My Love Story

My Love Story
Bab 160



Jarum jam sudah menunjukan pukul 15.00, tampak Rangga, Arsenio, Kana dan Ana bersiap-siap berangkat ke salah satu tempat wisata pantai yang sanggat terkenal keindahannya di kota itu.


Deru kendaraan membawa mereka menjauh dari halaman hotel, terus melaju melewati ramainya jalan sore itu.


Ponsel Ana berdering, membuatnya segera mengeluarkan ponselnya dari tas.


"Siapa?" tanya Arsenio.


Ana menatap layar ponselnya sebelum menatap suaminya "Pak Surya mas, melakukan pangilan video. Sepertinya anak kita mau bicara" sahut Ana.


"Ayo angkat An, aku mau lihat keponakanku!" pinta Kana bersemangat.


"Nih aku anggkat sekarang" ucap Ana seraya menekan tombol hijau.


๐Ÿ“ฑ" Hay sayang" sapa Ana dan Kana bersamaan.


๐Ÿ“ฑ"Hay mommy, hay aunty" balas Alvis dari seberang.


๐Ÿ“ฑ"Bagaimana kabarmu sayang?, baik-baik saja kan?" tanya Kana.


๐Ÿ“ฑ"Tentu saja baik, dini oma selalu menuruti apa keinginanku, tapi ada yang tidak bisa di turuti" ucap Alvis dengan wajah cemberut hal itu membuat Kana gemas ingin mencubit pipinya.


๐Ÿ“ฑ"Apa itu sayang?" tanya Ana.


๐Ÿ“ฑ"Tuh, kedua bapak itu masih saja terus mengikutiku๐Ÿ˜‘, walaupun aku sudah meminta oma untuk meberitahukan mereka untuk membiarkan saja aku main sendiri" ucap Alvis seraya mengarahkan ponsel kearah pak Surya dan Pak Benito.


Kana dan Ana pun tersenyum


๐Ÿ“ฑ"Tentu saja mereka harus ikut, itu demi ke selamatan kamu. Mommy khawatir jika kamu main sendiri tanpa pengawasan" jelas Ana.


๐Ÿ“ฑ"Iya mommy aku tahu. Untung mereka baik sama aku. Jika tidak, Alvis sudah suruh daddy bawah mereka pergi jauh-jauh" ucap Alvis.


๐Ÿ“ฑ"Oh iya, ngomong-ngomong tentang daddy. Daddy dan uncle mana?, kok nggak bareng mommy sama aunty?" lanjut Alvis.


๐Ÿ“ฑ"Ada kok, tuh mereka ada di sebelah sana" ucap Ana seraya memberikan ponselnya pada Arsenio.


๐Ÿ“ฑ"Hay sayang" sapa Arsenio dan Rangga hampir bersamaan.


๐Ÿ“ฑ"Hay daddy hay uncle. Gimana liburannya seruh nggak?" ucap Alvis.


๐Ÿ“ฑ"Tentu saja seruh, kamu sih nggak mau ikut" jawab Rangga.


๐Ÿ“ฑ"Benar tuh kana uncle" sambung Arsenio.


๐Ÿ“ฑ"Hmm, nggak boleh. Aku kan harus sekolah, tapi aku harus punya hadiah kalau daddy dan uncle pulang dari liburan kalau nggak ada hadianya aku bisa marah loh" ujar Alvis yang sontak membuat semua orang tertawa termasuk supir.


๐Ÿ“ฑ"Aku serius loh dengan ucapanku๐Ÿ˜‘" lanjut Alvis.


๐Ÿ“ฑ"Iya sayang, iya. Daddy dan uncle janji akan bawah hadiah untukmu, benarkan Rangga?" Rangga menggangguk.


๐Ÿ“ฑ"Ya, uncle akan bawahkan hadiah untukmu, tapi hadiah apakah itu?" tanya Rangga.


๐Ÿ“ฑ"Ya, kamu mau minta hadia apa sama daddy dan uncle?" lanjut Arsenio.


