My Love Story

My Love Story
Bab 86



Waktu yang di berikan Arsenio kepada Ana tersisah 5 menit lagi, di luar tampak mobil Rangga terparkir dengan rapi. Rangga menatap benda kecil yang melingkar di tangannya kirinya, setelahnya ia pun beranjak keluar dari mobil, berjalan memasuki halaman rumah Ana dan menghetikan langkahnya tepat di depan pintu.


Rany yang melihat itu segera menghampirinya dan mempersilakannya masuk.


"Silakan masuk" ucap Rany, Rangga mengangguk "Terima kasih"


"Silakan duduk, saya tingga sebentar mau ke belakang" ucap Rany lalu melangkah pergi.


Rangga memilih duduk bersebrangan dengan Ana, melengeluarkan kembali map dari tasnya lalu meletakannya diatas meja.


Rany kembali dengan membawah 3 gelas berisi air minum dan meletakannya di meja "Silakan di minum" ucap Rany lalu duduk di samping Ana.


"Iya, terima kasih" ucap Rangga.


Rany menoleh ke samping, menatap Ana yang sejak tadi diam "Nak, waktu yang telah di tentukan telah habis" ucap Rany sementara Rangga yang ikut mendengarnya menatap Ana.


"Benar nona, waktunya sudah habis" ucap Rangga menyiakan ucapa Rany.


Ana tampak merubah posisi duduknya, menatap Rangga serius "Beri saya polpen!" ucap Ana.


Rangga yang mendengarnya dengan sigap mengeluarkan polpen dari sakunya lalu meletakannya di atas meja.


Ana membuka map yang di berikan Rangga, tampak beberapa kertas tersusun dengan rapi didalamnya. Ana meraih polpen yang diberikan Rangga lalu menandatangani semua kertas yang membutuhkan tanda tangannya.


"Terima kasih nona sudah mau bekerja sama, aku tidak perlu berurusan denfan pihak kepolisian" batin Rangga yang juga ikut menyaksikan Ana menandatangani surat perjanjian yang dibuatnya atas dasar perintah tuannya.


Setelah semuanya berhasil di tanda tangan, Ana menutup kembali map lalu berganti menatap Rangga "Aku sudah menandatangani surat perjanjian itu, cepat katakan dimana anak saya!" ucap Ana.


"Kalau soal itu nona tidak perlu khawatir, saya akan memberitahukannya sesuai kesepakatan" Rangga menggambil map yang berada di atas meja lalu memasukannya ke dalam tas.


"Tuan dan Alvis berada di daerah B" lanjut Rangga.


"Daerah B?" Rangga mengangguk "Benar nona"


"Daerah B kan besar, saya minta alamat yang lebih detail. Saya ingin menjemput anak saya sekarang!" ucap Ana


"Mohon maaf nona. Sesuai perjanjian nona akan bertemu dengan Alvis nanti setelah nona sah menjadi istri tuan" ucap Rangga.


"Pers*tan dengan perjanjian itu, aku mau alamat detailnya!" ucap Ana kesal.


"Mohon maaf nona, saya tidak bisa memberikan alamat detailnya" ucap Rangga.


"Nona bersiaplah, jam 07.00 malam saya akan menjemput nona" lanjut Rangga.


"Mau kemana?" tanya Rany.


"Nona Ana adan tuan akan melangsungkan pernikahannya malam ini" sahut Rangga.


Jawaban Rangga berhasil mengejutkan Rany dan juga Ana "Malam ini?, bukankah itu terlalu cepat?" ucap Rany.


"Bukankah nona Ana ingin secepatnya bertemu dengan Alvis?, jika ya, maka menurutlah!" ucap Rangga dengan eksperesi datarnya.


Ana yang mendengarnya menyapu dengan kasar wajahnya "Dia benar-benar gila, setelah ini apa yang lagi yang dia inginkan?" pikir Ana kesal.


"Karena semuanya telah selesai, saya pamit dan akan kembali lagi jam 07.00 malam" Rangga bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.


"Maafkan mama, mama tidak bisa membantumu" ucap Rany menatap putrinya.


Ana yang mendengarnya menoleh kearah Rany lalu memeluknya "Ma, Ana hanya takut jika harus menikah lagi dengan Arsenio" ucap Ana.


"Keluarganya pasti masih membenciku dan tentu saja tidak semuda itu memaafkanku setelah apa yang aku lakukan 4 tahun lalu" pikir Ana.


Rany membelai lembut rambut Ana "Kamu jangan khawatir, kamu kan masih punya mama dan tentu saja punya papa juga, kita pasti tidak akan tinggal diam jika kamu disakiti" ucap Rany.


Mendengar itu Ana langsung melepaskan pelukannya menatap lurus ibunya "Mama sudah memaafkanku?" tanya Ana dengan mata berkaca-kaca.


Rany mengangguk "Mama ngak bisa lama-lama memarahimu, dan lagi kamu punya hak untuk menentukan dengan siapa kamu bergaul termasuk papa kamu" jelas Rany.


"Terima kasih ma" Ana kembali memeluk ibunya, keduanya pun saling berpelukan.


Kediaman keluarga Saguna.


Semuannya tampak berkumpul di ruang keluarga, mereka baru saja pulang dari rumah sakit.


"Kemana perginya anak itu?" tanya Nicholas pada Bi Lila yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Apakah dia belum pernah pulang ke rumah?" tanya Alin.


"Benar nyonya" sahut bi Lila lagi.


"Dia lagi mencari Ana tuh" ucap Sarah


Nicholas, Alin dan juga Gibran yang mendengarnya melihat kerahnya.


"Mencari wanita itu lagi?, memangnya punya hubungan apa dia dengan wanita itu?. Dia tidak pantas mencari wanita itu lagi!" ucap Nicholas.


Sementara tatapan Alin berpindah pada Gibran "Mas, tolong beritahu anak kamu itu agar jauh-jauh dari Arsenio!. Aku tidak ingin dia mengganggu Arsenio lagi, Arsenio sudah punya Clarissa dan sebentar lagi mereka akan menikah" ucap Alin pada Gibran.


"Kebalik tahu, Bukan Ana yang mengganggu Arsenio, tapi Arseniolah yang mengganggu Ana" ucap Sarah.


"Gak mungkin Arsenio yang mengganggu wanita itu, pasti wanita itu yang mengganggu Arsenio, secara dia kan terlahir menjadi wanita penggoda" ucap Alin.


"Cukup!" teriak Gibran dan Sarah bersamaan. Sementara Alin dan Nicholas bergantian menatap keduanya.


"Kenapa?, toh semua yang aku katakan benar!" lanjut Alin.


"Kamu..... "


"Mama....." pangil Clarissa yang membuat Gibran tidak lagi melanjutkan ucapannya.


Clarissa berjalan menghampiri calon mertuanya "Lagi ngomong apa?, kok serius amat" ucap Clarissa setelah sampai.


"Ngak lagi ngomong apa-apa, sini duduk di samping mama!" ucap Alin.


Clarissa pun duduk lalu menatap Nicholas, "Maaf ya kek, Clarissa ngak bisa ikut jemput kakek, habisnya Clarissa sibuk baget terus pekerjaannya ngak bisa di tinggal. Padahal Clarissa pengen banget jemput kakek" ujar Clarissa panjang lebar.


"Ngak apa-apa, kakek mengerti kok. Yang penting sekarang kamu datang kesini jengguk kakek" ucap Nicholas.


Clarissa yang mendengarnya tersenyum "Oh iya nih, Clarissa bawain oleh-oleh buat semuannya" ucap Clarissa lalu meletakan beberapa tas belanjaan di atas meja.


"Maaf, Clarissa ngak tahu selera nenek dan juga papa jadi Clarissa nebak-nebak saja saat membelikan oleh-olehnya" lanjut Clarissa bergantian menatap Gibran dan juga Sarah.


Sementara keduanya tampak diam, tidak ada satu pun dari mereka yang merespon ucapanya.


"Terima kasih sayang, sini biar mama lihat oleh-olehnya" ucap Alin sambil membuka tas miliknya.


"Iya kakek juga ingin melihatnya" ucap Nicholas yang juga ikut melihat tas miliknya.


"Kenapa dua manusia ini selalu diam saat aku bicara dengan mereka?, mereka sepertinya tidak menyukaiku" pikir Clarissa sesekali bergantian melirik Sarah dan juga Gibran.


"Wah bagus mama suka, makasih sayang. Nanti mama langsung pakai" ucap Alin sambil mengeluarkan kalung mewah dari tempatnya.


"Sama-sama ma" jawab Clarissa sambil tersenyum.


"Wah, punya kakek juga bagus. Pandai Clarissa memilihnya, kakek suka" ucap Nicholas sambil mengeluarkan jam tangan bermerek dari tempatnya.


"Syukurlah kalau kakek senang" ucap Clarissa.


Clarissa tampak melirik ke sekekilingnya seperti sedang mencari sesuatu "Ma, Arsenio mana?" Alin menatap Clarissa dari samping.


"Biasalah dia lagi kerja" jawab Alin bohong.


"Sesibuk itukah dia?, sampai telefon dariku ngak pernah di anggkat" ucap Clarissa cemberut.


Alin yang melihat itu kembali meletakan kalung miliknya di tempatnya lalu menatap Clarissa sambil menggengam kedua tangannya.


"Sayang, Arsenio itu bekerja sekarang supaya pas pernikahan kalian nanti dia bisa punya waktu cuti yang lebih banyak, dan kalian gunakan waktu itu untuk honeymoon. Mama sudah siapkan tempat yang sangat cocok untuk kalian, mama jamin tempatnya pasti bagus dan kamu pasti menyukainya benar kan pa?" Alin menatap Gibran.


"Benar, kami yang akan menyiapkan semua, kalian tinggal tahu berangkat saja" jawab Nicholas.


"Tapi tempatnya beda ya sama tempat Arsenio honeymoon dengan mantan istrinya?" ucap Clarissa sambil melirik Gibran.


"Oh tentu saja berbeda, kamu tuh ngak bisa di bandingkan dengan mantan istri Arsenio, kamu lebih dari segalannya makanya itu tempat kalian pasti yang lebih istimewa" jawab Alin.


"Anak ini jika terus di biarin, makin melunjak nantinya" pikir Gibran.


"Anak pasti punya tujuan tertentu, makanya dia bertanya seperti itu" batin Sarah yang sesekali melirik menantunya.