My Love Story

My Love Story
Bab 107



Gibran melepaskan tangan istrinya, yang sedari tadi terus menggandeng tanganya.


"Mau kemana pa?" Rany menatap suaminya.


Sarah dan Nicholas yang ikut mendengarnya pun menoleh ke arah mereka.


"Ya mau nyamperin Ana, memangnya mau ke mana lagi?" ucap Gibran lalu berjalan menghampiri putrinya.


"Tapi pa... "


"Udah biarin aja, toh dia hanya ingin menghampiri putrinya, bukan mau cari wanita lain pun" ucap Sarah dengan pandangan tertuju pada menantunya.


"Mama..!, mama sengaja kan bilang begitu?, biar apa coba ngomong gitu?, mau manas-manasin aku ya?" ucap Alin yang membuat Rany dan lainnya ikut melihat kearahnya.


"Ssttttt🤫, bisa diam ngak sih?. Ini tuh rumah sakit, dan Ana tuh lagi sakit loh, kalau mau berisik sana di luar" ucap Nicholas.


Sarah terkejut mendengar ucapan yang di lontarkan suaminya sementara Alin mendengus kesal.


"Ngak salah dengar aku?" pikir Sarah masih menatap suaminya tak percaya.


"Is, apa-apan sih pa, bukannya membelaku eh malah memarahiku" gerutu Alin dengan raut wajah cemberut.


"Sayang...." Gibran memeluk Ana.


"Gimana, udah merasa baikan?" tanya Gibran dengan posisi masih memeluk Ana.


"Aku sudah meresa mendingan dari hari-hari sesudahnya" sahut Ana yang juga ikut memeluk ayahnya.


"Maafkan papa, papa ngak bisa menjagamu dengan baik" ucap Gibran melepaskan pelukannya dab berganti menatap putrinya.


Ana meraih tangan ayahnya mengengamnya dan menatap lurus wajah ayahnya "Ini bukan salah papa dan juga bukan salah siapa-siapa, ini memang sudah takdirku" ucap Ana.


Gibran tersenyum dan menepuk lembut pucuk kepala putrinya. Sementara dari jarak yang tidak begitu jauh tampak Rany menatap tajam kearah Ana, tidak lebih tepatnya kearah mantan suaminya.


"Selama Ana kecil kemana saja kamu?, Giliran sudah besar, baru datang😏. Terus bertindak seolah-olah dia sosok ayah yang bertanggung jawab" pikir Rany dengan kedua tanganya di libat di depan dada.


Kini giliran Arsenio yang berjakan menghampiri Ana, sebelum itu ia menatap satu-persatu orang-orang yang berada di dalam, berharap mereka memberinya sedikit waktu untuk ngobrol dengan Ana.


Dan benar saja, Sarah dan Gibran pun mengerti arti tatapan Arsenio pada mereka.


"Ehem, sebaiknya kita tunggu diluar, beri mereka waktu" ucap Gibran.


Rany yang mendengarnya menoleh menatap mantan suaminya "Ngak!. Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, toh mereka akan berpisah juga" ucap Alin.


"Sepertinya aku setuju dengan Gibran, biarkan mereka ngobrol berdua. Kita sebaiknya keluar!" ucap Nicholas lalu bergerak menuju pintu.


Sarah diam sejenak, berusaha mencerna keadaan bahwa hari ini sikap suaminya berbeda dari biasanya.


"Benar Ran, sekalipun mereka nantinya akan pisah, tapi meraka kan masih punya waktu untuk ngobrol selayaknya sepasang suami istri" ucap Sarah berjalan menghampiri Rany.


Disaat yang sama Rangga kembali masuk namun hanya berdiri di belakang pintu.


"Plis beri mereka waktu untuk bicara, jagan lama 30 menit saja, aku rasa sudah cukup" lanjut Sarah.


Rany mengehela nafas panjang "Baiklah, hanya 30 menit ngak lebih dari itu!" Rany meraih tasnya dan beranjak keluar.


Melihat itu Sarah dan yang lainnya pun ikut keluar, Rangga yang hendak menyusul yang lainnya pun kembali menoleh ke belakang, menatap Ana yang terus menahan tangan sahabatnya agar tidak ikut keluar.


"Kamu dan Alvis tetap disini dan jangan kemana-mana!" ucap Ana.


"Tapi An"


"Udah, kali ini nurut aja!" ucap Ana sebelum Kana menyelesaikan ucapannya.


Melihat itu Rangga segera berjalan menghampiri mereka hal itu membuat Ana, Arsenio, Alvis dan Kana menatap kearahnya.


"Kita perlu bicara!" ucap Rangga berdiri di depan Kana.


