
Rumah sakit.
Seorang dokter datang dan hendak meraih gagang pintu kamar rawat yang merupakan tempat Ana di rawat. Hal itu tak luput dari pandangan Kana dan juga Rany.
"Dokter" pangil Rany lalu bangkit dari duduknya, sementara doketer tersebut menoleh kearah mereka.
Rany dan Kana pun berjalan menghampirinya "Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter setelah Rany dan Kana sampai.
"Apa saya boleh tahu, anak saya sakit apa?, oh iya anak saya yang dirawat di ruagan ini" ucap Rany.
"Maksud ibu nona Ana?" tanya dokter memastikan.
"Benar dok" sahut Rany.
"Baru-baru ini nona Ana baru saja mengalami peristiwa penculikan, karena peristiwa itu nona Ana mengalami trauma, yang membutuhkan penanganan khusus untuk kesembuhanya" sahut dokter.
"Trauma?" ucap Rany dan Kana tak percaya.
"Benar bu" sahut dokter.
"Apa saya bisa menjenguknya?" tanya Rany.
"Benar dok, izinkan kami untuk menjenguknya" sambung Kana.
"Maaf, untuk saat ini kami belum bisa mengizinkan siapapun untuk menemui nona Ana, mengingat kondisinya saat ini belum stabil, kami akan mengizinkannya jika kondisi nona Ana sudah membaik"
"Tapi dokter, aku ingin bertemu dengan mommy, aku ingin memeluknya erat" ucap Alvis.
Dokter sersenyum mendengar ucapan anak kecil yang di peluk Ana "Anak pintar, mommy masih harus di obati agar cepat sembuh, mau kan kalau mommynya cepat sembuh?"
Alvis mengangguk "Mau dokter"
"Kalau begitu, harus selalu doakan mommynya, biar cepat sembuh terus bisa di jenguk deh" lanjut dokter sambil tersenyum.
"Iya dokter, Alvis pasti doakan agar mommy cepat sembuh" ucap Alvsi.
Mendengar itu doketer menepuk lembut pucuk kepala Alvis "Ia sangat mirip dengan tuan Arsenio"
"Ya ialah dok, kan dia anaknya" pikir Kana.
"Ya udah saya masuk dulu" ucap dokter.
"Iya silakan dok" ucap Kana dan Rany bersamaan.
Dokter kembali meraih daun pintu, memutarnya lalu masuk, sementara Kana, Alvis dan Rany kembali ke tempat duduknya.
Setiap harinya, Rany dan Kana selalu datang ke rumah sakit, namun mereka hanya bisa melihat Ana dari luar dan karena mereka belum juga di izinkan untuk masuk.
Dan begitu juga dengan Arsenio, Arsenio setiap harinya datang ke rumah sakit. Sesekali ia terlihat datang bersama nenek dan juga ayahnya, ya walaupun selalu di suruh pulang oleh mertuanya namun setiap harinya ia terus datang melihat kondisi istrinya.
Satu bulan kemudian.
Tampak dokter keluar dari ruang rawat Ana menatap Rany dan juga Kana yang duduk tak jauh dari pintu ruang rawat. Hal itu membuat Rany dan Kana beranjak dari duduknya dan berjalan menghampirinya.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?, apa kami sudah bisa menemuinya?" tanya Rany berurutan.
"Benar dok, apa kita sudah bisa masuk?" tambah Kana.
Dokter yang mendengarnya pun terseyum, ia bergantian menatap Kana dan juga Rany.
"Alhamdulillah saat ini kondisi nona Ana sudah lumayan membaik" sahut dokter sedikit
menjeda ucapannya.
Rany menghelah nafas lega "Syukurlah, kami senang mendengarnya" ucap Rany.
"Itu Artinya kami sudah bisa masuk?" tanya Kana antusias.
Dokter mengagguk "Tentu, kalian sudah bisa masuk" jawabnya sambil tersenyum.
"Terima kasih dok, terima kasih" ucap Kana dan Rany.
"Tapi... "
"Tapi apa dok?" tanya Rany.
"Untuk sementara waktu tolong hindari percakapan yang nantinya akan mendorong nona Ana untuk mengigat kembali peristiwa yang di alaminya" ucap dokter.
"Kami akan selalu memngingat itu" sahut Rany.
