My Love Story

My Love Story
Bab 157



Ke esokan harinya, tampak Ana sibuk memasukan beberapa pakaian ke koper sementara Arsenio sedang menghubungi sekertarisnya untuk membatalkan beberapa metting yang telah di jadwalkan.


"Mas" pangil Ana sementara Arsenio menoleh ke arahnya.


"Gini aja cukup kan?" Ana menunjuk baju yang telah ia masukan.


"Iya, nggak perlu bawah banyak. Kita bisa membelinya disana jika habis" sahut Arsenio.


"Hmm, baiklah" ucap Ana seraya menutup koper dan Arsenio kembali melanjutkan berbicara melalui telefon dengan sekertarisnya.


Tok... Tok...


Suara ketukan pintu dari luar, Arsenio dan Ana yang mendengarnya pun menoleh ke arah suara.


"Siapa tanya Ana?"


"Saya nona" sahut seseorang.


"Sayang di lihat dulu siapa tahu penting" ucap Arsenio.


"Iya sebentar" ujar Ana, berdiri dari duduknya lalu melangkah mendekati pintu.


Ana meraih daun pintu lalu memutarnya, perlahan menampakan seorang wanita paru baya berdiri tepat di depan pintu.


"Maaf menggaggu waktunya nona" ucap wanita itu yang merupakan salah satu Art di rumah Ana.


"Iya nggak apa-apa bi. Ada apa ya?" ucap Ana.


"Begini nona, di luar ada tamu. Mereka ingin bertemu dengan tuan dan juga nona. Tapi mereka sebelumnya belum membuat janji" ucap Art.


"Apa bibi mengenalnya?" tanya Ana.


Art mengelengkan kepala "Tidak nona, saya tidak mengenal mereka" jawabnya.


"Hmm, apa mungkin teman kerja mas Arsenio" pikir Ana.


"Ada sayang?" tanya Arsenio yang kini sudah berdiri di belakang Ana.


Ana menoleh "Ini mas kata bibi, diluar ada orang yang ingin bertemu dengan kita, tapi belum membuat janji" jelas Ana pada suaminya.


Arsenio mengerutkan dahi binggung "Siapa mereka?, nggak mungkin rekan kerja aku. Mereka nggak pernah datang ke rumah jika membahas soal pekerjaan" batin Arsenio.


"Udah mas, disuruh masuk aja siapa tahu penting" ucap Ana.


"Ya udah suruh mereka masuk aja bi, setelah kita siap-siap kita pergi temui mereka" ucap Arsenio.


"Baik tuan"


"Oh iya bi. Alvis sudah bagun?" tanya Ana.


"Sudah nona, kami juga sudah membantunya bersiap-siap" jawabnya.


"Baiklah, terima kasih" ucap Ana.


Sementara Art tampak menggangguk lalu berpamitan dan melangkah pergi.


Sementara Ana dan Arsenio kembali masuk untuk bersiap-siap.


20 menit kemudian, tampak Ana dan Arsenio keluar dari kamar dengan posisi Arsenio menarik koper yang akan mereka bawah.


"Mas, memangnya nggak apa-apa kita tinggal Alvis di rumah mama?" tanya Ana di selah-selah langkah mereka.


"Atau kita bawah saja dia?" lanjut Ana.


"Alvis kan lagi sekolah. Kamu juga kan tahu sendiri bagaimana sifat anak kita. Dia nggak akan mau izin sekolah. Nanti jika dia libur kita akan membawahnya jalan-jalan" ucap Arsenio.


Ana membuang nafas pelan "Baiklah" ucapnya pelan.


"Pak, tolong bawah masuk ini ke dalam mobil!" ucap Arsenio.


"Baik tuan" sahutnya.


"Dimana mereka?" Ana menatap suaminya.


"Mungkin di ruang tamu. Kita hanya punya waktu lima menit untuk bertemu dengan mereka" ucap Arsenio.


"Ha?, dikit amat waktunya"


"Ya kita nggak punya banyak waktu. Kita masih harus menggantar Alvis ke rumah mama dan juga perjalanan dari rumah mama ke bandara itu cukup jauh" ucap Arsenio.


"Hmm baiklah"


Arsenio meraih tangan Ana lalu keduanya sama-sama berjalan menuju ruang tamu.


"Selamat pagi" ucap kedua pria seraya bangkit dari duduknya.


Ana membulatkan matanya menatap salah satu dari kedua pria itu.


"Roby?" ucap Ana sementara raut wajah Arsenio seketika berubah saat mengetahui bahwa Albern dan Robylah yang ingin bertemu dengan mereka.


"Mau apa kalian kesini?" tanya Arsenio seraya mempererat gengaman tangan istrinya seakan takut seseorang menggambil Ana darinya.


"Mas, kok nggomongnya gitu sih" ucap Ana tak suka dengan sikap suaminya.


"Terima kasih " ucap keduanya lalu kembalu duduk. Sementara Arsenio dan Ana pun ikut duduk dengan posisi bersebrangan dengan mereka.


"Tolong matanya di jaga!" ucap Arsenio menatap tajam Roby.


Sementara Roby yang mendengarnya pun tersenyum.


"Saya datang kesini bukan untuk merebut Ana darimu. Saya datang kesini hanya ingin berterima kasih kepada saudaraku yang telah mencabut tuntutanya padaku" ucap Roby.


