
Tok... Tok
"Masuk!" sahut Arsenio dari dalam.
Kana meraih daun pintu lalu dengan pelan membuka pintu dan masuk.
Arsenio menatap Kana dingin "Ngapain masih berdiri di situ?" Kana yang mendengarnya segera mendekat ke meja kerja Arsenio.
Suasana ruangan berubah mencengkam, seketika membuat Kana merinding, bagaimana tidak dua laki-laki menatap dingin kearahnya.
"Apa alasan Ana tidak hadir?" tanya Arsenio memcahkan keheninggan.
"Tidak mungkin kau tidak mengetahuinya!, saya harap kau tidak mencoba untuk membohonhiku!" Arsenio dengan tatapan tajam.
"Ana...pergi" sahut Kana pelan.
"Pergi?" Kana mengangguk "Benar pak"
"Pergi kemana dia?" tanya Arsenio lagi.
"Tolong bicaralah yang jelas!, dan jangan biarkan tuan menunggu lama jawaban darimu!" ucap Rangga dengan tatapan tak kalah tajam.
"Maaf" ucap Kana pelan. "Tapi saya juga tidak tahu kemana Ana pergi, kami sudah mencarinya namun sampai sekarang kami belum menemukannya" sambung Kana.
Arsenio terkejut mendengar jawaban Kana "Sejak kapan dia pergi?" Arsenio menatap Kana serius "Seminggu yang lalu pak" sahut Kana lagi.
"Apa?, seminggu yang lalu?" Kana mengguk "Benar pak"
"Seminggu yang lalu Ana menghilang dan kau tidak memberitahuku?" pekik Arsenio
Kana dan Rangga yang mendengarnya mengerutkan dahi binggung.
"Dan kamu, kenapa masih diam disini?, cepat cari keberadaan Ana sekarang!" ucap Arsenio panik.
"Baik tuan" sahut Rangga, mengeluarkan ponselnya lalu menelfon seseorang.
"Saya sudah menyuruh seseorang melacak keberadaan nona Ana melalui ponselnya tuan" ucap Rangga setelah memutuskan sambungan telefon.
"Ngak, saya ngak bisa diam seperti ini. Aku harus ikut mencarinya!" Arsenio berjalan keluar dari ruangan dan langsung disusul oleh Rangga, meninggalkan Kana yang diam mematung di dalam ruangan.
"Hmm, ini kan keinginanya, tidak ingin melihat Ana lagi. Terus sekarang Ana telah pergi, eh dianya panik sendiri" gumam Kana dalam hati.
Di saat yang bersamaan tampak Rangga melajukan mobilnya menjauh dari halaman kampus, sesekali Rangga menatap Arsenio melalui kaca spion, rasa khawatir bercampur panik jelas tergambar di wajah tuannnya itu.
"Sekhawatirkan itu tuan?, sampai lupa kalau dia telah menceraikan Nona Ana" batin Rangga
Dering ponselnya berhasil menyadarkan Rangga dari lamunannya, diambilnya ponselnya lalu menerima pangilan telefon.
📞"Hallo nyonya" ucap Rangga.
Arsenio yang mendenganya menatap Rangga.
📞"Apa Arsenio ada bersamamu?"
📞"Iya nyonya" sahut Rangga.
📞"Katakan padanya, ke rumah sakit sekarang!"
📞"Baik nyonya"
Sambungan telefon terputus.
"Ada apa?" tanya Arsenio.
"Nyonya ingin tuan segera ke rumah sakit sekarang!" sahut Rangga. Arsenio terdiam dia tampak berpikir.
"Bagaimana tuan, apa kita ke rumah sakit dulu atau lanjut mencari nona Ana?" tanya Rangga.
Arsenio mendengus kesal "Ke rumah sakit!" jawabnya singkat, Rangga mengguk "Baik tuan"
Rangga tampak memutar balik, dan kembali melaju menuju rumah sakit yang di tujuh.
"Apa kau sudah melihat kapan terakhir dia menggunakan kartu atm itu?" tanya Arsenio.
"Aduh bagaimana ini?, jika aku menjawabnya dengan jujur, aku tidak tahu hal gila apa yang akan dilakukannya. Tapi cepat atau lambat tuan pasti mengetahuinya juga" gumam Rangga dalam hati.
"Sudah tuan" sahut Rangga.
"Semoga saja tuan tidak menanyakan digunakan untuk apa kartu itu?"
"Digunakan untuk apa?"
"Ehm itu tuan"
"Hey itu apa?, bicaralah yang jelas!. Apa kau sudah tidak bisa bicara?" ucap Arsenio kesal.
"Tangihan rumah sakit?" Rangga mengagguk "Benar tuan"
"Siapa yang sakit?"
"Ya ampun tuan, berhentilah bertanya!, kau tidak tahu seberapa susahnya aku nanti jika kau mengetahui hal ini, kau pasti akan meminta hal-hal gila di luar kemampuan manusia"
"Nona Ana, namun saya tidak tahu nona Ana sakit apa" sahut Rangga.
"Hmm saya pikir jawaban ini cukup menjawab rasa penasaranmu itu"
"Jika begitu, kita akan menuju rumah sakit tempat dimana dia di rawat dan menanyakan langsung kepada pihak rumah sakit!"
"Tapi tuan, bukankah kita harus ke rumah sakit dimana tuan besar di rawat?" tanya Rangga menatap tuannya melalui kaca spion.
"Ah sial!" teriak Arsenio mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Hmm teriaklah sesuka hati tuan, jika itu membuat hati tuan sedikit merasa tenang" batin Rangga dalam hati.
Beberapa menit kemudian mobil yang di kendarai Rangga berhenti di depan rumah sakit, Rangga keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mobil buat tuannya.
Setelah selesai Arsenio turun dari mobil, Rangga kembali masuk ke dalam mobil dan melaju menuju parkiran semenatara Arsenio tampak memasuki rumah sakit.
Arsenio menghentikan langkahnya tepat di depan ruangan rawat, meraih gagang pintu lalu memutarnya. Pintu berhasil terbukan dan Arsenio melangkah masuk.
Sementara di dalam Nicholas yang sudah sadarkan diri menatap lurus cucunya.
"Ingat jangan marah-marah dulu!, kondisimu belum seutuhnya pulih" Sarah memleringati suaminya.
"Benar pa, bicaralah baik-baik" sambung Alin yang juga berdiri di samping hospital bed.
"Dari mana saja kamu?" tanya Nicholas.
"Dari kampus" sahut Arsenio menundukan kepalanya.
"Bukankah kakek sudah menyuruhmu untuk menceraikan istrimu itu?, lihat sekarang apa yang dia lakukan?, dia sudah membuat nama keluarga kita kotor di mata masyarakat" ucap Nicholas tegas.
"Aku sudah menceraikannya, jika kakek tidak percaya sialakan tanya pada yang lain!" sahut Arsenio.
"Chiii, kamu menceraikannya setelah berita perselingkuhanya beredar di sosial media, kamu tahu apa yang kamu lakukan hanyalah sia-sia!. Di mata masyarakat nama keluarga kita telah tercoreng dan tidak ada yang biaa merubah itu!" ucap Nicholas dengan suara yang mulai tinggi.
"Tenang pa, jangan marah-marah dulu!. Toh sekarang dia telah menceraikan istrinya dan Artikel mengenai keluarga kita telah berhasil di hilangkan" ucap Alin membela putranya.
"Iya bela saja terus putramu itu, sekali pun sudah membuat malu keluarga kita tetap saja di belain terus" ucap Nicholas kesal.
"Aku kan ibunya pa, jadi wajarlah membela anak sendiri, jika aku tidak membelahnya siapa lagi yang akan melakukan itu" ucap Alin tak mau kalah.
"Entahlah anak dan mama sama saja, kerjaannya buat malu keluarga saja!" ucap Nicholas lalu kembali berbaring memposisikan Alin, Arsenio, dan juga Gibran berada di belakangnya.
"Ko papa ngomonya gitu?" ucap Alin tak percaya. "Lah memang kenyataannya begitu, selain buat malu keluarga kalian juga keras kepala susah untuk di atur" ucap Nocholas dengan posisi yang sama.
Alin terdiam, Gibran yang melihat itu segera menghampiri istrinya.
"Kita keluar dulu ya?, papa mungkin masih butuh istirahat" ucap Gibran merangkul istrinya dan membawahnya keluar dari ruangan.
Sementara Arsenio tanpa bicara lagi ikut berjalan keluar ruanggan meninggalkan kakek dan juga neneknya di dalam.
Rangga yang melihat itu segera menghampiri Arsenio.
"Tuan, saya telah mendapatkan sedikit informasi mengenai nona Ana" ucap Rangga pelan namun masih dapat di dengar oleh Gibran dan juga Alin.
Keduanya pun menoleh menatap Arsenio dan juga Rangga yang berada di belakang mereka.
"Informasi apa itu?, cepat katakan! " tanya Arsenio antusias.
"Setelah dilacak keberadaan nona Ana. Nona Ana Terakhir berada di bandara sekitar seminggu yang lalu" sahut Rangga.
"Bandara?" Rangga mengguk "Benar tuan"
Alin bangkit dari duduknya berjalan menghampiri Putrannya.
"Ngapain kamu masih mengurusi wanita pembawa sial itu ha?" teriak Alin yang membuat beberapa orang di sana melihat ke arah mereka.
"Ma....mama tenang dulu!, ini rumah sakit jika mama teriak-teriak seperti tadi bisa mengganggu pasien lain" ucap Gibran yang juga berjalan mengampiri Arsenio dan juga Rangga.
Alin menepis tangan suaminya dari bahunya "Bagaimana mama bisa tenang pa? jika Arsenenio terus mengurusi mantan istrinya yang selalu membuat masalah dalam keluarga kita! " ucap Alin masih dengan suara besar.
"Cukup ma!" pekik Arsenio, mengepalkan kedua tanganya, rahanya mengeras dengan tatapan tajam ditunjuhkan pada ibunya.
"Kenapa?, kamu masih mau membela wanita yang telah selingkuh itu!. Masih mau membela wanita yang sudah membuat keluarga kita malu" Alin menatap Arsenio dengan tatapan yang sama dilakukan Arsenio padanya.
"Sudah... sudah!, malu dilihatin banyak orang. Rangga tolong bawah Arsenio pergi ya!" ucap Gibran.
"Baik tuan" sahut Rangga "Ayo tuan" Rangga melangkah membawa Arsenio keluar dari rumah sakit.