
Arsenio menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan mengitari mobil lalu ikut masuk ke dalam mobil.
Ardenio melajukan mobil keluar dari halaman sekolah Alvis melewati jalanan yang nampak ramai seperti biasanya.
"Bukannya lagi sibuk ya?, kenapa repot-repot menjemput Alvis" ucap Ana dengan pandangan lurus ke depan.
Arsenio menatap sekilas istrinya sebelum kembali menatap jalan "Sesibuk apapun aku, aku tidak akan melewatkan waktu bersama orang-orang tersayang" ucap Arsenio.
Ana diam, dengan pandangan lurus ke depan "Daddy" pangil Alvis.
"Ya sayang, ada apa?" ucap Arsenio sementara Ana menoleh menatap putranya.
"Aku boleh ngak, pinjam hp daddy. Aku mau main game" ucap Alvis.
"Ngak boleh!" ucap Ana cepat "Hp daddy banyak sekali file-file penting, kamu pakai punya mommy saja"
"Siapa bilang ngak boleh?, kamu bisa ko pakai hp daddy" ucap Arsenio yang membuat Ana menatapnya.
"Benarkah?"
"Iya sayang, nih ambil!" Arsenio memberikan ponselnya pada Alvis yang langsung di terima dengan senang hati oleh Alvis.
"Makasih daddy" ucap Alvis.
"Sama-sama sayang" ucap Arsenio sambil tersenyum.
Tak perlu menunggu lama, Alvis pun mulai memainkan game yang ada di ponsel milik ayahnya.
"Npain dikasih sih?, bagaimana kalau file-file penting mas kehapus oleh Alvis?" Ana menatap Arsenio dari samping.
"Itu bukan masalah yang sulit sayang, kan tinggal buat lagi jika file-filenya terhapus, mudah bukan? " jawab Arsenio santai.
"Ya terserah mas aja, yang penting aku udah ingetin mas" ucap Ana lalu kembali menatap jalan.
Ana tampak mengernyit bingung "Ini bukan jalan menuju rumah, mas sepertinya kamu salah jalan" Ana menoleh ke arah Arsenio yang terlihat santai.
"Apanya yang salah, sudah benar ko jalannya bahkan tadi aku melihat maapss, ngak mungkin aku salah" ujar Arsenio.
"Tapi bukan ini jalannya mas, aku hafal betul jalan pulang ke rumah. Sebaiknya mas putar balik deh sebelum kita semakin jauh" ucap Ana.
"Tenang sayang, kita tidak akan tersesat. Kita akan sampai sebentar lagi" kata Arsenio menatap Ana sejenak lalu kembali menatap jalan.
Ana menghela nafas panjang "Suka-suka kamulah, yang cepek mengemudi kamu bukan aku" pikir Ana.
Dan benar saja apa yang di katakan Arsenio, mobil yang dikendarai Arsenio kini memasuki area perumahan yang tampak asing bagi Ana.
"Mas, kita sebenarnya mau ke mana sih?" tanya Ana lagi.
"Ya mau pulanglah, memangnya mau kemana lagi?" jawab Arsenio.
Arsenio menghentikan mobil tepat di depan pintu pagar dan menunggu pintunya di buka.
Ana yang melihat itu pun mengerutkan dahi bingung "Tapi ini bukan rumah aku" ucap Ana.
Setelah pintu pagar berhasil di buka oleh dua pria yang bertugas di sana, Arsenio kembali menjalankan mobilnya dan berhenti di depan sebuah rumah yang tampak besar dengan dekorasi yang nampak elegant.
"Nah kita sudah sampai. Ayo turun!" ucap Arsenio sambil mematikan mesin mobil.
"Mas" Ana menahan tangan Arsenio yang hendak keluar dari mobil.
"Ada apa sayang?"
"Katakan padaku ini rumah siapa?, terus kita ngapain kesini?" tanya Ana serius.
