My Love Story

My Love Story
Bab 113



Ana membalas pelukan Alin dengan lembut, bahkan Alin dapat merasakan kehangatan serta kelumbutan pelukan Ana.


"Tidak perlu minta maaf ma, mama ngak salah ko" ucap Ana.


Alin mengeleng, melepaskan pelukannya berganti dengan menatap Ana "Tidak An, mama punya banyak sekali kesalahan yang telah di perbuat ke padamu. Mama tahu apa yang mama lakukan kepadamu sunguh di luar batas. Maka dari itu mama sangat membutukan maaf darimu" jelas Alin


meletakan kedua tanganya di atas bahu Ana.


Ana tersenyum "Jika seperti itu, mama tidak perlu khawatir!. Aku sudah memaafkan mama jauh sebelum mama datang ke sini" ucap Ana.


Alin diam menatap lekat wajah Ana "Hatiku benar-benar telah di tutupi rasa egois yang tinggi, sampai-sampai tidak dapat melihat ketulusan hati Ana" gumam Alin dalam hati.


"Ma... mama" pangil Ana.


"Helo ma. Mama dengar Ana kan?"


"Ah maaf.. maafkan mama, pakai acara melamun segala" ucap Alin yang baru saja sadar dari lamunanya.


"Mama banyak pikiran?, atau mama sakit ya?" Ana meletakan tangan kananya ke dahi Alin dan kemudian kembali memengang dahinya.


"Ngak ko, mama ngak apa-apa. Hanya sedikit memikirkan sesuatu" ucap Alin.


"Oh gitu, kirain mama sakit"


"Ngak ko. Oh iya, kakek juga mau bicara sama kamu" lanjut Alin.


Mendengar itu Ana segera menatap Nicholas yang kini berjalan kearahnya.


Sesampainya di sana, Ana segera menyalimi Nicholas "Kakek apa kabar?" tanya Ana.


Nicholas tersenyum "Baik, kesehatan kakek tambah membaik saat melihatmu telah sembuh dan bisa pulang ke rumah" sahut Nicholas.


"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya" ujar Ana.


Nicholas meraih kedua tangan Ana dan menatapnya serius "Ana, kakek juga minta maaf kepadamu, kakek sudah bayak sekali buat kesalahan yang mungkin tak termaafkan olehmu" ucap Nicholas.


"Kakek ko ngomongnya gitu?, Ana tuh dari jauh-jauh hari sudah memaafkan kakek"


"Ana sudah melupakan semua yang telah terjadi di masa lalu, tapi sewaktu-waktu aku akan kembali mengingatnya namun hanya sekedar menjadi pelajaran, agar aku tidak kembali membuat kesalahan yang sama di masa kini dan masa yang akan datang" lanjut Ana.


"Ayo masuk, lanjut ngomonya di dalam saja" ucap Rany berjalan menuju pintu dan memasukan kunci.


Pintu berhasil terbuka Rany, Kana dan Alvis masuk lebih dulu.


Rany menoleh ke belakang menatap mereka yang baru saja masuk "Silakan duduk, saya ke belakang dulu mau ambil minum" lanjut Rany sementara semua tampak menggangguk setuju.


Alin sengaja membawah Ana duduk di antara dirinya dan juga Nicholas, tidak punya niat lain, ia hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan Ana.


"Loh, Arsenio mana?, pasti ke kantor nih. Anak itu benar-benar ya, istrinya baru keluar dari rumah sakit bukannya di anterin eh malah ke kantor" ucap Sarah sengaja memancing topik pembicaraan.


Ana diam, hanya bisa memainkan jari-jemari tanganya. "Ya udah mama telfon saja dia, suruh dia secepatnya ke sini!. Pekerjaan ma bisa di tunda, dia harus ingat istrinya lebih penting" sambung Alin.


"Benar mama harus menelfonya" ucap Sarah sambil mengeluarkan ponselnya dari tasnya.


"Bagaimana ini?, aku harus bersikap apa?, mereka bertindak seperti sedang tidak terjadi apa-apa di antara aku dan Arsenio" gumam Ana dalam hati.


"Silakan di minum tehnya" ucap Rany lalu duduk.


"Terima kasih" ucap mereka hampir bersamaan.


"Tunggu sebentar ya, aku mau telfon dulu" ucap Sarah lalu berjalan keluar.


"Mau telfon siapa dia?" bisik Rany pada Kana.


"Tuan Arsenio" sahut Kana pelan.


"Sepertinya, mereka berusaha memperbaiki hubungan Ana dan tuan Arsenio" lanjut Kana.


Rany yang mendengarnya diam, hanya bisa bergantian menatap Alin dan Nicholas yang berusaha mengajak Ana berbicara.