๐Ÿ“ฑ"Hmm, apa ya...?" ucap Alvis tampak berpikir.


๐Ÿ“ฑ"Nah, aku ingat. Oma pernah bilang itu"


Rangga dan Arsenio menyeringitkan dahi binggung.


๐Ÿ“ฑ"Memanggnya apa kata oma?" tanya Ana yang juga ikut mendengar obrolan mereka.


๐Ÿ“ฑ"Kata oma, mommy, aunty dan Daddy pergi liburan agar aku segerah punya adik. Nah, aku ingin hadiahnya itu seperti yang di katakan oma" jelas Alvis.


Sontak membuat Ana dan Kana mengelengkan kepala, namun tidak dengan Rangga dan juga Arsenio.


๐Ÿ“ฑ"Tentu saja sayang, daddy akan pastikan ketika pulang dari disini akan membawahkan adik buat kamu"


๐Ÿ“ฑ"Ya, uncle, juga begitu akan membawahkan adik buatmu" lanjut Rangga.


๐Ÿ“ฑ"Yes, aku punya dua adik sekali gus. Pak, bapak dengar kan kata daddy dan uncle barusan?" ucap Alvis bersemangat sambil menatap Pak Surya dan Pak Benito yang berdiri di dekatnya.


"Ya, kami mendengarnya" jawab keduanya seraya tersenyum.


Sementara Alvis tampak kembali menatap ponsel.


๐Ÿ“ฑ"Udah dulu ya, ingat cepat pulang terus bawah adik buatku" ucapnya.


๐Ÿ“ฑ"Siap sayang" ucap Rangga dan Arsenio bersamaan.


Kana dan Ana "๐Ÿ˜ฅ"


Sambungan telefon pun terputus, Rangga dan Arsenio menoleh menatap masing-masing istrinya.


"Sudah dengar kan, hadiah apa yang harus di bawah pulang?" ucap keduanya secara bersamaan.


"Kalian sih, nggpain mengiakan permintaan nggaco seperti itu?. Buat anak seperti buat kue aja bagi kalian๐Ÿ™„" ucap Ana.


"Tenang sayang, kami ini laki-laki sehat. Sekali jos langsung jadi. Iya kan?" Arsenio menatap Rangga.


"Ya, tentu saja" jawabnya membuat kedua wanita itu merinding.


Mobil terus melaju dan berhenti setelah sampai. Keempatnya pun segera menuju tempat inti wisata yaitu pantai yang terlihat sanggat indah.


Keempatnya sama-sama menikmati indahnya matahari terbenam sambil mencicipi beberapa cemilan pesanan mereka.


Setelah merasa cukup, keempatnya pun kembali ke hotel untuk istirahat dan akan membali mengunjungi tempat wisata lainnya esok hari.


**


Dua minggu telah berlalu, selama itu pula keempatnya menikmati hari-hari bersama pasangannya masing-masing.


Di hotel


Tampak Kana merapikan pakaian dan memasukannya ke dalam koper. Ya hari ini hari dimana waktunya mereka pulang.


"Sayang" pangil Rangga.


"Hmm" sahutnya seraya menoleh menatap suaminya.


"Apa kamu sudah pakai test pack yang aku belikan untukmu?" tanya Rangga.


"Belum" sahut Kana lalu kembali memasukan beberapa pakaian di dalam koper.


"Kenapa belum?" tanya Rangga.


"Menurutku masih terlalu cepat untuk melakukan test pack. Kamu tahu sendiri kami baru beberapa kali melakukan itu, nggak mungkin kan langsung hamil. Kamu sih pakai nurutin permintaan Alvis kenapa nggak hadiah lain aja" ucap Kana sambil menutup koper setelah selesai memasukan semua pakaian.


"Kalau Ana dan Arsenio kan sudah lama, jadi nggak heran jika Ana cepat hamil" lanjut Kana.


Ya seminggu yang lalu Kana, Rangga, dan Arsenio dikejutkan oleh berita kehamilan Ana. Keempatnya tampak senang mendengar kabar baik itu.


