
Kebetulan hanya untuk makan berdua saja," balasku kepada pelayan itu sambil mengembangkan senyuman.
Membelikan makanan sepulang sekolah begini adalah salah satu bentuk perhatianku kepada Akira, tidak jarang juga Akira membawakanku sushi atau makanan yang lainnya. Senang bukan kepalang rasanya, makan satu meja adik semata wayangku. Harus kubenarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya bersumber dari hubungan pacaran.
Sore hari, aku memberanikan diri kembali ke Rumah Sakit. Kali ini, aku tidak ditemani Akira. Seorang diri aku membesuk Hajime. Satu-satunya yang menguatkanku adalah kata-kata Ayumi, bahwa aku harus berusaha memperjuangkan cintaku untuk Hajime apa pun yang terjadi. Paling tidak, sampai Hajime siuman dan dia memberiku penjelasan tentang gadis yang mengaku calon istri Hajime.
Berjalan seorang diri di koridor terbuka rumah sakit ini, pikiranku lebih banyak bertamasya ke masa-masa ketika Hajime masih sehat. Lucu juga kalau mengingat ingat anak itu, sampai-sampai sepasang bibirku ini senyam senyum tidak keruan. Kalau dipikir, aneh juga Hajime kerap kali bertindak irasional hanya demi mendapatkan simpati dariku. Kurang apa Hajime, dia populer di Bunkyo Football Club dan di kalangan gadis-gadis pencinta sepak bola.
Pernah, saat itu pulang sekolah. Hajime menjemputku, namun aku telanjur punya janji sama Ayumi ke toko buku. Alhasil, aku yang merasa paling cantik sedunia setelah Hajime bertekuk lutut mengejar ngejar cintaku.
Di depan teman-temanku, di gerbang sekolah, Hajime yang belum turun dari sepeda motornya kuusir dengan kasar, seolah olah aku sama sekali tidak butuh jemputannya. Kulakukan hal itu semata-mata karena rasa malu di dada ini yang begitu kuat saat Hajime menunjukkan perhatiannya padaku. Tindakannya menjemput di sekolah itu membikin aku risih sendiri.
Sungguh apesnya aku karena dari arah berlawanan, dengan jarak yang tidak seberapa jauh, gadis yang tempo hari mengaku calon istri Hajime, Magie, sedang berjalan ke arahku. Dari jauh, tampaknya Magie masih mengenaliku. Tatapan matanya begitu tajam, seolah sangat membenciku. Sebenarnya aku ingin menghindar, tapi terlambat. Koridor ini adalah koridor terbuka yang menghubungkan gedung kantor rumah sakit dengan gedung perawatan pasien, kanan kirinya adalah kebun rumput yang indah. Tidak ada persimpangan, dan aku harus berpapasan dengan Magie..
"Hei, kau yang membesuk Hajime kemarin, kan?" tegur Magie. Padahal aku pura-pura tidak kenal, dan cara jalanku pun menunduk melipat wajah. Daya ingat Magie cukup bagus ternyata!
"Harus berapa kali kukatakan, akulah calon istri Hajime, jadi tak usah kau mendekati Hajime lagi!" lanjut Magie dengan tatapan mata yang memutih. Sinar kebencian memancar dari sana.
"Nona, kita sama-sama wanita. Tolong jaga perasaan wanita lain. Kau tidak punya dasar menyebutku telah merebut Hajime darimu," kataku kalem. Kuingat kembali kata Ayumi bahwa yang berhak memberi konfirmasi adalah Hajime, bukan orang lain, termasuk gadis bernama Magie ini.
"Kau berani melawanku rupanya!" gertak Magie dengan geram. Tangannya mengepal, siap melayangkan tinju.
"Sebaiknya, kita selesaikan masalah ini setelah Hajime sembuh. Jika memang Hajime merasa tidak nyaman dengan keberadaanku di sisinya, maka aku akan menjauh darinya sejauh mungkin. Namun jika sebaliknya, jika Hajime merasa baik-baik saja saat aku di sisinya, itu berarti kau yang mengaku-aku calon istri Hajime."
"Hei, kau benar-benar kurang ajar!" umpat Magie. Bola bola matanya melotot, urat-urat dahinya melebar, bahkan kedua daun telinganya pun rasa-rasanya ikut terangkat meninggi. Magie benar-benar murka padaku.
"Pukul saja kalau kau berani!" ujarku seraya menyodor kan pipi kanan untuk dipukul. Rupa-rupanya, doktrin dari Ayumi telah membuatku menjelma menjadi wanita hebat yang berani memperjuangkan cinta.
"Ayo pukul!!" tantangku, setelah suasana justru diam membisu.
