My Love Story

My Love Story
Bab 93



Mobil yang di kendarai Rangga berhenti di depan rumah, Rangga tampak lebih dulu keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil buat tuannya.


"Kamu tunggu sebentar aku tidak akan lama!" Arsenio keluar dari mobil dan berjalan masuk.


"Baik tuan" sahut Rangga yang masih dapat didengar oleh Arsenio.


"Dari mana saja kamu?, kenapa baru pulang sekarang?" tanya Nicholas berurutan.


Arsenio menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang menatap kakeknya "Aku banyak urusan" jawabnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Sibuk pergi menemui wanita itu kan?" tebak Nicholas.


"Kalau iya kenapa?, kakek mau marah?" ujar Arsenio kembali menghentikan langkahnya.


"Ngak, kenapa kakek harus marah?" Nicholas balik bertanya.


"Kakek tidak marah?, hmm perasaanku mulai ngak enak nih" pikir Arsenio.


"Sesibuk apapun kamu, besok harus pulang ke rumah!" lanjut Niholas.


"Lihat saja nanti" ucap Arsenio kembali berjalan menuju kamarnya.


Arsenio pulang hanya ingin meredam diri, semua tubuhnya terasa lengket karena sudah dua hari ini belum juga mandi karena sibuk mencari keberadaan istrinya.


Setelah selesai, Arsenio kembali keluar dari kamarnya dan di kejutkan oleh kakeknya yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kamu harus pulang besok!, karena besok adalah hari pernikahanmu dengan Clarissa" ucap Nicholas.


Arsenio membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang di ucapkan kakeknya.


"Kakek dan ibumu telah menyiapkan semuanya dan hari ini patulah yang tinggal dirumah dan jangan kemana-mana apalagi pergi kerja" lanjut Nicholas.


Arsenio mengepalkan kedua tanganya, wajahnya memerah dan rahangnya mengeras.


"Kakek dan juga mama bebar-benar sudah keterlaluan!. Bukankah aku sudah katakan tidak ada pernikahan antara aku dan Clarissa!" pekik Arsenio.


"Aku sudah punya istri kek, aku pikir kakek tahu itu!" lanjut Arsenio.


"Tentu saja kakek tahu, kamu kan bisa menjadikan Clarissa istri kedua" ucap Nicholas santai.


"Tidak!. aku tidak akan menikah dengan Clarissa"


"Kamu harus menikah dengan Clarissa!, semua undangan sudah tersebar jangan buat kaluarga kita malu untuk yang ke sekian kalinya!" bentak Nicholas.


"Kakek ngak mau tahu kamu harus pulang sore atau besok pagi!, karena acara pernikahan kalian akan di laksanakan besok siang" lanjut Nicholas.


Arsenio mengdungus kesal, lalu pergi tampa merespon ucapan kakeknya lagi.


"Kamu harus ingat itu, pulang sore atau besok pagi" teriak Nicholas dari lantai atas.


"Eh sayang kamu sudah pulang ya?" Alin menahan tangan putranya membuatnya berhenti melangkah.


"Mau kemana lagi putra kesayangan mama ini?" lanjut Alin.


Aesenio menatap ibunya lalu melepaskan tanganya ibunya dari tangannya "Mama tidak menyanyangiku!" ucap Arsenio.


Alin mengelengkan kepalanya "Kenapa kamu ngomong seperti itu?"


Arsenio tersenyum sinis "Jika mama menyayangiku, mama tidak akan membuat keputusan bodoh yang paling Arsenio benci" ucapnya lalu berjalan keluar.


"Arsenio... tapi mama lakukan itu demi kebahagiaanmu loh" ucap Alin menyusul Arsenio di luar.


Arsenio berbali "Dan apa yang mama lakukan itu sama sekali tidak membuat aku bahagia!" ucap Arsenio lalu masuk kedalam mobil.


"Arsenio membangkang seperti ini pasti karena Ana, dia benar-benar telah mencuci otak anakku" pikir Alin


Rangga menutup kembali pintu mobil mengelilinggi mobil dan ikut masuk ke dalam mobil.


Mobil melaju membawah mereka jauh dari kediaman keluarga Saguna.


"Aku ngak mau tahu kita harus menemukan istriku sebelum besok!" ucap Arsenio.


"Baik tuan" ucap Rangga fokus mengemudi.


Kediaman Clarissa.


