My Love Story

My Love Story
Bab 70



Setelah cukup lama diam Kana berlajan keluar dari ruangan, dia tampak terkejut. Bagaimana tidak ketika dia membuka pintu, Roby telah berdiri dengan gaga di depannya.


"Mau apa kamu kesini?" Kana menyeringitkan dahi.


"Ya mau ketemu kamu lah" sahut Roby.


"Aku ngak punya waktu!" Kana melewati Roby begitu saja, berjalan kembali ke kelas.


"Na.. tunggu!, kamu jangan hindari aku begini!. Aku butuh informasi mengenai Ana" ucap Roby bersusaha mengimbangi langkah Kana.


"Bukan aku sudah katakan padamu jauhi Ana!, apa kamu tidak mendengarnya?" Kana semakin menambah kecepatan langkahnya.


"Kana plis" Roby menahan tangan Kana, Kana akhirnya berhenti lalu berbalik menatapanya.


"Lepaskan tanganku atau aku teriak?" ucap Kana yang mulai kesal.


Roby melepaskan tangan Kana dan menggangkat ke dua tanganya sejejar dengan bahu. "Sudah, aku sudah melepaskanmu jadi tidak perlu teriak!"


"Kamu tahu?, aku sangat mencintai Ana. Jadi aku mohon beritahu sedikit saja informasi mengenai Ana" ucap Roby masih dengan posisi yang sama.


Kana menghela nafas panjang "Ana pergi dari rumah" ucap Kana, Roby membulatkan matanya "Pergi dari rumah?, kemana dia pergi?. Katakan padaku dimana Ana pergi, aku akan menyusulnya!" ucap Roby antusias.


"Jangan buat yang aneh-aneh lagi!, kamu sudah cukup membuat Ana sedih. So lupakan Ana dan biarkan dia hidup damai di tempatnya" ujar Kana lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.


Sementara Roby diam mematung, menatap lurus Kana yang berlahan menjauh bahkan hilang dari pandanganya "Aku tidak akan menyerah!, tidak apa jika kamu tidak memberitahuku dimana keberadaan Ana. Aku akan menemukan Ana dengan caraku sendiri" gumam Roby dalam hati.


Rumah sakit.


Arsenio menepis tangan Rangga lalu berdiri menatapnya. "Sudah sampai disini saja!" ujar Arsenio masih dengan raut wajah kesalnya.


"Maaf tuan" Rangga sedikit menundukan kepalanya.


"Katakan padaku dimana rumah sakit tempat dia berobat!" pinta Arsenio.


"Duh, masih saja diingatnya kirain sudah di lupa!, harus jawab apa nih"


"Saya tidak ingin mendengar kata 'tidak tahu'keluar keluar dari mulutmu!" ucap Arsenio sebelum Rangga menjawab.


Rangga yang mendengarnya dengan susah payah menelan salivanya "Di rumah sakit ini tuan" sahut Rangga tidak berani menatap tuannya.


"Kenapa tidak bilang dari tadi sih?. Kau segaja kan, apa ada yang menyuruhmu mencegahku?" tanya Arsenio berturut-turut.


"Maafkan saya tuan"


"Kamu jangan lupa dengan statusmu!, kamu tuh asisten pribadi saya, itu artinya kamu bekerja untuk saya!. Jangan berani-beraninya kamu menerima pekerjaan selain perintah dari" ucap Arsenio tegas.


"Baik tuan" sahut Rangga. Arsenio kembali masuk, Rangga yang melihat itu segera berjalan mengikutinya.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya seorang wanita yang bertugas di sana.


"Saya ingin bertemu dokter yang menanggani istri saya!" ucap Arsenio.


"Istri?" gumam Rangga dalam hati "hey tuan sadarlah nona Ana kini sudah menjadi mantan istri"


"Mohon maaf tuan, apakah bisa saya tahu nama istri tuan?" tanya wanita itu ramah.


"Larissa Putri Hana" sahut Arsenio.


"Baik, tunggu sebentar tuan! saya akan cek terlebih dahulu"


"Hmm" sahut Arsenio.


Wanita itu kembali menatap Arsenio "Nona Larrisa Putri Hana di tanggani langsung oleh dokter Naya"


"Apa saya bisa bertemu denganya?" tanya Arsenio, wanita itu terlihat melirik kertas yang ada di atas meja sebelum menjawab pertanyaannya Arsenio "Bisa tuan, namun dokter Naya sedang memeriksa beberapa pasien" sahut wanita itu.


"Hubungi dia sekarang!, katakan padanya saya ingin bertemu denganya!"


"Baik tuan" Wanita itu tampak melakukan pangilan pada dokter Naya, setelah selesai dia kembali menatap Arsenio.