Kana mengerutkan dahi binggung "Ma... mau bicara denganku?" tanya Kana dengan jari telunjuknya menunjuk ke arahnya.


Rangga menggangguk "Maaf nona, saya pinjam sebentar teman nona" Rangga berganti menatap Ana.


Sebelum Ana menjawabnya Rangga telah memegang tangan kanan Kana dan mengajaknya berdiri dari duduknya.


"Terima kasih nona, sudah mengizinkan saya bicara dengan teman nona" ucap Rangga.


Rangga kembali berjalan dengan terus memegang tangan Kana, sementara Kana yang masih binggung hanya bisa ikut saja.


"Sepertinya saya melupakan sesuatu. kamu tunggu sebentar!" ucap Rangga lalu kembali menghampirir Ana dan Arsenio.


"Sepertinya saya melupakan sesuatu tuan" ucap Rangga.


Arsenio mengerutkan dahi binggung "Melupakan apa?"


"Saya lupa untuk meminjam Alvis sekalian" sahut Rangga.


"Ooo mau pinjam Alvis ya?"


"Benar tuan"


"Ngak!, Aku tidak mengizinkanmu membawahnya" ucap Ana.


Namun Rangga seakan tidak mendengar ucapan Ana ia malah tersenyum ke arah Alvis.


"Alvis mau ikut kan?" ucap Rangga sambil mengedipkan sebelah matanya.


Tampa basa-basi Alvis langsung berdiri dari duduknya.


"Eh mau kemana sayang?" Ana berusaha menahan Alvis.


"Maaf mommy, sepertinya aku harus ikut bersama uncle" ucap Alvis lalu memeluk Rangga.


"Uncle?" pikir Ana binggung.


Sementara Arsenio diam-diam tersenyum melihat kerja asistenya itu.


"Anak pintar" Rangga berjalan keluar begitu saja membawa Alvis dan Kana bersamannya.


Sementara Ana terlihat binggung mengaruk kepalannya yang tidak terasa gatal.


"Sejak kapan Kana dan Alvis seakrab itu sama manusia es itu" gumam Ana dalam hati dengan tatapan masih tertuju pada pintu.


Arsenio yang melihat itu meletakan kedua tanganya masing-masing di pipi kiri dan kanan Ana dan mengarahkan wajah Ana agar melihat kearahnya.


"Jangan di lihatin terus, aku cemburu loh!" ucap Arsenio dengan mode serius.


"Jangan ngacoh deh" ucap Ana sambil melepaskan tangan Arsenio dari kedua pipinya.


"Ngaco gimana?, aku selalu serius dengan ucapanku" ucap Arsenio berusaha meyakinkan istrinya.


Ana diam, memalingkan pandanganya, memilih menatap dinding dengan cat berwarna biru.


Arsenio pemposisikan dirinya duduk tepat di depan Ana, meraih tangan istrinya lalu mengecup lembut punggung tangannya.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Arsenio dengan suara lembut.


Ana menarik tangannya dengan arah tatapan yang masih sama "Langsung ke intinya saja!" ucap Ana.


"Baiklah, tapi kamu jangan natap dinding itu terus!, aku bisa saja menghancurkan dinding itu karena kamu memilih menatapnya daripada menatapku" ucap Arsenio.


Ana berbalik menatap Arsenio "Kamu sudah gila ya?, dinding itu ngak ada salahnya ngapain dihancurkan? "


"Setelah aku pikir-pikir, aku memang gila" ucap Arsenio sementara Ana mengerutkan dahi binggung.


Arsenio menatap lekat wajah istrinya "Aku gila karena kamu, kamu bayanganmu terus saja menghantui pikiranku mendorongku agar segera bertemu dengamu" ucap Arsenio.


"Aku gila karena kamu" hanya kata itu yang terdengar di telingga Ana, kata itu terus tergiang di kepalanya.


Ana memejamkan matanya menggunakan tanganya sebagai penutup kedua telingganya.


Melihat itu seketika raut wajah Arsenio berubah.


"Tidak... Tidak" Ana terus mengulangi kata yang sama sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Sayang, sayang kamu kenapa?" tanya Arsenio yang terlihat panik. Sementara Ana tidak meeesponya namun terus menggulangi kata-kata tidak secara terus menerus.


Arsenio yang tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya memilih menarik Ana ke dalam pelukannya. Arsenio memeluknya dengan lembut, sambil menepuk pelan bahu punggung istrinya.


"Ngak apa-apa sayang, aku ada disini. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu" ucap Arsenio berusaha menenangkan Ana.


Sepuluh menit telah berlalu, Ana masih dengan kondisi yang sama namun saat ini kedua tanganya memeluk erat pinggang suaminya dan menengelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Sementara Arsenio tak henti-hentinya berusaha menenangkan istrinya.