Rangga membuang nafas pelan seraya memegang tangan istrinya "Maafkan aku, maafkan aku karena terburu-buru mengingginkan buah hati sampai lupa kalau kita baju saja menikah" ucap Rangga.


Kana memeluk Rangga "Tidak perlu minta maaf, tidak perlu berkecil hati. Kita masih punya banyak waktu untuk memberikan hadiah pada Alvis" ucap Kana.


Singkat cerita, keempatnya pun menuju bandara dan langsung melakukan check-in setelah sampai.


30 menit kemudian, pesawat pun lepas landas dan akan terbang menuju kota tujuan.


Setelah hampir satu jam perjalanan, pesawat yang di tumpanggi Rangga, Arsenio, Kana dan Ana pun sampai. Keempatnya bergegas keluar dan akan menuju mobil.


"Kana.. " pangil Ana.


"Hmm" jawabnya.


"Kalian langsung ke rumah ya?, aku dan Arsenio lagi buat acara kecil-kecilan di rumah" ucap Ana pada Rangga dan juga Kana.


"Benar, kalian harus ikut bersama kami. Dan kalian tidak di izinkan untuk pulang!. untuk malam ini kalian menginap dirumah kami" lanjut Arsenio.


Kana menoleh menatap suaminya "Bagaimana mas?" tanyanya.


"Aku mah ngikut kamu" jawabnya.


"Benarkah?" Rangga menggangguk. "Baiklah kita ikut" ucap Kana pada Ana dan juga Arsenio.


"Ya udah ayo!, tuh mobilnya sudah sampai" ujar Arsenio seraya menunjuk mobil yang di maksudnya.


Keempatnya pun masuk ke dalam mobil dan mobil melaju menuju kediaman Ana dan juga Arsenio.


Beberapa menit kemudian mereka pun sampai, keempatnya langsung di sambut oleh keluarga saguna yang memang sudah menunggu mereka di sana.


"Mommy" Alvis berlari memeluk Ana.


"Uduh uduh, anak mommy. Kangen Alvis" ucap Ana seraya membalas pelukan putranya.


"Alvia juga kangen mommy, tapi nggak apa sekarang kan mommy dan daddy sudah pulang" ucapnya sereya melepaskan pelukannya.


"Ayo masuk dulu!, kalian pasti lelah" ucap Rany.


"Benar ayo masuk, sini biar aku yang membawah koper kalian" ucap Gibran.


"Terima Kasih" ucap Rangga dan Kana bersamaan yang langsung di balas dengan senyuman oleh Gibran.


Semuanya kembali masuk dan berkumpul di ruang keluarga.


"Kalian pasti sangat cape dan tentu saja merasa haus. Tuh di minum dulu tehnya, biar nggak masuk anggin" ucap Rany.


"Terima kasih" ucap keemlatnya bersamaan.


"Bagaimana liburannya?, asik nggak?" tanya Alin bergantian menatap Kana, Rangga, Arsenio dan juga Ana.


"Tentu saja ma, sanggat asik, tapi lebih asik lagi jika semuanya ikut biar ramai" jawab Ana membuat semuanya tertawa.


"Mana bisa gitu, kalau kita ikut. Mana sempat punya waktu buat adik untuk Alvis" ucap Sarah.


"Nah, betul itu" lanjut Nicholas.


"Lihat saja, sekarang Alvis sudah punya adik bukan?" lanjut Sarah.


"Tentu saja, daddy dan uncle kan sudah janji ketika pulang nanti Alvis harus punya adik dua" sahut Alvis girang sementara Rangga tampak diam berbeda halnya dengan Kana yang ikut tersenyum sama halnya dengan yang lainnya.


Rangga mengeluarkan sebuah kado lalu di berikannya pada Alvis.


"Ini buat kamu" ucap Rangga.


"Wah, Benar ini buat Alvis?" tanya Alvis tak percaya.


Rangga menggagguk "Ya ini buat Alvis, karena uncle belum bisa memenuhi janji uncle pada Alvis" ucap Rangga.


Semuanya diam, dengan tatapan tertuju pada Rangga.


