My Love Story

My Love Story
Bab 63



Arsenio menghentikan langkahnya jauh dari pintu keluar rumah sakit.


"Sial!" Arsenio menatap lurus ke depan.


"Ada apa tuan?" Rangga pun ikut menatap ke depan.


Tampak diluar wartawan dengan segenap perlengkapannya sedang menunggunya keluar.


"Siapa yang membawah mereka kemari?"


Rangga mengeleng "Saya juga tidak tahu tuan, sepertinya seseorang telah mengetahui tuan sedang berada di sini".


"Kita boleh lewat jalan lain jika tuan ingin menghindari mereka!"


"Tidak perlu!" Arsenio kembali melanjutkan langkahnya, wartawan yang melihatnya keluar pun segera berjalan menghampirinya.


"Tolong jaga jarak!, jangan sampai melewati batas!" Rangga menatap tajam ke arah wartawan.


"Tuan muda apakah benar wanita yang bernama Ana adalah istri tuan muda?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya benar, tapi itu berlaku untuk beberapa minggu kemarin" sahut Arsenio tegas, Rangga yang juga ikut mendengarnya pun menatapnya bingung namun memilih diam.


"Apa maksud tuan sekarang nona Ana bukanlah istri tuan muda lagi? "


"Benar!. saya telah menceraikannya jauh sebelum artikel mengenai perselingkuhan itu muncul di berbagia media sosial. Dan saya berharap dia tidak akan pernah muncul lagi di kehidupan saya!"


"Dan saya peringgatkan jika masih saya temukan berita mengenai keluarga saya apalagi disangkutpautkan dengan mantan istri saya diberbagai sosial media. Saya akan membuat orang yang membuat berita tersebut menyesali perbuatannya selama sisa hidupnya!" ucap Arsenio tegas.


"Saya tidak pernah bermain-main dengan setiap kata yang saya ucapkan!, jika ada yang tidak mempercayainya silakan di coba dan dia akan lihat akibatnya" sambung Arsenio.


"Maaf tuan, kalau boleh tahu sejak kapan tuan muda menikah dengan nona Ana?" tanya wartawan lagi.


"Hmm, saya pikir sudah cukup pertanyaannya!, silakan buka jalan untuk tuan muda!" Rangga menatap lurus para wartawan.


"Tapi pak.. "


"Apakah kalian tidak dengan apa yang saya ucapkan barusan?, silakan buka jalan buat tuan muda!" ucap Rangga yang mulai kesal.


Sontak semuanya segera bergerak menjauh memberikan Arsenio jalan menuju mobil.


Rangga menyalakan mesin mobil, lalu mobil melaju menjauh dari area parkir rumah sakit.


Di saat yang bersamaan Kana duduk di samping Ana sambil memandanginya.


"Semenjang kamu mengeluh soal perutmu yang terasa kram, saat itu juga aku curiga kamu telah hamil, eh tau-taunya benar" ucap Kana.


"Terus apa yang aku lakukan sekarang?, pak Arsenio tahunya aku ngak hamil benaran sama halnya denganku"


"Bagaiaman kalau kamu beritahukan hal ini padanya?" Ana mengelengkan kepalanya "Mana mungkin Na, kondisinya tidak memungkinkan aku memberitahukan hal ini. Kamu tahu sendiri apa yang terjadi beberapa jam yang lalu"


Kana menghela nafas panjang "Iya benar juga katamu, terus bagaimana ya?🤔" Kana berpikir keras.


Ana meraih ponselnya lalu kembali melihat berita mengenai dirinya di sosial media.


"Sudalah, tidak perlu lagi membaca komentar-komentar orang!" Kana merebut ponsel Ana dari tanganya lalu meletakannya ke sampingnya.


"Jaman sekarang orang-orang mengetik sesuatu tampa berpikir apakah yang dia ketik itu dapat membuat mental seseorang down atau tidak. Mereka tahunya apa yang mereka lihat di berbagai sosial media, itulah hal yang sebenarnya terjadi dan lebih bodohnya lagi mereka dengan muda mempercayainya"


"Jangan pikirkan hal lain dulu!, pikirkan saja dulu kesehatanmu dan juga kesehatan dede bayi. Kata dokter kamu jangan terlalu stres apalagi banyak pikiran"


"Tapi aku penasaran bagaimana perkembangan beritanya"


"Udah, mendingan kamu istirahat!, dengan begitu kamu cepat pulih, soal masalahmu kita pikirkan nanti" Kana membantu Ana kembali berbaring.


"Jangan beritahu ibuku kalau aku masuk rumah sakit!, jika dia tahu pasti dia sangat khawatir"


"Kamu tenang saja. Aku tidak memberitahunya kok" sahut Kana lalu mengeluarkan ponselnya.


Kana pun terkejut, Maya baru saja mengirimkan sebuah video padanya.


"Maya mengirimkan aku sebuah video" Kana menatap Ana. "Ya udah buka saja!, siapa tahu penting"


Kana mengangguk lalu membuka video yang di krimkan Maya dengan volume yang besar.


📱"Tuan muda apakah benar wanita yang bernama Ana adalah istri tuan muda?"


📱"Iya benar, tapi itu berlaku untuk beberapa minggu kemarin" sahut Arsenio tegas.