"Mau tahu ini rumah siapa?" Ana mengganguk "Rumah ini adalah rumah kamu, rumah Alvis, dan rumah aku. Sudah jelas kan?, ayo turun" ucap Arsenio lalu keluar dari mobil.
"Ha?, rumahku, Alvis dan dia?" ucap Ana bengong.
"Ayo sayang, kita sudah sampai" Arsenio memeluk Alvis membawahnya keluar dari mobil.
"Wah... rumah siapa nih daddy?. Besar sekali" ucap Alvis terkejut melihat rumah yang menjulang tinggi di depannya.
"Ayo tebak rumah siapa ini" ujar Arsenio pada putrannya.
"Hmm, rumah kawan daddy?" tebak Alvis, namun Arsenio tampak mengelengkan kepalanya.
"Ow, aku tahu ini rumah uncle yang sering bersama daddy kan?" tebak Alvis lagi.
Arsenio mengelengkan kepalanya lagi "Bukan, dia sudah punya rumah tapi bukan di sini"
"Lah terus rumah ini punya siapa dong?. Bahkan ada banyak mainan disini" ucap Alvis yang memang sedari tadi sudah menyadari beberapa permainan anak-anak seperti seluncuran dan lain-lain yang terletak di halaman rumah tersebut.
"Rumah ini bukan rumah kawan daddy dan juga bukan rumah milik uncle yang kamu maksud, Rumah ini adalah rumah kita" jelas Arsenio.
"Ha rumah kita?" ucap Alvis tak percaya.
Arsenio menggangguk "Ya ini rumah kamu dan mommy, daddy yang membelinya untuk kalian" ujar Arsenio.
"Wah terima kasih daddy, rumahnya sangat besar, ada mainnannya juga"
"Sama-sama sayang, jadi nantinya mommy, daddy dan juga kamu bisa tinggal bersama di rumah ini"
"Asik, akhirnya daddy bisa tinggal serumah dengan aku dan juga mommy. Oh iya daddy, apa Itu mainan aku ya?" kata Alvis sambil menunjuk mainan yang di maksudnya.
"Waaah, daddy aku mau coba mainanya ya?" izin Alvis. Arsenio menggangguk "Silakan sayang" jawab Arsenio.
Tampa menunggu lama Alvis pun berlari menghampiri beberapa mainan yang segaja di belikan Arsenio khusus untuk putranya.
Arsenio manggil dua pria yang sedari tadi berdiri tak jauh darinya.
"Tolong kalian awasi putraku, ingat jangan sampai dia terluka!"
"Baik tuan" sahut kedua pria itu secara bersamaan dan langsung berjalan mendekati area main Alvis.
Alvis tampak senang dan terus mencoba satu persatu permainan di sana dengan pengawasan dua pria yang disuruh oleh Arsenio.
Sementara dari kejauhan ada beberapa petempuan yang kira-kira usianya mendekati kepala empat berdiri menunggu kedatangan mereka.
Arsenio melangkah mengitari mobil lalu membuka pintu mobil dimana hal itu membuat Ana terkejut dan segera menoleh ke arahnya.
"Kenapa belum turun sayang?, kita sudah sampai loh" ucap Arsenio pada istrinya.
"Ayo aku bantu" lanjut Arsenio sambil mengulurkan tanganya yang langsung di raih oleh Ana.
"Kenapa mas melakukan semua ini?" tanya Ana yang kini berdiri tegap menatap rumah yang besar dan menjulang tinggi.
Arsenio pun berjalan mendekati istrinya lalu memeluknya dari belakang. Meletakan dagunya tepat di bahu Ana dengan kedua tanganya melingar full di pinggang Ana.
"Aku sudah berjanji ke padamu akan membuatmu bahagia. Aku akan melakukan apapun, demi kebahagian istri dan anak-anakku" ucap Arsenio.
"Anak-anakku?, kan Anak kita cuman Alvis" ucap Ana menyerigitkan dahi bingung.
Arsenio yang mendengarnya pun tersenyum lalu menjekatkan wajahnya ke telinga Ana sehingga Ana dapat merasakan hembusan nafasnya mengenai telingganya.