"Tetus sekarang kita sudah bisa masuk?" tanya Kana menunjuk pintu yang ada di depan mereka.
"Iya silakan" sahut dokter.
Kana yang mendengarnya pun tersenyum bahagia, ia berbalik menatap Alvis yang ia tinggal duduk tak jauh dari mereka.
"Alvis sayang ayo sini!, kita mau ketemu mommy" ucap Kana sementara Rany dan dokter pun ikut menatap kearah Alvis.
"Benarkah, Alvis sudah bisa ketemu mommy?" tanya Alvis lalu bangkit dari duduknya.
Kana duduk berjongkok meluruskan kedua tanganya ke depan "Iya sayang, ayo kita Sama-sama masuk"
Alvis yang mendengarnya pun berlari memeluk Kana "Asik sudah bisa ketemu mommy"
"Terima kasih dok, sudah mau merawat mommyku" tatapan Alvis beralih pada dokter.
"Sama-sama sayang. Udah kalian masuk ya, saya mau memeriksa pasien lainnya"
"Iya dok, sekali lagi terima kasih" ucap Rany.
Dokter pun menggangguk dan berlalu pergi.
Sementara Rany Kana dan Alvis sudah tidak sabar ingin bertemu Ana.
Alvis lebih dulu berinisiatif untuk membuka pintu, dan berlari masuk ke dalam dan disusul oleh Kana dan juga Rany.
"Mommy..... " pangil Alvis.
Ana yang mendengarnya segera melihat kearah suara "Alvis sayang, sini sama mommy"
"Hati-hati sayang" ucap Ana.
"Awas jatuh!" ucap Kana yang juga ikut berjalan menghampiri Ana.
"Mommy, Alvis rindu" ucap Alvis sambil memeluk erat ibunya.
"Mommy juga rindu sayang" Ana memeluk erat putranya tampa sadar kedua sudut matanya sudah menganak sungai.
"Kamu jangan pernah tinggalin mommy!, mommy takut kehilangganmu" ucap Ana.
"Maafkan Alvis yang bandel ini, Alvis janji tidak akan pergi-pergi lagi, Alvis akan selalu menjaga mommy tapi dengan satu syarat" ucap Alvis.
"Apa syaratnya?" tanya Ana masih memeluk erat putranya.
"Mommy jangan pernah sakit-sakitan lagi, Alvis ngak mau lihat mommy sakit-sakitan" sahutnya.
"Iy sayang mommy janji"
Rany mendekati Ana menghapus air mata yang membasahi pipinya "Syukurlah keadaanmu sudah membaik, mama sangat khawatir loh" ucap Rany.
Ana melepaskan pelukannya memposisikam Alvis duduk di sampinya, ia berganti menatap lekat wajah ibunya dan di menit kemudia Ana menarik ibunya kedalam pelukannya.
"Maafkan aku ma, aku sudah banyak menyusahkan mama"
"Ngak sayang, mama sama sekali tidak merasa direpotkan" ucap Rany sambil menepuk lembut pundak putrinya.
"Melihatmu sehat seperti ini, itu sudah cukup membuat mama senang" lanjut Rany.
Setelah beberapa menit berpelukan melepas rindu, Rany bergerak sedikit menjauh, memberi ruang pada Kana dan juga Ana.
"Alvis, sini sayang sama oma. Biarkan mommy dan aunt ngobrol" ucap Rany.
Alvis yang mendengarnya menatap ibunya dari samping "Mommy, Alvis pergi sama Oma dulu, ngak apa-apa kan kalau Alvis tinggal?"
Ana menggangguk "Iya sayang, pergilah sama oma dulu"
"Baik mommy" ucap Alvis lalu bergerak turun melewati kursi yang digunakannya saat naik tadi.
Setelah berhasil turun Alvis berjalan menghampiri Rany yang duduk di sofa yang berada tak jauh dari hospital bed, Rany dan Alvis membiarkan Kana dan Ana saling ngobrol Ana sesekali tampak tersenyum mendengar cerita Kana.
Di waktu yang sama, tampak Rangga, Arsenio, Gibran, Nicholas, Sarah dan Alin sedang menghadiri sidang.
Setelah melewati berbagai macam proses peridangan akhiranya sampai pada tahap pembacaan keputusan, Semua orang tampak diam menunggu keputusan dari hakim.