Di saat yang bersamaan, tampak Arsenio memasuki ruanganya dan langsung di susul oleh Rangga.


"Aaaaaaaa" teriak Arsenio sambil menghambur semua barang di tas meja kerjanya termasuk lebtopnya, semua tambak jatuh berserakan di lantai.


Sementara Rangga diam, tidak berani untuk mencegahnya.


"Ngak..., aku ngak mau ke hilangan Ana yang kedua kalinya. Apapun caranya pasti akan aku lakukan demi mempertahankan hubungan ini" ucap Arsenio.


Dering ponsel berhasil mencuri perhatian Arsenio "Matikan hpnya, suaranya membuat telinga saya panas" teriak Arsenio.


Rangga secepatnya mengeluarkan ponsel tersebut, baru saja ingin di matikan namun Rangga segera menundanya saat tahu siapa yang sedang melakukan panggilan.


"Maaf tuan, pangilan dari nyonya Sarah" ucap Rangga menatap Arsenio.


"Udah angkat saja, katakan aku sedang sibuk!" Arsenio menarik kursi kerjanya lalu duduk.


"Baik tuan"


πŸ“ž"Halo nyonya" ucap Rangga saat sambungan telefon terhubung.


πŸ“ž"Dimana Arsenio, katakan padanya aku ingin bicara"


πŸ“ž"Maaf nyonya, saat ini tuan sedang sibuk" sahut Rangga.


πŸ“ž"......."


πŸ“ž"Baik nyonya" sahut Rangga.


Panggilan telefon pun terputus, Rangga berjalan menghampiri meja kerja Arsenio.


"Maaf tuan, nyonya Sarah meminta anda ke rumah nona Ana sekarang" ucap Rangga.


Mendengar itu, Arsenio segera bangkit dari duduknya "Apa istriku telah memaafkanku?" tanya Arsenio antusias.


"Kalau itu saya kurang tahu tuan, tapi nyonya Sarah dan yang lainnya sekarang berada di rumah nona Ana, karena itu nyonya meminta Anda secepatnya menyusul mereka" jelas Rangga.


"Baik tuan"


Arsenio merapikan kembali pakaiannya lalu secepatnya berjalan keluar dengan langkah terburu-buru.


Rangga melewati sekertaris Arsenio yang berada di meja kerjanya "Rapikan ruangan tuan seperti semula dan ganti barangnya jika ada yang rusak!" tita Rangga.


"Baik pak" sahut sekertaris Arsenio.


"Hey ngapain masih di sana?" tetiak Arsenio yang kini sudah berada di dalam lift.


"Ingat harus kembali seperti semula!" ucap Rangga sebelum pergi.


Rangga berjalan dan masuk ke dalam lift.


"Pokonya aku harus dapat maaf dari Ana" pikir Arsenio.


"Kenapa liftnya begitu lambat?. Rangga, mulai besok ganti lift ini dengan yang baru!" ucap Arsenio.


"Baik tuan" sahut Rangga.


Rangga menghela nafas panjang "Gini amat ya, kalau lagi jatuh cinta sampai lift aja di ikut di salahkan" gumam Rangga dalam hati.


Pintu lift terbuka, Arsenio keluar lebih dulu dan langsung disusul oleh Rangga, beberapa karyawan yang melihat mereka tampak sedikit menunduk memberi hormat. Namun seperti biasanya tidak di pedulikan olehnya.


"Pokoknya kita harus secepatnya sampai dirumah istriku. Kamu harus cari jalan yang tidak macet dan tentunya cepat sampai" ucap Arsenio di selah-selah langkah mereka.


"Baik tuan" sahut Rangga.


"Nona plis, sudahi semua drama ini. Aku khawatir kedepanya suamimu ini punya ide gila yaitu membeli jalan agar hanya dia yang bisa melewatinya" pikir Rangga.


Rangga berlari kecil sehingga dirinyalah yang lebih dulu sampai ke mobil dan membukakan pintu buat tuannya.


Setelag Arsenio masuk, Rangga tampak mengintari mobil dan juga ikut masuk lalu duduk di depan kemudi.


Deru kendaraan membawa mereka menjauh dari halaman perusahaan.


"Ngomong-ngomong, mereka mau ngapain ke rumah istriku?. Banggaimana kalau mereka.... Ngak aku harus secepatnya sampai" pikir Arsenio.


"Kenapa mobilnya begitu lambat?, tambah kecepatan mobilnya, saya harus cepat sampai di sana" ucap Arsenio.


"Baik tuan" Rangga menginjak gas untuk menamba kecepatan mobilnya.


"'Kenapa mobilnya begitu lambat? kita harus ganti mobil' Hmm aku pikir tuan akan melanjutkan kata-katanya seperti ituπŸ˜…" gumam Rangga dalam hati.