Magie hanya menurunkan tangan dan tinjunya seraya mendengus kesal. Aku tertawa dalam hati, kali ini aku berhasil. Hmmm, semua berkat doktrin-doktrin Ayumi.
Pada akhirnya, gadis yang mengaku calon istri Hajime itu pun berlalu pergi. Derap langkah sepatunya menjadi satu-satunya bunyi di koridor panjang ini, mirip sekali dengan suara sepatu kuda. Sambil menahan tawa yang tak berkesudahan, aku mengamati sosok Magie hingga ia menghilang di persimpangan ujung koridor ini.
Langkahku kembali terhenti ketika sampai di ujung koridor dan kedua mataku menangkap sosok yang tidak asing bagiku, sosok yang sedang mengintip di jendela kaca ICU. Mengenakan celana jeans warna biru, bersepatu kets putih, serta jaket merah hitam berlogo Manchester United. Sosok pria itu tidak banyak berubah. Hanya saja, tinggi badannya semakin bertambah. Itu pun kalau aku tidak salah menilai. Melihat sosok pria itu, yang terlintas di benakku adalah kenangan bermain salju pada Festival Salju Sapporo. Pria inilah yang pertama kali mengungkapkan rasa cintanya padaku dan aku pun menerimanya dengan malu-malu.
"Tidak mungkin...," desisku, mengingkari kenyataan. Aku tidak percaya pria itu muncul lagi di kehidupanku saat ini, saat aku ingin melupakannya dan memulai hidup yang baru.
"Ka...ma za ki?" desisku lagi sambil menggeleng, mengingkari kenyataan. "Benarkah itu kamu? Kamu sudah kembali ke Tokyo?"
Benar! Tidak salah lagi! Sosok pria itu memang Kamazaki. Ya, tidak salah lagi! Sosok itu adalah Kamazaki. Oh, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar tidak siap bertemu dengannya. Benarkah dunia sesempit ini?
Namun apa boleh buat, aku harus melihat kondisi Hajime dari dekat. Meskipun hanya mengintip lewat jendela kaca, setidaknya kalau aku sudah melihat Hajime masih bertahan, aku sudah cukup lega. Dia begitu juga karena aku. Akulah yang menyebabkan Hajime seperti sekarang ini. Aku pun memantapkan langkah berjalan mendekat ke arah Kamazaki yang berdiri di dekat ruangan tempat Hajime dirawat.
"Kamazaki?" sapaku pada pria berjaket Manchester United. Sepertinya, pria satu ini sangat bangga dengan klub asal Inggris satu ini. "Benarkah kau Kamazaki? Mimpi apa aku semalam sekarang bisa bertemu denganmu lagi. Apa kabarmu, Kamazaki?"
Aku pura-pura baik-baik saja, meski hatiku sangat perih. Maka aku pun bicara dengan nada yang tegar, seolah aku tidak memiliki harapan apa-apa terhadap Kamazaki Aku juga sama sekali tidak menganggap Kamazaki pacarku. Kuanggap tali asmara itu telah lama terputus.
"Ran...??" balas Kamazaki dengan mimik terkejut. Aku yakin dia juga berpikir sama denganku, dunia ini memang sempit!
"K...kenapa kau bisa ada di sini? Siapa yang sakit?" tanya Kamazaki terbata-bata. Kulihat sinar matanya memancarkan sinar penyesalan, atau lebih tepatnya rasa bersalah karena lama meninggalkanku tanpa kabar.
"Ini kan Tokyo, bukan Manchester," jawabku, ber maksud melakukan penyindiran terhadap Kamazaki. "Jadi, wajar jika aku ada di sini. Kalau kau ada di Tokyo, baru itu merupakan keganjilan. Sekarang jawab, kenapa kau berada di Tokyo, bukan di Manchester? Bukannya kau sudah menjadi pemain sepak bola terkenal di sana? Untuk apa kau pulang ke Tokyo?" Kamazaki salah tingkah. Wajahnya memerah, dan kedua matanya tidak berani menatap mataku.
"A...aku" jawab Kamazaki, namun kalimatnya rumpang.
"Kau membesuk Hajime juga?" tanyaku enteng seraya mengintip ke dalam jendela. Hajime masih seperti kemarin, terbaring lemas. "Kau pulang demi membesuk Hajime, tapi tidak pulang demi bermain salju denganku?"
"Hajime?" Bukannya kenal, Kamazaki justru terkejut saat kusebut nama Hajime. "Siapa itu Hajime? Dia pacar kamu?
"Kalau iya memangnya kenapa?" tanyaku dengan pongah. Kusilangkan kedua tangan di depan dada. "Kau pasti Tidak cemburu, karena pemain sepak bola profesional sepertimu tentu banyak diidolakan gadis-gadis cantik di Inggris."
......______________________......
Bersambung~