"Siapa bilang cuma ada Alvis?, kita kan bisa buat adik-adiknya, Kamu mau berpa? satu, dua, tiga atau empat?. Berapapun itu, dengan senang hati aku akan memenuhinya" bisik Arsenio.
Mendengar itu seketika tubuh Ana merinding dan dengan cepat melepaskan kedua tangan yang melingkar di pingganya.
"Jagan asal ngomong ya mas!, siapa juga yang mau" ucap Ana menoleh menatap suaminya.
"Kamu ngak mau tapi aku mau!" ucap Arsenio.
"Bahkan jika kamu mau, kita bisa membuatnya sekarang!"
"Mas... apa-apaan sih?, malu tahu di dengar orang" ucap Ana kesal. Sementara Arsenio menoleh ke arah yang dimaksud Ana.
"Apa kalian mendengar apa yang aku ucapkan barusan?" tanya Arsenio mode dingin.
Beberapa Art iti segera mengelengkan kepalanya "Kami tidak berani mendengarnya tuan" sahut mereka bersamaan.
Arsenio kembali menatap istrinya "Kamu dengar kan apa yang mereka katakan. Mereka tidak mendengarnya, terus kenapa harus malu? toh mereka tidak mendengarnya"
"Mommy... " pagil Alvis sambil berluncuran sementara Ana dan Arsenio segera melihat ke arahnya.
"Hati-hati sayang!" ucap Ana sedikit berteriak dikarenakan jarak Alvis dengan tempat mereka berdiri cukup jauh.
"Siap mommy" sahut Alvis lalu kembali fokus menikmati beberapa mainan di sana.
Arsenio meletakan tangan kanannya di bahu Ana yang membuatnya segera menoleh ke arahnya.
"Ayo masuk!, aku temani lihat-lihat ke dalam" ucap Arsenio. "Kalau kita masuk terus Alvis gimana?" tanya Ana.
"Ngak perlu khawatir, kamu lihat dua pria yang berdiri disana" Arsenio menunjuk ke arah yang di maksudnya.
"Ya aku melihatnya" jawab Ana sambil menggangguk.
"Mereka yang akan menjaga Alvis. Atau kurang?, kalau kuarang biar aku tambah" ucap Arsenio hendak mengeluarkan ponselnya namun segera di cegah oleh Ana.
"Ngak usah mas, sudah cukup ko dua orang yang menjaganya" ucap Ana.
"Tapi mas yakin mereka bisa menjaga Alvis dengan baik?" tanya Ana yang masih terlihat khawatir.
"Yakin sayang, ayo kita masuk!" Arsenio meraih tangan istrinya lalu secara bersamaan mereka berjalan masuk.
"Selamat siang tuan, selamat siang nyonya" sapa beberapa Art.
Seperti biasanya hanya Analah yang menanggapi sapaan Art.
"Siang" ucap Ana sambil tersenyum.
Sementara Arsenio yang melihatnya pun menghentikan langkahnya lalu menatap Ana dari samping.
"Ada apa?" tanya Ana binggung.
"Kedepannya hanya aku yang bisa melihat senyum itu. Apa kamu mengerti? " ucap Arsenio serius.
"Loh memangnya kenapa?"
"Pokonya aku ngak mengijinkanmu" ucap Arsenio lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan terus mengengam tangan istrinya.
"Memangnya apa yang salah?, jika aku tersenyum" ucap Ana di selah-selah langkahnya.
Arsenio kembali menghentikan langkahnya lalu menatap lekat istrinya "Kamu tahu?, satu kali saja kamu tersenyum itu bisa membuat orang suka sama kamu, termasuk aku. So jangan pernah lakukan itu pada orang lain apalagi sama laki-laki!" ucap Arsenio.
Ana yang mendengarnya terdiam, tidak tahu harus merespon seperti apa, entah merasa senang atau pun marah. keduanya bercampur aduk menjadi satu sehingga sulit di ungkapkan.