"Silakan tuan ke ruangan dokter Naya yang berada di sebelah utara" ucapnya sambil menunjukan tempat yang di maksud.


"Terima kasih" ucap Rangga sementara Arsenio tampak berjalan menuju ruangan yang di makasud.


"Masuk!" sahut seseorang dari dalam.


Arsenio membuka pintunya dan berjalan masuk "Silakan duduk tuan" ucap Naya bangkit dari duduknya.


"Terima kasih" ucap Arsenio lalu duduk.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Naya to the point.


"Sekitar seminggu yang lalu istri saya masuk rumah sakit dan kau lah yang menangganinya. Saya hanya ingin tahu istri saya sakit apa" jelas Arsenio.


"Kalau boleh saya tahu siapa nama istri tuan?, biar saya cek dulu" ucap Naya serius.


"Larissa Putri Hana" sahut Arsenio "Baik, saya cek dulu"


Beberapa menit kemudian dokter Naya kembali menatap Arsenio.


"Saya sudah mengeceknya, disini tertulis istri bapak mengalami pendarahan ringgan" sahut Naya.


"Pendarahan ringgan?" tanya Arsenio tak percaya, dokter Naya mengangguk "Benar tuan"


"Itu artinya istri saya sedang hamil?" tanya Arsenio. Dokter Naya mengerutkan dahi binggung "Apa tuan tidak tahu kalau istrinya sedang hamil?" gumam Naya.


"Benar tuan" sahut dokter Naya.


Deg


Sekeketika sekujur tubuh Arsenio lemas, raut wajahnya berubah dengan cepat, bayangan Ana kini memenuhi pikirannya.


"Tuan..." pagil Naya, Naya khawtir lalu dengan cepat bangkit dari dudukya berjalan mendekati Arsenio.


"Tuan...tuan ngak apa-apa kan?" tanya Naya.


Arsenio terdasar menatap Naya yang kini berdiri di sampingnya.


"Tuan ngak apa-apa kan?" Tany Naya menatap wajah pucat Arsenio.


"Saya ngak apa-apa, terima kasih atas waktunya" Arsenio bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar.


Rangga yang melihat itu segera bangkit dari duduknya berjalan menghampiri tuannya.


Arsenio menyapu kasar wajahnya menatap Rangga yang kini berdiri di depannya "Cari Ana sekarang!, bagaimana pun caranya kamu harus menemukan Ana!" tita Arsenio dengan suara tinggi hal itu membuat beberapa orang di sana melihat kearah mereka.


"Sudah ku duga, pasti akan seperti ini" gumam Rangga.


"Hey apa kau mendengarnya" pekik Arsenio.


"Iya tuan" Arsenio menatap tajam Rangga"Terus ngapain masih berdiri di sini?, cepat cari sekarang juga!" ujar Arsenio kelas.


"Baik tuan" Rangga berjalan keluar meninggalkan Arsenio yang tampak frustasi.


**


Beberapa hari telah berlalu, Rangga masih dengan pekerjaannya terus mencari keberadaan Ana. Sama halnya yang dilakukan Roby, Kana dan juga Rany. Namun sampai saat ini belum ada titik terang, Ana seakan hilang tampa meninggalkan jejak. Hal itu tidak membuat mereka menghentikan proses pencarian Ana.


Perusahaan.


Arsenio tampak menghambur beberapa tumpukan kertas diatas meja kerjanya, apapun yang ada di atas meja kerjanya termasuk lebtop dan juga ponselnya semua jatuh berhamburan dilantai dan sesekali tampak berteriak di selah-selah aksinya.


"Aaaaaaaaaa" teriak Arsenio sekeras mungkin, suara teriakannya berhasil menembus dinding-dinding ruanganya, membuat beberapa karyawan diluar melihat kearah pintu sambil berbisik-bisik.


Sementara di dalam tampak sosok Rangga diam mematung menundukan kepalanya tidak berani mencega aksi tuanya itu.


"Hanya mencari satu orang saja ngak bisa, kau benar-benar mencarinya atau tidak sih?" Arsenio mengepalkan kedua tangnya menyangga di atas meja dengan panjangan lurus pada Rangga.


"Saya tidak mau tahu, sebarkan semua orang-orang kepercayaan di seluruh kota jangan sampai ada yang terlewati!, jika hal itu terjadi kau akan tahu akibatnya"


"Dan jangan lupa di setiap bandara juga. Selama dia belum di temuakan, mereka tidak dizinkan beranjak dari sana!" sambung Arsenio.


"Baik tuan" sahut Rangga mengiakan permintaan gila tuannya.