Mobil terus melaju, melewati jalan yang sunyi, jalan itu segaja di pilih Rangga untuk menghindari kemacetan. Setelah beberapa menit, mereka pun sampai


Sarah yang hafal betul suara mobil cucunya pun segera bangkit dari duduknya.


"Itu pasti Arsenio" ucapnya lalu berjalan menuju pintu untuk memastikannya.


Sementara Ana yang mendengar itu tampak gelisah, Dalam hatinya ia masih belum bisa menerima apa yang telah di lakukan Arsenio padanya. ia binggung harus bersikap seperti apa pada Arsenio di depan keluarganya.


Kana yang sadar akan hal itu pun tak bisa berbuat apa-apa "Maafkan aku An, kali ini aku tidak bisa membantumu" gumam Kana dalam hati.


"Tuh kan benar, dia datang" ucap Sarah menoleh ke belakang tidak lebih tepatnya menatap Ana.


"Pagi" ucap Arsenio yang langsung di jawab oleh yang lainnya terkecuali Ana.


"Pagi, kamu kemana aja sih?. Istrimu baru pulang loh dari rumah sakit masa kamu sibuk dengan pekerjaanmu" ucap Sarah.


"Maaf" ucap Arsenio bergantian menatap semua orang berada di sana.


Arsenio memutuskan menghampiri Rany untuk bersalaman dan yang terakhir Arsenio berdiri di depan Ana.


"Maaf ya sayang, aku tidak bisa menjemputmu di rumah sakit" ucap Arsenio lalu dengan santainya ia mengecup alis Ana yang membuat semua orang di sana tersenyum.


"Hmm tuanku memang pandai mencuri-curi kesempatan😌" ucap Rangga dalam hati.


"Hmm, pandai sekali bersandiwara. Ngak sekalian saja kamu jadi artis" gumam Ana dalam hati.


"Ngak apa-apa ko" sahut Ana sambil memaksakan terseyum.


Sementara Rany yang melihat itu hendak mencega Arsenio namun Kana segera menahannya.


"Tante tenang ya, bukan sekarang waktunya" ucap Kana.


"Ngak Kana, kita harus meluruskan semua ini, mereka tidak boleh seenaknya mengambil kesimpulan bahwa Ana dan Arsenio akan kembali bersama" ucap Rany.


"Nanti aja tante, kita akan melakukan itu tapi bukan sekarang waktunya. Ana tuh baru saja sembuh aku takut terjadi apa-apa kepada Ana" ucap Kana.


"Baiklah untuk sekarang ini, aku biarkan mereka seperti ini, tapi tidak untuk kedepannya" ucap Rany.


Arsenio memilih duduk di samping ayahnya dan membiarkan Ana duduk di antara ibu dan juga kakeknya.


Alin meraih tangan Ana mengengamnya dengan lembut "Boleh mama ngomong sesuatu sama kamu?"


"Duh, plis jangan sekarang ma membahas itu" pikir Ana yang seakan tahu hal apa yang mau di bicarakan oleh mertuanya.


Ana tersenyum "Silakan ma, mau ngomong apa sama Ana?"


Sementara semua yang ada di sana melihat ke arah mereka termasuk Arsenio.


"Begini sayang, mama tahu bahkan semua orang di sini juga tahu kalau hubungamu dengan Arsenio sedang tidak baik. Mama hanya ingin kalian menyelesaikan masalah kalian dengan cara baik-baik" ucap Alin menjeda ucapannya.


"Mama tahu kalian sudah dewasa pasti sudah tahu mana yang baik untuk kalian atau pun yang tidak baik untuk kalian. Apapun keputusan kalian nantinya, kami semua disini pasti akan selalu mendukungnya" lanjut Alin sambil tersenyum.


"Benar An" ujar Gibran yang membuat semua orang berganti menatap ke arahnya termasuk Ana.


"Kalian pikirkan baik-baik sebelum membuat keputusan, karena keputusanmu ini akan menentukan langkah selanjutnya akan seperti apa. Papa hanya tidak ingin kalian membuat keputusan yang pada akhirnya membuat kalian menyesali nantinya"


"Sungguh penyesalan itu tidak enak rasanya, sewaktu-waktu kita akan terus di hantui oleh rasa itu. Sakit rasanya, namun tidak dapat mengembalikan waktu. Hanya bisa diam, dan menikmati rasa sakit itu" ungkap Gibran dengan tatapan kosong.


"Entah menggapa aku merasakan apa yang di ucapkan tuan Gibran sanggat mewakili persaannya saat ini" pikir Kana bergantian menatap Rany dan juga Gibran.