"Siapa bilang uncle belum bisa memenuhi janji pada Alvis?" ucap Kana semua yang mendengarnya pun melihat ke arah Kana termasuk Rangga.


"Maksud kamu apa?" tanya Rangga.


Kana mengeluarkan sebuah kota kecil lalu memberikannya kepada suaminya.


"Ini hadiahku untukmu, ayo dibuka!" ucap Kana meletakan kotak kecil tepat di atas tangan Rangga.


Semua orang pun ikut penasaran dengan isi kotak kecil tersebut.


"Sekarang?" tanya Rangga. Kana menggangguk "Ya"


Sanggat jelas raut wajah binggung dari Rangga, namun dia tetap mengikuti apa yang di ucapkan istrinya.


Rangga membuka pita kecil yang melingkari kota kecil itu dan terakhir membuka penutup kotak kecil menampakan isi dari kota tersebut.


Rangga membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Sayang, serius ini?" tanya Rangga pada Kana.


"Ya dilihat saja sendiri" ucap Kana sambil tersenyum.


Rangga kembali menatap isi kota, sebuah test pack merupakan isi dari kota kecil itu. Dengan sedikit ragu, Rangga menggambil benda kecil itu lalu dia pun tersenyum.


"Kamu hamil sayang?" ucap Rangga menatap Kana, tangganya gemetar memegang test pack yang menunjukan hasil positif.


Kana menggangguk "Ya, bukankah itu hadiah yang harus kamu berikan pada Alvis?" ucap Kana seraya tersenyum.


Tanpa menunggu lama Rangga langsung memeluk Kana. "Kamu hamil sayang, aku akan jandi seorang ayah. Terima kasih sayang" ucapnya sambil memberikan beberapa kecupan di wajah istrinya sontak semuanya bertepuk tangan, ikut terharu dengan cara Kana memberikan kejutan pada suaminya.


"Sayang sudah dong, malu di lihatin" ucap Kana namun itu tidak di pedulikan olehnya.


Setelah merasa cukup, pandanggan Rangga beralih menatap Alvis lalu segerah memeluknya.


"Alvis, kamu akan segerah punya adik, dua sekaligus" ucap Rangga.


"Yeeeee, asik aku punya adik dua" ucap Alvis girang. Semua yang melihat itu pun tersenyum.


Setelah menurunkan Alvis, Arsenio melangkah mendekati Rangga lalu memeluknya "Selamat ya bro!, selamat sebentar lagi kamu akan menjadi ayah itu artinya tanggung jawabmu sudah semakin besar" ucapnya.


"Ya, terima kasih tuan" ucap Rangga.


Sementara Ana tampak memeluk Kana "Selamat sayang atas kehamilanmu, dan juga selamat atas berhasilnya membuat suamimu murung seharian๐Ÿ˜‚" ucap Ana.


"Ya, ucapan yang sama untukmu" ucap Kana seraya membambalas pelukan sahabatnya.


Selanjutnya ucapan yang sama diberikan kepada Nicholas, Gibran, Alin, Sarah dan Rany pada Rangga dan juga Kana.


Matahari tampak mengendap, perlahan-lahan turun di ujung pantai. Sehingga tampak air yang berwarna biru berangsur-angsur tercampur warna merah dan orange. Langit perlahan mulai gelap, sehingga semua bagunaan harus menggunakan lampu sebagai penerang.


Tampak sebuah ruangan dengan penerangan yang cukup, dekorasi yang terlihat begitu elegant disitulah semua keluarga besar saguna berkumpul merayakan hari bahagia mereka.


Mereka sesekali terlihat tertawa diselah-selah obrolan mereka. Malam yang indah penuh dengan kebahagiaan.


Tamat.


"Hay kak๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‰, Author mengucapkan Terima kasih yang sebanyak-banyaknya๐Ÿ™๐Ÿผ, kepada pembaca yang masih setia membaca hingga episod terakhir dan terima kasih๐Ÿ™๐Ÿผ juga yang sudah mendukung author dalam menulis๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜.