My Love Story

My Love Story
Bab 77



Keesokan harinya, seperti yang telah Kana janjikan, mengajak Alvis jalan-jalan akhirnya di tepati oleh Kana. Kana dan Alvis tampak bersiap-siap untuk berangat.


"Kamu jangan nakal ya!, dengar apa kata aunt" ucap Ana pada putrannya.


"Yes mommy" jawab Avis.


"Kana hati-hati ya bawa mobilnya, segera kabari kami jika terjadi sesuatu!" ucap Rany.


"Iya tante. Oh iya An, kamu yakin ngak mau ikut?" Ana mengeleng "Ngak, aku mau temani mama dirumah, aku masih merindukannya" jawab Ana sambil tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu kita pamit" ucap Kana sambil memegang tangan Alvis yang telah siap untuk pergi jalan-jalan.


"Iya kalian hati-hati" ucap Ana dan Rany hampir bersamaan.


Kana dan Alvis pun berjalan menuju mobi, setelah sampai Kana membantu Alvis masuk ke dalam mobil, setelah itu Kana berjalan mengintari mobil lalu masuk dan duduk di depan kemudi.


Kana menyalakan mesin mobil lalu menatap Alvis dari samping "Siap berangkat?" Alvis mengangguk " Jum berangkat" ujar Alvis bersemangat.


Deru kendaraan membawa mereka menjauh dari halaman rumah "Keponakan aunt mau kemana?" tanya Kana sesekali melirik Alvis.


"Hmm, kemana ya?" Alvis tampak berpikir.


"Bagaimana kalau pergi ke mall?" Kana mengerutkan dahi "Ke mall?" Alvis


menggangguk "Ya, Alvis mau nonton di layar yang besar" jawab Avis sambil mempraktekan bagaimana besarnya layar bioskop.


"Alvis yakin mau nonton saja ngak mau ke taman bermain gitu?" tanya Kana.


"Ya aku yakin, mommy sangat jarang mengajakku nonton jadi sekarang aku mau ajak aunt nonton" jelas Alvis.


"Ya sudah, kita pergi ke mall dan nonton di layar besar" ucap Kana mengiakan keinginan keponakannya.


"Asik..... sayang aunt" ucap Alvis.


Kana pun tersenyum mendengar ucapan Alvis.


Kana kembali fokus mengemudi, melewati ramainya jalan pagi itu. Setelah cukup lama di perjalanan mereka pun sampai.


Kana mengengam tangan Alvis dan bersama-sama masuk ke dalam mall. Memilih film yang akan di tonton, membeli tiket dan masuk ke dalam bioskop.


Satu jam telah berlalu, Alvis dan Kana tampak keluar dari bioskop.


"Wih, filmnya bagus aku suka" ucap Alvis.


"Baguslah kalau kamu suka, lain kali tante akan mengajakmu lagi" Alvis mengangkat kepalanya agar bisa menatap wajah Kana.


"Benarkah? Aunt akan mengajak aku lagi"


"Iya sayang. Nah sekarang Alvis mau kemana lagi?" tanya Kana.


Alvis diam, dia tampak berpikir Kana yang melihat itu pun tersenyum.


"Bagaimana kalau kita pergi mengunjungi moseeum?" ucap Alvis. "Ha moseeum?" ucap Kana tak percaya.


"Ya, kalau perlu kita kunjungi semua mosseum yang ada di kota ini" ucap Alvis.


Kana mengerutkan dahi binggung "Senarnya dia anak-anak apa bukan sih?, jalan-jalan maunya ke mosseum, kan dia bisa minta pergi ke taman bermai, kebun binatang atau tempat-tempat lainnya, Eh malah mintanya pergi ke moseeum" pikir Kana.


"Aunt, kita jadi kan pergi ke mosseum?" tanya Avis yang berhasil menyadarkan Kana dari lamunannya.


"Alvis ngak mau pergi ke taman bermain atau kebun binatang?" Alvis mengeleng "Aku ngak suka!, maunya ke mosseum saja" jawab Avis.


Kana menghelah nafas panjang "Ya udah ayo kita pergi" akhirnya Kana menurutinya.


"Sayang..... aunt" ucap Alvis sementara Kana hanya bisa tersenyum.


Mereka pun kembali masuk ke dalam mobil, Kana membuka ponselnya mencari mosseum yang terdekat, setelah berhasil menemukannya Kana menyalakan mesin mobil, mobil melaju menuju mossseum.


Karena Kana mencari mosseum yang terdekat, tidak perlu membutukan waktu lama mereka pun sampai.


Keduanya masuk ke dalam mosseum, Kana terus menatap Alvis yang terlihat senang, Kana pun ikut senang melihatnya, terus berjalan mengikuti setiap langkah Alvis.


Setelah cukup lama mereka di dalam, akhirnya Alvis memutuskan untuk pulang.


"Aunt.. " pangil Alvis .


"Iya sayang" ucap Kana sambil berjongkok di depan Alvis.


"Aku mau itu boleh?" Kana yang mendengarnya pun melihat mengikuti arah yang di tunjuk Alvis.


Sebuah tokoh yang menjual berbagai macam jenis es krim "Boleh, ayo belanja sebanyak-banyaknya" ucap Kana sambil tersenyum.


"Asikk, aunt memang baik" keduanya pun berjalan menuju tokoh itu. Membeli semua yang di tunjuk oleh Alvis.


"Tunggu sebentar ya, aunt mau bayar dulu!" ucap Kana pada Alvis. "Aku tunggu aunt di sini" ucap Alvis.


Kana pun berjalan menuju kasir.


"Hay dek" sapa seseorang.


Alvis menatapnya dingin "Mau ngapain?"


"Mau ngak beli ek krim di sebelah sana?, disana es krimnya enak-enak loh" ucap pria itu.


"Kata mommy aku ngak bisa ikut bersama orang yang tidak di kenal" Alvis dengan mode dinginnya. "Saya itu teman aunt kamu, tadi saya sudah meminta izin kepadanya dan dia mengizinkannya loh, bagaimana mau ikut ngak? "


"Jika sudah mendapat izin tentu saja aku mau" ucap Alvis "Bagus anak yang pintar" ucap pria itu lalu memeluknya dan membawahnya menuju mobil.


"Eh mba, anaknya sudah dibawah orang" ucap salah satu pegawai di tokoh itu.


Kana yang mendengarnya pun segerah menoleh ke belakang, Dia pun terkejut saat melihat Alvis di bawah masuk ke dalam mobil.


"Pak.... tunggu!, jangan di bawah pergi!" Kana berlari mengejar mobil yang membawa Alvis.


"Pak berhenti!...jangan di bawah dia" teriak Kana terus berusaha mengejar mobil.


Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi, hal itu membuat Kana tertinggal jauh.


"Aduh bagaiamana ini?, aku harus ngapain?" ucap Kana panik.


"Ana.. ya benar. Aku harus telfon Ana sekarang" Kana mengeluarkan ponselnya lalu menelfon Ana.


📞"Halo Na" ucap Ana setelah sambungan telefon terhubung.


📞"Ana maafkan aku" ucap Kana dengan nafas memburu.


📞"Maaf untuk apa?"


📞"Alvis An


📞"Alvis kenapa?, tolong tenang dan bicaralah yang jelas!"


📞"Alvis di bawah pergi"


📞"Di bawah pergi?"


📞"Iya An, maaf"


📞"Baik kamu tidak tenang dulu, terus jemput aku kita cari sama-sama!"


📞"Ok An" jawab Kana.


Sambungan telefon pun terputus, Kana berjalan menuju mobilnya.


Di dalam mobil


Dering ponsel memecahkan keheningan, pria itu segera mengambil ponselnya mengaktifkan Bluetooth dan menarima pangilan dengan handspfree di telingganya.


📞"Apakah kamu berhasil?" tanya seseorang dari seberang.


📞"Ya saya berhasil, sekarang saya bersama anak itu"


📞"Bagus, bawah dia sekarang!"


📞"Baik"


Sambungan telefon pun berakhir, pria itu tampak fokus memudi.


"Permisi... " ucap Alvis membuka suara, pria itu segera melirik kearahnya.


"Aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Alvis dengan mode dinginnya.


"Terserah" jawab pria itu "Baiklah aku akan memangilmu dengan sebutan uncle" ucap Alvis lagi.


Pria itu diam dan tatapannya fokus ke depan.


"Uncle... " pagil Alvis.


"Hmm"


"Apakah aku boleh bertanya?" Alvis menatap pria itu "Silakan!"


"Apakah uncle sedang menculikku?" tanya Alvis tenang.


"Biasa-bisanya anak ini tenang dan masih mau bertanya. Ya kamu sekarang memang sedang di culik, apa sekarang baru kamu menyadarinya? " pikir pria itu.


"Bisa di bilang seperti itu" Alvis diam untuk beberapa menit sebelum kembali berbicara.


"Kenapa bapak melihatku seperti itu? tanya Alvis.


"Kamu tenap tenang ya walau sudah tahu kalau kamu sedang di culik" ucap pria itu.


"Tentu saja aku tenang, orang yang menculikku tampan" jawab Avis diluar dugaan pria itu.


"Uncle, benar-benar tampan, mommy ku juga cantik"


"Perasaanku mulai tidak enak nih" batin pria itu.


"Bagaimana kalau unle menikah dengan mommy ku?, pasti sangat cocok"


"Jangan mengada-ngada!, aku masih ingin hidup seribu tahun lagi" pikir pria itu.


"Sudah kamu duduk baik-baik dan diam!" ucap pria itu.


"Unle ngak mau ya menikah dengan mommyku?, dia sangat cantik loh. Jika uncle melihat mama, pasti uncel menyesal jika tidak mau menikah dengan mama saking cantiknya mommyku" lanjut Alvis.


"Justru aku paling senang tidak menikah dengan mommymu, karena aku bisa hidup lebih lama lagi" batin pria itu.