Hakim memerintakan dua orang terdakwa yang tidak lain adalah Clarissa dan Roby untuk berdiri di tempat, selanjutnya hakim melanjutkan dengan mulai membacakan surat putusan.
Setelah 5 menit lebih membaca surat putusan makan Clarissa dan Roby dinyatakan bersalah dengan hukuman masing-masing 10 tahun penjara tanpa bebas bersyarat.
Arsenio menghela nafas lega, setelah mendengar keputusan hakim, bergantian menatap Clarissa dan Roby dengan tatapan puas.
"Semoga dengan keputusan ini, membuat mereka jera dan tidak akan membuat kesalahan yang sama kedepannya" pikir Rangga.
Setelah sidang di tutup, Clarissa dan Roby lebih dulu keluar dengan beberapa orang mengawal mereka, dan disusul oleh orang-orang yang ikut menghadiri sidang.
Arsenio yang melihat itu pun ikut bangkit dari duduknya berjalan keluar yang langsung di susul oleh Rangga.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Arsenio setelag berhasil masuk ke dalam mobil.
"Baik tuan" sahut Rangga lalu melajukan mobil menjauh dari halaman kantor.
Di waktu yang sama pula Sarah, Alin, Gibran dan Nicholas melangkah keluar dan akan menuju mobilnya masing-masing.
"Eh, Arsenionya mana?, udah hilang saja" ucap Sarah sambil melihat kesekeliling berharap bisa menemukan keberadaan cucunya.
"Biasalah mah, pasti pergi menemui istrinya" sahut Gibran.
Sementara Alin dan Nicholas tampak diam, asik dengan pikiranya masing-masing.
"Dasar bodoh!, kenapa begitu mempercayai perempuan licik seperti Clarissa?, aku benar-benar sudah bodoh!" batin Alin menghardik diri sendiri.
"Benar kata istriku, aku sudah salah menilai Ana. Kenapa aku begitu bodoh bembenci seorang gadis yang tidak bersalah?" pikir Nicholas.
"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan?, apakah aku harus meminta maaf padanya?, tapi apa Ana mau memaafkanku. Dan ibunya, apa dia mau menerima Arsenio lagi sebagai menantunya?, ah sakit kepalaku memikirkannya" batin Nicholas.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Sarah yang sedari tadi memperhatikan anaknya dan juga suaminya, sementara Gibran yang mendengarnya pun ikut menatap mereka.
"Aku gak apa-apa ko" sahut Alin dan Nicholas hamir bersamaan.
Sarah menghentikan langkahnya begitu juga dengan yang lainnya.
Alin mengerutkan dahi binggung "Kenapa mama menatap kita seperti itu?" tanya Alin.
"Iya, memangnya ada yang salah dengan cara berpakaian kita?" lanjut Nicholas.
Sarah bergatian menatap wajah putrinya dan juga suaminya "Sepertinya aku melihat aura-aura penyesalan dari wajah kalian berdua. Apa sekarang kalian sudah sadar atas apa yang sudah kalian lakukan pada Ana? menyesal kan kalian sekarang?" ucap Sarah.
Alin dan Nicholas diam, kembali melanjutkan langkah mereka dan masuk ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan Sarah.
Sarah yang melihatnya mumutuskan menatap Gibran dari samping "Ya menyesal lah, masa ngak" ucap Sarah yang akhirnya menjawab pertanyaannya sendiri.
Sementara Gibran yang mendengarnya pun tertawa "Ada-ada saja mertuaku ini😅" pikirnya.
Nicholas menurunkan kaca mobilnya begitu juga dengan Alin "Mau ikut pulang ngak?" ucap Alin dan Nicholas bersamaan.
"Wih, ko bisa samaan gitu?" ucap Sarah bergantian menatap Alin dan suaminya.
"Udah, ayo masuk!" ucap Nicholas dengan suara yang tidak bersahat.
Sarah kembali menoleh menatap menantunya "Gih sana, nanti diomelin" ucapnya lalu berjalan menuju mobil dan masuk.
"Tunggu apa lagi?, ayo masuk!, kalau tidak aku tinggal nih!" ucap Alin.
"Iya... iya ini sudah mau jalan" sahut Gibran.
Kedua mobil pun berjalan keluar dari halaman kantor terus melaju melewati ramainya jalan siang itu.