Tampak sebuah kamar yang besar di penuhi dengan berbagai perlengkapan wanita, semuanya tertata dengan rapi. Clarissa tampak mengeliat, meregangkan tangan dan juga kakinya.


"Ah nyenyaknya" ucap Clarissa lalu bagun dari tidurnya. Tatapannya tertuju pada sebuah gaun yang berada tak jauh darinya.


Clarissa pun tersenyum "Akhirnya besok aku akan menikah dengan Arsenio, hmm jadi ngak sabar nunggu besok" ucapnya.


"Aku harus tampil sempurna di hari pernikahanku besok" ucap Clarissa sambil membayangkan ia telah tampil cantik dengan gaun yang di idam-idamkannya terus berdiri dengan anggun di samping Arsenio meyapa dengab ramah semua tamu-tamu undangan.


Lamunanya kemudian di buyarkan oleh ketukan pintu. Clarissa menoleh menatap ke arah pintu.


"Siapa sih?, ganggu aja!" ucapnya kesal, namun dia tenap saja beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya.


"Ada apa ma?" tanya Clarissa setelah pintu berhasil terbuka.


"Kamu masih tanya ada apa?, hey anak gadis mama kamu harus terbiasa bangun pagi sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri, ngak baik loh lama-lama bangun"


"Apa lagi laki-laki yang kamu nikahi ini calon CEO, tentu saja kamu harus menyiapkan pakaiannya untuk ke kantor" lanjut Mbelina yang merupakan ibu dari Clarissa.


"Ya ampun mama, kenapa aku harus repot-repot melakukan semua itu?, aku kan punya Art. Biarkan itu menjadi tugas mereka" ucap Clarissa sementara Mbelina mengelengkan kepala mendengar tanggapan putrinya.


"Ya udah, sana bersikan dirimu terus turun sarapan, mama sudah masakin makanan kesukaanmu"


"Okley ma" Clarissa kembali menutup pintu kamarnya berjalan menuju kamar mandi dan masuk untuk membersikan diri.


**


Perlahan pintu terbuka, Ana yang mendengarnya pun segera melihat kearah pintu, tampak Roby berjalan masuk membawa sebuah piring di tangan kananya dan sebuah gelas berisi air minum di tangan kirinya.


"Sayang waktunya makan" ucap Roby sambil tersenyum.


Wajahnya pucat, matanya sayu dengan pakaian yang sama ia kenakan saat ingin menjemput Alvis.


Roby meletakan piring dan gelas di atas meja kecil yang berada di samping ranjang, lalu berjalan menghampiri Ana.


"Kamu harus makan, aku ngak suka lihat kamu sakit!" ucap Roby membelai pipi Ana.


Kedua sudut mata Ana kini sudah menganak sungai "Tolong lepaskan aku Rob" ucap Ana pelan seluruh tubuhnya terasa lemah, karena beberapa kali berusaha kabur. Hal itu juga yang membuat Roby mengikat kedua tangan dan kakinya.


Roby tersenyum "Jangan nangis sayang, tentu saja aku akan melepaskan ikatan ini, namun belum tahu kapan. Habisnya kamu selalu ingin kabur dariku, dan aku tidak suka sikapmu itu!" Roby mencoba menghapus air mata Ana yang membasahi wajahnya.


"Kamu makan ya?, aku suap" ucap Roby meraih piring yang berisi makanan kesukaan Ana.


"Kamu lihat, aku sudah masak makanan kesukaanmu. kamu tahu berapa lama aku belajar memasak makanan kesukaanmu ini?" ucap Roby sedikit menjeda ucapannya.


"3 bulan lamanya" lanjut Roby menjawab pertanyaannya sendiri.


"Jadi kamu harus coba masakanku, pasti kamu akan menyukainya. Ayo buka mulutmu!" ucap Roby.


Ana mengeleng "Aku ngak lapar!"


Roby membanting piring ke lantai membuat semua makanan berhamburan di lantai. Hal itu membuat Ana terkejut.


Roby meraih dagu Ana mendekatkan wajahnya ke wajah Ana "Kamu tahu?. Aku paling benci penolakan!" ucap Roby pelan namun berhasil membuat Ana ketakutan.


"Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak lapar"


Roby mendorong Ana membuatnya terbaring.


"Bagaimana mungkin kamu tidak lapar, selama kamu disini belum ada satu pun makanan yang mau kamu makan!" pekik Roby lalu bangkit dari duduknya.


