenio seakan tahu apa yang ada di pikiran Ana.


"Saya gak peduli mereka membicarakannku, saya akan tetap teriak" ucap Ana bersikeras.


"Wah keputusan yang sangat baik" Arsenio kembali mempererat pelukannya sampai ia merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh dada bidangnya.


"Tolong..... siapapun yang mendengar suaraku, mohon bantu aku keluar dari sini!" teriak Ana.


Ana terus saja mengulangi kata yang sama hingga beberapa kali, namun hasilnya nihil. Tak ada satupun patang hidung yang membuka pintu ruangan itu, hal itu membuat Ana frustasi.


"Apa gendang telinga mereka sudah pecah?, sampai-sampai teriakanku tidak di dengar oleh mereka. Tapi gak mungkin kan mereka secara bersamaan pecah gendang telinganya?" gumam Ana dalam hati.


Di saat yang bersamaan pintu lift terbuka, seorang wanita dengan drees berwana biru keluar dari lift tatapannya lansung tertuju pada Kana, Alvis yang berdiri tak jauh dari ruangan Arsenio.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Clarissa sambil berjalan menghampiri Kana dan Alvis.


"Biasalah ada urusan sedikit" jawab Kana, "Urusan?" Clarissa melirik Alvis.


"Anak ini, kenapa dia begitu mirip dengan Arsenio?" pikir Clarissa.


"Sama siapa?" tanya Clarissa curiga. "Sama pak Arsenio" sahut Kana santai.


"Memangnya ada urusan apa kamu sama calon suamiku?" Clarissa kembali bertanya.


"Rahasia" jawab Kana "Hey kamu lupa apa? aku tuh calon istrinya, jadi kalau kamu punya urusan pada calon suamiku itu artinya kamu harus memberitahuku juga!" ucap Clarissa.


Kana menatap tajam Clarissa "Baru calon kan? belum jadi istri. So kamu belum punya hak untuk mengetahui apa urusanku denganya!" ujar Kana.


Beberapa karyawan melihat ke arah mereka "Anak ini benar-benar ya!, dia pasti sengaja kan pengen buat aku malu!" batin Clarissa.


"Okley kali ini kamu menang, tapi lihat saja nanti. Aku tidak akan mengizinkan calon suamiku bertemu denganmu!" ucap Clarissa pelan namun masih dapat di dengar oleh Kana.


Clarissa berjalan menuju ruangan Arsenio.


"Aunt itu kepo banget dengan uruan orang!" ucap Alvis, Kana yang mendengarnya pun tertawa "Ya kamu benar sayang, dia orangnya memang seperti itu. Kamu kalau besar nanti jangan cari cewe yang seperti itu ya?" ucap Kana.


"Tentu saja aunt, aku akan mencari cewe yang seperti mommy gak mau seperti aunt itu" ucap Alvis.


Keduanya pun memperhatikan Clarissa yang berjalan menuju ruangan Arsenio.


Clarissa mengerutkan dahi binggung saat melihat Rangga berdiri tepat di depan pintu seakan menghalanginya untuk masuk. "Hey pak ngapai berdiri di situ?, cepat minggir aku mau masuk!"


"Tuan sedang ada tamu" ucap Rangga dingin "Terus apa perdulinya aku?, cepat minggir aku mau masuk!" Clarissa mencoba menyingkirkan Rangga dari hadapannya namun itu tidak membuat Rangga bergerak sedikit pun.


"Hey apa-apan ini?, apa kamu lupa siapa aku?. Perilakumu terhadapku sudah kelewatan aku bisa saja menyuruh Arsenio memecatmu, apa kamu tidak takut!" Clarissa mulai kesal.


"Silakan saja!" ucap Rangga yang membuat Clarissa semakin kesal.


"Aku gak mau tahu kamu harus minggir, aku mau masuk!" ucap Clarissa terus berusaha menyingkirkan Rangga dari depan pintu.


"Tolong jangan lakukan hal-hal yang membuat tuan marah!" ucap Rangga.


"Aku membuatnya marah?, hey kamu tahu ngak cara perlakuanmu ini justru yang dapat membuatnya marah!" ucap Clarissa terus melanjutkan aksinya menyingkirkan Rangga.


"Sekuriti..." pangil Rangga. Clarissa mengehentikan aksinya dia menatap lurus Rangga "Apa yang kamu lakukan?, apa kamu akan mengusirku?" tanya Clarissa.


"Iya pak" ucap sekuriti setela sampai.


"Tolong bawah wanita ini keluar!" pinta Rangga. "Baik pak" Sekuriti pun memegang tangan Clarissa hendak membawahnya pergi.


"Baik jika begitu, lakukan apa yang nona ucapkan barusan!. Pak tolong lepaskan dia"


"Baik pak" sekuriti kembali melepaskan Clarissa dan berlalu pergi.


Clarissa menatap kesal Rangga dia berjalan menuju kursi yang berada tak jauh dari ruangan Arsenio "Awas saja kamu!, jika aku sudah menikah dengan Arsenio akan aku pastikan kamu tidak lagi pernah menampakan batang hidungmu disini!" guman Clarissa dalam hati.


Sementara Kana dan Alvis yang ikut menyaksikan itu pun ketawa, mereka sangat puas melihat adegan tadi.


Di dalam ruangan


"Bagaimana?, kamu yakin akan terus teriak meminta pertolongan? atau mau mengunakan cara yang aku sebutkan tadi?" tanya Arsenio berurutan.


"Dasar laki-laki gila!. Baiklah kita ikuti saja permainannya, setelah itu akan aku pastikan aku tidak lagi bertemu dengan laki-laki gila ini!" pikir Ana.


"Ya saya setuju" ucap Ana pelan namun sangat jelas terdengar di telinga Arsenio.


"Akhirnya kamu menyerah juga!" gumam Arsenio dengan senyum puas di wajahnya.


"Setuju apa?, bisa kamu perjelas?" ucap Arsenio.


"Pura-pura gak tau atau benaran gak tahu sih?. Sabar Ana...sabar" batin Ana frustasi.


Ana menghela nafas panjang "Saya setuju mengikuti cara yang bapak sebutkan tadi" jawab Ana.


"Ya sudah jika itu keputusanmu, dengan senang hati aku akan menerimanya" bisik Arsenio yang membuat Ana merinding.


"Sayang cium aku dong" ucap Ana cepat.


"Kurang manja!, aku suka kamu menyebutnya dengan manja!" ucap Arsenio.


"Ya tuhan, ingin sekali aku pukul kepalanya biar sekalian geger otak" pikir Ana.


Ana tampak menarik nafas dalam-dalam melalui hidung dan pelan-pelan dia menghembuskannya melalui mulut "Sayang.... mau gak cium aku?, aku sangat menginginkannya" ucap Ana semanja mungkin.


"Aku benar-benar sudah gila berkata seperti itu" gumam Ana


Tampa berkomentar lagi Arsenio segera mencium bibir Ana, dia terus melakukannya dengan rakus, sementara Ana terus memukul bahu Arsenio agar segera menghentikan aksinya, namun Arsenio tidak memperdulikannya terus melanjutkan aksinya sampai pada titik dia mengecup keras leher Ana yang membuatnya meninggalkan bekas merah di lehernya.


Setelah merasa puas Arsenio melonggarkan pelukannya sehingga Ana bisa dengan muda mendoronya menjauh darinya.


"Apa yang kamu lakukan?" bentak Ana dengan tangan memegang lehernya. Tanganya gemetar berusaha menahan emosinya.


"Tidak sedang melakukan apa-apa, hanya ingin membuat stempel pemilikan" ungkap Arsenio sambil menghapus lipstick Ana yang menempel di bibirnya mengunakan jari jempolnya.


Ana yang mendengarnya meremas jari-jemarinya menatap lurus Arsenio yang terlihat santai "Saya bukan milik bapak dan juga bukan milik siapa-siapa!"


"Saya peringatkan, jika bapak mencoba mengambil anak saya lagi, akan saya pastikan bapak menekam di dalam penjara!" ucap Ana lalu berjalan keluar.


"Cih, seorang Arsenio takut dengan ancamanmu?, sungguh kamu telah salah mengira" Arsenio menatap Ana.


"Tundukan pandangan kalian!" ucap Rangga menatap ke arah karyawan seakan tahu Ana akan segera keluar.


"Baik pak" jawab mereka lalu melakukan sesuai perintah.


"Ana kamu gak apa-apa kan?" tanya Kana sambil berjalan menghampiri Ana.


"Iya benar, mommy gak apa-apa kan?, aku mendengar mommy meminta bantuan apa uncle II menyakiti mommy" ucap Alvis.


Clarissa membulatkan matanya saat melihat Ana keluar dari ruangan Arsenio "Jadi tamu penting itu adalah Ana. Dia benaran telah kembali" gumam Clarissa dalam hati.


"Aku ngak apa-apa. Kita pulang sekarang!" ucap Ana, Kana menggangguk "Ayo sayang kita pulang" Kana memeluk Alvis dan mereka berjalan menuju lift.


"Tunggu!" Clarissa dengan cepat menghalagi pintu lift agar tidak tertutup.


"Clarissa?" ucap Ana terkejut. "Dasar perempuan m*r**an!, apa yang kamu lakukan sama calon suamiku" pekik Clarissa.


"Hey jaga ucapanmu!" ucap Kana.


"Kenapa?, apa yang aku bilang itu benar, dia itu perempuan m*r**an, yang bisanya menggoda calon suami orang" ucap Clarissa dengan suara besar membuat karyawan disana melihat ke arah mereka.


Plakkk


Satu tamparan melayang di pipi Clarissa, Kana yang melihat itu pun terkejut dan segera menutup kedua mata Alvis.


"Hati-hati ya kalau bicara!. Sana beritahu kepada calon suamimu jangan pernah menggagu kehidupan saya lagi!" ucap Ana tegas.


"Kamu berani menamparku!, rasakan ini" Clarissa hendak melayangkan pukulannya namun lebih duluh di cegah oleh Rangga.


"Kamu?" Clarissa menatap Rangga.


"Jangan berbuat sesuatu yang dapat membuat tuan marah!" ucap Rangga dengan tatapan dingin.


"Lepaskan tangan aku!" ucap Clarissa berusaha melepaskan tanganya dari cengkraman Rangga. Namun hal itu tidak membuat Rangga melepaskan tanganya, tatapan Rangga beralih pada Ana.


"Apa nona baik-baik saja?" tanya Rangga memastikan.


"Bukan urusanmu!" ucap Ana lalu menekan salah satu tombol lift yang membuat pintu lift tertutup.


Rangga yang melihat itu segera melepaskan tangan Clarissa lalu berjalan menuju ruangan Arsenio meninggalkan Clarissa masih memeriksa keadaan tangannya.


Arsenio menatap Rangga


"Pastikan kau terus mengawasi mereka!, jangan sampai ada pria lain yang mendekati mereka!" ucap Arsenio yang kini duduk di sofa.


"Baik tuan" jawab Rangga. "Dan segera hapus ingatanmu soal tawaran anakku kepadamu!" sambung Arsenio.


"Setakut itukah anda aku menggambil wanita itu darimu" Batin Rangga.


"Baik tuan" sahut Rangga lagi.