📱"Apa maksud tuan sekarang nona Ana bukanlah istri tuan muda lagi? "


📱"Benar!. saya telah menceraikannya jauh sebelum artikel mengenai perselingkuhan itu muncul di berbagia media sosial. Dan saya berharap dia tidak akan pernah muncul lagi di kehidupan saya!"


Ana yang mendengar itu pun kembali bangun, bersusah paya menelan salivanya, kedua sudut matanya sudah menganak sungai. Kana yang melihat itu dengan cepat mematikan videonya lalu bangkit dari duduknya dan memeluk Ana.


Dering ponsel Ana membuat keduanya segera melihat kearah benda kecil di sampingnya.


"Pasti mama sudah melihat berita itu di tv" ucap Ana dengan isak tangsis.


"Aku benar-benar anak yang tidak berguna, telah membuat ibu malu!" Ana menatap layar ponselnya.


"Maafkan aku ma" Ana menekan tombol merah menolak pangilan ibunya lalu dengan cepat menonaktifkan ponselnya.


"Loh ko di matikan sih?, kamu sadar ngak? apa yang kamu lakukan barusan akan membuat tante semakin khawatir" Kana menatap Ana.


"Tapi...."


"Tapi apa?, apa yang kamu lakukan barusan tidak dapat menyelesaikan masalah bahkan menambah masalah baru Ana" Kana memotong ucapan Ana sebelum dia menyelesaikan ucapannya.


"Kalau begitu kita pulang sekarang, aku mau temui mama!" Ana mencabut paksa jarum impus di tanganya yang membuat tanggannya mengeluarkan sedikit darah.


"Kamu kan masih harus di rawat, kamu belum sembuh total loh" Kana mencega Ana turun.


"Aku sudah sembuh, lihat aku baik-baik saja kan?. Aku mau ketemu mama sekarang!"


"Baiklah, aku akan mengantarmu" Kana akhirnya mengalah.


Kana membantu Ana turun lalu keduanya berjalan untuk membayar semua biaya rumah sakit.


Setelah selesai keduanya berjalan keluar dari rumah sakit.


Kediaman Ana


Tampak Rany berjalan kesana-kemari di depan rumah, terus berusaha menghubungi Ana namun usahanya gagal.


Nomor yang anda tujuh sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan cobalah beberapa saat lagi.


"Ana... Kamu dimana sih?, jangan buat mama khawatir" Rany mencoba menghubunginya untuk yang ke sekian kalinya namun hasilnya sama.


Mobil Kana berhenti tepat di depan rumah kediaman Ana. Ana segera turun dan berlari masuk.


"Ana pelan-pelan!" teriak Kana yang juga ikut turun dari mobil.


Rany yang mendengarnya menole ke arah mereka.


"Mama..... " pangil Ana lalu memeluk erat ibunya.


"Kamu kemana saja? mama khawatir tau" Rany ikut memeluknya.


"Hish hish, maafkan Ana ma, Ana belum bisa jadi anak yang baik" ucap Ana dengan isak tangsis.


"Siapa bilang?, kamu tetap menjadi anak yang baik di mata mama" ungkap Rany.


Ana melepaskan pelukannya memgengam erat kedua tanggan ibunya.


"Ma, maafkan Ana ma, Ana sama sekali tidak melakukan apa yang diberitakan di berbagai sosial media. Mama percaya kan sama Ana?"


Rany menatap sedu berlahan menghapus air mata putrinya.


"Mama percaya ko, anak mama tidak akan berbuat hal seperti itu"


"Iya aku juga percaya ko" sahut Kana berdiri tak jauh dari mereka.


"Terima kasih telah mempercayai aku" Ana bergantian menatap ibunya dan juga Kana.


"Ya udah ayo masuk!, kita bicara di dalam" ucap Rany. Sementara Ana dan Kana pun mengangguk.


"Sebenarnya apa yang terjadi, coba jelaskan sama mama!" pinta Rany bergantian menatap Ana dan juga Kana.


Kedua wanita itu pun saling perpandangan sebelum mulai menceritakan kejadian sebenarnya.


Rany tampak serius mendengar penjelasan Kana dan juga Kana dan sesekali terlihat mengelengkan kepalanya.


"Jadi begitu ceritanya. Apakah laki-laki itu adalah orang yang sama yang pernah datang ke sini?" Kana dan Ana mengganguk sebagai jawaban.


"Anak itu benar-benar ya, apa dia tidak berpikir apa yang dilakukannya dapat menimbulkan masalah?. Beritahu mama dimana rumahnya biar mama samperin dan beri dia pelajaran!" Rany mulai tersulut emosi.


"Tidak perlu ma" ucap Ana menahan ibunya.


"Anak itu harus di beri pelajaran, dialah dalang dari semua masalah!" ucap Rany emosi.


"Ana ngak apa-apa ma"


"Hey perempuan, keluar kamu!" teriak orang-orang diluar pagar.


Rany, Ana dan Kana bersamaan bangkit dari duduknya lalu melihat melalui jendela.


"Loh mereka ngapai ke sini?" Kana menatap binggung.


"Kalian diam disini!, jangan keluar ya!" Rany berjalan menuju pintu lalu membukanya.