"Saudara?" Ana menyeringitkan dahi binggung.


"Ya, Roby dan suamimu adalah saudara dan akulah ayah dari kedua laki-laki ini yang begitu mencintai wanita yang sama" ucap Albern.


"Apa maksud dari ucapanmu?" tanya Arsenio mode dingin tak lupa terus mengengam tangan istrinya.


"Lah bukankah seperti itu kenyataannya?. Tapi wanita itu hanya mencintai satu dari kedua anakku. Ya itu kamu" lanjut Albern.


"Kamu tidak perlu khawatir nak, kita pasti akan menginggat perjanjian kita. Seperti yang di katakan Roby, kami ke sini hanya untuk meminta maaf kepada Ana dan juga berterima kasih kepadamu atas kemurahan hatimu untuk melepaskan Roby dari tuntutanmu" jelas Albern panjang lebar.


"Aku sudah memaafkan sebelum kalian datang ke sini" ucap Ana sambil tersenyum.


Albern menghela nafas pelan "Sungguh baik hatimu, pantas saja kedua putraku begitu menyukaimu" ucap Albern.


"Karena istriku telah memaafkan kalian, itu artinya urusan kalian kesini sudah selesai bukan?, karena kita tidak punya banyak waktu untuk menggurus hal-hal seperti ini" ucap Arsenio.


"Mas!" Ana menatap tajam Arsenio namun tidak di pedulikan oleh Arsenio.


"Ya kami tahu itu, kami pamit pergi maaf telah mengganggu waktunya" ucap Albern seraya bangkit dari duduknya dan langsung di ikuti oleh Roby.


"Maafkan suami saya, jangan di masukin di hati apa yang dia katakan" ucap Ana.


"Tentu saja" jawab Albern dan Roby bersamaan.


Keduanya pun berpamitan lalu pergi.


Sementara Ana, Arsenio dan Alvis bergegas masuk ke dalam mobil.


Deru kendaraan membawah mereka menjauh dari pekarangan rumah mereka dan akan menuju kediaman keluarga Saguna.


"Mas" pangil Ana.


"Hmm"


"Lain kali, mas nggak boleh bersikap seperti itu pada Roby dan juga pak Albern bagaimana pun kesalahan mereka dahulu, mereka tetaplah ayah dan juga saudaramu jadi alangka baiknya mas bersikap baiklah pada mereka" ucap Ana.


"Mana bisa aku seperti itu setelah apa yang mereka lakukan kepadaku dan kepadamu. Tidak semuda itu melupakan perbutan mereka" ucap Arsenio.


"Mas, hidup kita nggak akan bahagia jika terus memendam rasa benci dihati kita" ucap Ana, sementara Arsenio diam tak lagi merespon ucapan istrinya.


Di waktu yang sama tampak Rangga duduk di sofa dengan pandangan fokus pada ponselnya.


"Sayang..." pagil Rangga.


"Iya sebentar, dikit lagi selesai" sahut Kana dari dalam kamar.


Setelah beberapa menit, Kana pun keluar dari kamar dengan dress berwarna biru dengan panjang selutut.


Suara pintu membuat Rangga segera menoleh ke arah suara.


"Saya sudah selesai, sekarang waktunya berangkat" ucap Kana seraya menarik koper.


Rangga terdiam dengan susah paya menelan salivanya, pandanganya lurus menatap Kana yang nampak cantik dengan sedikit polesan make up di wajahnya.


"Wah, kenapa baru akhir-akhir ini aku menyadari betapa cantiknya dia?, kenapa nggak dari dulu" batin Rangga.


"Mas ayo, nanti telat loh" ucap Kana yang berhasil menyadarkan Rangga dari lamunannya.


"Ah iya, kita berangkat sekarang" Rangga bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Kana dan menggambil koper dari tangan istrinya.


Keduanya sama-sama berjalan keluar dan masuk ke dalam lift. Liff bergerak turun ke lantai bawah.


Beberapa menit kemudian lift berhenti bergerak dan pintu lift kembali terbuka. Rangga lebih dulu keluar dari lift dan mengulurkan tanganya ke arah Kana.


"Kunci mobil ya?, aku nggak memegangnya" ucap Kana.


"Bukan itu" ujar Rangga yang membuat Kana menyeringitkan dahi binggung.


"Kalau bukan itu lalu apa?" tanya Kana.


"Tanganmu" ucap Rangga. Mendengar itu Kana perlahan menggangkat tangan Kanannya lalu meletakan ke atas telapak tangan Rangga.


Rangga pun menggengamnya lalu melanjutkan langkahnya.


"Mas, malu dilihatin banyak orang" ucap Kana di selah-selah langkah mereka.


"Anggap saja mereka tidak melihatnya" ucap Rangga asal.


"Hmm, bagaimana bisa begitu?, jelas-jelas aku melihat mereka terus menatap kami terus kamu menyuruhku untuk berpura-pura tidak mengetahuinya😑" gumam Kana dalam hati.


Setelah sampai di mobil, Rangga meletakan kopernya ke dalam bagasi dan keduanya bersamaan masuk ke mobil.


Mobil yang di kendarai Rangga melaju keluar dari halamn apartment dan akan segera menuju bandara.