Ana dengan sisa-sisa tenaganya berusaha bangun dan duduk kembali.


"Aku akan mengambilkan makana yang baru untukmu, jika kamu tidak mau makan juga aku terpaksa harus memaksamu!" ucap Roby lalu berjalan keluar kamar.


Kediamana Ana.


Tampak sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah, seorang wanita keluar dari mobil tersebut.


"Halo tante" ucapnya sambil berjalan menghampiri Rany yang sedang duduk di kursi taman.


Rany menoleh menatap wanita itu "Halo sayang. Syukurlah kamu datang" ucap Rany.


Kana duduk di samping Rany "Nih aku bawah sedikit buah-buahan buat tante dan aku juga membawah mainan buat Alvis. Oh iya Alvisnya ada kan?"


Rany diam, kepalanya sedikit di tundukan "Mereka belum juga pulang" ujar Rany.


"Ha maksud tante Ana dan Alvis belum juga pulang kesini?" Kana mode serius.


Rany mengangguk "Benar, mereka belum juga kembali. Perasaan tante ngak enak loh terus saja kepikiran mereka" ucap Rany.


Kana dapat dengan jelas melihat kekhawatiran di raut wajah Rany.


"Tante tengan ya mungkin saja Arsenio masih ingin berlama-lama bersama mereka, mereka kan sudah lama terpisah bisa jadi tuan Arsenio masih ingin menikmati masa-masa bersama Ana dan juga Alvis putranya" Kana berusaha menenagkan Rany.


Rany menghela nafas panjang "Tapi perasaan tante ngak enak, seperti terjadi seseuatu pada Ana" ucap Rany menatap lurus Kana.


"Ya udah, kalau begitu Kana coba telefon Ana ya?"


"Tente sudah menelfonya berkali-kali namun nomornya ngak aktif"


"Hmm, kalau tidak biar Kan coba telefon Pak Rangga, mungkin saja dia tahu dia kan asistennya tuan Arsenio" ucap Kana sambil mengeluarkan ponselnya dari tas dan mencari kontak Rangga untuk di telefonya.


"Bagaimana?, bisa ngak?" tanta Rany.


Kana mengelengkan kepalanya "Tak ada jawaban, mungkin pak Rangga lagi sibuk" ucap Kana masih berusaha berlikir positif.


"Tante ngak perlu khawatir sebentar Kana akan menghubunginya lagi, Kana mau masuk dan cuci buah-buahan ini dan sekalian mau ambil pisau" ucap Kana.


Rany pun mengangguk setuju, Kana melangkah masuk ke dalam rumah membawah buah-buahan yang di belinya tadi untuk di cuci.


**


"Tuan, saya sudah menemukan mobil nona Ana di dalam rekaman cctv" ucap salah satu pria dari banyaknya pria yang berhadapan dengan computer.


Arsenio dan Rangga segera berjalan menghampririnya "Apa kau yakin itu mobil istriku?"


Pria itu mengagguk "Yakin tuan, nomor palt mobilnya sama dengan mobil nona" jawab pria itu.


"Sini biar saya lihat!, yang lain terus saja mencari! " Arsenio dan Rangga ikut menatap layar computer yang menampilkan rekaman cctv jalan.


"Baik tuan" sahut Pria-pria lainnya.


Rangga dan Arsenio yang melihat mobil itu pun seketika saling berpandangan "Benar itu mobil istriku" ucap Arsenio pada Rangga.


"Iya tuan" sahut Rangga dengan pandangan kembali fokus ke computer.


"Berhenti di situ!" ucap Rangga yang membuat pria di depan mereka mendeja rekaman cctv.


Arsenio yang mendengarnya kembali menatap layar computer.


"Coba zoom mobil ferrari yang ada di belakang kedua mobil hitam itu!" pinta Rangga.


"Baik pak" pria itu langsung menzoom mobil yang di maksud Rangga.


"Sepertinya ketiga mobil ini terus mengikuti mobil nona" ucap pria di depan mereka.


"Bisa di perbesar lagi?" pinta Rangga lagi.


"Bisa pak" pria itu kembali memperbesar mobil yang di maksud hal itu membuat ketiga pria itu melihat dengan jelas plat mobil mobil tersebut.


Seketika Rangga dan Arsenio kembali berpandangan, raut wajah Arsenio berubah seketika kedua tanganya diremas, rahanya mengeras dengan tatapan tajam tertuju pada mobil tersebut.