My Love Story

My Love Story
Bab 45



"Nak... Kamu bisa kan, menyanggupi permintaan mama?" ucap Alin.


Arsenio menatap lurus ibunya, Ia sangat lemah jika sudah berhadapan dengan ibunya, berusaha menurunkan egonya dan dengan berat hati ia pun menyanggupi permintaan ibunya.


"Bisa ma" jawab Arsenio pelan yang


Alin yang mendengarnya pun tersenyum, mengelus lembut tangan putranya.


"Terima kasih telah menyanggupi permintaan mama, mama sangat yakin kamu pasti akan menyanggupinya" ucap Alin.


Arsenio diam, tidak merespon ucapan ibunya, hatinya bercampur aduk. Tak dapat di pungkiri apa yang di inginkan hatinya berbanding terbalik dengan yang di ucapkannya.


Cekrek...


Suara pintu membuat keduanya melihat ke arah suara secara bersamaan. Gibran berjalan masuk dan disusul oleh Sarah dan juga Nicholas.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Gibran setelah sampai dan berdiri tepat di samping hospital bed.


"Sudah cukup membaik" sahut Alin sambil tersenyum.


Pandangan Alin beralih pada kedua orang tuanya.


"Pa.. ma, Arsenio sudah setuju, ia telah setuju menceraikan Ana" ucap Alin.


"Benarkah?" tanya Nicholas tak percaya menatap sekilas cucunya lalu kembali menatap putrinya.


"Benar pa. Iya kan nak?" ucap Alin sambil menatap putranya. Arsenio pun mengagguk sebagai jawaban.


Nicholas melangkah sedikit lebih dekat dengan cucunya lalu menepuk lembut pundak Arsenio.


"Keputusan yang baik. Memang seharusnya kamu memilih ibumu dari pada wanita itu!" ucap Nicholas pada Arsenio.


Sementara Gibran menatap iba ke arah Arsenio.


"Papa tau kamu kamu melakukan itu hanya untuk kepentingan keluargamu. Maafkan papa, semua ini terjadi karena masa lalu papa. Namun papa juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah keinginan keluargamu" ucap Gibran dalam hati.


"Tidak bisakah kita bicarakan secara kekeluargaan megenai masalah ini?" ucap Sarah yang pada akhirnya membuka suara.


Sontak membuat semuanya melihat ke arahnya termasuk Arsenio.


"Tidak!. Untuk apa di bicarakan lagi mengenai masalah ini, toh hasilnya akan tetap sama. Arsenio tetap akan menceraikan istrinya juga" ucap Nicholas tegas.


"Tapi.. ".


"Tapi apa?, Arsenio sudah menyetujuinya dan lihat sekarang kondisi Alin semakin membaik. Bukankah hanya itu yang terpenting sekarang?" ucap Nicholas sebelum Istrinya menyelesaikan ucapannya.


Sarah yang mendengarnya diam, menatap iba cucunya.


"Ma..." pagil Arsenio.


Alin yang mendengarnya pun menatap putranya.


"Mama istrahat ya, aku masih ada urusan yang harus diselesaikan di kantor" ucap Arsenio.


"Ya, sekali lagi terima kasih, kamu telah memenyanggupi permintaan mama. Kamu hati-hati ya!" ucap Alin.


Mobil melaju keluar dari area parkiran rumah sakit. Melajukan mobilnya di atas rata-rata.


"Aaaaaaaa" teriak Arsenio frustasi,


"Bodoh!, ngak berguna!" gerutu Arsenio pada dirinya,


Ucapan Roby kembali tergiang di telinganya, ucapan Ana pun ikut tergiang di telingganya. hal itu membuatnya semakin frustasi.


Setelah cukup lama mengendarai mobilnya, mobilnya berhenti di salah satu Bar yang sering kali ia kunjungi pada dua tahun terakhir.


"Selamat datang tuan" sapa bertender.


"Beri saya beberapa gelas" tita Arsenio.


"Baik tuan" sahut bertender. Lalu dengan lincanya ia meracik dan menyajikan minuman yang bisanya di pesan oleh tuan muda ketika mampir.


Dalam waktu sekejap, Arsenio telah menghabiskan tiga gelas minuman beralkohol.


Ditatapnya bertender itu lalu berkata.


"Beri aku yang lebih banyak lagi!" tita Arsenio lagi.


"Baik tuan" jawab bertender lalu kembali meracik dan menyajikan kembali dua gelas.


Lagi-lagi dalam waktu sekejap Arsenio menghabiskan kedua gelas yang telah di sajikan.


Arsenio yang kini dalam kendali alkohol berlahan mengeluarkan semua yang selama ini ia pendam dalam hatinya, berbicara tanpa henti. Bertender yang menyaksikan itu pun segera menelfon Rangga asisten pribadinya.


Beberapa menit kemudian Rangga pun tiba, berjalan masuk dan langsung menghampiri tuannya.


"Sejak kapan tuan muda berada di sini?" tanya Rangga pada bertender.


"Baru sekitar setengah jam yang lalu" sahutnya.


"Oh iya, terima kasih telah menghubungi saya" ucap Rangga.


"Sama-sama pak" sahutnya lagi.


Rangga berbalik menatap Arsenio, membantunya berdiri lalu berjalan keluar, membawah masuk ke dalam mobil.


Mobil yang di kendarai Rangga pun melaju meninggalkan area Bar. Sesekali Rangga menatap Arsenio yang berada di belakang.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Rangga dalam hati.


"Ana...." pagil Arsenio.


"Ana jangan pergi!" ucap Arsenio dengan mata tertutup.


"Aku tidak bisa membawah pulang tuan ke rumahnya dengan kondisinya yang seperti ini" ucap Rangga.


Rangga pun melajukan mobilnya menuju apartemenya.